Josephine Silva alias Joey merupakan seorang gadis lugu dan polos.
Suatu hari dia bertemu dengan Devano Geraldi atau biasa dipanggil Al.
Mereka saling mencintai dan saling percaya satu sama lain.
Hingga pada suatu ketika di acara pernikahan mereka, tiba-tiba saja Al menggagalkan acaranya tanpa alasan yang pasti.
Lambat laun, ketika Joey sudah menata hatinya dan bangkit kembali, ia bertemu dengan Marcus Hanson Antinio (Mark), dengan sifat yang berbeda jauh dengan Al.
Mark pria yang angkuh dan sombong.
Mark melakukan berbagai banyak cara untuk bisa mendapatkan hati Joey.
Akankah Mark berhasil mendapatkan hati dan juga cinta Joey?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riana a s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video Call
Masih di ruang dewan guru.
"Ayo cepat. Waktu sudah habis. Sekarang waktunya untuk menyampaikan idenya!. Kelompok ini terlebih dahulu." kata Daniel menunjuk meja panjang yang berada di depan bagian kirinya.
Ada delapan guru yang ada di sana. Di meja Joey juga ada delapan guru. Mereka rapat membentuk huruf "u".
Salah seorang guru mewakili. Namanya adalah ibu Lisiana.
"Menurut saya, pak kita tampilkan tarian dan nyanyian dari anak-anak. Kemudian kita pamerkan souvenir-souvenir hasil karya anak yang ada." katanya menjelaskan tapi agak sedikit takut.
"Tarian dan nyanyian seperti apa yang kamu maksud? tanya kepala sekolah langsung merespon cepat dengan tatapan tajam.
"Begini, pak. Kita perkenalkan mereka tentang budaya kita lewat nyanyian dan tarian. Itu sebagai daya tarik pak." ucap ibu Lisiana.
Bapak kepala sekolah manggut-manggut sambil berpikir tentang ide tersebut.
"Bagus juga." katanya singkat.
"Dari kelompok ini bagaimana? Siapa yang bisa berkomentar atau menanggapi?" tanya kepala sekolah kepada kelompok Joey.
"Saya, pak." sahut seseorang dengan mengangkat tangannya ke atas.
"Silakan." ucap kepala sekolah singkat.
"Menurut saya sepertinya lebih bagus anak-anak menampilkan tarian dan nyanyian Jepang. Pasti mereka semakin terharu dengan anak-anak."
Joey tiba-tiba mengangkat tangannya tanpa diperintah.
"Ya ada apa ibu Josephine?" tanya kepala sekolah langsung.
"Saya lebih setuju pendapat ibu Lisiana, pak. Lebih baik budaya kita yang kita perkenalkan. Tandanya kita bangga, cinta terhadap produk kita sendiri. Begitu menurut saya, pak."
Guru lain mengangguk tanda setuju. Wakil kepala sekolah juga melakukan hal yang sama.
"Lalu apakah kamu punya ide yang lain lagi?" tanya kepala sekolah masih kepada Josephine.
"Ide saya seperti itu juga, pak. Dan saya lebih setuju seperti itu." kata Joey.
Kepala sekolah pun berpikir sejenak lalu ia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah. Kesimpulan rapat kita hari ini adalah kita akan menampilkan anak-anak bernyanyi dan menari dengan memperkenalkan salah satu adat dan budaya tanah air kita. Dan mempromisikan souvenir yang dibuat anak-anak."
"Dan ibu Josephine, tolong latih anak bernyanyi di bantu dengan yang lain. Ibu Lisiana melatih anak menari dan dibantu yang lain, dan penanggung jawab souvenir adalah ibu Nora." kata kepala sekolah mengakhiri rapat hari ini.
Daniel mengucapkan terimakasih kepada guru-guru dan memberi semangat serta arahan singkat. Daniel mempersilakan semua guru untuk kembali mengajar ke kelas masing-masing.
Di Kantor Marcus Hanson.
"Bagaimana Jenni. Kamu sudah mendapatkan informasi yang saya minta?" tanya Mark ketika Jenni datang ke ruangannya sambil membawa berkas seperti biasa.
"Sudah, pak. Ini data-datanya." kata Jenni. Lalu mengulurkan dua lembar kertas ke hadapan Mark.
"Bagus. Minggu depan kamu atur ulang semua jadwalku. Saya ingin membereskan sesuatu minggu ini. Kosongkan semua jadwal saya sampai hari sabtu." ucap Mark lagi.
"Baik, pak." ucap Jenni singkat.
"Kamu boleh keluar dari ruangan saya sekarang."
"Baik, pak. Saya permisi, pak." ucao Jenni menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Dan jangan lupa tutup pintunya." kata Mark lagi sambil menunjuk pintu yang terbuka lebar dan Jenni menganggukkan kepalanya.
