Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 22
"Selina" panggil Rama ketika selina baru satu langkah meninggalkan tempat duduknya.
Selina pun berbalik dan bertanya.
"Iya, Dok."
"Selamat atas pernikahan kamu. Congratulation!" Tangan sang dokter terulur, dengan ragu selina pun menggapainya.
"Terimakasih, Dok."
Sementara itu, Aabid hanya bisa menatap ke dua nya secara bergantian dengan segara pertanyaan yang berjejalan masuk ke dalam kepala.
Beberapa saat mereka pun keluar dengan sumringah. Kala dokter mengatakan perkembangan Aabid cukup signifikan dan tak perlu lagi untuk kembali.
"Kamu ada-ada, ya sama dia? Selingkuhan kamu, sel?" tanya Aabid yang tak bisa ditahan lagi.
Bagi lelaki yang pernah diselingkuhi hal itulah yang pertama kali terbesit dalam benaknya.
"Jangan mulai deh, Om. Udah tunggu di sini, selina teh mau tebus resep obatnya dulu." selina melenggang pergi seolah tak mau membahasnya lagi.
Aabid menghela napas, kemudian duduk di tempat yang sudah selina tunjukkan.
Aabid menunggu dengan sabar berbekal masker sebagai penutup wajah.
Cukup lama ia menunggu akhirnya selina kembali dengan membawa kantong kresek berisi obat.
"Alhamdulillah, akhirnya, ayo," seru Aabid yang sudah merasa sangat bosan dengan tunggu menunggu.
"Lah, Om mau ke mana?"
"Pulang lah."
"Masih terang benderang mau pulang?!"
"Lah, terus? Kan udah pake jaket Dito juga. Kamu mau jalan-jalan dulu sampai malam maksudnya?" goda Aabid.
"Bukan. Tadi selina teh sudah janjian sama Bapak. Om pulangnya sama Bapak, jam 9 an."
"Apa?! Nggak nggak. Gila aja kamu nyuruh saya luntang-lantung di sini sampai malam."
"Nggak usah di sini, di masjid depan tadi aja, Om. Nanti selina anterin dan ...."
"Mau kamu titipin lagi sama marbot itu? Emangnya saya anak TK apa?" sergah Aabid memotong ucapan selina.
"Udah lah, Om. Ayo, buruan. selina ada janji."
"Oh, mau ninggalin saya mau pacaran kamu. Jangan harap selina. Ayo pulang, saya jamin mereka nggak akan curiga." Pikiran negatif kembali merasuki Aabid.
Lalu ia pun melangkah tanpa menghiraukan selina lagi.
"selina teh mau fitting baju, Om."
Langkah Aabid seketika terhenti, kemudian ia pun berbalik ke arah selina yang masih diam di tempat yang sama.
"Tadi kamu bilang kan calon kamu di luar kantor ada kerjaan."
"Sebentar lagi udah balik kantor, ini mau jemput Selina. Jadi ... kita harus pisah, sekarang."
Dengan terpaksa Aabid akhirnya mengalah dan mengikuti selina kembali ke masjid di seberang rumah sakit.
"Maaf, ya, Om. Aku tinggal. Nih, bawa aja kalau butuh," ujar selina mengulurkan satu lembar uang kertas limapuluh ribu pada Aabid yang duduk di undakan masjid.
"Dikira saya anak SMP apa, dikasih uang jajan 50 ribu!" gerutu Aabid dalam hatinya.
"Nggak usah, kamu bawa aja. Saya ada. Masih ada ketinggalan di jaket sisa isi bensin yang nggak kena begal." tolak Aabid menjauhkan tangan selina dari pandangan.
"Oh, gitu, ya. Kalau gitu, selina ke sana dulu, ya. Ini obatnya Om bawa, ya," pamit selina dengan raut sungkan.
Dari gelagat yang ditunjukkan Aabid, selina tahu benar bahwa saat ini pria yang dianggap tak ubahnya ayah itu sedang menyimpan amarah.
"Hem." Singkat Aabid menjawab.
"Jangan ke mana-mana. Assalamualaikum, Om."
"Wa'alaikumsalam."
Meski berat selina harus tetap pergi, ia tak ingin jika calon suaminya berpikir yang tidak-tidak dan menimbulkan salah paham.
Dimas adalah pria yang cukup pencemburu. Ia bahkan pernah bersitegang dengan teman kampus yang mengantar selina saat selina terjatuh dari sepeda motornya.
Dimas Arya Shaka adalah lelaki muda, tampan dan memiliki karier yang cukup mapan yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengan selina.
