Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jeruji besi yang dingin dan bau apak dari dinding beton menjadi saksi bisu kejatuhan seorang Kenzo Praditya. Di dalam sel gelap penjara Al-Awir, tidak ada lagi cahaya lampu kristal Dubai Mall atau aroma parfum mahal yang biasa ia kenakan.
Yang ada hanyalah suara derap sepatu bot petugas dan rintihan tahanan lain yang menggema di lorong-lorong sempit.
"Aku tidak membawanya! Aku dijebak!" raung Kenzo saat tubuhnya dilemparkan kembali ke lantai sel yang keras.
Seorang petugas bertubuh kekar menatapnya tanpa ekspresi, memegang tongkat pemukul yang baru saja mendarat di perut Kenzo.
"Di sini, pengakuanmu tidak penting. Bukti di sakumu sudah bicara. Dan di Dubai, kau bukan siapa-siapa."
Kenzo terbatuk, memuntahkan sedikit darah. Wajahnya yang dulu tampan dan angkuh kini membiru, bengkak akibat interogasi yang tak henti-hentinya selama tiga hari terakhir.
Ia diancam dengan hukuman mati jika tidak segera menandatangani dokumen pengakuan. Setiap kali ia mencoba melawan, pukulan baru akan mendarat di tulang rusuknya.
~~
Sementara itu, di sebuah hotel mewah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari penjara, suasana terasa sangat mencekam. Tuan Praditya, akhirnya tiba di Dubai setelah menempuh penerbangan darurat dari London. Wajahnya yang sudah berkerut tampak sepuluh tahun lebih tua.
"Bagaimana mungkin kau membiarkan ini terjadi, Valerie?!" bentak Tuan Praditya pada Valerie yang duduk terisak di sudut ruangan.
"Aku tidak tahu, Om! Polisi itu tiba-tiba datang dan menemukan barang itu di jasnya. Aku sudah menyewa firma hukum terbaik di Dubai, tapi mereka semua menolak," tangis Valerie pecah.
Tuan Praditya membanting ponselnya ke meja. "Aku akan membayar siapa pun! Sepuluh milyar, seratus milyar, aku tidak peduli! Ambil semua aset kita di Jakarta, jual saham di perusahaan konstruksi, lakukan apa saja asal Kenzo keluar!"
Namun, asisten pribadinya menggeleng lemah. "Tuan, masalahnya bukan pada uang. Otoritas di sini sudah menutup pintu rapat-rapat. Nama Kenzo sudah masuk dalam daftar hitam keamanan nasional. Tidak ada pengacara yang berani menyentuh kasus ini karena ada intervensi dari pihak atas."
Berminggu-minggu berlalu menjadi bulan. Tuan Praditya menghabiskan jutaan dolar untuk melobi pejabat, namun hasilnya tetap nihil. Setiap pintu yang ia ketuk seolah terkunci oleh kunci baja yang tak terlihat.
Kerajaannya di Jakarta mulai goyah karena ia terlalu fokus menyelamatkan putra tunggalnya yang tersisa, namun di Dubai, kekuasaan Praditya hanyalah sebutir pasir di tengah badai.
~~
Di sisi lain Dubai, di dalam kenyamanan penthousenya, Anindya sedang duduk di balkon sembari memandangi matahari terbenam. Elang sudah tertidur pulas setelah lelah bermain pahlawan super seharian tadi.
Sarah masuk dengan membawa laporan berita terbaru. "Nyonya, Tuan Praditya kabarnya mulai menjual aset pribadinya di Jakarta untuk membiayai upaya pembebasan Kenzo. Tapi hakim Dubai baru saja mengetok palu... Kenzo dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan jaminan."
Anindya terdiam. Ada rasa puas yang sempat melintas, namun sesaat kemudian, sebuah perasaan aneh menusuk ulu hatinya. Rasa iba.
"Seumur hidup, Sarah?" bisik Anindya.
"Iya, Nyonya. Dia dipindahkan ke blok isolasi. Kabarnya kondisinya sangat mengenaskan," jawab Sarah pelan.
Anindya memejamkan mata. Ia teringat wajah Arlan. Kenzo adalah adik kandung Arlan. Darah yang sama mengalir di nadi mereka. Ia membayangkan bagaimana perasaan Arlan jika melihat adiknya membusuk di penjara asing seperti itu.
