NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKU BELUM BISA PA...

Malam itu Pak Arya masih memandangi berkas perkerjaannya yang belum di jamah semenjak habis lamaran kemarin. Pikiran nya masih penuh dengan permasalah batinnya sendiri. Seketika ia memikirkan Almarhumah Sarah Istri yang telah medampinginya hampir 20 tahun itu. Sarah istri yang penyayang dan sabar dalam keadaan apapun. Masih terngiang suara lembutnya Sarah ketika menyambut ia pulang kerja. Bagaimana telatennya ia mengurus anak-anaknya. "maafin Aku Sarah terpaksa aku membagi hati ini untuk Bailla calon istri ku kelak semoga ia adalah orang Yang bisa mengimbangi ku dalam menjalankan biduk rumah tangga kelak.

Suara pintu diketuk dari luar. Arbil muncul dengan wajah yang lesu.

Sudah seminggu sejak lamaran. Bailla belum pindah, tapi bayangannya udah masuk ke rumah ini lewat cerita Ara yang tiap malam bilang, “Kak Bailla cantik ya, Pa?” dan Aya yang tidur meluk boneka Marsha pemberian Bailla.

“Belum tidur, Bil?” Pak Arya buka suara duluan, gak nengok.

Arbil goyang-goyangin kaki. “Gak bisa, Pa. Kepikiran.”

“Kepikiran Pelajaran disekolah ?”

“Kepikiran Ibu... baru.”

Seketika Pak Arya berhenti memeriksa berkasnya . Dia taruh, lalu duduk di sopa sebelah Arbil. Ruangan jadi sunyi. Cuma ada suara detik jam sama Suara AC.

“Kamu marah sama Bapak?” tanya Pak Arya, pelan.

Arbil geleng. Cepet. “Enggak. Bapak capek sendiri. Aku tahu. Bima masih suka ngompol, Ara nangis tengah malem. Bapak kurang tidur.”

Mama udah gak ada 3 tahun, Pa. Yang masak kita, yang beresin rumah kita, yang nemenin Bima dongeng juga kita. Tiba-tiba ada Kak Bailla. Cantik. Baik. Tapi... dia bukan Mama.”

Pak Arya narik napas. Ini yang dia takutin. Bukan ditolak Mami Papi Bailla. Tapi ditolak anaknya sendiri.

“Bapak tahu, Bil,” jawabnya. “Dan Bapak gak pernah minta kamu ganti panggil ‘Ibu’ ke Kak Bailla. Gak pernah minta kamu lupain Mama.”

“Lalu buat apa Papa nikah lagi?” Arbil suaranya pecah, bukan marah, tapi bingung. “Apa Papa udah gak sayang Mama?”

Pak Arya rangkul pundak anaknya. “Denger ya, Jagoan. Bapak sayang Mama sampai sekarang. Makanya foto Mama masih di ruang tamu. Makanya Bapak simpen cincin Mama buat...” dia berhenti, “...buat perempuan yang berani nerima kita bertiga, tanpa suruh Bapak buang kenangan Mama.”

Arbil diem. Nelen ludah.

“Kak Bailla itu, Bil,” lanjut Pak Arya, “dia gak datang buat gantiin Mama. Gak ada yang bisa. Dia datang buat bantu Bapak jaga kalian. Biar kamu bisa fokus sekolah, bukan fokus ngurus adik. Biar kamu bisa main bola, bukan ngaduk sayur.”

“Tapi...” Arbil mainin ujung kaosnya, “...kalau nanti Kak Bailla punya anak sendiri, kita dilupain gak, Pa?”

Pertanyaan itu nusuk. Pak Arya pegang pipi Arbil, suruh natap mata dia. “Bapak janji sama kamu, Arbil Aryasatya. Anak Bapak tetap tiga: kamu, Ara, Aya. Kalau Tuhan kasih lagi, berarti tambah, bukan ganti. Kamu tetap anak pertama Bapak. Yang Bapak ajarin naik sepeda. Yang Bapak temenin waktu demam. Gak akan ada yang bisa geser itu.”

Arbil kedip-kedip. Nahan nangis. Gengsi.

“Bapak cuma minta satu,” Pak Arya ngusap rambut anaknya. “Kasih Kak Bailla waktu. Dia juga takut, Bil. Dia 21 tahun, disuruh jadi kakak buat kamu yang udah kelas SMA, jadi ibu buat Aya yang masih TK. Dia gak tidur berapa malam mikirin itu. Sama kayak kamu.”

“Aku Belum bisa nerima Kak Bailla,” jawab Arbil. Jujur. Tidak ada nangis. Tidak ada marah. Cuma capek. “Ara sama Aya udah manggil ‘Kak Bailla’ tiap hari. Aya sampai menyimpan boneka Pemberian kak Bailla di bawah bantal, katanya biar mimpiin Kak Bailla. Tapi aku... aku tiap lihat foto Mama di ruang tamu, rasanya kayak nyelingkuhin Mama, Pa.”

Pak Arya merangkul bahu Arbil

“Bapak maksa kamu ya, Bil?” tanyanya, pelan.

