Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Alas Purwa
Udara langsung terdistorsi. Angin yang bertiup lembut mendadak menjadi liar. Hembusannya sudah tidak teratur, dan itu menyebabkan kekacauan cukup besar.
Beruntung lokasi yang Xuan Nindya pilih jauh dari pemukiman penduduk, tepatnya di tengah tengah Hutan Purwa, berpohon lebat serta angker, yang selalu ditakuti oleh manusia, serta jauh dari perhatian penduduk, karena lokasinya sangat sulit untuk dijangkau.
Namun energi spiritualnya melimpah ruah, jadi sangat cocok untuk membangkitkan energi dalam tubuh, dan mengolahnya menjadi kekuatan.
Tiga menit kemudian, proses transfer energi pun telah selesai, dan kedelapan orang itu sekarang sedang menstabilkan kekuatannya.
"Luar biasa! Inikah yang ketua katakan, bahwa kita akan menjadi orang baru setelah membangkitkan kekuatan?" gumam Raka, mewakili rekan rekannya.
"Kau benar! Aku merasa dunia dan isinya bisa aku genggam, dan itu....?"
Pletak
"Argh!"
"Baru mendapatkan kekuatan segitu saja kau sudah sombong, bagaimana kalau sudah berada di puncaknya, ha!?" ucap Nindya. protes atas kesombongan salah satu bawahannya.
Brug!
"Maafkan saya ketua. Saya hanya terkejut saja." reaksi Gita, yang ternyata salah satu pelakunya.
"Sudahlah. Lain kali hati hati saat ingin menggunakan kekuatan itu. Tidak semua bisa disama ratakan."
"Lagipula kau harus tahu, bahwa kita ini sedang dimana dan di tempat apa?"
"Jangan sembarangan menggunakan kekuatan. Kalau kau memang kuat, tuh lawan mereka. Jumlahnya kemungkinan ada satu juta. Kalau kau sudah merasa hebat, lawan lah mereka." reaksi Nindya.
"Memangnya ini tempat apa ketua?" tanya Gita.
"Dasar bodoh. Tempat ini orang menyebutnya Alas Purwo, ataupun Hutan Purwa. Kau tahu sendiri lokasinya di mana?"
"Apa! Alas Purwa? Bagaimana mungkin, dan bagaimana kita bisa berada di sini ketua?"
"Itu tidak usah kau tanyakan, karena banyak hal yang belum kau ketahui."
"Namun sekarang bagaimana. Apakah kau sanggup melawan mereka?"
"Tidak ketua. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan sombong lagi."
"Bagus!"
"Bagaimana dengan yang lain, apakah kalian merasa ada perubahan?"
"Benar ketua. Sekarang saya tidak merasa sakit lagi, dan rabun dekat sudah tidak ada."
"Begitu juga dengan saya ketua. Batuk menahun yang sudah saya derita, kini hilang begitu saja."
"Kami juga."
"Saya juga."
Bersahut sahutan lah kedelapan orang itu berebut mengungkapkan kegembiraannya. Bahkan Maya yang paling banter terdengar suaranya.
Selama ini dia selalu menyembunyikan penyakit yang dideritanya. Dokter mengatakan hanya tinggal menunggu kematian saja.
Tapi sekarang semuanya sudah sembuh, dan dia tidak merasa sakit lagi.
Maka dengan kesadaran tinggi dia langsung berlutut ke arah Nindya, dan mengikrarkan janji setia sekali lagi, bahwa dia sanggup mati demi Nindya, dan akan membelanya apapun yang terjadi.
Melihat sikap Maya yang seperti itu, 7 orang lainnya langsung mengikuti aksi Maya, dan segera berlutut ke arah Nindya. Bahkan kening mereka hampir menyentuh tanah.
Nindya hanya membiarkannya saja, karena itu bentuk kesetian total bawahannya.
Namun tak lama kemudian dia berkata.
"Kalian sudah aku bangkitkan. Sekarang rata rata kekuatannya sudah mencapai angka 1.000. Hanya tinggal Sukma saja."
"Kekuatannya belum berada di puncak level satu. Dia baru menembus level akhir berada di tingkatan 960. Tinggal 40 lagi yang harus Ia capai untuk menembus level berikutnya."
"Oleh karena itu teruslah berlatih, agar tidak ketinggalan." ujarnya.
"Mohon maaf ketua. Kami semua ini awam dengan kekuatan yang kami dapatkan."
"Kami memang pernah mendengar, bahwa ada orang yang mempunyai tenaga dalam, yang mampu merobohkan mematahkan, atau memindahkan benda kecil dari jarak jauh. Apakah ini sama dengan kekuatan kami ketua?" tanya Gita. yang diamini oleh Raka dan yang lainnya.
