Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Akibat Perbuatan di Masa Lalu
Saat Cakiya berusaha mencabut gada tersebut dengan meneriakkan nama Aqni Samaja, terjadi beberapa ledakan keras yang bergemuruh bagaikan letusan gunung berapi. Batu kecoklatan tempat gada Aqni Samaja pun meledak berkeping-keping hingga menghancurkan tembok setinggi dua meter yang mengelilinginya. Para Prajurit banyak yang terluka atau pun cidera akibat dari ledakan tersebut. Beberapa dari mereka bahkan terpental sejauh beberapa meter serta menderita luka bakar yang cukup serius akibat ledakan itu.
Suasana semakin bertambah panik saat rentetan ledakan yang disebabkan oleh gada Aqni Samaja yang diambil dari tempatnya bersemayam selama ratusan tahun. Debu bercampur tanah menyelimuti semua orang yang berada di alun-alun tersebut. Banyak orang terluka akibat ledakan tersebut. Meski pun demikian, Cakiya dan Baruna berhasil selamat dari ledakan itu. Mereka berdua justru memanfaatkan kekacauan itu untuk melarikan diri dari kepungan para prajurit pamong. Baruna yang mengetahui Cakiya berada di pusat ledakan segera menyusulnya, Di dalam benaknya, Baruna memiliki firasat jika ledakan itu memiliki hubungan dengan Cakiya. Dan, apa yang difirasatkannya itu tepat, sebab Baruna melihat pendekar yang usianya jauh darinya itu kini sedang membawa sebuah senjata yang semenjak ratusan tahun yang lalu tidak beranjak dari tempatnya.
“Bagaimana senjata baru saya ini, Tuan?” Pamer Cakiya sambil memanggul Gada Aqni Samaja.
Baruna tidak menjawab pertanyaan Cakiya. Ia justru memberi tanda pada Cakiya untuk segera mengikutinya. Ketika mereka berdua sudah berada di luar lokasi alun-alun mereka segera menuju ke arah bangunan terdekat untuk melarikan diri serta bersembunyi. Cakiya mengekor Baruna memasuki pemukiman sempit. Jalan yang sempit serta berkelok-kelok cukup menyulitkan Cakiya untuk mengikuti Baruna. Orang-orang pun terlihat ketakutan sewaktu melihat Cakiya dan Baruna melewati rumah-rumah mereka, mulut mereka tercekat begitu melihat dua orang tahanan yang akan dihukum mati berhasil melarikan diri menuju pemukiman. Namun, sewaktu Cakiya dan Baruna berlalu meninggalkan mereka sejauh ratusan meter, orang-orang itu segera berteriak histeris memanggil para prajurit pamong.
“Tuan sepertinya begitu mengenal tempat ini.” Komentar Cakiya sambil berusaha mengikuti langkah Baruna. “Apakah anda lama tinggal di sini?”
“Kira-kira dua puluh hari aku tinggal di kota ini.” Jawab Baruna dengan terburu-buru.
Mereka lalu berada di luar gang dan rupanya memasuki sebuah jalan yang cukup luas. Jalan itu biasa digunakan oleh para pejabat atau pegawaibawahan sang Bupati, pada persimpangan jalan itu Baruna melihat sebuah tandu yang tidak asing bagi mereka berdua. Rupanya tandu itu adalah tandu milik sang Buparti. Bupati Adiwardhana hanya dikawal enam orang prajurit pamong. Rombongan tandu yang membawa sang Bupati itu begitu terlihat berantakan, penuh debu bercampur tanah. Tandu yang mengangkut sang Bupati hiasannya sudah copot di beberapa bagian serta dipenuhi dengan debu bercampur tanah.
