Mungkin kebanyakan orang bilang menjadi orang kaya adalah hal paling gampang dilakukan. Tapi tidak jika dikaitkan dengan Some, ditengah terkaan dia malah diberi harapan panjang untuk menikah. Hal itulah menjadi awal - awal Some mengenal cowok - cowok yang lahir dengan keluarga sama darinya. Hanya cowok itu yang menerima seornag wanita mempunyai penyakit, namanya Dinner. Dari Dinner, Some dapat menerima segala sesuatu yang menimpanya. Meski bukan hal mudah ketika harus operasi beberapa kali, tapi Dinner menemaninya seperti seorang pacar. Pacaran bahakn menjalani hubungan dengan Dinner, seperti dijodohkan ini, menjadi pertanyaan besar apakah Dinner akan sanggup ?
•untuk kisahnya sudah tamat dari tahun lalu. dan masih bisa dinikmati dengan dukungan like, dan komentar kecil kalau ada kesalahan. thanf for one.
•karya original dari Nita Juwita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NitaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Between 18
Di Sekolah -- ketemu Linier
**
"Eh kak kak," ujar Ranu melihat kakaknya yang baru saja keluar dari dapur, sambil membawa segelas air putih. Kelakuan kakaknya tiap hari, membawa segelas air ke kamar, bukan satu kali. Dan menurut adiknya itu kelakuan aneh banget, karena kakaknya itu suka minum teh dingin, air es, bahkan jus di depan komplek.
"Ada apa sih Ranu?" kesal Some sambil mundur beberapa langkah karena sebal dan berharap kalau Ranu nggak nanya apa - apa lagi. Dia sampai menampilkan ekspresi bete, melihat adiknya yang baru aja turun dari tangga itu.
"Abis ngapain loe?" tanya Ranu kepo sambil melangkahkan kaki ke kakaknya. Dilihatnya cewek itu berjalan seolah nggak peduli akan kehadirannya.
"Abis ke kamar mandi dapur," jawab Some asal yang membuat Ranu menggaruk rambutnya. Ia tahu kalau kakaknya niat becanda tapi ia juga heran emang bener kakaknya dari kamar mandi.
"Masa sih, emang kamar mandi di kamar sama di lantai atas nggak ada air?" tanya Ranu kepo sambil melihat pintu kamar mandi itu yang terbuka.
"Aduh Ranu gue nggak serius, lagian orang kakak loe cuma mau minum," ucap Some sambil menunjuk gelas airnya yang masih penuh. Karena Some sendiri nggak mau meneguknya, tapi obat itu kadang pahit banget.
"Bagus sekarang udah mulai sehat, gue juga mau ambil air," ujar Ranu sambil menunjuk dispenser yang meneteskan sisa - sisa air ketika Some mengunakannya.
"Bukannya kakak loe suka minum Ran, kalau gue lagi haus atau lagi kekeringan karena kena Ac," ucap Some membela diri dan mengingat - ngingat seenggaknya nggak bikin adiknya curiga kalau kakaknya ada apa - apa.
Ranu berpikir sejenak. "Emang iya, sering banget kita tabrakan di dapur buat ngambil air," ucap Ranu membuahkan hasil. Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya tidak peduli, gakpapa sering aneh juga karena tinggal serumah pikirnya.
"Ya itu," ucap Some bersiap pergi sambil mengendap supaya air minumnya tidak tumpah. Ia juga mau menyediakan air agar nanti sore nggak ke dapur lagi.
"Eh bentar kak, malem mau dinner bareng di resto, pake baju serba hitam ya," ucap Ranu pendek sekaligus memberitahukan permintaan papa tadi malem.
"Iya deh," jawab Some cuek. Sikap papa dan mama yang dramatis tapi romantis emang nggak pernah hilang dari diri keduanya. Jadi kalau hanya dinner di restoran mahal kayaknya bukan keinginan papa yang menjodohkan atau memikirkan masa depannya. Sekaligus hal itu pasti membuat Some sesak nafas, Some tidak akan tahu apa reaksi tunangannya ketika ia tahu.
"Loe sama sekali nggak takut hah?" tanya Ranu sambil menampilkan smirk iseng yang membuat Some langsung cemberut. Mana mungkin ia takut ketika hampir dua minggu sekali kegiatan dinner itu menghiasi keluarga mereka. Dan setiap itu terjadi yang menjadi obrolan hanya sekilas kehidupan Some dan Ranu.
"Ngapain, terserah kalau loe nggak percaya," ketus Some sambil terus melanjutkan langkahnya ke tangga yang lebih tinggi.
Sampai di kamar Some buru - buru menutup pintunya rapat - rapat dengan nafas yang memburu. Ia menaiki kasur dan mulai membuka satu - satu kemasan obat lumayan banyak itu. Lalu setelah selesai, ia memasukan ke dalam mulut dan meneguk air minum secara menyeluruh.
Benar kan obatnya terasa pahit! pekik Some dalam hati.
**
"Udah selesai belum sayang?" tanya seseorang di balik pintu kamar Some. Some menatap dirinya di cermin, gadis itu berpenampilan menawan dengan black dress kebaya, juga rambut setengah basahnya terurai. Karena belum sempat hair dry tapi Some berusaha keras agar hair dryer berfungsi dengan panas.