"Ini bukan tenaga dalam. yang kalian bangkitkan itu adalah energi spiritual, yang berpusat dalam hati kita masing masing. yang disebut dengan energi batin"
"Energi spiritual juga bisa berada di tulang belakang atau tulang ekor, dan jika itu dibangkitkan, maka kekuatannya akan sangat menakutkan."
"Energi spiritual itu lokasinya ada dua, yaitu pada diri manusia dan di alam, terutama energi bumi dan langit di sekitar kita."
"Oleh karena itu aku membawa kalian ke sini, agar proses membangkitkan energi yang tersimpan di tubuh kalian bisa berlangsung dengan mudah, dan ternyata tebakanku benar."
"Sekarang energi kalian sudah bangkit, bahkan sudah dimurnikan. Mengenai bagaimana aku bisa membawa kalian ke sini, itu tidak perlu kalian tanyakan, karena itu pantangan bagiku. Paham?"
"Paham ketua!"
"Lalu yang kedua. Tenaga dalam. pada pada prinsipnya bisa dianggap sama, sama sama kekuatan batin. Tetapi keduanya mempunyai perbedaan yang sangat mendasar."
"Energi spiritual itu berupa keyakinan akan sang pencipta. Berkaitan dengan energi hati. Sementara tenaga dalam itu berpusat pada pelatihan tubuh dan otot, untuk menjadi sumber kekuatannya."
"Namun jika diadu. energi spiritual lebih maju beberapa tingkatan daripada tenaga dalam. Oleh karena itu kalian berterima kasihlah padaku, karena di dalam tubuh kalian sekarang sudah ada energi spiritual yang sudah berhasil aku bangkitkan."
"Mulai hari ini, kalian adalah pilar organisasi Pemburu Setan, atau Pemburu Darah, di mana tugasnya adalah untuk memberantas kejahatan di muka bumi ini bagaimanapun sulitnya."
"Karena kalian adalah pilar organisasi, maka hari ini aku tentukan, bahwa Alpha yang akan menjadi panglima kalian, dan Raka yang akan menjadi wakil sementaranya"
"Sementara Gita dan lainnya, akan aku angkat menjadi penguasa di masing masing penjuru mata angin, dan tugasnya adalah untuk memantapkan posisi kita dalam persaingan merebut kekuasaan dengan organisasi dunia bawah tanah lainnya."
"Jadi karena semuanya sudah jelas, aku rasa kita sudah bisa kembali, dan melaksanakan rencana kita kedepannya?" ujar Nindya, sambil tersenyum ke arah kegelapan, karena dia tahu sedang diawasi oleh penghuni hutan tersebut.
Sementara itu di tempat lain. "Tuan Raja. Mereka sudah berani mendatangi tempat kita. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menangkap mereka?" tanya seseorang, yang terus mengawasi Nindya dan bawahannya.
"Jangan! biarkan saja. Mereka bukan orang sembarangan, apalagi dua orang itu. Ditambah dengan satu orang yang kekuatannya tidak bisa aku ukur. Kemungkinan leluhur kita juga tidak mampu untuk mengunggulinya? Sepanjang mereka tidak berbuat kerusakan, maka kita biarkan saja."
"Mulai saat ini kita harus bisa hidup berdampingan dengan mereka. Lagipula aku merasa energi yang dipancarkan oleh salah satu diantara mereka sangat murni sekali, dan itu mengingatkanku pada sahabatku di Tulban sana." jawab sang Raja.
"Terima kasih senior Raja. Kami datang hanya untuk berlatih saja, dan tidak akan berbuat kerusakan di wilayah kekuasaan anda."
"Suatu hari nanti kami semua akan kembali, dan membantu anda saat wilayah anda diserang." ucap Nindya melalui kesadaran spiritualnya. dan itu bisa dipahami oleh Bergola, Raja yang berkuasa di tempat itu.
"Kami juga berterima kasih, karena tidak menyangka tempat yang sangat ditakuti oleh manusia seperti kalian, kedatangan orang orang jenius dan pilihan alam."
"Dengan kedatangan kalian, kami jadi sadar, bahwa di atas kekuatan seseorang, masih ada kekuatan lainnya."
"Dan terima kasih juga karena kalian tidak merusak alam ini, walaupun ada beberapa yang tumbang. Tapi itu bisa kami pahami, karena proses membangkitkan energi yang sangat asing itu tidak bisa dielakkan."
"Jadi atas nama rakyatku, kami mengundang kalian semua untuk mengunjungi istana kami, agar sebagai raja, kami bisa menjamu kalian semua."
"Terima kasih Tuan Raja. Tapi waktu kami di sini sangat sedikit. Kalau begitu kami permisi, karena masih banyak tugas yang harus kami selesaikan." jawab Nindya, lalu menghilang begitu saja.