NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Kantin St. Jude’s sedang berada di puncak kebisingannya. Aroma pasta saus truffle dan ayam panggang rosemary memenuhi udara, menggoda perut siapa pun yang melewatinya. Namun, di meja pojok yang kini menjadi markas tidak resmi penggabungan kelas 12-A dan 12-B, suasana terasa kontras.

Salene Lumiere duduk dengan punggung tegak—posisi standar yang kini terasa lebih menyakitkan dari biasanya. Di depannya bukan piring porselen berisi hidangan kantin yang mewah, melainkan hanya sebuah botol kaca transparan berisi air mineral dengan beberapa irisan lemon yang mengapung layu.

"Bubub Alen... kamu mulai diet ketat lagi?" Lauren bertanya dengan nada prihatin yang sangat kentara. Ia sendiri sedang asyik mengunyah burger keju double dengan saus yang belepotan di sudut bibirnya. "Kemarin bukannya kita baru saja makan donat cokelat di belakang gimnasium?"

Salene hanya mengangguk dingin, matanya menatap lurus ke depan. "Metabolisme setiap orang berbeda, Lauren. Aku hanya sedang melakukan detoks rutin."

Nikolas, yang duduk tepat di samping Salene, meletakkan garpunya. Ia tidak lagi melihat piringnya sendiri. Matanya tertuju pada botol air lemon itu, lalu beralih melirik pinggang Salene yang terbalut seragam abu-abu. Bukan lirikan mesum, melainkan tatapan penuh selidik seorang mekanik yang tahu kapan sebuah mesin dipaksa bekerja melampaui batasnya.

"Pinggangmu sudah cukup ramping, Sal," suara Nik berat dan rendah, hanya untuk konsumsi telinga mereka berdua. "Apa lagi yang harus diturunkan? Kau bahkan sudah termasuk kategori terlalu kurus untuk tinggi mu."

Salene menoleh sedikit, memberikan tatapan angkuh yang paling tajam. "Ini bukan tentang kurus atau tidak, Martinez. Ini tentang disiplin angka. Kau tidak akan mengerti."

"Aku mengerti angka, Sal. Aku menghitung perbandingan kompresi mesin setiap hari," balas Nik keras kepala. Ia sedikit mencondongkan tubuh, memperhatikan bagaimana napas Salene terlihat dangkal. "Apa korset itu tidak terlalu kencang hari ini? Melihatmu saja kenapa aku yang merasa sesak?"

Salene terdiam sejenak. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar perhatian yang terselip di balik nada bicara Nik yang urakan. "Terima kasih atas perhatiannya, Martinez. Tapi aku baik-baik saja. Sekarang, mari kita belajar. Ujian sejarah seni tidak akan mengerjakan dirinya sendiri."

Nikolas mendengus, namun ia tidak menyerah. Sebulan terakhir, dialah yang jatuh cinta lebih dulu. Dialah yang menarik Salene keluar dari menara gadingnya, membawanya ke pasar malam penuh tawa, ke puncak gedung tua untuk melihat bintang, hingga ke gang-gang kecil yang hanya menjual makanan berlemak.

Di tempat-tempat itulah, Nik menemukan bahwa di balik topeng porselen yang judes dan angkuh, Salene adalah gadis yang luar biasa imut. Gadis yang akan memekik senang saat memenangkan boneka beruang dari mesin pencapit, atau gadis yang akan menutup matanya rapat-rapat saat motor Nik melaju sedikit lebih kencang.

Mereka bahkan sudah memiliki puluhan foto di ponsel masing-masing yang jauh melampaui definisi "teman". Ada foto selfie di mana Salene bersandar di bahu Nik dengan sisa bumbu taco di sudut bibirnya, atau foto Nik yang sedang memakaikan jaketnya pada Salene di dermaga. Bahkan belakangan ini, Salene-lah yang sering berinisiatif mengambil ponsel Nik untuk memotret momen mereka.

"Sal..." Nik memecah keheningan saat Salene mulai membuka buku tebalnya.

"Hm?"

"Apa boleh aku mengunggah foto kita yang kemarin??"

Salene terhenti sejenak. Mengunggah foto ke publik berarti memberikan celah bagi Madame atau agen mata-mata keluarganya untuk melihat. Namun, ia menatap mata Nik yang penuh harap. "Boleh. Seperti biasa, Asal jangan tandai akunku."

Nik tersenyum tipis. Ia menatap Salene lama sekali. Minggu depan adalah ulang tahun Salene yang ke-18. Umur kedewasaan. Umur di mana Salene secara legal bisa menentukan langkahnya sendiri. Dan Nik sudah berjanji pada dirinya sendiri, di hari itu, ia akan menanggalkan status "teman pelarian" dan mengungkapkan perasaannya secara utuh.

"Fokus belajar, Nik. Jangan melihatku terus," tegur Salene tanpa menoleh, namun rona merah mulai merayap di pipi porselennya yang pucat.

"Sulit untuk tidak melihat, Sal," gumam Nikolas, suaranya parau dan tulus. "Kau cantik. Bahkan dengan air lemon menyedihkan itu di tanganmu, kau tetap hal tercantik yang pernah ada di kantin ini."

Salene segera menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah buku Sejarah Seni. Kalimat Nik terasa lebih mengenyangkan daripada burger milik Lauren. Di balik wajah angkuh yang ia pasang sebagai tameng, Salene merasa gelembung lemon di botolnya seolah-olah berubah menjadi kembang api di dalam dadanya.

Sementara di seberang meja, Lauren masih sibuk menggoda Kent yang sedang membaca buku kalkulus.

"Ken, lihat! Alen dan Nik makin akrab! Kapan kita bisa double date yang estetik? Aku ingin kita memakai baju senada seperti di film-film!"

Kent hanya bergumam pelan, "Makan burgermu, Lauren. Mulutmu terlalu berisik untuk ukuran orang yang belum mengerjakan tugas matematika."

Lauren mengerucutkan bibirnya, namun ia senang. Ia tahu Kent hanya sedang mencoba menahan diri agar tidak menciumnya di depan umum karena rasa gemas.

Dunia mereka di kelas 12 ini terasa seperti sebuah garis yang ditarik tipis. Antara kewajiban menjadi sempurna dan keinginan untuk menjadi bebas. Salene melirik Nik sekali lagi dari sudut matanya, menyadari bahwa sebulan ini bukan hanya tentang makanan terlarang atau pelarian malam. Ini tentang seseorang yang berani mencintai retakannya, bahkan sebelum ia sendiri berani mengakuinya.

"Minggu depan, Nik..." bisik Salene dalam hati, menghitung hari menuju angka 18 miliknya. "Minggu depan, mungkin aku akan berhenti menghitung kalori dan mulai menghitung berapa kali jantungku berdetak untukmu, Nik."

🌷🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!