Jika selingkuh membuatmu lebih bahagia, maka lepaskanlah wanita yang selalu setia menunggumu dan menerimamu apa adanya.
Jika selingkuh membuatmu lebih baik menjalani hidupmu, maka tinggalkanlah orang yang selalu mendukungmu saat ini.
Dan jika selingkuh membuatmu nyaman, maka janganlah kau kembali untuk menyakiti pasanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Krismadini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Saja
'Ini dia, aroma tubuh yang selalu aku rindukan. Pelukan hangat yang selalu membuatku tenang. Sentuhan yang membuatku melayang. Entah kapan lagi aku bisa merasakannya, Aku harap setelah ini tidak akan ada perpisahan lagi. Aku mohon Tuhan, aku mohon jangan jauhkan dirinya dariku. Aku mohon jadikan dia jodohku.' Kristin memohon pada Tuhannya.
Masih dalam pelukan Sam, Kristin terisak sedih. Entah apa yang dia rasa, bahagia bisa memeluk orang dia cinta, atau bahkan rasa sesal karena akan pergi meninggalkan cintanya lagi.
Sam mengelus punggung wanita yang ia peluk, sesekali sebuah kecupan ia beri pada pucuk kepala wanitanya, menghirup aroma wangi rambutnya. Yang selalu membuatnya bergairah.
Lama mereka berpelukan tanpa memperdulikan situasi yang ada di sekitarnya. Pintu rumah yang terbuka lebar dengan cahaya lampu LED yang cukup terang, membuat adegan romantis itu jelas terlihat dari luar.
"Kenapa kamu baru datang? Kemana aja kamu?" tanya Kristin sesenggukan.
Sam melonggarkan pelukannya, menghapus sisa air mata Kristin dengan tangannya. Satu kecupan singkat ia berikan pada bibir merah Kristin.
"Maafkan aku. Aku pulang, gak sempet ngomong sama kamu. Maafin aku sudah bikin kamu was-was dan khawatir." ucapnya mengembangkan senyumnya, dan mengecup sekali lagi bibir ranum Kristin.
Sam menggiring Kristin yang masih dalam pelukannya ke dalam kamar. Sambil berjalan, ia mengunci pintu rumah dengan satu tangannya. tanpa melepaskan ciuman di bibirnya.
Mereka tenggelam dalam ciuman hangat dan bergairah, yang lama kelamaan semakin panas.
Kedua tangan Sam menangkup wajah Kristin, ia memperdalam ciumannya. Kristin pun membalas perlakuan Sam. Ia mengalungkan tangannya pada leher Sam.
Kini tubuh mereka telah berada di atas ranjang. Sam mengukung tubuh Kristin di bawahnya, masih dengan berciuman. Dan kini Sam semakin liar, tangannya bergerilya ke bawah menembus kaos yang Kristin kenakan.
"Sam..." desah Kristin.
Sam menuntun Kristin untuk melepaskan pakainya, dengan setengah telanjang Kristin rela tubuhnya dijamah Sam.
Dengan buru-buru Sam pun menanggalkan kaos ia kenakan.
Nafsu telah menutup akal sehat mereka. Sam semakin liar tak terkendali, ia melorotkan celan pendek yang dikenakan Kristin.
Kebiasaan yang seharusnya dilakukan sepasang suami-istri pun mereka lakukan. Mungkin sebagian orang menganggap ini tabu. Tapi inilah kehidupan anak muda jaman sekarang berani melakukan hal yang seharusnya tak seharusnya mereka lakukan.
Hingga pagi menjelang Sam dan Kristin masih sibuk dengan pertempurannya. Hingga terjeda karena suara berisik dari ponsel Sam yang terus-terusan berdering.
"Sam, Hpmu. Angkat dulu, siapa tau penting." kata Kristin menjeda pertempurannya.
"Apaan sih, aku lagi gak mau diganggu. Biar saja berdering." sambungnya sambil terus menciumi leher Kristin.
"Sam... tapi ini berisik banget. Angkat gih." Kristin sedikit mendorong tubuh Sam yang menghimpitnya.
Dengan malas Sam mengambil Hpnya yang terselip pada kantong celana jeans miliknya.
"Mana lagi nih Hp. Ngajak ribut aja. Gak bisa liat orang lagi ngelepas kangen." umpatnya.
Kristin pun tersenyum melihat tingkah Sam. Perlahan ia mencoba untuk turun dari tempat tidur, tapi rasanya seluruh tubuhnya remuk redam.
Selesai menerima telepon Sam menghampiri Kristin yang masih duduk di ujung tempat tidurnya.
