NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 22

Hujan turun perlahan di pagi yang sunyi, menggantungkan debu jalanan yang mengembun di rerumputan. Traktor dan truk pengangkut sawit berhenti beroperasi, memilih berbaris rapi di garasi, ketimbang mengambil resiko—bertarung dengan beceknya jalanan perbukitan. 

Dapur sederhana milik Bu Harmi terasa lebih panas dari hari biasanya. Sejak lepas subuh, Hasna berdiri anggun sembari mengaduk cuko pempek yang sedang di rebusnya, di sofa ruang tengah Bu Sar dan Dewi duduk bertopang kaki sambil memainkan ponsel mereka. 

Hujan yang cukup deras membuat mereka tidak bisa membawa Adam pulang dan memilih tinggal di rumah Rizal sambil menunggu reda. 

“Aaaahhhh.” Dewi mengulet, lalu beranjak dari duduknya. “Belum mateng, Yuk pempeknya?” tanyanya pada Hasna yang keluar membawa dua cangkir kopi. 

“Pempeknya sudah, tinggal nunggu cukonya agak dingin, makan pempek nggak mungkin, to panas-panas,” sahut Hasna lembut.  

Ia kemudian menyuguhkan kopi untuk Rizal yang duduk di meja makan sambil melihat laporan di laptopnya, sedang di seberang mereka duduk bersantai, Bu Harmi sibuk memasang payet baju kebaya pesanan pelanggannya.   

“Minum kopi dulu, Bang sambil nunggu pempeknya matang, ini ada masuba juga, aku bikin kemarin sama Dewi,” ucap Hasna, senyum manis terulas di wajahnya yang mengilat. 

Rizal berdehem kecil, menoleh sejenak seraya berucap pelan. “Terima kasih, Has.” 

“Kalo begini berasa kaya masih ada Ayuk Sukma, ya, Bang?” celetuk Dewi sambil menyomot kue masuba yang disuguhkan Hasna. 

Rizal mengangkat cangkir kopinya, menyesap pelan. Senyum tipis tersungging di ujung bibirnya. “Ayukmu memang masih selalu ada, Dew, cuma nggak terlihat aja.”  

“Tapi, ngeliat Yuk Hasna dari tadi sibuk di dapur, bener-bener kaya ngeliat Ayuk Sukma, lo. Caranya jalan, bikin kopi, nyicipin masakan, bajunya, jilbabnya, semua plek-ketiplek Ayuk Sukma,” sahut Dewi. 

“Hasna ‘kan memang suka tiru-tiru Sukma dari dulu, wajarlah mirip. Apalagi sekarang Sukma nggak ada, kesempatan buat dia niru, biar Rizal mau ngelirik,” timpal Bu Sar, matanya melirik tajam ke arah Hasna yang sudah kembali sibuk di dapur. 

“Sudah, Dew, kamu jangan ngemil aja, lihat sana si Nadya udah selesai belum mandiin Adamnya, lama betul dari tadi nggak keluar-keluar, jangan-jangan cucuku di kasih tetek dia yang basi, lagi.” lanjutnya lalu turut duduk di meja makan bersama Rizal. 

Belum sempat Dewi beranjak dari duduknya, Nadya sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Adam yang sudah wangi. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada Hasna yang sibuk membawa pempek dan cukonya. 

“Hasna, Adam sudah berapa hari nggak PUP?” tanya Nadya dengan wajah datar. 

“Ehm …,” Hasna berpikir sejenak. “Kayanya dua harian, memangnya ke—” 

“Bohong!” sergah Nadya. “Berapa hari saya tanya.” 

Mendengar sergahan Nadya, Rizal menegakkan punggungnya, tatapannya berpindah ke arah Hasna dan Nadya, begitupun Bu Harmi yang langsung beranjak dari ruang jahitnya. 

“Anahhh, Nadya, ngapa pula kamu pagi-pagi tanya perkara PUP, mau kamu makan? Merusak selera orang mau sarapan saja,” hardik Bu Sar. 

Nadya bergeming, tatapannya tetap tajam ke arah Hasna. “Berapa hari?!” 

