NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.

Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Tiba-tiba, tanpa peringatan, sebuah suara mendenging yang menusuk telinga memenuhi pendengaran Laura. Bukan hanya di telinga, melainkan di seluruh kepalanya. Terdengar perpaduan aneh antara kekacauan dan keteraturan, sebuah choir abstrak yang menggabungkan nada-nada yang saling bersambung dengan fragmen-fragmen yang hilang di bagian tengahnya. Suara itu, seolah berasal dari dimensi lain, menyerang dirinya tanpa ampun. Ia berusaha keras menutup rapat telinganya dengan kedua telapak tangan, namun itu sia-sia. Suara itu terlalu digdaya, terlalu kuat menembus, seolah meresap dan menerobos paksa ke setiap pori-pori kulitnya, mengalir dalam setiap pembuluh darahnya, dan beresonansi di setiap tulangnya.

Tubuh langsing Laura tiba-tiba menari, bukan tarian yang indah atau bernilai kreografi, melainkan gerakan tak terkendali, tersentak-sentak, seolah ditarik oleh rantai-rantai tak kasat mata. Ia sekarang sedang dilanda hipomania, sebuah kondisi di mana konsep arah gerakannya mengikuti kekacauan pola pikir yang bergejolak hebat di benaknya. Faktor benturan internal mendominasi suasana hatinya, memutarbalikkan persepsinya akan realitas. Kedua matanya mulai memutih, bola matanya berputar liar di bawah kelopak, menunjukkan kekosongan dan kekuasaan yang diambil alih. Sesosok entitas abstrak seolah-olah berada di dekatnya, mengajaknya berdansa bersama dalam tarian serampangan, membuatnya tak berdaya di bawah kendalinya. Air liur keluar membasahi bibir dan dagunya, sebuah tanda fisik dari perjuangan berat yang teramat melelahkan.

Pandangannya kabur, semuanya menjadi gelap, suara tangis dan tawa palsu bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni canggung yang melumpuhkan. Kejang mengguncang jasmaninya, tubuhnya melengkung tak beraturan, bergetar hebat. Alam lain yang terkubur, dimensi yang tak terlihat, seolah mengambil alih dimensionalitas tubuhnya. Ia pun kehilangan arah sekaligus kesadarannya, jatuh terhempas ke lantai yang dingin, tak berdaya, seperti boneka yang talinya putus.

Ketika Laura terhempas ke lantai, dan kesadarannya terenggut paksa, di situlah kegelapan datang menyelimutinya, sebuah kegelapan yang berbicara.

Di tengah kegelapan itu, perlahan sesosok figur muncul. Laura mengenali postur tegap itu, bahu lebar, dan rambut ikal yang selalu ia usap lembut. Jantungnya berdesir hebat, antara rindu dan kengerian yang menusuk. Doni, kekasihnya yang telah melebur menjadi arwah, kini berdiri di hadapannya, namun dalam wujud yang berbeda. Wajahnya pucat pasi, matanya seperti tanah gersang, dan senyum yang dulu selalu menghangatkan kini tampak dingin, nyaris hampa.

Doni tidak berbicara, namun tatapannya mengunci Laura, seolah menariknya lebih dalam ke dalam mimpi buruk ini. Perlahan sesuatu yang aneh mulai terjadi pada tubuh Doni. Perutnya menggelembung, membesar dengan cepat seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mendorongnya dari dalam. Laura ingin berteriak sekaligus ingin menutup mata, namun ia tak bisa. Ia terpasung dipaksa menjadi saksi bisu dari pemandangan yang membuatnya sesak.

Kulit di perut Doni meregang, menipis, hingga urat-urat hijau kebiruan terlihat jelas di bawah permukaannya. Suara erangan berat keluar dari bibir Doni, bukan erangan sakit biasa, melainkan desahan panjang yang penuh penderitaan, seolah menahan beban yang tak tertahankan. Tiba-tiba, kulit di perutnya terbelah, bukan sayatan bersih, melainkan robekan kasar, seperti kain usang yang terkoyak paksa. Bukan merekah membayangkan kuntum bunga, melainkan menghambur percikan darah dan nanah, meluncur seperti ludah dari seratus mulut. Bukan hanya itu akhir dari pemandangan, melainkan ada sesuatu yang bersiap menyusul dari dalamnya.

Dari balik robekan itu, Laura melihat. Bukan organ dalam, bukan darah, melainkan kepala kecil yang berlumuran lendir. Sesosok bayi. Kecil, pucat, kurus dengan mata hitam pekat yang langsung menatap Laura, seolah mengenali dan menuntut sesuatu. Bayi itu merangkak keluar dari perut Doni, kulitnya basah, mengeluarkan suara lengkingan yang memekakkan telinga.

Laura merasakan mual yang luar biasa, namun ia tak bisa memalingkan wajah. Ia melihat bayi kedua, lalu bayi ketiga, keluar dari perut Doni dengan cara yang sama mengerikan. Ketiga bayi itu kembar identik, merangkak dengan susah payah mengelilingi Doni, tatapan mereka yang kosong dan hitam terpaku pada Laura. Mereka tidak menangis, tidak merengek, hanya menatap Laura dengan intensitas yang menggetarkan jiwa.

Satu menit serasa tiga jam, tiga jam serasa seharian, satu bisikan serasa seribu jeritan, tiga sosok serasa semalaman yang mencekik. Ada momen yang mengacak-acak dan memutar ulang kejadian, dejavu yang mendatangi ingatan, kengerian itu seakan berasal dari sebuah kepingan yang tak sengaja tertangkap, terjaring oleh pencarian seseorang yang haus akan sebuah kenangan, masuk menerobos ke dalam jiwa Laura yang membuka lebar pintu penyimpanannya, kini apa yang disajikan, tersimpan dan bersembunyi di memori terdalamnya.

