NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Konfrontasi Pertama

Pintu kamar Sabrina terbuka tanpa ketukan. Adrian masuk membawa laporan investigasi tersebut.

Udara hangat dari sistem pemanas sentral mansion mendadak terasa membeku begitu siluet tegap sang taipan membelah ambang pintu.

Sabrina yang sedang duduk di tepi ranjang dengan jemari meraba boks kayu Sebastian, refleks menarik tangannya. Jahitan di panggulnya berdenyut kencang, sebuah pengingat bahwa tubuhnya masih rapuh meski jiwanya sudah siap untuk perang baru.

Adrian tidak berhenti di dekat pintu. Ia melangkah masuk, membiarkan bunyi sepatu kulit mahalnya mengintimidasi kesunyian ruangan.

Tangannya yang mengenakan jam tangan platinum berkilat memegang map merah yang tampak begitu kontras dengan kemeja putihnya yang kaku.

"Kau punya penjelasan untuk ini?" Adrian melemparkan map itu ke atas sprei sutra tepat di samping paha Sabrina.

Map itu terbuka, menampilkan lembaran foto autopsi yang tadi ia baca di ruang kerjanya. Foto leher yang hancur oleh lilitan kawat. Foto paku beton yang menembus rahang bawah Haryo.

Sabrina melirik foto-foto itu tanpa minat, seolah hanya melihat katalog furnitur yang membosankan. "Kau mengganggu jam tidur anakmu hanya untuk menunjukkan koleksi foto mayat, Adrian?"

"Anakku tidur sangat pulas karena ibunya memastikan tidak ada satu pun saksi hidup yang bisa mengganggunya," desis Adrian. Ia berhenti tepat di depan Sabrina, menjulang tinggi seperti menara yang siap runtuh menimpa mangsanya.

"Aku sudah memeriksa seluruh rekaman medis Sabrina Tanjung. Enam bulan lalu, kau pingsan hanya karena melihat jarum suntik. Sekarang, kau bisa merobek laring pria dewasa menggunakan kawat berkarat sambil menggendong bayi."

Sabrina memiringkan kepalanya sedikit. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, murni karena rasa nyeri di jalan lahirnya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.

"Naluri ibu bisa mengubah kelinci menjadi serigala, suamiku. Kau pria, kau tidak akan pernah paham rasa sakit saat rahimmu diperas paksa sementara nyawa bayimu dipertaruhkan."

"Jangan gunakan alasan ibu untuk membodohiku," Adrian membungkuk, menekan kedua telapak tangannya di sisi ranjang, mengurung Sabrina di antara lengannya. Aroma maskulin parfumnya yang berat bercampur dengan bau tajam antiseptik dari perban Sabrina.

"Teknik lilitan kawat itu bukan naluri. Itu memori otot. Itu latihan bertahun-tahun. Siapa kau sebenarnya?"

Sabrina merasakan detak jantungnya sendiri berpacu di tenggorokan. Bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang menuntutnya untuk bergerak mematahkan batang leher pria ini.

Jarak mereka begitu dekat. Ia bisa melihat guratan emosi di pupil Adrian, sebuah campuran antara kemarahan, kecurigaan, dan sesuatu yang lebih gelap, ketertarikan primitif pada bahaya.

"Aku istri kontrakmu yang baru saja kau peras hak suaranya," balas Sabrina tenang. Tangannya yang dibalut perban merayap pelan menuju nakas di belakang tubuhnya, mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata darurat.

"Dan aku ibu dari ahli waris tunggalmu. Bukankah itu yang kau butuhkan? Seorang wanita yang cukup kuat untuk mempertahankan benihmu dari anjing-anjing Kania?"

Adrian tertawa rendah, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya.

"Aku butuh alat yang bisa kukendalikan, bukan bom waktu di dalam kamarku. Kau tahu apa yang terjadi pada aset yang tidak bisa diprediksi, Sabrina? Aku biasanya menghancurkannya sebelum ia sempat meledak di tanganku."

Tangan Adrian bergerak cepat, mencengkeram rahang Sabrina. Kekuatannya tidak cukup untuk mematahkan tulang, tapi cukup untuk memaksa Sabrina mendongak, memperlihatkan kerentanan lehernya yang putih pucat.

