Miranti, seorang pengusaha restoran yang sedang berada di puncak kejayaan. Meskipun cara yang ditempuh untuk mencapai kesuksesan itu harus melalui berbagai ritual ilmu hitam, Miranti tetap bahagia dan menikmati kekayaan dan kejayaannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Hingga akhirnya, di luar dugaan telah terjadi kesalahan dalam pelaksanaan ritual, hingga keadaan menjadi tak terkendali.
Perjanjian yang awalnya hanya akan mengorbankan anggota keluarganya saja, kini merembet pada orang lain. Korban pun berjatuhan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENARI SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Keesokan pagi, restoran Dapur Miranti, tampak seperti biasa. Seolah tidak pernah ada kejadian mengerikan.
Pagi itu Miranti membagi-bagikan sup daging yang dia buat semalam.
"Wah, ternyata bos kita bisa masak juga?" Amanda meledek Miranti.
"Bisa lah, masa pemilik restoran ga bisa masak? Aku dulu kan ngerjain semuanya sendiri waktu masih susah," balas Miranti sambil menuangkan sup ke dalam mangkok.
Tidak lupa dia juga membagi untuk anggota polisi yang masih melakukan tugasnya terkait kematian Sonia.
"Nin, tolong kamu bagikan sup itu ke tetangga, ya." Miranti menunjuk sup yang sudah dimasukkan ke dalam kemasan.
"Iya, Bu," jawab Nina singkat.
"Memang ini dalam rangka apa?" tanya Amanda.
"Sekedar berbagi aja. Kita kan harus ngeluarin sedekah juga lah, biar berkah," ujar Miranti.
Amanda mengangguk. "Oiya, Meta ngga datang, Nin?" tanya Amanda lagi.
"Ngga tau, kak. Handphonenya ga aktif." Nina mulai sibuk memasukkan sup yang sudah dikemas ke dalam kantong besar.
Tanpa diminta Amanda langsung membantunya.
"Biar kubantu ngantar ke tetangganya, pasti susah kalau sendirian." Amanda menawarkan diri, dan tentunya Nina sangat senang.
☕☕☕
"Tumben ga bareng Meta?" tanya Bu Ida ketika melihat Nina datang bersama Amanda.
"Engga, Bu," jawab Nina sambil mengeluarkan dua buah kotak yang berisi sup, dan menyerahkan pada Bu Ida.
"Iya, biasanya bareng Meta kalau ke mana-mana," lanjut Bu Ida sambil menerima sup. "Makasih, ya." Bu Ida tampak senang menerima sup itu. Dia tahu sup itu sangat enak, karena sebelumnya juga pernah dikasih oleh Miranti.
"Meta ga masuk, Bu. Sakit kali," pintas Amanda.
"Owh, semalam lembur kayaknya," sambung Bu Ida.
"Siapa, Bu?" tanya Nina yang tidak paham maksud pembicaraan Bu Ida.
"Meta," jawab Bu Ida.
"Ng? Meta? Lembur?" Nina balik bertanya. Nia memandang Amanda, dan ternyata Amanda juga sedang meliriknya.
"Engga, semalam Meta main ke kosan aku. Pulangnya sebelum sholat Isya kalau ngga salah." Nina membantah ucapan Bu Ida.
"Iyaa, dia datang pas orang azan. Ibu lihat kok motornya parkir di depan restoran. Tapi ibu ga tau dia balik jam berapa?" Bu Ida tetap bersikeras.
"Masa sih?" Nina masih tidak percaya.
"Disuruh Miranti kali, mungkin ada yang harus dikerjakan." Amanda segera menengahi perbincangan tersebut.
Selesai dari membagikan sup pada masyarakat sekitar, Amanda dan Nina bergabung dengan Dimaz dan anggota polisi yang menyantap hidangan sup di halaman belakang. Sup itu sudah dibagi per mangkuk oleh Miranti.
"Rangga jadi pulang?" tanya Gilang, salah satu anggota polisi.
"Iya, Bang," sahut Amanda. Tangannya mengaduk-aduk sup yang baru ditambahkan sambal.
"Meta juga tidak kelihatan?" tanya Gilang sambil melayangkan pandangan ke sekeliling.