Bupati Adiwardhana tidak mengalami luka sedikit pun, biar pun pakaiannya penuh debu dan sebagian perhiasan yang dikenakannya tanggal entah karena terjatuh atau dicuri saat terjadi keributan akibat kekacauan di alun-alun. Ia terus mengomel di atas tandu dan sesekali berteriak-teriak murka sambil mengguncang-ngguncangkan tubuh gemuknya di atas panggung hingga membuat kesulitan bagi enam prajurit pamong yang memanggul tandunya. Keenam prajurit pamong kondisinya tentu jauh lebih buruk serta terlihat begitu sengsara jika dibandingkan dengan sang Bupati. Tanah bercampur debu menyelimuti seluruh bagian tubuh mereka, hampir seluruh tubuh enam prajurit pamong itu mengalami luka gores serta lebam. Tetapi luka tersebut tidak terlihat seberapa karena mereka terlihat masih kuat untuk menggotong tandu yang berisikan tubuh gemuk Bupati Adiwadhana. Mereka sesekali melambatkan langkah untuk menyeimbangkan tandu yang mereka angkat begitu sang Bupati mengguncang-ngguncangkan tandunya dengan marah.
Melihat Bupati Adiwadhana yang diatas tandu itu hanya ditemani enam orang prajurit pamong. Wajah Baruna menjadi kaku serta tatapannya setajam belati, secara reflek Baruna menoleh kepada Cakiya. Cakiya yang melihat perubahan eksresi dari Baruna saat melihat rombongan sang Bupati lalu mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi antara sang Bupati dengan Baruna.
“Kau tunggu di situ sebentar.” Perintah Baruna.
Cakiya yang sudah paham tidak menjawab dengan kalimat, tetapi dengan anggukan pelan serta memperlihatkan senyum sambil mempersilahkan Baruna menyelesaikan urusannya. Cakiya bisa merasakan emosi Baruna yang mendadak meninggi sewaktu Baruna bertemu dengan rombongan sang Bupati. Punggung Baruna menjadi kaku, sorot wajahnya menjadi dingin, serta ritme gerakan tubuhnya menjadi lebih cepat dari pada sebelumnya. Cakiya mengenali jenis bahasa tubuh demikian pada orang-orang yang begitu terpengaruh emosi menyelimuti perasaaan mereka. Ia tidak buru-buru mencegah atau membantu Baruna yang sedang bergerak dengan kecepatan yang luar biasa menghampiri rombongan sang Bupati. Sebab,menurut Cakiya apa yang terjadi dengan Baruna dan Bupati Adiwardhana merupakan persoalan pribadi.
Keenam prajurit pamong cukup kerepotan meengurusi Bupati Adiwardhana di atas tandu, sehingga kewaspadaan mereka menjadi mengendur. Mereka baru menyadari jika Baruna mendekati rombongan mereka saat jarak rombongan sang Bupati dengan Baruna hanya selisih beberapa meter. Dalam sekejap pun tiga dari enam orang prajurit pamong berhasil dilumpuhkan dengan tendangan yang amat kencang dari Baruna hingga tandu sang Bupati pun beringsut miring dan kemudian menggelinding beberapa kali di atas tanah. Teriakan bingung bercampur amarah sang Bupati menggema di jalanan saat tubuhnya berguling-guling di atas tanah bersama tandunya. Emosi yang memuncak membuat Bupati Adiwardhana sekuat tenaga keluar dari tandunya dengan bersusah payah sambil memaki-maki.
Begitu sang Bupati berhasil keluar dari dalam tandunya, Ia melihat keenam anak buahnya sudah dihajar oleh Baruna hingga tidak sadarkan diri. Sementara Cakiya yang sedang memanggul gada Aqni Samaja berada tidak jauh darinya. Ia tidak menyangka jika Baruna yang awalnya tenang saat akan dieksekusi hukuman gantung justru kali ini berniat menuntut balas kepadanya. Bupati Adiwadhana kini hanya sendirian melawan dua pendekar yang gagal dihukum gantung olehnya itu. Segala jabatan yang megah, kekuasaan yang diandalakannya setiap saat dan juga segala kemewahan yang dimilikinya tidak dapat lagi melindunginya dari rasa takut. Rasa takut yang menyeruak dari dalam diri sang Bupati begitu mengetahui jika dua orang yang gagal dilenyapkannya kini muncul dalam situasi tidak terduga oleh Bupati Adiwadhana.
