Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 9
Ella kembali ke kamarnya malam itu dengan satu kesadaran yang tidak bisa ia abaikan Ia tidak sedang tinggal di rumah. Ia sedang berada di tempat di mana setiap orang menyembunyikan sesuatu. Dan semakin ia diam, semakin jelas bahwa orang lain juga sedang menunggu. Menunggu ia melakukan kesalahan. Menunggu ia menunjukkan apa yang sebenarnya ia tahu.
Pagi itu terasa janggal sejak awal, bukan karena ada yang terlihat berubah, tetapi karena justru terlalu sunyi untuk ukuran rumah sebesar ini; tidak ada suara piring beradu dari dapur, tidak ada langkah cepat para pembantu yang biasanya sudah sibuk sejak subuh, hanya ada meja makan yang terisi setengah dan udara yang terasa kosong.
Ella duduk tanpa banyak bicara, sementara di depannya Bu Vero menuangkan teh dengan gerakan yang tenang dan teratur, seolah semua ini sudah direncanakan sejak lama dan hanya menunggu waktu untuk disampaikan.
Tanpa basa-basi, ia mengatakan bahwa seluruh pembantu di rumah itu sudah diberhentikan, alasannya sederhana dan disampaikan dengan ringan: siapa yang akan menggaji mereka dalam kondisi sekarang. Kalimat itu terdengar masuk akal di permukaan, tapi bagi Ella terasa terlalu cepat, terlalu final, seperti keputusan yang tidak memberi ruang untuk dipertanyakan.
Bu Vero kemudian melanjutkan bahwa mereka perlu membicarakan tanggung jawab rumah, bahwa mulai sekarang semuanya harus diatur ulang, dan ia akan mengambil kendali sebagai ibu di rumah itu, sebuah posisi yang diucapkan dengan begitu pasti, seolah status itu otomatis memberinya hak atas segalanya.
Ella tidak menanggapi, bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena ia belum siap menerima kenyataan bahwa peran itu dipaksakan begitu saja ke dalam hidupnya.
Namun Bu Vero tidak berhenti di situ; dengan nada yang tetap halus tapi semakin tegas, ia mengatakan bahwa semua orang di rumah ini punya kewajiban, dan Ella harus mengambil bagian terbesar, memasak, membersihkan seluruh ruangan, mengurus rumah yang selama ini tidak pernah ia tangani sendiri.
Tidak ada pilihan yang ditawarkan, tidak ada diskusi, hanya keputusan yang disampaikan seolah itu hal yang wajar. Ella merasakan sesuatu mengeras di dalam dirinya, campuran antara lelah, jengkel, dan curiga, karena ini tidak terasa seperti pembagian tugas biasa, melainkan cara halus untuk menempatkannya dalam posisi yang lebih rendah, membuatnya sibuk, menguras energinya, dan mungkin tanpa ia sadari menjauhkannya dari hal-hal lain yang lebih penting.
Ia tidak membantah, tidak juga menyetujui secara terbuka; ia hanya diam, menyimpan semua pertanyaan itu sendiri, karena semakin jelas baginya bahwa yang sedang terjadi di rumah ini bukan sekadar perubahan keadaan, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami, tapi perlahan mulai ia rasakan arahnya.
Percakapan itu belum benar-benar selesai ketika Bu Vero kembali membuka topik lain dengan nada yang sama tenangnya, seolah semua ini hanya bagian dari pengaturan ulang yang wajar.
Kali ini tentang keuangan. Ia menatap Ella lebih lama dari sebelumnya, lalu bertanya langsung apakah Ella mengetahui simpanan lain milik ayahnya, rekening tambahan, uang tunai, atau aset apa pun yang tidak tercatat.
Pertanyaan itu terasa terlalu spesifik, terlalu terarah, seolah ia tidak sedang bertanya, tapi memastikan.
Ella menggeleng pelan. “Nggak ada,” jawabnya jujur. “Yang ada cuma itu. Ayah nggak pernah simpan lebih dari yang dibutuhkan.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih yakin, “Ayah suka hidup sederhana. Yang penting cukup.”
