"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Di suatu tempat yang tersembunyi jauh dari jangkauan publik, sekelompok pria berpakaian formal berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Ruangan itu luas, tapi gelap. Pencahayaan remang membuat bayangan bergoyang di dinding, menciptakan kesan bahwa tempat itu tidak sepenuhnya nyata. Aura pekat, seperti asap tak kasat mata, menguar dari tiga sosok yang duduk di kursi khusus di depan ruangan—mereka tidak bicara banyak, tapi kehadiran mereka cukup untuk membuat udara terasa berat, mencekik.
Suasana sunyi yang menyesakkan akhirnya dipecah oleh suara dingin yang mengiris.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan jejak anakku?"
Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi. Tapi justru ketenangan itulah yang paling menakutkan.
Salah satu pria bersetelan hitam angkat bicara pelan, nyaris berbisik. “Maaf, Tuan. Kami telah menyisir setiap sudut kota, bahkan melibatkan jaringan bawah tanah. Tapi sampai saat ini... belum ada hasil.”
PLAK!
Salah satu gelas di meja hancur, dilempar pria di kursi tengah.
"BODOH!" suara yang terdengar masih muda namun menggelegar menyusul, berasal dari pria berambut gelap dengan mata tajam bak belati. “Sudah sebulan lebih! Dan kalian bahkan tidak bisa melacak satu bayangan pun dari adikku?”
Para pria di bawah sana mulai gelisah, menunduk lebih dalam. Beberapa bahkan menggenggam tangan mereka erat, menahan ketegangan.
Pria paling tua dari tiga penguasa itu akhirnya angkat bicara, dengan suara serak yang berat namun penuh wibawa, seperti guntur yang bergema pelan.
"Aku tidak peduli apa yang harus kalian lakukan."
"Cari cucuku. Dengan cara apa pun. Setiap menit keterlambatan adalah harga yang harus kalian bayar sendiri. Kami membayar kalian mahal, bukan untuk berdiri di sini dengan tangan kosong.”
Sesaat kemudian, ruangan kembali senyap, hingga suara tajam dari pria muda kembali menggelegar.
"Sebelum kalian benar-benar aku habisi satu per satu... PERGI!"
Nada suaranya nyaris tidak manusiawi. Tatapan matanya dingin, seperti tak mengenal ampun. Urat amarah terlihat jelas di rahangnya yang mengeras.
Para pria itu langsung membungkuk dalam-dalam dan mundur cepat, seperti bayangan yang ditelan gelap. Tak satu pun berani menoleh ke belakang.
Ketiganya masih duduk diam di atas singgasana gelap itu, memandang ruangan kosong di depan mereka.
Tak ada yang tahu siapa mereka sesungguhnya. Tapi satu hal pasti—ketika mereka mencari sesuatu, dunia pun akan dipaksa untuk berlutut.
***
Jika di satu sisi dunia dipenuhi aroma ancaman dan ambisi, maka di sisi lainnya, ketegangan memuncak dalam bentuk berbeda—lebih personal, lebih dalam, lebih menyayat.
Sebuah ruangan rahasia di lantai dasar sebuah gedung megah dijaga ketat oleh pasukan bersenjata lengkap. Di dalamnya, suasana tidak kalah mencekam dari ruang gelap para penguasa bayangan. Seorang pria bersetelan jas mewah berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu. Matanya merah menyala, urat-urat di lehernya menonjol, dan kepalan tangannya masih menggigil penuh amarah.
Di hadapannya, seorang petugas dengan wajah lebam, bibir pecah, dan napas yang terengah-engah, berusaha tetap berdiri.
“Saya... saya sudah mengerahkan seluruh unit pelacak, Tuan. Setiap jalur, setiap kontak, kami telusuri. Tapi mohon... mohon bersabar...”
“Sabar?! Sudah sebulan lebih saya menunggu dalam kegelapan ini! Dan kalian... masih menyuruh saya bersabar?!”
Suara pria itu menggema di seluruh ruangan. Getaran dari amarahnya hampir terasa fisik. Sekali lagi, ia hampir melangkah maju untuk kembali menghajar pria malang di depannya jika saja tak ada yang menahan.
“Kalian ini bisa bekerja atau tidak?! Jika kalian tidak bisa memberi kabar soal anakku—lebih baik kalian kubenamkan hidup-hidup bersama bangunan ini!”
Tangannya bergerak liar, dan barang di atas meja terlempar ke dinding, menghancur.
Seseorang yang lebih muda segera memegang lengannya, berusaha menenangkan. Pria itu berwajah tajam, dan tampak jauh lebih tenang meski sorot matanya menyimpan bara serupa.
“Papa... tenang. Lebih baik Papa temani Mama. Keadaan Mama makin parah, dan ini bisa membuatnya tambah drop. Biar Abang yang urus sisanya.”
Namun pria itu menepis tangan anaknya kasar.
“Papa tidak akan pergi sampai mereka menunjukkan hasil! Mereka pikir kita ini siapa?! Kalau bukan karena kekuasaan kita tertahan oleh hukum negara, tempat ini sudah jadi debu sejak kemarin!”
Suara sepatu yang berlari tergesa dari arah lorong menggema, disusul dengan munculnya dua anak laki-laki dengan wajah panik dan napas memburu.
“Papa! Abang!” teriak salah satu dari mereka.
“Mama... Mama...!”
“Apa?! Katakan dengan jelas!” seru sang ayah mendekat.
“Mama ngamuk lagi, Pa. Dia... dia lempar semua barang di kamarnya. Suster-suster tidak bisa mendekat!”
Tanpa menunggu detik berikutnya, pria itu segera pergi—menghilang seperti badai menuju ruang di mana istrinya dirawat. Sejak kehilangan anak mereka, sang istri menderita depresi berat. Ada malam-malam panjang yang dia lewati hanya dengan tangisan, ada siang yang diisi teriakan histeris dan ketakutan.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Putra tertua itu menatap tajam petugas yang masih berdiri gemetar.
“Dengar baik-baik,” ucapnya dengan suara rendah, namun dingin bagaikan es kutub.
“Jika sesuatu terjadi pada adikku... atau pada ibu kami—maka darah kalian akan menjadi ganti rugi yang kami ambil pertama kali.”
Ia berbalik, meninggalkan petugas itu membeku dalam ketakutan. Bayang-bayang keluarganya menghilang di balik koridor gelap, namun aroma dendam dan ancaman tertinggal lama di udara.