Arbil geleng cepet. “Bapak gak pernah maksa. Bapak cuma bilang ‘kasih waktu’. Tapi... waktu itu kapan selesainya, Pa? Aku takut kalau aku bilang ‘iya’, besoknya aku lupa muka Mama. Aku takut kalau aku ketawa sama Kak Bailla, Mama di surga ngira aku udah gak sayang.”

Pak Arya narik napas panjang. Dada anak 17 tahun ini isinya terlalu berat. Isinya duka yang belum kelar, ditambah tanggung jawab yang kegedean.

“Arbil,” panggil Pak Arya. Dia memegang bahu anaknya, biar Arbil menatap kearahnya. “Bapak nikah sama Kak Bailla bukan buat nyari pengganti Mama. Gak ada yang bisa gantiin Mama. Kamu, Ara, Aya, Bapak... kita semua tahu itu.”

“Terus buat apa, Pa?” Arbil nantang, tapi suaranya bergetar. “Buat bantuin Bapak? Bapak bisa bayar pembantu. Buat masak? Kita bisa beli. Kenapa harus nikah? Kenapa harus ada perempuan lain di rumah kita?”

Karena Bapak kesepian. Karena Bapak takut kalian gede tanpa sosok ibu. Karena Bapak utang budi sama keluarganya. Semua jawaban itu numpuk di tenggorokan Pak Arya. Tapi dia pilih yang paling jujur.

“Karena Bapak takut, Bil,” aku Pak Arya. “Bapak takut mati muda kayak Mama. Dan kalau Bapak mati, siapa yang jagain kalian? Papi Mami Bailla udah tua. Saudara Bapak jauh. Bapak butuh orang yang Bapak percaya buat terusin jagain kamu, Ara, Aya. Bukan sebagai pembantu. Tapi sebagai keluarga. Yang kalau Bapak gak ada, dia gak ninggalin kalian.”

Arbil gigit bibir. Logikanya masuk. Tapi hatinya masih nolak.

“Tapi aku belum bisa, Pa,” ulang Arbil. Kali ini air matanya netes juga. Satu. Jatoh ke celana pendeknya. “Tiap Kak Bailla ke rumah, bawain martabak, ajarin Ara kuncir, aku rasanya mau muntah. Bukan karena dia jahat. Karena... karena aku ngerasa khianat. Aku anak durhaka kalau aku diem aja dia duduk di kursi Mama.”

Pak Arya meluk anaknya. Kencang. Bau aroma parfum dan basah air hujan dari rambut Arbil.

“Bapak gak minta kamu bisa sekarang, Nak,” bisik Pak Arya di kuping anaknya. “Bapak gak minta kamu manggil ‘Ibu’. Bapak gak minta kamu senyum. Bapak cuma minta kamu jangan tutup pintu.”

“Maksudnya?”

“Kamu boleh tidak menerima Kak Bailla. Itu hak kamu. Tapi jangan kunci kamar pas dia dateng. Jangan diem kalau dia nanya PR kamu. Jangan acuh tak acuh saat dia menyapa. Benci gak apa-apa, Bil. Asal jangan kejam. Mama gak pernah ngajarin kita kejam sama orang yang niatnya baik.”

Arbil mulai menangis sesenggukan. Gak ada suara. Cuma bahunya naik turun di pelukan bapaknya.

“Kalau kamu butuh 1 tahun, Bapak tunggu 1 tahun. Butuh 5 tahun, Bapak tunggu 5 tahun,” lanjut Pak Arya. “Yang penting kamu tahu: kamu gak khianat. Sayang itu gak kayak kue, Bil. Gak akan habis dibagi. Kamu sayang Mama, kamu juga boleh belajar gak benci Kak Bailla. Dua-duanya bisa bareng.”

Arbil lepas pelukan, ngusap mata pake lengan kaos. “Pa... kalau... kalau aku gak pernah bisa gimana?”

Pak Arya senyum. Senyum bapak-bapak yang udah kalah sama hidup, tapi gak mau anaknya ikut kalah. “Ya udah. Bapak tetap bapak kamu. Kak Bailla tetap... Kak Bailla. Kita tetap satu rumah. Gak ada yang diusir. Cuma... Bapak minta kamu jangan jahat ke diri sendiri. Nyalahin diri sendiri karena gak bisa nerima itu lebih sakit, Bil.”

Arbil angguk. Pelan. Berat. “Aku... aku coba gak diem kalau dia nanya. Tapi jangan suruh aku manggil ‘Ibu’ ya, Pa. Belum.”

“Deal,” kata Pak Arya. Dia tossin ke anaknya. “Panggil ‘Satpam’ juga boleh, asal jangan ‘Heh’.”

Arbil ketawa. Pertama kali malam ini. Kecil, patah-patah, tapi asli.

Mereka beresin berkas dimeja bareng. Gak ada yang selesai malam itu. Luka Arbil masih menganga. Tapi setidaknya, udah ada perban namanya “boleh belum bisa”.

Dan bagi Pak Arya, itu udah cukup. Karena jadi bapak bukan soal bikin anak cepat nerima. Tapi soal nemenin anak sakit, selama apa pun itu.

Bailla.... Semoga kamu bisa menerima kondisi Arbill.. Semoga semua Baik-baik saja. Batin Arya

...****************...

...****************...

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!