NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Aleta keluar dari kelas begitu bel tanda pelajaran usai berbunyi, baru saja dia menuruni anak tangga ponsel di saku rok sekolahnya bergetar. Aleta merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

Ravian.

Kening Aleta berkerut halus, dia menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu di telinga. Detik berikutnya, suara berat yang sudah familiar terdengar dari balik sambungan telepon.

"Kau sudah pulang sekolah?"

"Sudah." Jawab Aleta acuh.

"Bimo sedang dalam perjalanan, kau ja--"

"Kirim lokasinya saja, nanti aku ke sana sendiri."

"Tidak bisa, aku sudah bilang tadi pagi." Ujar Ravian keras kepala.

Aleta menghela napas panjang. "Aku bawa motor sendiri, kalau aku di jemput asistenmu yangada motorku tertinggal di sekolah."

"Tetap saja kau ha--"

"Kirim lokasinya saja, kalau tidak mau, ya sudah. Bye."

Tep.

Aleta langsung memutus sambungan telepon tanpa memberi kesempatan Ravian untuk menyelesaikan kalimatnya. Dia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mendengus pelan.

"Menyebalkan."

Namun baru saja dia hendak memasukkan ponselnya kembali ke saku, layar itu kembali menyala. Sebuah notifikasi masuk.

Pesan dari Ravian.

Aleta membuka pesan itu, dan keningnya kembali berkerut.

Lokasi terkirim.

Hanya itu. Tidak ada tambahan kata apa pun. Aleta terdiam sejenak, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.

"Baru juga di tekan sedikit, sudah menyerah," gumamnya.

Dia segera berjalan menuju parkiran sekolah. Suasana sudah mulai lengang, sebagian besar siswa sudah pulang. Aleta mengambil helmnya, lalu menaiki motor dengan gerakan luwes.

Mesin dinyalakan. Tanpa ragu, dia melajukan motornya keluar dari area sekolah, mengikuti titik lokasi yang tadi dikirim Ravian.

***

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Aleta tiba di depan sebuah butik mewah yang berdiri megah di pusat kota. Kaca besar yang mengelilingi bangunan itu memantulkan bayangan dirinya, masih dengan seragam sekolah dan wajah tanpa riasan. Dia sama sekali tidak peduli dengan tatapan pegawai butik yang nantinya mengarah padanya.

Aleta mematikan mesin motor, melepas helm, lalu menatap bangunan itu beberapa detik.

"Serius fitting di tempat seperti ini..." gumamnya.

Dia turun dari motor, lalu melangkah masuk. Begitu pintu kaca terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut. Aroma parfum lembut memenuhi udara.

Beberapa pegawai langsung menoleh ke arahnya, dan seperti biasa tatapan itu muncul lagi. Menilai. Mengukur. Meremehkan. Namun Aleta sudah terlalu terbiasa untuk peduli dengan hal kecil seperti itu.

"Saya mencari Ravian," ucapnya langsung, tanpa basa-basi.

Salah satu pegawai mendekat, tersenyum profesional meski sorot matanya sempat meragukan.

"Apakah Anda sudah membuat janji?"

"Dia yang menyuruh saya ke sini."

Pegawai itu terlihat hendak mengatakan sesuatu, tapi sebelum sempat dia bicara suara berat dari arah ruangan VIP membuat sang pegawai terdiam mendadak.

"Biarkan dia masum." Suara itu terdengar dari arah dalam.

Aleta melongok sedikit ke arah ruangan tersebut, rupanya Ravian sudah berdiri di sana, bersandar santai di dekat ruang fitting. Jasnya masih rapi seperti pagi tadi, namun kini dasinya sedikit dilonggarkan. Tatapannya langsung tertuju pada Aleta.

Dan untuk sesaat pria itu terdiam. Sorot matanya menyapu Aleta dari ujung kepala hingga kaki. Bukan dengan tatapan merendahkan… melainkan seolah sedang memproses sesuatu.

"Kau datang juga, kenapa kau tidak mengganti pakaianmu lebih dulu?" katanya akhirnya.

Aleta mendengus. "Aku sudah bilang akan datang. Dan aku tidak perlu ganti baju, toh cuma sebentar."

Ravian berjalan mendekat, langkahnya tenang. "Tetap saja, masa kau ke sini pakai seragam sekolah."

"Lalu, kau berharap aku ke sini tidak pakai baju?"

Ravian tersenyum tipis. "Wah, kau benar-benar sulit di tebak."

"Apa itu pujian?"

"Tergantung kau mengartikannya bagaimana."

Aleta memutar mata. "Langsung saja. Aku tidak punya waktu seharian hanya untuk memilih pakaian."

Ravian terkekeh pelan, lalu memberi isyarat pada pegawai. Beberapa gaun segera dibawa keluar semuanya terlihat mahal, elegan, dan… jelas bukan gaya Aleta.

Aleta menatap deretan gaun itu dengan ekspresi datar. "Aku harus pakai ini?"