"Iya, dia tidak datang hari ini," jawab Amanda.
"Sakit? ... Atau...," lanjut Gilang.
"Engga tahu juga, Bang. Ga ada kabar. Handphone-nya juga mati." Amanda memberi tahu Gilang tanpa ada perasaan curiga atas ketidak hadiran Meta.
Gilang menghentikan suapannya, dan memainkan sendok dalam mangkuk. Pikirannya tiba-tiba bermain dengan bayangan Meta.
Tiba-tiba Fatur datang mendekati meja mereka, tepatnya berdiri di dekat Amanda.
"Hai sayang," sapa Amanda sambil tersenyum.
Fatur menatap dingin pada Amanda. Tanpa aba-aba tangannya meraih mangkuk sup milik Amanda, dan melemparnya ke lantai.
PRANG!!!
Mangkuk itu pecah berkeping-keping dan isinya yang belum sempat dicicipi oleh Amanda, bertebaran di lantai.
"Waduuuh, Fatur!" teriak Amanda yang kaget melihat tingkah anak kecil itu.
Tidak hanya Amanda, semua orang yang tengah menikmati makanan di situ ikut kaget melihat tingkah Fatur.
Amanda langsung berdiri dari duduknya, dan menatap Fatur dengan heran. Tapi, anak itu tidak bereaksi apa-apa. Masih berdiri mematung dengan tatapan kosong dan dingin.
Gilang dan beberapa temannya ikut memperhatikan ekspresi Fatur ketika itu.
"Sepertinya ada yang aneh dengan anak ini," ujar Pak Beni, salah seorang anggota polisi juga.
"Dia memang suka bersikap aneh, Pak. Suka bikin masalah," celetuk Nina yang terlihat jengkel pada Fatur.
"Mungkin karena masih anak-anak, Nin." Amanda mencoba meredam.
"Tapi sering banget kak. Dan anehnya, ekspresinya itu lho, menyeramkan." Nina menjabarkan ketidak sukaannya pada Fatur selama ini.
"Tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan Fatur." Pak Beni kembali mengulang.
"Tidak beres gimana, Pak?" tanya Amanda tidak mengerti.
"Anak ini harus dirukyah. Jika tidak, dia akan kehilangan dirinya," terang Pak Beni.
"Maksud bapak, Fatur kerasukan?" tanya Nina.
"Sepertinya...," jawab Pak Beni yang langsung dipotong oleh Nina.
"Aku juga merasa begitu, Pak. Anak ini seperti dirasuki makhluk halus gitu. Bapak lihat aja ekspresinya. Aneh begitu." Nina membenarkan ucapan Beni soal tingkah Fatur yang selama ini memang selalu bikin ulah.
Tanpa mereka sadari, Miranti memperhatikan dari jendela lantai dua. Dia sungguh geram melihat tingkah Fatur yang menumpahkan sup Amanda.
Gara-gara Fatur, Amanda batal memakan sup buatan Miranti, dan itu adalah pantangan dalam ritualnya.
Semua orang yang sedang berada di restoran harus memakan sup, meskipun hanya sedikit. Itulah syaratnya. Jika tidak, maka ritual itu dianggap tidak sempurna bahkan bisa gagal.
Tujuan dari pembagian sup itu adalah sebagai bentuk pengasihan.
Jika sup sudah termakan oleh orang-orang di restoran, maka restoran Dapur Miranti akan selalu disukai oleh orang-orang.
Organ mata itu akan membuat restoran Dapur Miranti untuk selalu dilirik oleh orang-orang yang lewat. Organ hati itu, akan membuat orang-orang selalu penasaran dengan restoran Dapur Miranti.
Organ jantung akan membuat orang berkeinginan untuk selalu datang ke sana. Tengkorak kepala, akan membuat orang-orang selalu memikirkan tentang restoran Dapur Miranti.
Tulang hasta akan membuat orang tidak ingin berhenti mencicipi semua menu di situ. Sedangkan usus, akan membuat orang-orang yang makan di sana tidak akan pernah merasa kenyang dan puas. Sehingga ingin terus makan, atau ingin kembali lagi ke sana.
Miranti sukses dgn jalur demit ,