Di belakang mamanya memerhatikan dengan setelan black dress yang sama. Hanya saja sikap feminim wanita itu membuat kesan cantik menghiasi wajah dan senyum manisnya. Sejujurnya Some merasa mamanya lebih cantik dari dirinya. Make up itu selalu terasa special karena mama menggunakannya tipis, seperti kesukaan papa yang membuat Ranu dan Some mual.
"Bentar lagi ma," ucap Some sambil merapikan make up dan rambutnya. Di atas rambutnya itu terdapat bandana bunga - bunga yang terbuat dari renda baju.
Some mengaja berdandan secantik dan rapih mungkin, ia rasa malam ini kelewat special. Karena malam ini adalah hari anniversary mama dan papanya, pasti papa membawanya ke tempat yang tak kalah special dari penampilannya. Dan selalu ingat selalu ada kado sekalipun isinya hanya hal - hal random untuk mengerjai Ranu dan Some. Tapi Some suka dan selalu mengharapkan ini terjadi, seolah memang kebahagiaan dan keharmonisan keluarganya nomer satu.
"Yuk ma!" ajak Some tidak terasa menghampiri mamanya yang masih menunggu di depan pintu kamarnya. Senyum wanita itu membuat Some tak kuasa untuk tidak merangkul bahu yang mulai ringkih itu.
Mama mengangguk santai untuk menerima ajakan Some. Keduanya menghampiri papa dan Ranu yang sedang duduk di tangga, sama - sama memegang dagunya. Mereka menggunakan stelan jas yang seragam dengan dress para wanita. Menunggu hal menarik yang akan terjadi di restoran. Sedngkn papa tak sabar melihat ekspresi mama yang selalu merasa cukup berada di dekatnya.
**
Resto dengan nama Libertine ini begitu sangat ramai. Mungkin karena resto ini merupakan resto yang sangat menawan dan royal. Sekali hidangan bisa sampai puluhan juta, tapi mama, Ranu, dan Some tak terlalu memikirkannya. Karena mereka tahu papa pasti punya hal special untuk keluarga tersayangnya.
Mereka melangkahkan kaki menuju meja yang sudah di pesan oleh papa. Banyaknya bunga mawar menghiasi lantai resto membuat mereka tahu kalau ini juga merupakan hasil kerja papa. Terbukti kepingan bunga mawar itu berhenti di sebuah meja yang dikatakan oleh pelayan kalau ini untuk keluarga mereka. Sontak saja senyum mama begitu mengembang, dan tidak mau lepas. Some meminta mama duduk di sebuah kursi dengan inisial namanya Ghina. Sedangkan ia dan Ranu juga papa duduk di inisial masing - masing yang tertulis di atas kertas berlapis plastik keras.
"What's kejutan apa?" tanya Ranu begitu penasaran sambil melihat papanya. Papa mengangkat bahu.
"Ini hanya makan malam biasa bukan kejutan Ran. Udah cukup romantis kan?" tanya papa membuat Ranu memutar mata jengkel. Kalau hanya makan malam romantis kenapa papa dan mama sampai mengajak Ranu dan Some. Mereka akan sangat romantis kalau berdua saja, pikir Ranu. Ranu sudah punya pacar, tinggal menunggu kakaknya yang sulit di ajak kerja sama.
"Romantis banget pa, sekalipun anak - anak papa nggak semestinya melihat begituan," kesal Some sambil melihat meja yang ada di depannya. Banyak kepingan bunga mawar yang membuat dirinya geli, apalagi dengan peralatan makannya yang terkesan untuk dinner berdua.
"Kalian juga ada adil di sini," kata papa yang membuat Some dan Ranu bungkam. Mereka nggak mau kebagian jatah hanya dikerjai sama papa.
"Buat apa?" penasaran Ranu tahu pasti apa yang akan terjadi. Ia sempat di beri wejangan sebelum kado untuknya terbuka. Tapi melihat semua ini rasanya Ranu juga bingung mau di kasih apa.
"Buat kebaikan kalian pasti, buat kita anniversary ini nggak ada apa - apanya selain masa depan kalian," ucap mama seolah menampik sesuatu. Dia sepertinya malu karena harus dirayakan bersama anak - anak, yang tidak tahu atas saksi cinta mereka.
"Makannya papa selalu kasih hadiah random buat kalian nggak tahu apa- apa," ujar papa setengah menahan malu, yang membuat wajahnya sedikit bersemu.
"Jadi Ranu juga kebagian nih?" kesal Ranu sambil menunjukan ekspresi cueknya yang seketika membuat keluarga itu dipenuhi tawa iseng.
"Buk, pak ada yang bisa saya bantu?" ujar seorang pelayan datang, berbarengan dengan musik klasik dimainkan di sudut ruangan. Tapi ada iringan biola dan terompet yang dimainkan oleh pekerja resto.
"Ambil makanan ke sini ya, untuk bill saya sudah bayar, " kata papa mewakili membuat pelayan mengangguk sopan lalu permisi.
"Tapi tunggu sebelum dicicipi," ucap papa membuat Some berhenti ketika ia baru saja akan menyesap minuman yang ada di meja.
"Papa bawa seseorang untuk kamu," ujar papa sambil menampilkan senyum kecilnya kepada seseorang yang tak Some ketahui. Disaat itu juga Some mengikuti arah pandang papa, matanya langsung terpana melihat cowok itu.
**