NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

[13] Bumi Cemburu?

"Loh Alden lo les di sini juga?"

Langit menarik kursinya mendekat ke kursi yang diisi oleh laki-laki berpakaian kemeja motif kotak tidak dikancing dengan kaus hitam polos di dalamnya. Matanya menatap penuh semangat Alden yang sedang duduk anteng dengan buku di atas meja.

Cowok itu sedikit terkejut akan keberadaannya yang tiba-tiba. "Langit?"

Langit memberi anggukan. "Iya gue. Jadi Alden les di sini juga ya?" Hari pertama les. Langit senang mendapati orang yang dia kenal. Itu artinya dia tidak akan gabut ya walaupun Langit sangat mudah untuk berteman dengan orang baru.

"Hm."

"Lo udah pinter. Ngapain les lagi sih?" Langit menaruh tasnya di atas meja kecil yang terhubung ke kursi lalu menompang dagunya dengan tangan di atas meja. Matanya menatap

Lurus Alden yang menutup buku.

"Gue juga mesti belajar biar lulus PTN, kan?"

Langit mangut-mangut. "Sekelas orang pintar kayak lo ambis banget ya," kekehnya.

"Ujian masuk PTN gak segampang soal sekolah."

"Gitu ya?"

"Iya dan lo sendiri?" Alden menyandarkan punggung di sandaran kursi. Sebelah alisnya naik.

"Sama. Gue kan juga punya mimpi."

Alden menarik kedua sudut bibitnya sedikit.

"Eh. Kok lo senyum?"

Alden memberi gelengan. "Semoga berhasil Langit. Lo pasti lolos PTN."

"Menurut lo gitu?"

"Kenapa enggak?"

"Secara nilai gue anjlok. Otak juga pas-

Pasan. Gue bodoh soal pelajaran."

"Lo itu bukan bodoh. Di dunia ini gak ada yang bodoh. Tapi gak niat aja belajarnya. Gue yakin kalau lo rajin, lo bakal ngalahin gue."

"Lo mah saingan berat."

"Gue gak pinter langit. Gue rajin. Rajin itu karena ada keinginan dan tekad kuat. Gue cuman nyimak pelajaran makanya gue paham. Gue ngerjain tugas dan belajar makanya nilai gue tinggi. Selebihnya gue sama kok kayak lo dan yang lain. Bedanya ya cuman di sana.

Seberapa besar usaha kita."

"Otak itu bisa diasah. Layaknya pisau. Makin diasah makin tajam. Kalau gak diasah ya tumpul. Lo paham kan maksudnya?"

Langit berdecak kagum. "Lo sekali banyak ngomong berfaedah banget ya," pujinya bertepuk tangan.

"Gue bakal bantu lo kalau mau. Gue pernah bilang kan?"

"Mau banget. Gimana kalau lo jadi mentor gue. Gue punya niat ngalahin Bumi nih."

"Bumi?"

"Iya Bumi. Dibanding lo yang support gue gini. Dia malah bilang gue gak bisa. Sebal kan?" cebiknya. "Jadi gue akan lihatkan sama Bumi gue kalahin dia."

"Gue yakin Bumi bakal melonggo," serunya semangat.

"Hm. Gue bakal bantu lo."

Senyum Langit merekah. "Gue bakal cepat pinter kalau temannya sama lo."

Alden terkekeh.

***

"Alden. Langsung pulang?"

"Enggak. Gue mau ke tempat Bumi dulu. "

Alden menunjuk gedung kafe berwarna putih yang cukup besar dan luas di seberang gedung les mereka.

"Bumi?"

"Hm."

"Nongkrong ya?"

"Enggak. Bumi kerja di sana. Lo gak tahu?"

Langit memberi gelengan pelan. "Bumi kerja?" tanyanya bingung.

"Hm. Lo mau ikut gak sambil nunggu jemputan?"

Langit memberi anggukan. Sambil nunggu Ezhar dia akan ikut saja. Lagipula dia penasaran dengan Bumi yang ternyata bekerja. Jarang-jarang ia temukan teman sekolahnya bekerja part time. Apalagi seorang Ghabumi yang terkenal.

Mereka bersama menyebrangi jalan Raya untuk sampai ke Kafe.

"Dia kerja setiap hari?" Langit kepo.

"Hem. Dia masuk dari sore sampai malam."