Sabrina menahan napas. Panggulnya seolah berteriak protes saat ia dipaksa berpindah posisi. Namun, di bawah selimut, kakinya sudah bersiap untuk menendang titik saraf di selangkangan Adrian jika situasi memburuk.

"Kania Tanjung hampir mati ketakutan saat keluar dari kamar ini tadi," gumam Adrian, matanya menyisir wajah Sabrina seolah sedang membedah lapisan daging di sana.

"Dia bilang kau mengancamnya dengan jarum suntik udara. Kau bicara soal emboli. Kau bicara soal ritme langkah kakinya di malam hari. Kau mengawasinya selama ini, atau kau punya mata di mana-mana?"

"Kania terlalu bising," sahut Sabrina, bibirnya nyaris menyentuh jempol Adrian yang menekan rahangnya.

"Orang yang bising biasanya meninggalkan banyak jejak. Aku hanya membacanya."

"Kau bukan Sabrina." Adrian mempererat cengkeramannya.

"Sabrina asli tidak memiliki api di matanya. Dia hanya punya ketakutan. Kau, kau punya kegelapan yang sangat familiar bagiku. Kegelapan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terbiasa mencabut nyawa tanpa berkedip."

Sabrina tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang sangat tipis dan mematikan.

"Lalu kenapa kau masih di sini, Adrian? Jika aku memang monster yang sangat berbahaya, bukankah seharusnya kau sudah menembak kepalaku di jalan raya Puncak tadi?"

"Karena kau menarik," bisik Adrian. Wajahnya turun lebih rendah, memangkas sisa ruang di antara mereka. Napasnya yang hangat menerpa bibir Sabrina.

"Dan karena kau membawa pewaris yang sempurna. Tapi jangan salah paham. Aku tidak akan membiarkan predator sepertimu berkeliaran bebas di rumahku tanpa rantai."

"Coba saja pasang rantaian itu, Adrian. Dan lihat berapa lama tanganmu akan bertahan di tubuhmu."

Momen itu berubah menjadi medan perang sunyi. Tensi seksual yang aneh merayap di antara ancaman pembunuhan.

Adrian menatap bibir Sabrina yang sedikit berdarah karena ia gigit sendiri untuk menahan sakit.

Ada dorongan aneh di dalam dada sang taipan, sebuah gairah untuk menaklukkan sesuatu yang liar, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang maupun saham.

Tangan kiri Adrian merayap turun dari sisi ranjang, mendarat di pinggang Sabrina, menekannya lembut namun posesif.

Sabrina tersentak, rasa perih di jahitannya kembali menyengat, membuatnya secara refleks meraih benda pertama yang disentuh jarinya di atas nakas.

Sebuah pena baja berat. Pemberian Adrian saat penandatanganan kontrak tadi.

Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia biasa, Sabrina memutar tubuhnya. Ia mengabaikan teriakan nyeri dari saraf panggulnya. Tangan kanannya melesat naik, membawa pena baja itu dengan posisi terbalik.

Crak.

Punggung Adrian terbentur tiang ranjang kayu jati yang kokoh. Posisi mereka berbalik. Kini Sabrina yang menindih Adrian dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari kemarahan murninya.

Ujung pena baja menempel di arteri karotis Adrian. Jarak napas mereka hanya dua sentimeter.

Mata Sabrina berkilat tajam, hitam pekat tanpa dasar. .

Tidak ada lagi jejak ibu yang rapuh di sana. Yang ada hanyalah Maureen, sang mesin pembunuh yang baru saja dibangunkan dari tidurnya.

"Jangan pernah menyentuhku tanpa izin, Adrianus Halim," desis Sabrina. Ujung pena itu menekan kulit leher Adrian hingga menciptakan lekukan kecil.

"Aku sudah menandatangani kontrakmu, tapi aku tidak menjual tubuhku untuk menjadi mainanmu. Sekali lagi kau melewati batas wilayahku, kupastikan pena ini menembus tenggorokanmu sebelum kau sempat memanggil pengawalmu."

Adrian tidak bergerak. Ia tidak mencoba melawan. Malah, senyum gelapnya semakin lebar.

Ia bisa merasakan ujung tajam logam itu siap merobek nadinya, namun degup jantungnya justru berdetak kencang karena sensasi adrenalin yang memabukkan.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!