Pertemuan mereka bermula ketika ban motor yang digunakan selina bersama Harun kempes di jalan menuju pulang.
Tempat kerja yang sama tentu membuat Dimas tahu siapa yang berdiri di jalanan waktu itu. Di saat itu pula Dimas menawarkan bantuan dan akhirnya tertarik dengan selina yang kala itu kuliah masuk semester tiga.
Cinta pada pandangan pertama terjadi di hati keduanya dan sejak saat itu pula mereka dekat kemudian menjalin hubungan.
Kecantikan selina memang tak bisa terbantahkan dan itulah yang membuat Dimas tergila-gila. Itu juga yang menjadi alasan baginya bergegas melamar dan tak ingin keduluan orang lain kala selina memutuskan untuk berhenti kuliah.
Sengaja ia tidak menawarkan bantuan meski tahu apa alasan selina berhenti kuliah. Baginya, selina tinggal di rumah, menjadi ibu rumahtangga adalah pilihan paling tepat.
Ia tak mau jika selina di luaran sampai tergoda atau digoda lelaki lain. Ia tak ingin kehilangan selina meski secara finansial perbedaan signifikan terjadi di antara mereka. Tapi Dimas sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
Beberapa saat setelah kepergian selina, mobil Fortuner berhenti di depan masjid, tepatnya jalan raya sekitar 10 menit setelah selina pergi meninggalkan Aabid.
Mobil tersebut menyita perhatian Aabid yang masih duduk di tempat yang sama dan memastikan selina baik-baik saja dari kejauhan.
Tak lama pula terlihat lelaki turun menyambut selina, membukakan pintu, dan memberi pelayanan terbaiknya.
"Sok romantis." Dari tempatnya Aabid berujar pelan dengan nada sinis saat netranya menatap bahkan sempat menajamkan penglihatan dengan menyipitkan mata untuk menilai penampilan sang pria dari segala segi.
Postur lumayan tinggi, tapi tak setinggi dirinya, tubuhnya berisi namun tak se-atletis dirinya. Kulit bersih, tapi baginya dirinya lebih bersinar. Kacamata hitam yang dikenakan memang menambah penampilannya semakin macho, tapi tak semaskulin dirinya. Itu lah yang ada di benak Aabid tentang lelaki tersebut sekarang.
Ia kembali berpikir. Lalu kalau memang benar semua yang dilihat kenapa selina sama sekali tidak melihatnya sebagai lelaki yang menarik, tapi malah melihatnya sebagai pria tua yang pantas menjadi ayahnya dengan memanggilnya Om?
Pertanyaan itu pun muncul di dalam hati aabid saat ini.
Aabid mendesah.
"Memang mata kalau juling dan selera rendah ya gitu. Nggak bisa membandingkan mana ganteng standar dan ganteng maksimal," gerutu Aabid melampiaskan kekesalannya pada selina yang meninggalkannya begitu saja.
Aabid bangkit, memasuki serambi dalam masjid saat panas mulai menyengat dan mengganggu penglihatan.
Ia lantas mengisi kebosanan menunggu Harun dengan mencoba ponsel baru kiriman Arga.
"Astaga!" Ia terhenyak kala pantulan wajahnya terlihat begitu jelas di layar ponsel yang belum menyala.
Ia lalu meraba wajah yang menurutnya aneh dan tak biasa.
"Apa ini?" tanya Aabid dalam hati sembari terus mengusap-usap wajahnya.
Ingin memastikan ia pun melangkahkan kaki menuju tempat wudhu dekat kamar mandi di mana ia sempat melihat kaca terpasang di sana subuh tadi.
Aabid berdiri di depan cermin besar. Sembari menatap pantulan wajahnya sendiri, ia terus meraba wajahnya itu berkali-kali.
Jambang yang tumbuh lebat memenuhi dagu hingga lehernya terlihat jelas di cermin yang kini ada di hadapannya, tak ketinggalan juga kumis yang tumbuh subur membuatnya hampir tak mengenali dirinya sendiri. Tubuhnya pun lebih kurus seolah tak terurus.
Ia mendengus kesal, rupanya masalahnya dengan radina telah menghancurkan tak hanya jiwanya namun juga raganya.
Aabid berdecak dan bergumam dalam hati sambil terus memandang penampilannya dari segala sisi.
"Pantas saja mereka memanggilku Om. Rupanya kayak gini? Sejak kapan?!" tanya Aabid yang seolah berbicara pada pantulan wajahnya sendiri.
double up Thor 🙏
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