NOVEL INI HIATUS YA. Kalau gak mau kecewa lebih baik skip aja, masalahnya ini gak tamat, terimaksih
Safira Aulia Putri adalah seorang gadis cantik dan baik hati. Dia harus memupuskah harapannya untuk berkuliah, karena kedua orang tuanya menyuruhnya melanjutkan belajar disebuah pesantren yang sudah ditentukan oleh ayahnya. Dia tidak menolak ketika ayahnya menyuruhnya masuk pesantren, karena dia memang anak yang penurut kepada kedua orang tua, selama itu dalam kebaikan. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak siap meninggalkan pujaan hatinya untuk pergi ke pesantren.
Rama Adi Saputra adalah kekasih Safira, mereka menjalin cinta kurang lebih dua tahun, semenjak mereka masih di SMA yang sama. Sejak pertemuan pertama mereka, mereka pun tak pernah terpisahkan dan selalu di takdirkan bersama. Tetapi kini mereka harus terpisah jarak dan waktu, ketika Safira pergi ke pesantren. Menjalani cinta jarak jauh.
Dan dimulailah perjuangan cinta mereka.
Yuk baca karya pertmaku.
Mohon kritik da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 22 Gagal Bertemu
Keesokan harinya, Safira hari ini berniat untuk menemui Rama di toko mamanya. Tentunya Safira sudah bilang ke mama Ratih kalau ia akan datang ke tokonya.
Mama Ratih pun hari ini menyuruh Rama datang ke tokonya setelah selesai jam kuliahnya. Beralasan kalau mamanya membutuhkan bantuannya.
Pukul 10.05 terlihat seorang gadis berpakaian gamis baby blue sudah berada diparkiran sebuah toko baju, tapi ia belum turun dari taksi yang ia naiki.
Saat akan turun, ia melihat seorang pemuda yang berboncengan dengan seorang cewek, yang terihat mesra. Merasa mengenal pemuda itu, ia urungkan untuk turun dari taksinya, ia akan memastikan kalau yang dilihatnya benar orang yang ia kenal apa bukan. Karena sang pemuda memakai helm fullface.
Setelah helm terbuka betapa terkejutnya Safira. Saat melihat orang yang ia cintai berboncengan dengan cewek lain. Tanpa sengaja air mata pun menetes dengan sendirinya.
Teganya kamu Rama, selingkuh dibelakangku. Batin Safira.
"Putar balik pak, saya gak jadi kesini," ucap Safira pada sopir taksi yang ia tumpangi.
"Baik mbak, mau kemana kita sekarang?" tanya sopir taksi itu, lalu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
"Jalan dulu aja pak, nanti saya kasih tau kemananya," Safira berkata dengan air mata yang masih setia menetes.
Kemudian ia menghubungi seseorang.
" ............... "
"Iya, aku pulang kemarin, kalian dimana? aku pengen ketemu sama kalian,"
" ............. "
"Oke, aku meluncur kesana ya,"
Safira menutup telfonnya lalu berkata, "Pak kita ke jalan Anggrek ya," ucap Safira pada sopir taksi itu.
"Baik non,"
Lima belas menit kemudian Safira pun sampai ditempat yang ia tuju, ia langsung turun dari taksi yang sudah ia bayar. Lalu masuk kedalam rumah yang lumayan mewah itu. Dengan membuka gerbang yang mengelilingi rumah tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucapnya setelah berhasil membuka pintu utama.
"Wa'alaikumsalam, eh Safira katanya di pesantren, kapan pulang?" tanya seseorang yang menyambutnya, orang itu tak lain adalah ibu dari temannya.
Safira bersalaman dengan ibu sahabatnya itu, lalu menjawab, "Pulang kemarin tan, Ritanya ada kan tan?"
"Iya ada di kamar biasa, langsung masuk kamar Rita aja, ada Anggi dan Indah juga, pasti mereka juga kangen sama kamu,"
"Iya tan, aku permisi ke kamar Rita dulu ya," Safira melangkahkan kakinya menuju kamar Rita yang berada di lantai dua, setelah mendengar jawaban 'iya' dari mama Rita.
Safira membuka pintu kamar tanpa mengetuk, karena pintunya sedikit terbuka. Setelah membuka pintu, ia langsung disambut gembira oleh ketiga sahabatnya.
"Kita kangen sama lo," ucap mereka bertiga.
"Aku juga kangen kalian, miss you," mereka masih saling berpelukan.
Tiba-tiba saja, Safira teringat kejadian tadi waktu di toko mamanya Rama, dia semakin mengeratkan pelukan pada sahabatnya sambil terisak.
"Lo kenapa nangis sih," Rita bertanya karena melihat Safira menangis.
Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Coba cerita sama kita," tambah Rita lagi.
"Iya bener, cerita sama kita. Lo kok sedih sih," tambah Anggi.
"Rama selingkuh," hanya itu yang keluar dari bibir Safira.
Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, setelah mendengar ucapan Safira.
"Emang siapa yang bilang kalo Rama selingkuh?" kali ini Indah yang bertanya.
"Aku lihat sendiri, hiks hiks hiks," Safira masih saja menangis.
"Lo liat dimana?" Rita mencoba mengintrogasi.
"Di toko mamanya, hiks hiks hik,"
"Coba ceritain versi lengkapnya deh, biar kita tau," tambah Rita lagi.
Indah dan Anggi hanya menganggukinya.
Safira pun menceritakan kejadian tadi saat ia mau ke toko mamanya Rama. Ia juga bercerita awalnya kenapa ia datang ke toko mama Rama.
"Setau gue Rama gak pernah sama cewek deh, mungkin dia sodaranya," Rita mencoba menenagkan Safira.