Hasna tertunduk sesaat, sebelum kembali mengangkat dagunya. Pupil matanya blingsatan ke sekitar. “Dua harian deh, Kak. Tapi, nggak ada diare kok, Adam juga nggak ada ruam sama muntah.” 

Nadya menghela napas lelah, matanya terpejam beberapa detik. “Aihhh, bisa pecah betul palak saya ngadepin anomali ini. Masalah pencernaan bayi itu bukan cuma diare, Hasna. Ada yang namanya sembelit dan itu tidak terdeteksi kalo kita tidak teliti!”   

Hasna tersentak seketika, hingga cuko yang sedang dia tuangkan menyiprat ke sisi mangkuk. Bibir gadis berhijab itu bergumam, namun suaranya tertahan di tenggorokan. 

“Berapa hari? Dari kalian kasih Adam minum susu?” tebak Nadya. 

Bu Sar yang merasa terintimidasi dengan pertanyaan Nadya menyahut dengan suara lantang. 

“Ngapa pula lah kamu ngurusin PUP, kalo Adam memang kebelet PUP apa nggak sudah PUP!”  

Nadya memutar bola matanya malas, hembusan napas berat keluar dari bibirnya. “Ya Alloh peningnya.” Ia lalu meninggikan suaranya. “Otak kalian di mana, Bengak! Orang dewasa nggak PUP dua hari aja di perut begah, apalagi bayi!"

Mendengar Nadya semakin emosi Rizal beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Nadya sambil mengusap perut Adam yang terlihat lebih buncit dari biasanya. 

“Nad,” seru laki-laki itu, raut wajahnya bingung, namun berusaha menenangkan Nadya. “Apa ini bahaya buat Adam?” imbuhnya. 

Nadya menoleh ke arah Rizal, tatapannya menusuk. Sejak ciuman mendadak Rizal dua hari lalu, Nadya memang mendiamkannya, meski bapak satu anak itu terus meminta maaf padanya. 

Ia kemudian melangkah pelan sambil menjawab dengan suara ketus. “Nggak bahaya, paling kalau telat penanganan usus Adam pecah.” 

Seketika, semua yang ada di ruangan itu tersentak, mata mereka saling menatap dengan raut tak percaya. 

Rizal yang sempat termangu, dengan cepat menyusul Nadya masuk ke dalam kamar, lalu Bu Harmi dan Bu Sar yang mengekor di belakang. 

“Nad, kamu nggak lagi bercanda ‘kan?” serbu Rizal begitu sampai kamar Nadya. 

“Abang pikir kaya gini bisa di becandain, lihat perut Adam. Itu buncit bukan karena kekenyangan, tapi nyimpen PUP, napas dia juga mulai keliatan sesak, aneh aja itu anak masih bisa tahan dan nggak rewel,” jelas Nadya dengan sedikit dongkol. 

“Terus kita harus gimana, Nad?” tanya Bu Harmi dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap perut Adam yang tertidur di kasur. 

“Suruh Bang Rizal tanya Hasna, ‘kan dia yang lebih pinter, atau itu neneknya punya solusi, mungkin?” sindir Nadya saat melihat kehadiran Hasna dan Bu Sar. 

“Nadya.” Rizal menyahut dengan nada putus asa.  

Nadya tak menjawab, malah sibuk membereskan perlengkapan Adam dan beberapa barang penting miliknya. Rizal yang semakin bingung dengan sikap Nadya, mendekati gadis itu, lalu menarik lengannya pelan. 

“Kita harus gimana, Nad? Tolong?” lirih Rizal. 

“Ke RS lah, mau gimana lagi. Abang pikir saya dari tadi ngapain kalo bukan siap-siap ke RS.” sungut Nadya. 

“Ya kamu di—” 

“Nggak usah banyak omong, ayo berangkat,” sergah Nadya, ia lalu mengangkat Adam ke gendongannya. “Bawa koper sama tas saya,” lanjutnya tanpa memperdulikan tatapan pias Hasna. 

“Mamah ikut, Zal. Mamah nggak percaya sama pembantu mu itu. Jangan-jangan ini cuma cara dia buat ngerayu kamu karena tau Adam sudah mulai nggak mau netek sama dia.” Ucap Bu Sar, matanya menatap penuh selidik ke arah Nadya yang lewat di depannya. 