Saat pintu sudah tertutup rapat, Mark merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu ia menhubungi seseorang.
"Hai, beb. Gimana kabarmu?" tanya Mark dengan seseorang.
Yah siapa lagi kalau bukan Josephine alias Joey. Mark video call dengan Joey lewat salah satu aplikasi media sosial. Ia merindukan wanitanya itu setelah beberapa hari tidak bertemu. Ia melebarkan senyumnya saat kepada wanitanya itu.
"Hai, Mark. Kabar aku baik. Kamu gimana?" tanya Joey balik.
"Aku nggak baik."
"Lho, kenapa?"
"Aku sakut Joey."
"Kamu sakit apa? Udah berapa hari? Sudah berobat?" tanya Joey.
Ia mengebom Mark dengan pertanyaan yang membabi buta menurut Mark.
"Sudah tiga hari kayaknya."
"Terus sudah minum obatnya?"
"Sudah. Ini obatnya."
"Maksudnya?"
"Ya kamu obatnya. Sudah lama nggak jumpa aku, aku....
"Aku apa?"
"Aku sakit rindu sama kamu." ucap Mark.
Ia tersenyum sangag puas.
Ia berhasil membuat Joey panik.
"Ya ampun, Mark Aku kira kamu sakit beneran lho". ucap Joey jengkel.
Mark berhasil nge-prank Joey.
Tuuut....
Joey kesal lalu mematikan sambungan video call nya tanpa permisi sama Mark.
Mark nggak pernah menyangka kalau Joey akan bersikap seperti itu. Maksud dia tadi hanya bercanda, tapi Joey langsung ngambekan.
Mark hanya ingin menunjukkan rasa sayangnya terhadap Joey meskipun hanya lewat candaan. Eh, Mark malah mendapatkan ujungnya yang seperti ini.
Mark mencoba menghubungi Joey lagi. Lewat video call atau panggilan biasa. Tapi Joey tak merespon sama sekali. Mark pun mencoba mengirimkan pesan, tapi lagi-lagi Joey tak merespon. Ia hanya membaca saja namun tak membalas.
Mark mulai gusar. Ia tak pernah memikirkan atau membayangkan salah paham seperti ini. Mark memutuskan ingin pergi ke tempat Joey bekerja. Tapi gagal.
"Permisi, pak. Boleh saya masuk?" tanya Jenni dari luar.
"Masuk." ucap Mark singkat.
"Ada apa?"
"Anu, pak. Maaf sudah mengganggu ketenangan bapak. E, e, anu, pak." kata Jenni gugup dan gemetar ketakutan.
"Anu apa?" tanya Mark mulai emosi.
Jenni mundur dengan cepat sambil menundukkan kepalanya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi saat Mark berdiri dan berjalan ke arahnya. Jenni takut Mark akan berbuat kasar padanya.
"Di luar ada yang sedang menunggu bapak. Saya ke sini mau minta persetujuan bapak." kata Jenni masih takut.
"Siapa?" tanya Mark.
Seketika ia tersadar kalau dirinya telah membuat sekretarisnya itu ketakutan.
"Maaf, sudah membuatmu takut." ucap Mark.
Emosinya sudah mulai dikendalikannya. Amarahnya pun sudah surut perlahan.
"Iya, pak. Tidak masalah." ucap Jenni yang sudah mulai santai.
Ketakutannya sirna saat Mark meminta maaf.
"Tadi kamu bilang ada yang mencari saya. Siapa?"
"Nona Joey, pak. Ia menunggu bapak di luar." kata Jenni mesmberitahu.
Mark seketika terkejut. Ia bahagia. Sampai-sampai ia ingin berlari segera. Tapi dia urungkan karena ada sekretarisnya di ruangan itu.
Sang sekretaris pun sepertinya memahami perasaan bossnya itu.
"Baiklah, pak. Saya permisi. Ucap Jenni. Ia langsung berlalu meninggalkan ruangan itu.
Setelah sekretarisnya berlalu dan pintu kembali tertutup rapat, Mark langsung melonjak kegirangan.
"Apa yang harus aku bilang nanti ya sama Joey? Apa aku harus minta maaf atau,,,
Tapi buat apa Joey kemari? Apa dia merindukanku juga?"
Mark menerka-nerka sendiri. Ia pun berbicara dengan dirinya sendiri.
Sementara saat Mark sedang sibuk dengan terkaannya sendiri, Joey yang sedang menunggunya mendapat telepon dari seseorang.Ia pun berlalu dengan cepat.
Wajahnya terlihat khawatir. Ia langsung menuju mobil yang sudah terparkir indah menunggunya.
"Ayo, jalan Pak!" perintah Joey kepada supirnya.
Pak Jupri pun menjalankan mobil.