NovelToon NovelToon
SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Selingkuh / Cerai / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mertua vs Menantu

"Mbak, bagi duit dong." todong Riska tiba-tiba saat melihat Sekar sedang sibuk mengelap kaca jendela. Adik iparnya itu sudah rapi dengan seragam sekolah, tapi tangannya langsung menengadah tanpa basa-basi.

Wajah Sekar langsung masam seketika. Mengingat kejadian semalam, rasa kesalnya pada keluarga ini masih menumpuk di ubun-ubun. "Duit? Enggak ada duit. Minta sama abangmu yang pelit itu sana!" ketus Sekar.

Mengingat Ferdiansyah, hati Sekar makin perih. Bayangkan saja, kemarin ia hanya meminta uang tiga puluh ribu rupiah untuk beli bedak, tapi suaminya itu malah menceramahinya soal penghematan. Benar-benar pelit bin medit!

"Semoga saja di jalan nanti dia kena jambret, keserempet mobil atau sekalian saja mody@r!" umpat Sekar dalam hati. Begitulah istri, kalau hatinya dibuat senang, doa baik akan mengalir. Tapi kalau dikasih suami modelan Firaun seperti Ferdiansyah, ya jangan salahkan kalau doanya jadi ekstrem.

"Ck, Mbak Sekar ini selalu pelit kalau dimintai duit! Padahal duit Mas Ferdi kan Mbak yang habiskan!" gerutu Riska sambil bersedekap dada.

"Apa kamu bilang? Duit masmu aku yang habiskan?!" pekik Sekar dengan mata melotot sempurna.

Biasanya, menantu di drama-drama akan menangis tersedu-sedu di pojokan kamar kalau ditindas ipar. Tapi maaf, Sekar bukan tipe seperti itu. Dia ogah diperlakukan semena-mena. Dia akan melawan, tentu saja dengan cara yang sopan. Sopan versi Sekar sendiri.

"Bukannya memang begitu? Mbak kan istrinya!" dengus Riska tak mau kalah.

"Heh, dengar ya Riska. Memang benar aku istri Mas Ferdi, tapi malangnya nasibku punya suami pelitnya minta ampun. Aku ini hampir nggak pernah diberi nafkah batin maupun uang belanja yang layak sama masmu itu!" sungut Sekar, tak berniat menutupi penderitaannya. Memang itu kenyataannya, kan?

GEPLAK!

"Eh, sembarangan kalau ngomong! Bilang lagi kalau anakku nggak kasih nafkah ke kamu? Terus kamu masih hidup sampai sekarang karena siapa? Anakku yang kasih makan!" tiba-tiba Bu Nimas datang dan langsung menempeleng kepala Sekar karena gemas mendengar ucapan menantunya.

"Ugh!" Sekar mendesis kesal. Kepalanya terasa pening seketika karena tempelengan mertuanya itu. Dalam hati ia menggerutu, mertua model begini benar-benar seperti ujian hidup yang tak ada habisnya.

Sementara itu, Riska tersenyum meledek sambil menjulurkan lidah ke arah kakak iparnya. "Weeeek, syukurin! Emang enak!" ledek bocah itu.

PLUK!

Karena tidak mungkin membalas menempeleng Bu Nimas (ingat, Sekar masih punya urat sopan santun sedikit), akhirnya Sekar membalas dengan menoyor kepala Riska dengan cukup keras.

"Auuuhh! Mbak Sekar gila!" pekik Riska kaget.

"Bocah gendeng! Apa yang kamu lakukan terhadap anakku, hah???" teriak Bu Nimas tidak terima. Padahal tadi dia sendiri yang memukul Sekar sampai membuat menantunya itu melihat kunang-kunang.

"Apa sih, Bu? Aku cuma balas perlakuan Ibu yang sudah nggak sopan geplak kepala aku. Karena aku menghormati Ibu yang sudah tua dan sebentar lagi bau tanah, jadilah aku balasnya ke Riska." seloroh Sekar tanpa rasa berdosa.

Wajah Bu Nimas memerah padam. Kepalanya seolah mengeluarkan asap karena menahan amarah yang meledak-ledak. "Kamu! Berani-beraninya doakan Ibu mati, Sekar!" pekik Bu Nimas megap-megap.

"Bu, sabar Bu! Tarik napas, buang ke kloset! Mbak Sekar, apa sih yang Mbak lakukan? Kalau Ibu mampus gimana?" Riska langsung sibuk mengurut dada ibunya agar tidak pingsan di tempat.