Nadya menoleh seketika, tangannya mengepal di sisi tubuh, tatapannya penuh murka. “Mun nikeu mak percayo cucu nikeu nyak urus, jak suruh anak nikeu bangun ngurus banyinyo!” (Kalau kamu tidak percaya cucu kamu saya urus, suruh anak kamu bangun urus bayinya)

.

.

.

“Nadya.” 

Bersambung. 

1
Vera Dewiaryani
iya double dong thor kali²
Anna: Sedang di usahakan kak 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho lho baru baca kok sdh bersambung..pelit niqn ni kak thor up dikit kali..sekali kali double up lah kak biar puas dirini baca
Anna: Kakak terima kasih sudah selalu mensupport karya saya.
Sejujurnya saya pun ingin up banyak-banyak, tapi apa daya.
Saya sedang berusaha merevisi karya lama sebab malu dengan penulisannya, semoga minggu ini selesai Saya revisi agar bisa up banyak dan membahagiakan pembaca.

Sehat selalu untuk kakak pembaca yang baik.
🫶🫶🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
wkwkwk
.. aku kmrn suudzoon.... 🤣🤣🤣
Anna: Siap-siap di sentilll Bang Rizal. 😒
total 1 replies
Rehan Atar
kaget saya kira bales chat hasna taunya bales si'kaki tangan leganyaa...😄😄😄
Anna: prankkkkkk 🤣🤣🤣
total 1 replies
haci
aku akuu😭
haci: nangiss 😭
total 2 replies
haci
ooo yasirr maaf ya bang udah sooudzoonnn 😩
Anna: Kata saya juga supresss🥳🤣
total 1 replies
Erlina Yakin
bagus
Anna: Kakak terima kasih banyak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
sebenarnya yang kamu cintai tuh sapa baaangg...... Nadia atau Hasnaa...
Anna: Tonjok aja, Kakl 🤣
total 3 replies
haci
kenapa kasii harapan terus siii
di tinggal nadya baru tauk rasa😭
Anna: baca up terbaru 🥳
total 3 replies
haci
jangan mauuu bang Rizal awasss aja😩
Anna: kita gundulin, ya kali Rizak tergoda
total 1 replies
haci
helehh bantuan apa to hasann 😭
Anna: menggitil dia 😗
total 1 replies
Yessi Kalila
itu si Hasna kurang kerjaan betul.... drama teroosss...
Anna: Modus, sapa tau berhasil. begitu kira-kira isi pikiran Hasna
total 1 replies
Vera Dewiaryani
up lagi dong thor😁
Anna: barusan up, Kak. 🫶
total 1 replies
haci
gak kebalikk ya 😭
ilyas yang manipulatif bgtt sombong 😩
Anna: kan memang hobi nya Ilyas memutar balikkan fakta. 😗
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
saya suka ceritanya, latqr belekang perkebunan suasana pedesaan dualek lokal
Anna: Makasih suportnya, Kak 🫶
total 1 replies
Yessi Kalila
ceritanya bagus kaa.... lanjut aja.... 😍😍😍
Yessi Kalila: wooww... mantap ka Anna... semangat... semangat oke.. oke... aku setia selalu.... padamuuu... 😄😄😍😍😍
total 2 replies
Ita Nuryani
lho kok sudah tamat, tak kira panjang crtax
Anna: belummmmm masihh panjang. kan bang Rizal sama Nadya belum ahh ahhh 😭🤣🤣🤣
total 1 replies
Rehan Atar
izin..gosip papa kandung yg ngerudal anaknya sendiri ?? sadiss thorr 😡😡
Ratih Tupperware Denpasar: ada beberapa kali berita ayah menghamili anqk kandung
total 2 replies
haci
ya Allah 😭
kasian bgt mit amit ihhh 😭
Sriekyu: kak..cerita mu bagus.. thanks ya..cm klo bs nadya gk usahlah panggil ilyas papi..udah ketauan bejat gitu
total 5 replies
haci
kapan siii dia tumbang ihh nyebelin bgt😩
Anna: Habis ini masuk bui.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!