'Apakah aku terlalu kejam?' batin Anindya. 'Apakah jebakan Zayed terlalu dalam untuknya ?'
Zayed, yang baru saja masuk ke dalam penthouse, seolah bisa membaca pikiran Anindya. Ia mendekat, berdiri di belakang Anindya, dan meletakkan tangannya di bahu wanita itu.
"Kau sedang memikirkannya?" tanya Zayed lembut.
"Dia adik Arlan, Zayed," sahut Anindya lirih. "Terkadang aku merasa bersalah karena membiarkanmu melakukan sejauh ini."
Zayed memutar kursi Anindya agar menghadapnya. Ia berjongkok agar mata mereka sejajar.
"Dian, dengarkan aku. Pria itu tidak pernah menganggapmu sebagai kakak ipar. Dia menganggapmu sebagai mangsa. Jika dia tidak di sana sekarang, dialah yang akan memastikan kau dan Elang yang berada di dalam penjara ketakutan selamanya."
"Tapi ayahnya... Tuan Praditya terlihat begitu hancur," Anindya menunduk.
Zayed tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kebijaksanaan. "Itu adalah harga yang harus dibayar oleh seorang ayah yang gagal mendidik putranya. Jangan biarkan kebaikan hatimu menjadi celah bagi monster untuk kembali. Arlan mencintaimu, dan aku yakin, dia lebih suka adiknya dipenjara daripada melihat istrinya menderita."
Zayed mencoba mencairkan suasana. Ia mengeluarkan sebuah kantong kecil dari saku celananya. "Lagi pula, aku punya sesuatu untuk mengalihkan pikiranmu dari si bodoh itu."
"Apa ini?" Anindya mengerutkan kening.
Zayed mengeluarkan sebuah miniatur unta yang terbuat dari kristal swarovski. "Elang bilang dia ingin ibunya punya unta sendiri agar tidak perlu rebutan dengan robot untanya. Dia memintaku membelikan ini."
Anindya tertawa kecil, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang. "Anak itu... dia benar-benar terobsesi pada unta sekarang."
"Itu salahmu karena membawanya ke Dubai," canda Zayed. "Sekarang, bagaimana kalau kita makan malam? Aku sudah memesan tempat di restoran yang terbaik di kota ini."
~~
Sementara itu, di Jakarta, Bimo memberikan kabar terbaru melalui panggilan video.
"Anin, kondisi di sini kacau. Setelah kau mengirimkan bukti korupsi itu, keluarga Praditya benar-benar di ambang kebangkrutan. Ayah Kenzo sudah tidak punya taring lagi. Berita tentang Kenzo di Dubai menjadi topik hangat di setiap stasiun televisi."
"Apa ada ancaman untuk kami di sini, Bimo?" tanya Anindya.
"Tidak ada. Mereka terlalu sibuk menyelamatkan diri dari kejaran jaksa. Kau benar-benar sudah memutus rantai itu, Anin. Kau bebas."
Anindya menutup teleponnya dengan helaan napas panjang. Kebebasan yang ia impikan selama bertahun-tahun akhirnya benar-benar di depan mata.
Kenzo mungkin akan mendekam selamanya di sana, membusuk bersama obsesinya, namun Anindya memilih untuk berhenti menoleh ke belakang.
Malam itu, Anindya menatap langit Dubai yang bertabur bintang. Ia tahu, bayang-bayang Kenzo mungkin akan sesekali muncul dalam mimpinya, namun ia punya Zayed, sang pangeran gurun yang siap membentengi dunianya dan Elang, alasan utamanya untuk tetap berdiri tegak.
"Terima kasih, Arlan. Terima kasih, Zayed," bisiknya pada angin malam.
Di sel isolasi yang gelap, Kenzo Praditya hanya bisa menatap lubang udara kecil di langit-langit, membayangkan wajah Anindya yang kini tak akan pernah bisa ia sentuh lagi.
Ia telah kalah telak, dan kali ini, tidak ada uang atau kekuasaan yang bisa membelikan jalan pulang.
...----------------...
To Be Continue ....