Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di tepian danau
Pondok di tepian Danau Baikal itu jauh dari kesan mewah seperti mansion di Moskow. Bangunannya terbuat dari gelondongan kayu pinus yang kokoh, tersembunyi di balik barisan pepohonan yang mulai menanggalkan selimut saljunya. Di sini, tidak ada suara bising mesin atau derap sepatu bot para penjaga. Hanya ada suara retakan es di permukaan danau yang mulai mencair dan siulan angin di sela dahan.
Nikolai Brine benar-benar menepati janjinya. Selama tiga hari di pondok itu, ia melepaskan peran sebagai bos mafia. Ia memotong kayu bakar sendiri, memancing di lubang es, dan memasak sup sederhana di atas tungku tua. Segalanya dilakukan hanya untuk satu tujuan: memancing kembali senyum di wajah Clara Marine.
Namun, obsesi Nikolai tidak memudar; ia hanya berganti rupa. Ia tidak lagi mengurung Clara dengan jeruji, melainkan dengan perhatian yang begitu rapat hingga Clara hampir tidak punya ruang untuk bernapas sendirian.
Cinta yang Menuntut
Sore itu, Clara duduk di beranda pondok, terbungkus selimut wol tebal. Matanya menatap riak air danau yang jernih. Nikolai datang dari arah hutan, membawa tumpukan kayu bakar. Pria itu berhenti sejenak, menatap Clara dengan intensitas yang seolah bisa membakar udara dingin di antara mereka.
Nikolai meletakkan kayu itu dan mendekat. Ia duduk di lantai kayu di bawah kaki Clara, lalu menyandarkan kepalanya di lutut wanita itu. Sebuah posisi yang menunjukkan ketundukan, namun tangan Nikolai yang menggenggam pergelangan kaki Clara tetap terasa seperti belenggu yang posesif.
"Kau masih memikirkan Amsterdam?" tanya Nikolai pelan.
"Aku memikirkan betapa anehnya hidup ini, Nikolai," jawab Clara, jemarinya secara tidak sadar bergerak mengusap rambut Nikolai yang kasar. "Dulu aku takut padamu. Aku ingin lari sejauh mungkin. Sekarang, aku berada di tengah hutan antah berantah, dan pria yang menculikku adalah satu-satunya orang yang memberiku makan."
Nikolai mendongak, matanya yang biru tajam menatap langsung ke dalam manik mata Clara. "Aku tidak hanya ingin memberimu makan, Clara. Aku ingin memberimu segalanya. Aku ingin kau berhenti menatap danau itu seolah-olah kau ingin tenggelam di dalamnya, dan mulai menatapku seolah-olah aku adalah duniamu."
"Kau memintaku mencintaimu, Nikolai?"
"Aku memintamu menerimaku," potong Nikolai dengan nada yang mendesak. "Aku tahu aku bukan pria baik. Aku mengambilmu dengan paksa, aku menghancurkan hidup tenangmu di Jakarta. Tapi tidak ada satu pun pria di dunia ini—bahkan Silas atau Julian—yang akan memberikan nyawanya hanya untuk melihatmu bernapas seperti yang kulakukan."
Pengakuan di Bawah Langit Senja
Nikolai berdiri, menarik Clara dari kursinya hingga wanita itu berdiri tepat di hadapannya. Ia memerangkap pinggang Clara dengan kedua tangannya yang kuat, memaksa Clara merasakan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Lihat aku, Clara," desis Nikolai. "Jangan berdiam diri lagi. Marahlah padaku, pukul aku, atau maki aku karena telah membawamu ke sini. Tapi jangan abaikan aku. Aku bisa menghadapi seluruh pasukan Marine, tapi aku tidak bisa menghadapi keheninganmu."
Clara melihat gairah dan keputusasaan yang bercampur di wajah Nikolai. Obsesi pria ini bukan lagi soal kekuasaan atau kepemilikan aset. Ini adalah cinta seorang pria yang tidak pernah diajari cara mencintai, yang hanya tahu cara menggenggam erat agar apa yang dicintainya tidak pergi.
"Kau sangat mencintaiku sampai kau ketakutan, bukan?" bisik Clara.
Nikolai terdiam sebentar, otot rahangnya mengeras. "Ya. Aku ketakutan. Aku takut suatu pagi aku bangun dan menyadari bahwa kau sudah pergi, atau menyadari bahwa kau masih membenciku atas semua yang terjadi."
Nikolai mencium tangan Clara, kali ini dengan tekanan yang lebih dalam, seolah ia ingin meninggalkan tanda permanen di kulit wanita itu. "Terimalah aku, Clara. Bukan sebagai penculikmu, tapi sebagai pria yang tidak bisa hidup tanpa bayanganmu. Aku akan membangunkanmu sebuah kerajaan di Rusia ini, yang jauh lebih besar dari apa yang dimiliki Silas, jika itu yang kau butuhkan untuk tersenyum."
Titik Balik
Clara menarik napas panjang, menghirup udara musim dingin yang segar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa sesuatu yang hangat mulai mencair di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa meski jalannya berdarah dan penuh kekerasan, Nikolai adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membohonginya tentang niatnya.
Clara mengulurkan tangannya, membelai rahang Nikolai, dan perlahan menarik kepala pria itu mendekat. Ia mendaratkan ciuman lembut di bibir Nikolai—sebuah jawaban tanpa kata.
Nikolai membalas ciuman itu dengan rasa lapar yang tertahan selama berminggu-minggu. Pelukannya mengencang, hampir menyesakkan, menunjukkan betapa ia benar-benar tidak ingin melepaskan wanita itu selamanya. Di tepian danau Baikal yang membeku, penguasa mafia itu akhirnya mendapatkan pengakuan yang ia cari.
Namun, kedamaian itu terusik ketika radio kecil di dalam pondok tiba-tiba berderit mengeluarkan suara statis. Suara Sebastian Reef terdengar di balik gangguan sinyal.
"Tuan Nikolai... maaf mengganggu... tapi ada pergerakan di perbatasan. Seseorang sedang melacak lokasi pondok ini. Dan ini bukan orang-orang Silas."
Nikolai melepaskan pelukannya perlahan, matanya kembali berubah menjadi dingin dan mematikan. Ia menatap Clara, lalu mengambil senapan yang bersandar di pintu.
"Tampaknya duniaku tidak akan membiarkan kita tenang terlalu lama, Clara," ucap Nikolai sambil memeriksa magasin senjatanya. "Tetap di dalam. Aku akan memastikan siapa pun yang datang tidak akan pernah melihat matahari terbenam hari ini."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...