NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seragam di Balik Kabut

Kegelapan di kedalaman enam ratus meter itu seolah menghimpit dinding polikarbonat Seabreed. EMP yang dilepaskan Unit 9 baru saja memadamkan seluruh orkestra digital Elena, menyisakan keheningan yang memekakkan telinga. Arkan melepaskan jam tangan taktisnya yang kini hanya sepotong logam mati, melemparkannya ke lantai kokpit dengan napas lega yang gemetar.

​"Liana, status navigasi?" tanya Arkan, suaranya parau.

​Liana jemarinya menari di atas konsol darurat yang mulai

menyala perlahan dengan cahaya amber.

"Sistem pendukung hidup kembali aktif. Navigasi pasif mulai mengunci posisi kapal selam Unit 9. Tapi Arkan... kapal selam ibumu, ia terseret arus turbulensi palung. Sensor akustikku menangkap suara benturan logam di kedalaman seribu meter."

​Arkan menatap kegelapan di luar jendela. Di bawah sana, palung itu tampak seperti mulut raksasa yang menelan segala dosa keluarganya. "Biarkan ia pergi, Liana. Jika ia selamat dari tekanan itu, ia bukan lagi manusia."

Tiba-tiba, sebuah dentuman keras terasa di bagian atas Seabreed. Bukan ledakan, melainkan suara magnetik raksasa yang mengunci posisi mereka. Kapal selam Unit 9, sebuah monster baja berwarna abu-abu gelap tanpa tanda pengenal, telah melakukan docking paksa pada kendaraan mereka.

​"Mereka menarik kita masuk," bisik Liana, tangannya secara insting meraih Glock di pinggangnya.

​"Jangan, Liana," tahan Arkan.

"Jika mereka ingin kita mati, mereka sudah melakukannya saat EMP tadi. Unit 9 punya agenda lain."

​Pintu palka terbuka dengan suara desisan tekanan udara. Arkan dan Liana melangkah keluar, disambut oleh aroma antiseptik dan pelumas senjata yang tajam. Mereka berada di dalam hangar bawah air yang sangat canggih. Puluhan prajurit berseragam hitam tanpa lencana berdiri tegak, memegang senapan serbu laras pendek.

Seorang pria dengan rambut cepak yang mulai memutih melangkah maju. Ia mengenakan seragam komando dengan tiga bintang kecil di kerah bajunya. Kapten Varo.

​"Tuan Dirgantara, Nona Putri," Varo memberikan hormat singkat yang kaku.

"Selamat karena telah bertahan hidup dari kegilaan Elena. Kalian baru saja mencegah perang siber yang bisa memundurkan peradaban ini lima puluh tahun ke belakang."

​"Di mana kami sekarang, Varo? Dan siapa yang sebenarnya memberi perintah pada Unit 9?" Arkan melangkah maju, tatapannya menantang.

"Jangan bilang kalian bekerja untuk konstitusi. Senjata yang kalian pegang adalah prototipe yang bahkan belum diproduksi oleh industri pertahanan manapun."

​Varo tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia memberi isyarat agar mereka mengikutinya menuju ruang pengarahan. Dinding-dinding kapal selam ini terbuat dari layar digital transparan yang menampilkan data intelijen dari seluruh dunia secara real-time.

Unit 9 adalah sisa-sisa dari organisasi yang dibentuk oleh kakekmu, Arkan. Jauh sebelum ayahmu mengubahnya menjadi mafia The Void," Varo berhenti di depan sebuah foto tua yang buram.

"Kami adalah 'Penjaga Keseimbangan'. Tugas kami bukan menegakkan hukum, tapi memastikan tidak ada satu pihak pun—baik pemerintah maupun kriminal—yang memiliki kekuatan absolut seperti Project Phoenix."

​Liana mengerutkan kening. "Jadi kalian membiarkan Sektor Selatan terbakar sepuluh tahun lalu karena itu 'keseimbangan'?"

​Varo menoleh ke arah Liana, tatapannya melunak namun tetap dingin.

"Sepuluh tahun lalu, kami gagal mendeteksi pengkhianatan Elena. Kami pikir Baskoro adalah ancaman utamanya, ternyata Elena adalah racun yang sebenarnya. Kami berutang permintaan maaf pada keluargamu, Nona Putri."

​Varo menekan sebuah tombol, dan layar utama menampilkan sebuah peta baru. Kali ini bukan di dasar laut, melainkan di sebuah pulau terpencil di perairan internasional dekat perbatasan Filipina.

Elena tidak mati," ucap Varo datar. "Kapal selam yang kalian lihat tenggelam tadi hanyalah umpan otomatis. Elena yang asli sudah dievakuasi menggunakan peluncur torpedon rahasia lima menit sebelum EMP meledak. Dia sekarang menuju ke 'Pulau Pandora'—markas utama para pendana The Scorpion."

​Arkan menghantam meja dengan tinjunya. "Dia selalu punya jalan keluar! Selalu!"

​"Tapi sekarang dia terpojok," lanjut Varo.

"Dia kehilangan kendali atas satelit Icarus. Dia butuh server fisik di Pulau Pandora untuk mengunggah sisa data Phoenix secara manual. Dan itulah alasan kami menyelamatkan kalian."

​Liana menatap Varo dengan curiga. "Kalian butuh kami sebagai umpan lagi?"

​"Kami butuh Arkan sebagai kunci biometrik hidup untuk menembus gerbang Pulau Pandora, dan kami butuh kemampuan peretasanmu, Liana, untuk menyuntikkan virus 'Dead-Drop' langsung ke server pusat mereka. Unit 9 akan memberikan dukungan taktis, tapi kalian berdua adalah ujung tombaknya."

Arkan menatap Liana. Mereka berdua tahu bahwa ini adalah misi bunuh diri. Menyerang sebuah pulau yang dijaga oleh tentara bayaran internasional adalah kegilaan. Namun, selama Elena masih bernapas dan memegang data itu, mereka tidak akan pernah punya rumah untuk pulang.

​"Apa jaminannya jika kami berhasil?" tanya Arkan.

​"Kebebasan penuh," jawab Varo. "Identitas baru, penghapusan catatan kriminal, dan Sektor Selatan akan dibangun kembali sepenuhnya di bawah pengawasan yayasan independen milik Nona Putri. Kalian akan menghilang dari radar dunia, selamanya."

​Liana menarik napas panjang, menatap Arkan yang juga menatapnya. Di tengah lautan yang gelap, di dalam perut monster baja ini, sebuah kesepakatan baru ditandatangani dengan nyawa sebagai taruhannya.

​"Siapkan senjatanya, Varo," ucap Arkan dingin. "Kita akan ke Pulau Pandora."

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!