"Lebay kalian berdua. Sudah sana, kasih air keran nanti juga baik sendiri." sahut Sekar malas. Ia pun melengos pergi, meninggalkan mertua dan iparnya yang sedang sibuk berakting drama. Doanya sih sederhana, biarkan mertua cerewet itu diam sejenak agar dunia perumah tanggaannya agak tentram.

"Astaga! Begini amat punya menantu sableng! Ferdi... Ferdi... itu tuh istri yang kamu pilih!" keluh Bu Nimas setelah napasnya mulai normal.

"Sudah Bu, biarkan saja Mbak Sekar itu. Menantu durhaka kayak dia pastilah nanti matinya masuk neraka!" gerutu Riska memanas-manasi.

Bu Nimas beralih melirik anak bungsunya. "Kamu jam segini kenapa belum berangkat sekolah? Sana! Sudah mahal-mahal abangmu bayar sekolah, jangan sampai bolos!" ketus Bu Nimas. Memang sifatnya keras, bahkan pada anak kandung sendiri saja tidak ada lembut-lembutnya.

"Iya, iya... ini juga mau berangkat. Tadi cuma mau minta uang tambahan dari Mbak Sekar, tapi orangnya pelit banget." gerutu Riska.

"Sudah tahu iparmu itu medit, masih saja kamu harapkan. Dapat apa kamu? Dapat tai?" ledek Bu Nimas sewot.

Riska mendengus kesal, bibirnya mengerucut mirip ikan koi. Ia lalu menengadahkan tangan pada ibunya. "Minta uang, Bu!"

"Uang? Kamu kan sudah dikasih jatah bulanan sama Masmu Ferdi!"

"Masa iya uang saku Riska cuma lima ribu sehari, Bu? Sudah kayak anak SD saja. Kuranglah! Sekarang Riska minta sepuluh ribu." todongnya.

Memang jiwa pelit Ferdiansyah sudah mendarah daging. Kepada adik kandung sendiri saja dia sangat perhitungan.

"Ck, kamu itu boros sekali sih!" gerutu Bu Nimas, namun tangannya tetap merogoh saku.

"Kalau Ibu nggak kasih, aku nggak mau sekolah. Biar saja aku nggak lulus dan jadi beban Ibu sama Mas Ferdi seumur hidup." ancam Riska.

Di saat bersamaan, Risal kembaran Riska, lewat dan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya. Ferdi memang memiliki dua adik kembar, Risal dan Riska. Berbeda dengan Riska, Risal jauh lebih tenang.

"Mbak, kemarin aku dapat rezeki nomplok. Ini kubagi sedikit ke Mbak buat beli cilok." seru Risal menghampiri Sekar yang kembali lanjut mengelap kaca. Ia menyodorkan selembar uang berwarna biru.

Sekar terkejut. Matanya melotot melihat satu-satunya manusia waras di rumah ini memberinya uang lima puluh ribu rupiah.

"Beneran kamu dapat rezeki, Sal?" selidik Sekar sambil cepat-cepat menerima uang itu. Ia menoleh ke kanan-kiri, takut aksinya dipergoki oleh "si gila" alias mertua dan ipar satunya.

"Iya, Mbak. Tenang saja. Mbak puas-puasin beli cilok atau seblak. Sudah ya, Risal berangkat dulu. Assalamualaikum!" Risal bergegas pergi.

Risal sebenarnya merasa kasihan. Kemarin ia tak sengaja mendengar Ferdi dan Sekar cekcok hanya karena masalah uang bedak. Sebagai adik ipar yang punya hati, Risal sering berbagi uang secara diam-diam. Risal sendiri memang rajin, dia sekolah sambil bekerja di bengkel milik teman kakaknya agar tidak terlalu bergantung pada Ferdi yang perhitungan.

"Semoga kamu jadi orang sukses di masa depan, Risal." doa tulus Sekar dalam hati. "Akhirnya, aku bisa beli bedak sekaligus pelembab!"

Selesai dengan pekerjaan rumah, Sekar bersiap pergi ke pasar. Ia lebih memilih pasar tradisional karena selisih harga dua ribu rupiah saja sangat berarti baginya daripada harus belanja di supermarket ber-AC.

"Mau ke mana kamu!" tanya Bu Nimas ketus saat melihat Sekar sudah rapi.