"Kenapa Bumi kerja? Apa dia gak ribet ya sekolah sekalian kerja?" Sebagai cowok yang terbilang rajin dengan nilai bagus. Cukup membuat seorang Langit terheran.

"Bagi Bumi itu udah biasa. Gimanapun dia

Mesti kerja untuk membantu ibunya yang lagi sakit," jelas Alden.

"Ibu Bumi sakit?" Ingatannya kembali saat menemukan Bumi di samping Gramedia dengan mata memerah. Apa itu ada kaitannya dengan ibunya?

"Iya. Tapi gue juga gak tahu sakit apa."

"Memang ayah Bumi ke mana?"

Alden tidak memberi jawaban lagi. Langit membuang nafas. Selam ini dia tidak pernah menduga sekelas Bumi juga bekerja part time untuk menghidupi diri dan ibunya.

"Ayo!" Alden mendorong pintu duluan dan mempersilahkan Lamgit masuk dahulu. Lonceng pintu berdenting saat keduanya berhasil masuk.

Langit mengedarkan pandang sejenak hingga bola matanya menangkap keberadaan sosok laki-laki yang berdiri di balik meja sedang melayani konsumen yang baru datang dan memesan. Cowok itu belum menyadari keberadaan mereka.

Memakai topi putih, kaus putih

Bergambar logo kafe. Bumi tampak terlihat

berbeda.

"Saya ulangi ya kak. Ice Vanilla Late satu, ice mocha latte satu dan beef teriyaki-nya dua."

"Benar Mas."

"Totalnya 87.000 ya Kak." Bumi sibuk mengutak-atik layar komputer di depannya. Dia melayani pembeli dengan senyuman ramah. Sedang dua remaja yang tengah mengeluarkan dompet itu tersenyum menatap wajah tampan Bumi.

Dia kelihatan beda

"Lo mau pesan sekalian?" Alden menoleh pada Langit yang sontak buru-buru mengalihkan pandang.

"Oh iya boleh. Minum aja," ujarnya mendapatkan anggukan. Alden berjalan duluan. Langit lekas mengikuti di belakang.

Seperginya dua perempuan tadi. Tatapan Bumi beralih pada keduanya dengan dua alis naik. Alden menaikkan tangannya ke udara menyapa. "Pesan Bro. Langit lo mau minum apa?" tatapan Alden beralih pada Langit.

"Menunya apa aja?" Ia menatap Bumi yang kemudian mengambil sebuah buku dan menyerahkannya.

"Kalian dari mana berdua?" Ia menatap keduannya bergantian. "Bukannya lo les Al?"

"Les," angguk Alden.

"Milkshake Taro deh." Langit mendongak. Bumi kemudian mencondongkan badannya. Matanya menyipit. Tangannya menunjuk wajah Langit. Gadis itu menaikan dua alisnya.

"Apa?"

"Lo gak ngikutin sahabat gue kan?"

"Enak aja. Gue satu tempat les sama Alden," jelas Langit sewot. "Lagian apa urusannya sih sama lo kalau gue ngikutin Alden?"

Bumi mengedikkan bahu. "Gak ada, gue gak bisa bayangin sahabat gue didekatin cewek tengil ayak lo, kasihan Alden," ketusnya lalu menarik buku menu tidak ramah.

Langit melongo mendengarnya. "Dih Alden fine aja kok. Ya gak Alden?"

Alden melirik lalu memberi anggukan kecil. Bumi memperhatikan itu.

"Tuh. Lo aja yang aneh," Langit menjulurkan lidahnya.

"Lo mau makan sekalian Bro?" Bumi mengalihkan atensi pada Alden dan mengabaikan Langit. Hal itu membuat gadis itu mencak-mencak.

"Lo ramah dikit kenapa sih. Gue pelanggan nih."

"Lo pengecualian."

"Gue gak. Mau ngasih yang lo minta kemarin. Gue tunggu di meja aja. Minum langit berapa?" Alden mengeluarkan dompetnya.

"Lo bayarin gue?" Langit tersenyum senang.

Alden menarik dua sudut bibirnya.

"Wah Alden kok baik bangett sih. Gak kayak itu tuh yang di depan lo." Ia melirik sinis Bumi yang melipat tangan dan mendengus.

"Wah Alden baik banget," ulang Bumi

Mengejek.