Baruna melihat wajah itu dengan jijik bagaimana dirinya mengingat-ingat cerita dari orang-orang Lamuarta tentang sang Bupati. Ia teringat tentang tabiat buruk sang Bupati yang suka bermain perempuan dengan menghambur-hamburkan harta dari pajak yang dibebankan pada rakyat Lamunarta. Dirinya juga teringat cerita tentang Ranggaseta yang mendapat julukan tombak darah karena diperintah Adiwardhana untuk melakukan berbagai pekerjaan-pekerjaan kotor. Di dalam hatinya Baruna menganggap bahwa Bupati Adiwardhana memiliki andil menciptakan sosok kakak seperguruannya itu menjadi sosok yang begitu haus darah dan kasar.
Melihat wajah Bupati Adiwardhana, juga mengingatkan Baruna pada anaknya yang bertemu dengannya di rumah makan. Baruna melihat bagaimana kemudian kebiasaan-kebiasaan sang Bupati itu juga menurun kepada putranya, Wardhana. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kota Lamunarta nantinya bila diperintah oleh orang seperti Wardhana. Kemarahan begitu menguasai Baruna, namun pikirannya berusaha keras untuk tidak melakukan tindakan yang melewati batas. Baruna tidak memiliki niat membunuhnya atau menjadikan dirinya cacat karena tidak ada gunanya. Sebab, yang sangat membahayakan dari sang Bupati adalah kekuasaan dan hartanya yang dapat disalahgunakan, bukan kemampuan fisiknya. Jika Baruna membunuhnya saat ini, tentu yang akan menggantikannya adalah Wardhana yang tidak jauh berbeda dari ayahnya. Baruna saat ini hanya melampiaskan kejengkelannya pada Bupati itu.
“A…apa yang Anda minta Tuu...Tuan Baruna.” Cicit Bupati Adiwardhana. “Uang…jabatan….atau posisi Ranggaseta sebagai ajudan utama, semua akan kuberikan.”
Wajah Adiwardhana begitu dipenuhi keringat dingin ketakutan. Kegagahannya di alun-alun beberapa waktu yang lalu saat memimpin pidato hukuman mati Cakiya dan Baruna dengan cara digantung tiba-tiba luntur bagaikan pasir pantai dihantam ombak kemarahan Baruna. Hartanya yang selalu Bupati Adiwardhana bangga-banggakan serta selalu dipamerkan baik kepada para pejabat kolega atau pun rakyat miliknya tidak bisa membantu sang Bupati. Kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu yang dimiliki Bupati Adiwardha juga tidak menggoyahkan Baruna yang begitu dikuasai amarah yang ditujukan kepadanya.
“Tuan Satria ing ngalogo bisa merengek memohon ampun kepada orang-orang seperti kami juga rupanya.” Komentar Cakiya sambil menunjukkan senyum geli,
Baruna mejawab tawaran Bupati Adiwardhana dengan tendangan yang merontokkan gigi depannya. Sang Bupati itu pun jatuh terjengkang ketika Baruna menendang mulutnya, Ia pun berguling beberapa kali sambil memegangi mulutnya yang berlumuran darah. Tidak hanya fisiknya yang terluka karena tendangan Baruna, harga diri serta martabatnya sebagai seorang pejabat juga cukup terguncang. Baru kali ini dalam seumur hidupnya Bupati itu diperlakukan dengan sedemikian keras oleh seorang kriminal yang menurut Adiwardhana lebih hina dari orang biasa serta layak disingkirkan atau dikucilkan masyarakat.
“Harusnya kau layak mati berkali-kali.” Desis Baruna dengan murka lalu membalikkan badan meninggalkan Bupati Adiwardhana.
Baruna dan Cakiya meninggalkan sang Bupati yang mulutnya berlumuran darah dengan menangis menjerit-jerit meminta tolong memanggil-manggil para bawahannya. Begitu Cakiya dan Baruna sudah tidak berada di sekitar Bupati Adiwardhana, orang-orang disekitar yang awalnya bersembunyi karena takut, kemudian mendatangi sang Bupati yang menangis kesakitan. Beberapa dari mereka berusaha memberikan pertolongan, beberapa dari mereka hanya menatap diam dalam diam sambil mengutuki sang sang Bupati bahwa apa yang dialaminya saat ini merupakan akibat dari berbagai perbuatannya di masa lalu.
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya