NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22 Bahu Laweyan

Ctt: Mulai di bab ini narasinya akan coba saya sederhanakan ya, Kak. Lebih simpel, lebih ringan, dan semoga mudah dipahami.

Nyaman baca yang versi mana, silakan komen.

...🌹🌹🌹...

Happy reading

Hawa bergegas masuk ke dalam kamar setelah memastikan bundanya berangkat ke butik. Ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Mengetik pesan untuk Rama dengan jemari yang sedikit gemetar karena luapan rasa bahagia.

Ia sungguh tidak menyangka, ayahnya akan memberi perintah yang 'bisa jadi' kian memuluskan hubungannya dengan Rama. Berbanding terbalik dengan sikap sekaligus ucapan bundanya; terang-terangan menolak Rama hanya karena kasta yang berbeda.

"Ram, ada waktu?" ketiknya.

Send.

Pesan terkirim.

Tak berselang lama, ponsel di genggaman tangan Hawa bergetar diiringi nada dering yang berteriak nyaring.

Rama tidak membalas dengan ketikan, melainkan dengan mendial nomor Hawa, menghubungi gadis yang dicintainya itu via sambungan telepon.

"Assalamu'alaikum, Hawa."

Hawa menarik napas panjang, menormalkan degup jantung yang bertalu tak beraturan sebelum menjawab sapaan salam itu. Ada desiran halus yang mengalir lembut saat mendengar suara khas lelaki di seberang sana.

"Wa'alaikumsalam, Ram..."

"Ingin bertemu?" tanya Rama tanpa basa-basi. Ia seolah tahu alasan Hawa mengiriminya pesan.

Hawa mengangguk, seakan Rama berdiri di hadapannya. "Iya. Ada yang mau aku sampaikan."

"Aku jemput? Atau, mau menyusulku ke Yayasan Bagaskara?"

"Di mana itu?"

"Deket Pendopo Bagaskara."

"Ya udah, aku susul ke sana."

"Masih ingat jalan menuju Pendopo?"

"Semoga." Hawa terkekeh pelan. Ia tidak yakin mengingat jalan menuju Pendopo Bagaskara yang pernah dilewatinya beberapa waktu lalu.

"Aku jemput saja, Wa. Siap-siap ya. Insya Allah setengah jam aku sampai."

"Iya, Ram. Aku mau ke pom dulu. Beli bensin."

"Scoppy-mu haus?"

"Iya, kemarin lupa nggak ngisi."

"Nggak usah diisi dulu. Aku jemput pakai mobil."

"Widih, mobil siapa, Pak?"

"Mobil 'mantan' Duta Besar RI untuk PBB. Kebetulan nganggur dan boleh dipinjam."

"Pasti beliau baik banget."

"Iya, sama seperti anaknya."

"Temen kamu?"

Rama tertawa kecil. Tidak membenarkan, pun tak menyanggah.

"Aku meluncur sekarang ya?"

"Iya, hati-hati. Nggak usah ngebut."

"Insyaallah."

Sambungan telepon berakhir seusai mereka berbalas salam.

Hawa membawa tubuhnya duduk di atas sofa kecil, mematut diri di depan cermin. Ia membenahi pasmina, memoles wajahnya dengan makeup tipis, seolah akan bertemu dengan lelaki berstatus kekasih.

"Cieee, yang mau ketemuan," seru Ijah menggoda. Ia berjalan menghampiri Hawa. Senyumnya melebar saat mendapati pipi sang nona terhias semburat merah.

"Sudah jadian, Non?" tanya Ijah, penuh rasa ingin tahu.

"Di dalam kamus Rama nggak ada kata jadian, Bi. Adanya ta'aruf, lalu mengkhitbah atau melamar."

"Kapan, Non?"

"Apanya, Bi?" Hawa sedikit mengerutkan dahi, menatap pantulan wajah Ijah di cermin dengan tatapan penuh tanya.

"Yang melamar." Ijah menaik turunkan alisnya, kembali menggoda nonanya.

Hawa mengulas senyum. Meraih jemari Ijah, lalu menempelkan punggung tangan wanita paruh baya itu di pipi.

Hati Ijah menghangat, ia merasa teramat disayang oleh Hawa--nona yang diasuhnya sejak bayi.

"Rama bilang... dia akan menemui waliku setelah lulus kuliah nanti, Bi," ujar Hawa. Wajahnya sedikit menunduk, sembunyikan rona malu yang kian terlukis jelas.

"Semoga Allah meridhoi, ya, Non," doa Ijah tulus.

"Aamiin. Semoga, Bi."

Ijah menerbitkan seutas senyum, mengusap lembut kepala Hawa penuh kasih, memperlakukannya selayaknya putri yang terlahir dari rahimnya sendiri.

"Tadi, Bibi tidak sengaja mendengar percakapan Tuan dan Non Hawa. Bibi tidak menyangka, Tuan akan meminta Non memanggil Mas Rama untuk mengajari beliau mengaji," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bibi bersyukur atas hidayah yang dianugerahkan Allah kepada Tuan."

Hawa menghela napas, menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkung senyum yang siratkan makna. "Aku juga, Bi. Teramat bersyukur sekaligus bahagia. Allah Maha Baik, ya, Bi..."

Setetes kristal bening jatuh sebagai pengiring kalimat itu.

Hawa melingkarkan tangannya di perut Ijah lalu menenggelamkan wajahnya di sana, menghidu aroma kebaya yang selalu tawarkan sentosa.

"Non, sudah salat Dhuha belum?" tanya Ijah lembut, tangannya masih bergerak pelan mengusap kepala Hawa yang terbalut kain berwarna peach.

Seketika Hawa mengangkat wajahnya, melirik jarum mesin waktu yang tergantung di dinding.

Ternyata sudah menunjuk pukul sembilan pagi.

Hawa melafazkan istighfar begitu teringat belum menunaikan ibadah salat Dhuha.

Ia melepas peluk dan segera beranjak, membawa ayunan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

"Bi, tolong tunggu Rama di teras ya. Sebentar lagi dia sampai," pintanya setengah berteriak.

"Iya, Non." Ijah menyahut. Ia bergegas melangkah keluar, mengindahkan permintaan Hawa.

Di bawah naungan langit-langit kamar Hawa bersujud, menunaikan ibadah di waktu Dhuha yang sudah beberapa hari ini tak pernah ia lewatkan.

Saat ini fokusnya hanya tertuju pada Zat Yang Maha Kasih. Sejenak menanggalkan semua urusan duniawi, tenggelam dalam kekhusyu'an di tiap rakaat Dhuha.

.

.

"Assalamu'alaikum... Mas Rama, ya?" Ijah menyapa Rama begitu lelaki bermata teduh itu membuka kaca mobil.

Rama tersenyum, mengangguk pelan. "Wa'alaikumsalam. Iya, saya Rama, Bi," balasnya ramah. "Pasti Bi Ijah ya?"

Ijah terkekeh pelan. "Iya, Mas. Saya Bi Ijah. Pengasuh Non Hawa dari Si Non masih bayi."

"Oya, mari masuk dulu, Mas. Non Hawa baru menunaikan ibadah salat Dhuha, mungkin sebentar lagi selesai," lanjutnya.

"Saya menunggu di sini saja, Bi."

"Tidak mampir sekalian, Mas? Saya buatkan teh nasgitel," rayu Ijah.

"Lain waktu saja, Bi. Takutnya, nanti saya malah betah berlama-lama duduk di dalam sana sambil ngeteh." Rama menolak dengan tutur kata halus. Ia menyisipi canda, hingga membuat Ijah kembali melepas tawa.

"Ya tidak apa-apa, Mas. Kebetulan di rumah cuma ada saya, Non Hawa, dan Abdul--satpam yang berjaga. Tuan dan Non Hanum sudah ngantor, Nyonyah baru saja berangkat ke butik."

"Justru itu, Bi. Insya Allah saya akan mampir kalau ada ayah dan bundanya Hawa--"

"Sekalian melamar Non Hawa, Mas?" Ijah menyahut cepat.

"Insya Allah, Bi." Rama mengembangkan senyum, mengamini ucapan Ijah.

"Sebenarnya, Bibi ingin menanyakan suatu hal pada Mas Rama." Nada suara Ijah berubah serius, selaras dengan raut wajahnya.

Rama tidak bertanya tentang apa, tidak juga menimpali. Ia membuka pintu mobil, lalu keluar--mensejajarkan pijakan kakinya di sisi Ijah.

"Ini tentang bahu laweyan. Mas Rama pernah mendengar mitos mengenai wanita yang memiliki tanda lahir itu?" Ijah bertanya dengan sangat hati-hati, berharap Rama akan memberi jawaban bijak dan menenangkan.

"Iya, saya pernah mendengarnya, Bi," jawab Rama mantap.

"Lantas, bagaimana pandangan Mas Rama mengenai mitos itu? Masih ada segelintir orang yang percaya jika wanita pemilik tanda 'bahu laweyan' sebagai pembawa sial."

Rama tersenyum tipis, sekilas menoleh ke arah Ijah yang tengah menatapnya--menanti jawaban.

"Menurut saya, tidak ada makhluk ciptaan Allah 'pembawa sial'. Maut itu rahasia Allah, bukan tertulis di bahu seorang wanita. Menganggap seseorang pembawa sial adalah tathayyur, dan itu mendekati syirik karena kita meragukan bahwa Allah-lah satu-satunya penentu takdir." Rama menjeda sejenak, melempar pandangan matanya ke arah dedaunan yang menari tersentuh angin.

"Islam datang untuk memuliakan wanita, Bi. Bukan untuk memberinya label 'terkutuk' atau 'pembawa sial' hanya karena sebuah mitos kuno yang tidak punya dasar di mata syariat." Suara Rama terdengar merendah, namun sarat akan ketegasan dan penekanan.

Ijah menghela napas lega. Bibirnya melengkung, membentuk sebaris senyum. Matanya mengembun menyiratkan haru sekaligus rasa syukur.

Ia semakin yakin, Rama adalah sosok lelaki yang pantas menjadi pendamping hidup Hawa. Seorang Adam yang bisa ia percaya menjaga dan melindungi sang nona dengan sepenuh jiwa raga. Bahkan, mencintainya tanpa syarat.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Haura Az Zahra
ditambah komedi tambah seru ceritanya thor
Ayuwidia: Terima kasih banyak, Kak. Biar nggak tegang Mulu 😄🙏🏻
total 1 replies
Najwa Aini
Aku bacanya telat banget..maaf ya..
aku vote deh..
Najwa Aini
Baarokallaahuu
Najwa Aini
eh pecah banget candaanmu Rama
Najwa Aini
Aku kok turut bahagia ya
Najwa Aini
Nahhh begitu non Hawa...Ambil sisi positifnya ya
Najwa Aini
Rama. aku udah lama pingin alphard..eh kamu udah punya duluan tanpa pamit
muthia
mertua idaman
Ayuwidia: Bener banget, Kak 😊
total 1 replies
muthia
ulat bulu mulai beraksi
Najwa Aini
Nah kann..Rama kalau udah mode kayak gini aku langsung terbayang dia pakai jubah dan surban...ala² ustadz milenial gitu...atau pakai kupluk juga boleh..ala² ustadz tenar
Ayuwidia: Wkkk, dia sukanya pake kemeja atau pake atasan Koko putih, Kak. Kaya' Ustadz Denis Liem 😄
total 1 replies
Najwa Aini
Ini akal²an si autor si Dzaki atau si Rama gak diikutkan. padahal itu momen yg ditunggu
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Mila Mulitasari
lah udah termasuk obsesi ga si tu thor maksa banget heran, namanya ulat dimana aja bisa merayap, moga aja rama cepat membasmi ulat2 gatal, maaf thor esmosi saya kalau masalah ulat🤭
Ayuwidia: hiyaaa, Kak 😆
total 3 replies
Mila Mulitasari
pliss jgn ada orang ke 3 baru aja mereka melangkah bersama masa udah ada ulat nangka
Ayuwidia: Justru untuk menguji kesungguhan cinta dan kesetiaan seorang Dzaki Ramadan Bagaskara, Kak 😉
total 1 replies
muthia
Alhamdulillah🙏
Mila Mulitasari
alhamdulillah otw menuju qobiltu ini😍
Ayuwidia: Insyaallah, semoga ya, Kak 🥰
total 1 replies
Ririn Rira
Nungguin reaksi Damar lagi nih 🤭
Ayuwidia: Hiyaaa 😄
total 1 replies
Ririn Rira
Akhirnya restu sudah di kantongi, Rama dan Hawa kebalikan dari Jehan dan Sebria🥰
Ririn Rira: Iya kak mohon maaf lahir batin juga ya
total 2 replies
Ririn Rira
Ada aja cobaan nya semoga Hawa nggak parah
Ririn Rira
Sedalam itu makna dari nama seorang Rama
Ririn Rira
Nggak sabar pengen tau gimana reaksi mama nya Hawa kalau tau Rama itu siapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!