"Kalo sodara masak mesra banget," ucap Safira yang masih terisak.
"Emang kita jarang ketemu Rama, karena kita beda jurusan dari dia, tapi setau gue Rama gak ada deket sama cewek kok," Anggi juga mencoba meyakinkan Safira.
"Eh tunggu, bukannya ada cewek yang selalu ngejar-ngejar Rama ya, siapa namanya gue lupa? Tapi Rama selalu menghindar dari dia setau gue deh," Indah mencoba mengingat kejadian saat Rana di buntuti oleh Lidia waktu di kampus.
"Rama itu cinta banget sama lo, jadi gak mungkin dia selingkuh lah. Bayu juga gak pernah cerita apa-apa sama gue," ucap Rita meyakinkan Safira lagi.
"Putra juga gak pernah cerita sama gue," Indah juga mengiyakan.
"Heem bener Angga juga gak pernah cerita kalo Rama selingkuh," itu Anggi yang berujar.
"Mung...kin di..di..raha..siakan dari kalian. Te..ga banget sih.. Rama, hiks hiks hiks," Safira masih saja menagis.
"Besok lo tanya langsung aja sama Rama, biar jelas, kalo gini kan kita gak tau yang sebenarnya, iya nggak girls?" Rita mencoba memberi solusi.
Tetapi yang diberi solusi malah menggeleng, dan terus menangis.
"Udah ini minum dulu, jangan nangis lagi, kalo emang bener Rama selingkuh, terus Bayu dan yang lain tau gue janji bakalan putusin Bayu," ucap Rita lagi sambil memberikan gelas berisi air putih yang ia ambil dari nakas.
"Iya, kita bakal putusin mereka, karena udah membohongi kita," ucap Indah.
"Iya, biat mereka tau rasa," ucap Anggi juga.
Safira lalu memeluk mereka bertiga dengan erat. Tangisnya sedikit mereda setelah bercerita dengan ketiga sahabatnya.
"Makasih, kalian sahabat terbaikku," ucap Safira yang masih memeluk ketiga sahabatnya.
"Kita kan sahabat, susah senang harus sama-sama, jadi gak usah berterimakasih, ini sudah kewajiban kita," ujar Rita.
Rita memang paling dewasa dibanding ketiganya, walaupun kekasihnya, Bayu sedikit agak gimana gitu.
"Udah ya jangan nangis lagi," tambah Rita lalu melepaskan pelukannya dan menghampus air mata Safira.
"Iya,"
"Sekarang, gue mau hubungin Bayu dulu, buat tanya yang sebenarnya," Rita mengambil ponselnya, lalu mencari kontak sang kekasih.
"Gak usahlah, bisa besok tanyanya, sekarang aku mau kita nonton atau ke mall gitu, kita kan udah lama gak ketemu, terus main bareng," Safira mencegah Rita menghubungi Bayu, karena dia sekarang hanya ingin bahagia bareng ketiga sahabtnya.
"Oke, yuk. Kita hepi-hepi sekarang, biar lo juga gak sedih melulu," Indah menimpali.
"Lets go girls!!" seru mereka bertiga.
Mereka pun keluar kamar Rita secara bersamaan.
Rita berpamitan dengan mamanya, lalu mereka menaiki mobil Indah menuju mall terbesar di kota itu.
Setengah jam kemudian mereka pun sampai mall yang dituju. Mereka turun dari mobil dan masuk kedalam mall.
"Mau langsung nonton apa shoping dulu?" tanya Anggi yang paling antusias.
"Nonton aja lah, ada film bagus lho," Jawab Indah.
"Oke, kita langsung nonton ya," tambah Anggi lagi.
Safira dan Rita yang berjalan di belakang mereka berdua hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah membeli tiket, mereka pun nonton bersama. Film yang mereka tonton yaitu film romantis komedi, jadi sambil menonton mereka kadang tertawa bersama.
Safira sejenak melupakan kejadian tadi. Bersama tiga sahabatnya membuat ia sedikit tenang.
Setelah selesai menonton, waktu pun sudah siang.
"Sholat dulu yuk, udah masuk dhuhur nich," ajak Safira pada ketiga sahabatnya.
"Beginilah kalau punya sahabat yang ngaji di pesantren, kita jadi ketularan baiknya," ucap Rita dengan tersenyum bahagia. "Yaudah ayo kita kemushola dulu, lalu makan siang," tambahnya lagi.
"Ayok," ucap mereka bertiga.
Mereka pun keluar dari mall lalu memasuki mobil yang mereka naiki tadi. Mereka akan mencari mushola untuk mereka sholat.
Setelah menemukan mushola, tepatnya yang mereka datangi bukan mushola tapi masjid, mereka pun melaksanakan sholat masing-masing.
Selesai sholat, mereka mencari restoran yang akan mereka kunjungi untuk makan siang.
Lima belas menit mereka mencari restoran akhirnya ketemu juga yang mereka cari-cari. Mereka masuk dalam restoran dan memesan makanan.
"Sekarang gue yang traktir ya, mayan kemarin dapat bonus dari papa," ucap Anggi setelah mereka mendudukan diri di kursi restoran.
"Alhamdulillah dapet traktiran, makasih Nggi," ucap Safira senang.
Pesanan mereka pun datang, mereka berempat melahap makanan mereka disertai canda tawa.
jgn lama2 Thor lanjutannya ,,, penasaran ini
buat orang tua yg berniat memondokan anak biasanya dari lulus sd, jadi pas sekolah smp dia sekalian mondok sampai sma, nah... pas lulus sma mau lanjut kuliah di mana gitu kalo jauh dari pondok biasanya di transfer ke pondok yg masih 1 madzab, setahu ku sih gitu...