- Beberapa Saat Kemudian.....

Laura perlahan membuka matanya, kelopak matanya terasa berat, seolah baru saja bertarung dengan kekuatan yang menguras habis tenaganya. Kesadaran datang perlahan, menyeruak di antara penutup lenan yang menyelimuti benaknya. Ia bisa mengingat dengan jelas saat terakhir ia merasakan kesadarannya, sebuah gema yang mengguncang, bukan hanya di telinganya, tetapi di setiap sel tubuhnya. Sebuah suara aneh, melengking dan teracak-acak, yang memenuhi ruang kepalanya, menariknya ke dalam jurang ketiadaan. Kini, gema itu masih terasa samar-samar, seperti jejak mimpi buruk yang baru saja usai.

Dirinya lalu berusaha bangkit berdiri, kakinya terasa goyah, tubuhnya masih lemah dengan sisa-sisa kejang yang masih terasa mengalir di otot-ototnya. Namun, jiwanya dipenuhi urgensi yang membara, sebuah dorongan kuat untuk segera keluar dari tempat itu. Tidak ada bagian lain dari rumah ini yang ingin ia amati, tidak ada lagi rasa ingin tahu yang mengendap, tergantikan oleh rasa takut yang visceral dan keinginan untuk bertahan hidup. Wajahnya lurus, kaku, mengikuti arah langkahnya, melewati pintu paling depan, dan terus menembus ilalang tinggi yang rapat.

Semak belukar yang mencakar kulitnya, dahan-dahan yang menghalangi jalannya, ranting-ranting kering yang patah di bawah pijakannya, semuanya terasa seperti tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kengerian yang baru saja ia alami. Laura terus melangkah, langkahnya yang awalnya gontai perlahan berubah menjadi lari, terus berlari. Napasnya terengah-engah dan paru-parunya serasa terbakar, namun ia tak peduli. Satu-satunya tujuannya adalah keluar, meninggalkan sesuatu yang buruk itu di belakang. Sampai akhirnya, di tengah rabun yang menyesakkan, ia melihat celah semak, sebuah titik yang kian menggebunya.

Dengan sisa tenaga yang tipis, Laura melompat melewati celah semak yang ada di hadapannya dan terjatuh ke pusara lumpur di tepi sungai, nafasnya terengah-engah di penghabisan, tubuhnya gemetar. Amelia, Ariana, dan Roni yang sedari tadi menunggu, segera berhambur menghampiri, raut wajah mereka sedikit dilanda kebingungan dan perasaan cemas yang nyata.

"Laura, apa yang terjadi? Sepertinya kamu baru saja dilanda ketakutan." Tanya Amelia seraya memeluknya erat, merasakan getaran ngeri yang masih menyelimuti tubuh sahabatnya.

Laura hanya bisa menggeleng, tubuhnya masih kelelahan dan suaranya tercekat di tenggorokan.

Setelah sedikit menenangkan diri, dan menceritakan apa yang ia alami di dalam rumah tua itu, Roni menatap Laura dengan tatapan campur aduk antara takut dan penasaran. "Rumah tua? Di tengah hutan? Kamu benar-benar masuk sendirian?"

Laura mengangguk perlahan, namun tegas, membalas tatapan Roni yang campur aduk antara takut dan penasaran. Wajah Laura yang semula pucat pasi kini memancarkan determinasi. Tatapannya lebih tajam, lebih fokus, seolah ada pengetahuan baru yang terpancar dari matanya, pengetahuan yang didapat dari jurang ketidaksadaran yang baru saja ia alami. Bukan lagi sekadar kecurigaan, melainkan sebuah arah keyakinan yang mengakar kuat.

"Kalian harus mengetahui," suaranya serak dihiasi penekanan, "sungai besar yang ada di depan kalian ini, telah menyimpan begitu banyak kisah. Bukan hanya cerita-cerita tentang kehidupan dan penghidupan, tetapi juga tentang kematian, pengorbanan, dan rahasia-rahasia kelam. Di bawah arusnya menudungi banyak rahasia, menyembunyikan kebenaran yang mungkin selama ini terkubur."

Ia berhenti sejenak, mengisi paru-parunya dengan udara keberanian. "Aku kini belajar untuk mengetahui dengan benar, bukan hanya sekadar melihat dari balik dinding, bukan hanya sekadar mendengar dari ujung keraguan. Aku telah melihat apa yang seharusnya tidak dilihat, mendengar apa yang seharusnya tidak didengar." Ungkapnya, suaranya terdengar memaksa, seolah ia sedang mengikrarkan sebuah janji, sebuah tekad yang tak tergoyahkan. "Jadi bagaimana pun, ini semua berkaitan dengan mimpi aneh yang aku alami, juga menyangkut cita-cita Doni, dan tentang beberapa keganjilan yang sempat menimpaku. Dalam benak jiwaku, aku merasa dituntut, inilah tujuan kenapa aku mengajak kalian, maafkan aku, kalian mungkin tidak memahami atau merasakannya. Tetapi, Aku... panggilan itu lebih kuat dari idaman yang kuimpikan, jadi... aku... aku harus tetap berusaha menggali, tanpa tertunduk di tengah lubang tuntutan pertanyaan."

Kalimat itu bukan lagi sekadar ucapan, melainkan deklarasi. Seolah pengalaman yang telah membuka matanya akan kebenaran yang lebih besar, sebuah pencerahan yang menuntut tindakan, menuntut verifikasi, dan menuntut dirinya untuk melangkah, bahkan jika itu berarti harus berhadapan dengan misteri yang paling membingungkan sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!