"Ish nyebelin lo!" Langit berbalik duluan cari meja untuk duduk. Sebelum itu ia sempatkan mencibir pada Bumi.

Meja pilihan Langit adalah dekat tepi jendela yang mengarah langsung ke jalanan. sehingga dari sana dia bisa melihat lalu lalang kendaraan.

Ia melihat Alden yang tampak bicara dengan Bumi. "Heran. Baru ketemu udah bikin kesal," dumelnya.

Alden menyusul duduk beberapa saat kemudian setelah berbicara sebentar dengan Bumi. Cowok itu duduk tepat dihadapannya. Alden memiringkan kepala melihat wajah bete Langit.

"Kesal sama Bumi?"

"Iyalah. Sebal banget sumpah."

Alden terkekeh.

"Kok lo ketawa sih?"

"Kalian gak capek tengkar?" Alden meletakkan tangannya di atas meja dan

Mencondongkan badan.

"Ya capek. Bumi tuh suka bikin kesal. Gue do'ain dia gak laku seumur hidup. Baru ketemu aja minta gue pukul."

"Lo gibahin gue jangan di sini," Rasa dingin terasa seiring Bumi yang sudah berdiri di sampingnya. Menempelkan gelas itu ke pipi Langit. Gadis itu mendelik.

"Biarin! Lagian lo cepat banget sih. Baru juga dipesan."

"Gue tuh karyawan ceketan." Bumi lalu mengambil tepat di samping Alden.

"Ceketan tapi gak ramah."

"Ke lo aja."

"Banyak dendam lo ya sama gue Bumi Marbumi."

"Memang. Mau apa lo bocil?"

"Gue gak bocil!"

Bumi mencebik. Ia lalu menatap Alden yang hanya dapat menghela nafas lelah. Cowok itu lalu mengeluarkan amplop cokelat

Yang cukup tebal dan menyerahnya pada Bumi. Bumi langsung menerima.

"Kalian!" Langit tiba-tiba memekik kaget dengan mata melotot. Semua pengunjung sampai melihat ke arah mereka. Alden dan Bumi menatap Langit heran.

"Ngapain lo teriak segala?"

Langit mencondongkan wajahnya dan berbisik. "Itu obat terlarang?"

Gantian keduanya yang sama-sama melotot. Bumi berdecak dan menimpuk kepala Langit dengan amplop tersebut.

"Sembarangan lo kalau ngomong!"

Langit mendengus seraya mengusap kepalanya. Ia kembali duduk dengan baik.

"Abis kalian ngasihnya diam-diam. Kirain."

"Jangan suka negatif thinking jadi human, Zainab!"

"Iya maap. Emang itu apa sih?" Langit melirik amplop yang disimpan Bumi ke dalam kantong celananya.

"Urusan orang dewasa."

"Ya ya si paling dewasa dah lo."

"Gak ada kok." Alden tersenyum.

Langit memberi anggukan. Ia menarik gelas minumnya lalu menyeruputnya. Sedang dua laki-laki dihadapannya malah menatapnya memperhatikan.

"Gue ngerasa lagi di interogasi lo pada lihat gitu!" ujarnya memutar bola mata malas.

Bumi mendengus lalu berdiri. "Habisin minum lo. Pulang! Jangan keluyuran."

"Ye serah gue dong."

"Jangan sampai ada berita anak ilang ya besok pagi."

"Kayak lo peduli aja gue hilang," cibir Langit. Bumi menjitak kepalnya sebelum pergi begitu saja untuk melanjutkan kerjanya.

Langit mengomel.

"Alden, lo gak minum?"

"Enggak"

"Btw makasih ya udah ditraktir minum."

Alden mengangguk.

"Lo belum mau pulang kan?"

"Belum. Kenapa?"

"Gue mau tanya sesuatu deh," Langit teringat saran Bina tadi mengenai Bumi. Sebelah alis cowok itu naik.

"Kalau ada cowok nih yang dingin. Tapi marah terus panik kalau si cewek kenapa-kenapa. Itu cowoknya suka apa enggak?"

Alden memberi anggukan.

"Gitu ya?" Langit mengingat ujung pipetnya dengan senyuman terbit. Kalau begitu, dia akan coba mengikuti saran Bina untuk melihat sebenarnya Biru suka dia apa enggak sih?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!