"Mau cari badut mampang! Ya keluar lah, Bu. Bosan di rumah terus lihat muka seram Ibu." sahut Sekar santai.

Lagi, tensi Bu Nimas naik. "Kamu benar-benar nggak ada sopannya ya!"

"Ya habis Ibu ngereog melulu. Kalau Ibu bisa baik, Sekar juga bakal lebih baik. Sudah ya, Bu. Assalamualaikum!" Tanpa menunggu jawaban, Sekar segera melesat pergi.

"Dasar menantu edan!" teriak Bu Nimas dari pintu.

Sekar berjalan santai menuju pasar. Saat hendak masuk ke sebuah toko kosmetik, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

"Sekar? Kamu Sekar Sari, kan?"

Sekar menoleh dan terkejut. "Loh, Amelia? Kok kamu bisa ada di sini?"

Keduanya langsung berpelukan dan melakukan tradisi cipika-cipiki. Amelia adalah sahabat lama Sekar yang sudah lama tidak bertemu.

"Iya, aku ikut suamiku ke sini. Kamu sih, nggak pernah aktif di media sosial, jadi aku nggak bisa undang kamu pas nikahan aku dulu." seloroh Amelia.

Sekar hanya bisa nyengir pahit. Jangankan buka Facebook, buka dompet suaminya saja dia tidak mampu. Namun, Sekar tertegun melihat penampilan Amelia. Sahabatnya itu terlihat sangat modis dan elegan, sangat berbeda dari dulu.

"Mel, kamu berubah banget ya sekarang? Kamu dapat suami kaya ya?" puji Sekar takjub.

Amelia tertawa kecil. "Enggak kok, suamiku orang biasa. Dia buruh di pabrik SJ."

Sekar terperangah. "Loh, sama dong! Suamiku juga kerja di sana!"

"Benarkah?" tanya Amelia heran.

"Terus, kok kamu bisa terlihat 'wah' begini kalau suamimu cuma buruh pabrik? Perasaan dulu kita sama-sama susah." tanya Sekar penasaran.

Amelia menyeringai penuh misteri. "Mau tahu rahasianya? Bukan karena pesugihan atau ngepet ya, Kar."

"Terus apa?"

"Ayo, kita makan bakso dulu. Aku akan ceritain rahasianya kenapa aku bisa tampil modis dan punya tabungan sendiri tanpa harus ngemis-ngemis sama suami." ajak Amelia sambil menarik tangan Sekar menuju kedai bakso terdekat.

Sekar mengikuti dengan hati yang berdebar. Mungkinkah ini jalan pembuka untuk mengubah nasibnya yang malang?

1
Ma Em
Dasar Ferdy suami laknat kasih uang belanja aja pelitnya minta ampun tapi Sekar hrs nurut apa kata Ferdy mana bisa begitu , msh untung Sekar msh mau tinggal di rumahmu dan cuma dijadikan pembantu kalau perempuan lain mungkin sdh minta cerai .
Dini Hidayani
makin seru nih lanjut ya
Ma Em
Nah mati kamu Ferdi karena kaget karena uang di ATM nya sdh kosong , Sekar hati hati kamu sekarang Ferdi sdh tau uang nya hilang jgn sampai ketahuan Ferdi bahwa Sekar yg ambil uang nya .
💝F&N💝
sukuriiiiiiiiiin
kapoooooooook
Ma Em
Bagus ada orang yg sayang sama Sekar , adik ipar Sekar yg baik mau belain Sekar dan memberitahukan pada Sekar bahwa Ferdi mau nikah lagi sama Manda .
Ma Em
Emang Sekar yg terbaik berani melawan mertua dan suami yg selalu menyiksanya , semangat Sekar maju terus pantang mundur 💪👍.
Ma Em
Sekar hebat berani melawan mertua julid nya juga Ferdi yg tukang selingkuh , semoga Sekar jadi sukses dgn hasil usahanya sendiri .
Ma Em
Bagus Sekar lelaki macam Ferdy mah kalau dibiarin malah ngelunjak kasih uang belanja dus puluh lima ribu mau dipotong lagi emang sinting , lbh baik Sekar ambil saja ATM Ferdy lalu kuras isinya .
Ma Em
Sekar berani melawan suami pelitnya dan mertua yg bawel cuma sayang cuma berani doang tapi bodoh mau saja diperbudak sama suami dan mertuanya .
Jumi
KK, seru bgt ceritanya... semangat trs y k
Noona Rara: Iyaaa....Makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!