Kalimat itu seharusnya cukup menutup pembicaraan, tapi ekspresi Bu Vero tidak berubah. Tidak ada kelegaan, tidak juga penerimaan, hanya diam yang terasa seperti menilai.
"Ya ampun, ku pikir ayah tiriku adalah pejabat kaya raya. Ya, minimal adalah yang bisa dibanggakan darinya untuk aku upload di media sosial. Ternyata ... ughhhh. Tak ada yang bisa ku banggakan sedikitpun. Hidup sederhana, tabungan sangat mepet, ditambah karir hancur lebur. Lalu apa yang bisa aku banggakan?" celetuk Sesil.
Beberapa detik kemudian, tanpa mengalihkan pandangan, Bu Vero mengatakan bahwa ia akan segera mengurus klaim asuransi kecelakaan Pak Tanto.
Kalimat itu membuat Ella langsung mengangkat kepala. “Sekarang?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan keberatannya. “Bukannya kita harus nunggu dulu?”
Ada jeda kecil sebelum Bu Vero menjawab, tapi bukan jeda ragu, lebih seperti memberi ruang sebelum menyampaikan sesuatu yang sudah ia yakini sepenuhnya. “Nggak perlu,” katanya datar. “Kondisinya sudah jelas.”
Ella mengerutkan kening. “Tapi jasadnya belum ditemukan…”
Bu Vero memotong pelan, tetap dengan nada yang terkendali. “Ella, jatuh ke jurang sedalam itu, mobil hancur seperti itu… sudah bisa dipastikan. Seratus persen. Bahkan seribu persen.” Ia menghela napas tipis, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin dingin, “Kalau bukan langsung meninggal, kemungkinan besar tubuhnya sudah… hilang. Dimakan binatang, atau terbawa arus sungai di bawah sana.”
Kata-kata itu terasa menghantam lebih keras dari yang seharusnya. Ella terdiam. Bukan karena ia tidak mengerti tapi karena ia tidak menerima.
Cara Bu Vero mengatakannya terlalu mudah. Terlalu pasti. Tanpa keraguan sedikit pun, seolah kehilangan itu sudah selesai sebelum benar-benar dimulai. Tidak ada ruang untuk harapan, tidak ada jeda untuk memastikan, bahkan tidak ada kehati-hatian dalam memilih kata.
Dan itu yang justru membuat Ella semakin tidak tenang.
Tangannya perlahan mengepal di bawah meja. Pikirannya kembali ke berita tadi, ke kata hilang, ke pesan terakhir ayahnya, dan ke semua kejanggalan yang belum terjawab. Jika semua orang sudah begitu cepat menyimpulkan… lalu kenapa ia justru merasa ada sesuatu yang belum selesai?
Ella menatap Bu Vero lebih lama. Mencoba membaca sesuatu di balik ketenangan itu. Tapi yang ia temukan justru hal lain sebuah kepastian yang terasa terlalu siap.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul dengan jelas di kepalanya: apakah Bu Vero benar-benar yakin atau memang sudah tahu sejak awal?
Percakapan di meja makan itu seharusnya sudah selesai, tapi ada sesuatu yang mengganjal dan tidak memberi Ella ruang untuk diam lebih lama.
Ia menarik napas pelan, lalu akhirnya memberanikan diri menatap Bu Vero secara langsung. “Bu,” panggilnya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan, “boleh tanya sesuatu?”
Bu Vero tidak langsung menjawab, hanya mengangkat pandangannya sedikit, memberi isyarat agar Ella melanjutkan.
“Ibu kenal Ayah sejak kapan?” tanya Ella. “Di mana pertama kali ketemu? Terus… kenapa memutuskan menikah secepat itu?” Ia berhenti sejenak, menimbang kata terakhirnya, lalu tetap melanjutkan, “Dan… Ibu benar-benar mencintai Ayah?”
Hening. Tidak ada jawaban.
Bu Vero hanya menatapnya beberapa detik, tatapan yang sulit dibaca, tidak marah, tidak juga terkejut lalu perlahan meletakkan sendoknya.