"Kenapa? Sakitkah?" tanya Sam mengelus rambut kekasihnya.
Kristin mendongakkan kepalanya dan tersenyum mengangguk. Sam pun membantunya berdiri.
"Yang telpon siapa?" tanya Kristin penasaran.
"Hanya teman yang ada di Jakarta." Sam sengaja berbohong. Sebenarnya yang menelpon Nada, calon istrinya.
*****
"Hallo, apa lagi?!" ucap Sam emosi.
"Aku cuma ingin tau kabar kamu, bang." sahut Nada dari seberang telepon.
"Sudah aku bilang jangan ganggu aku dulu. Masih saja bandel." Sam tampak malas menerima telpon.
"Bang, apa salah aku tau kabar tunanganku sendiri." lanjut Nada dengan suara parau.
"Sudahlah, selesaikan dulu kuliahmu. Setelah kau lulus kerja dulu yang giat, biar jadi perawat yang handal macam mama kau itu." lanjut Sam yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Selesai menerima telepon Sam menghampiri Kristin yang masih duduk di ujung tempat tidurnya.
Kristin sadar klo Sam menyembunyikan sesuatu darinya. Kristin menangkup kedua pipi Sam.
"Kamu mau main FTV ya?" godanya.
"Maksud kamu?" Sam balik bertanya dengan mata yang terus berkedip-kedip, karena dirinya sedang berbohong.
"Kamu tuh, gak pinter akting. Jadi gak usah bohong sama aku, hm." Kristin menyimpulkan senyuman.
Sam tertunduk. "Maaf, aku belum bisa jujur sama kamu sayang." sahut Sam.
Kristin mengangguk, paham dengan kondisi hubungan mereka.
"Kalo gitu, bantu aku dong." pinta Kristin mengulurkan kedua tangannya.
"Kamu mau kemana?" lanjut Sam sambil membantu Kristin berdiri.
"Mau ke kamar mandi, lengket semua nih." Kristin mengerucutkan bibirnya.
"Kamu yakin bisa sendiri? perlu aku bantu?"
"Gak usah, kalo sama kamu yang ada bukan dibantuin malah dirusuhin." sahut Kristin meninggalkan Sam dengan berjalan tertatih.
Sementara Kristin pergi ke kamar mandi sambil duduk termenung melamun sendiri menatap langit-langit kamarnya.
'Mau sampai kapan kamu berbohong seperti ini, Sam.' batin Sam sedang bergelut sendiri.
*Prang!!*
Terdengar suara kaca pecah dari kamar mandi, membuyarkan lamunan Sam.
Sam pun segera bergegas menghampirinya dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Sayang. Kamu gak pa pa?" tanya Sam yang khawatir dengan Kristin yang sedang ada di dalam sana.
"It's ok, aku baik-baik saja." sahut Kristin tenang. Kemudian dia keluar dari kamar mandi.
"Tadi apa yang pecah?" tanya Sam pada Kristin.
"Hahaha… cuman botol kaca yang pecah. Tolong dong ambilin plastik, buat naruh ini." Kristin meminta tolong pada Sam agar mengambilkan kantong plastik untuk membuang pecahan botol kaca itu.
"Nih." Sam menyerahkan kantong plastik itu.
"Emang itu apaan?" Sam pun penasaran dengan barang yang Kristin buang.
"Oh, ini obat. Tenang aja nggak penting juga kok, udah habis lagi." Kristin membawa kantong itu dan kemudian membuangnya di tempat sampah.
"Kok bisa pecah, gimana ceritanya?" Tanya Sam yang curiga dengan apa yang dilakukan Kristin.
"Kesenggol. Udah sana buruan mandi." Kristin menyuruh Sam untuk segera mandi.
Selesai mandi mereka kembali di dalam kamar. Mereka saling diam tanpa satu kata pun. Hingga akhirnya terdengar suara dari ponsel Kristin. Kristen pun segera mengambil ponselnya.
[Besok kamu jadi pergi jam berapa? Jangan lupa kasih kabar Mama.] pesan dari mama Kristin.
Kristin pun terdiam setelah membaca pesan itu. Sam yang tadinya tertidur ikut bangun mendengar ponsel Kristin berdering.
"Siapa yang malam-malam kirim pesan?" tanya Sam pada Kristen, namun Kristin tetap terdiam tanpa menjawab apapun.
Melihat Kristin terdiam Sam pun ikut diam dan kembali melanjutkan tidurnya hingga pagi datang.
Sengaja Kristin bangun lebih pagi dari Sam, sengaja ia menyiapkan sarapan dan kemudian pergi mandi. Sam pun terbangun karena mencium aroma dari masakan Kristin.