"Untuk acara pernikahan resmi kita," jawab Ravian santai. "Tentu saja kau harus memakai gaun yang bagus."

Aleta mengambil salah satu gaun, mengangkatnya sedikit. "Ini terlalu berlebihan."

"Ini standar, kau akan menjadi istriku jadi kau juga harus menjaga martabat suamimu," balas Ravian.

"Haa... Kenapa kau harus menikah denganku, sih? Kau bisa mencari wanita yang sepadan tanpa perlu repot-repot begini."

Ravian terdiam sejenak, lalu mendekat sedikit. "Memang, tapi... bagaimana, ya? Aku maunya kau yang jadi istriku."

Aleta menatapnya tajam. "Hais, terserah."

Ravian tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya menatap Aleta lebih dalam, seolah ingin melihat sesuatu yang tersembunyi di balik sikap dingin gadis itu.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia menghela napas pelan.

"Masuk dan coba," katanya, kali ini lebih lembut.

Aleta tidak langsung bergerak. Namun akhirnya, tanpa berkata apa pun, dia mengambil gaun itu dan berjalan menuju ruang ganti.

Beberapa menit kemudian pintu ruang fitting terbuka perlahan. Langkah Aleta terhenti di ambang pintu, ruangan seketika terasa sunyi. Semua mata tertuju padanya.

Gaun yang awalnya terlihat terlalu berlebihan kini justru… sangat pas di tubuhnya. Potongannya menonjolkan siluet tubuh Aleta tanpa terlihat berlebihan, warna lembutnya membuat kulit Aleta tampak lebih cerah.

Namun yang paling mencolok, ekspresinya.

Tetap dingin dan datar. Seolah gaun semahal apa pun tidak mampu mengubah siapa dirinya. Ravian menatapnya tanpa berkedip. Diia benar-benar kehilangan kata-kata begitu melihat penampilan calon istrinya.

Aleta mengangkat alis. "Kenapa kau mentapku seperti itu?"

Ravian tersadar, lalu berdeham kecil. "Tidak buruk, gaun itu cocok untukmu."

Aleta mendengus. "Kau yakin?"

"Tentu saja, hanya bisakah kau memperbaiki raut wajahmu? Meski kau memakai gaun pengantin tapi ekspresi wajahmu seperti tidak minat."

"Wajahku memang seperti ini, kau jangan berharap terlalu banyak padaku."

Ravian terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat. Berhenti tepat di depan Aleta.

"Kau..." dia menggantung kalimatnya, sorot matanya melembut sedikit. "Lebih dari yang aku bayangkan."

Aleta terdiam sepersekian detik. Lalu dia memalingkan wajah, tak nyaman dengan tatapan pria itu.

"Kalau sudah selesai menilai, aku mau ganti."

Namun sebelum dia sempat berbalik, tangan Ravian menahan pergelangan tangannya. "Tunggu."

Aleta menatap tangannya yang ditahan, lalu mengangkat pandangan ke arah Ravian. "Apa lagi?"

"Mulai hari ini," ucapnya pelan, "kau tidak boleh ke mana-mana sendirian."

Aleta mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Jangan banyak tanya, kau cukup mengiyakan ucapanku saja, Aleta."

Sudut bibir Aleta terangkat sedikit, gadis itu mengangkat tangannya menyentuh rahang tegas Ravian. "Aku perlu alasan yang jelas, bukan sekedar larangan tanpa tahu maksud di belakangnya, Sayang."

1
Nur Hayati
seruuu... up yg banyak dong kak👍
Muft Smoker
lanjuut kak ,, lanjuut kak ,,
/Grin//Grin//Grin/
merry
Rick obesi dpt in let,, dia pikir gmpng
Ma Em
Semoga Aleta selalu selamat dari orang2 yg akan mencelakainya , untuk Clara kamu terima saja akibat dari perbuatannya yg selalu mengganggu Aleta .
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak ,,
Ma Em
Semangat Aleta tunjukan pada orang yg suka membuly mu dan balas perbuatan mereka , Aleta sekarang tdk bisa ditindas karena Aleta sekarang wanita pemberani , Ravian saja sekarang jadi penasaran sama Aleta
Pa Muhsid
sebentar lagi aroma bucin akan tercium, bukannya aleta tunangan yang dianggap pajangan Sama ravian itu 🤔🤔🤔
Muft Smoker
next kaaak ,,


aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
next
Muft Smoker
next kak ,,


waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut, dan semangat thor💪
Nur Hayati
up kak, ayooo..💪
azka aldric Pratama
ini masih di tahun yg sAma gk Ama si penghianat Thor 🤔🤔🤔
CaH KangKung,
👣👣
Muft Smoker
next kaaak ,,
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat
Muft Smoker
aleta udh sfrekuensi dg km ravian ,, kuat , dingiin , Dan cerdas ,,
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁
Abdul Rosyid294
lanjut ya
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
thor lanjut, dan semangat 💪
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!