seandainya suara - suara semangat di ujung Telepon sana, bisa aku tukar dengan kata "Hallo " dari Ibuku,mungkin akulah wanita yang paling berbahagia didetik ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kumala Nainggolan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
yah,ini RINDU,sekali lagi ini "RINDU",bukan larutan DUKA
Sejak pindahnya Yuyun pergi ke Jakarta seminggu yang lalu , bilik ini sangatlah sepi ." ucap Meilin dengan suara yang bergetar.
Ia sungguh sangat kesepian dibilik nya itu , sama seperti sepinya rumah Neneknya dikampung , sebelum Meilin berangkat merantau ke Bali kala itu .
Meilin duduk memandang keluar dari kaca jendela kamarnya.
Dengan jendela yang masih terbuka lebar , Wanita itu pun bisa bebas memandang keluar . Jauh memandang Langit luas . Dengan sedikit ditutupi oleh daun - daun pohon Kelapa , yang bergoyang ditiup angin sepoi - sepoi . Disana , jauh disana , dibalik daun kelapa itu , terlihat indah Bulat bulan menyinari Bumi .
"Ini adalah malam keenam aku mengamati Bintang itu ." guman Meilin pada dirinya sendiri.
Bintang itu paling terang sendiri diantara Bintang lainnya . Ia tak berkelap kelip . Warna cahayanya pun berbeda dengan Bintang disekitarnya . Dia berada jauh diantara teman - temannya.
Jauh dari Bintang itu , disisi lain Meilin memandang lagi , ada Bintang kecil yang cahayanya redup , namun ia berkelip - kelip , seakan mau hilang , namun ia tak hilang . Mungkin dia berusaha untuk tetap bercahaya , sama seperti temannya yang lain.
Meilin kemudian melihat Bintang lainnya . Ada yang paling kecil namun bercahaya terang.
Ada yang besar namun cahaya redup .
Ada juga yang kecil dan cahayanya redup berkelap - kelip.
Dan aku rasa , salah satu Bintang itu menggambarkan "aku" ." guman Meilin lagi , masih memandangi Langit yang luas.
Disisi lain , Meilin sering melihat Kilatan di Langit . Namun hanya disisi itu saja berulang - ulang kali.
Pukul segini Meilin mencari Bulan , namun Meilin tidak melihat Bulan.
Padahal dimalam sebelumnya , Meilin melihat Langit begitu terang oleh cahaya Bulan . Awan putihnya kelihatan . Dan tepat pada pukul Dua belas malam , Bulan ada diatas Kepala , cahayanya terang menembus gelapnya kota Denpasar .
Namun , Bulan sering tertutup awan putih.
Dan Seiring berjalannya waktu , Bulan lewat begitu saja , dan sinarnya kembali menerangi Bumi.
Sekarang Meilin ada dikamarnya . Duduk memandangi Langit yang gelap dan tak Berawan .Tetapi bertabur Bintang - Bintang redup kebanyakan .
Aku tidak sedang menunggu seseorang . Namun sering sekali bayangan itu muncul sekilas !" lirih Meilin menahan kesedihan.
Kini Meilin duduk sambil memandangi Langitnya . Dengan segelas Coffee Good Day , Buku , dan Pulpen.
"Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya malam ini kurasakan duduk sendiri disini . Memikirkan jalanku.
Jalanku yang lalu ,
Jalanku yang sekarang ,
dan jalanku selanjutnya .
Memikirkan semua yang sudah kulewati , dan apa yang selanjutnya akan kuhadapi nanti.
Aku hanya melakukan yang terbaik semampuku . Dan berhasil atau tidaknya , aku serahkan kepada Bapaku.
Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya hati ini bisa menangis puas . Memandangi Langit yang gelap , tampa ada seorang pun yang mengganggu bahkan melarangku ?
Bisakah kau bayangkan betapa tenangnya hati ini menyendiri dimalam ini , bersama dengan angin malam yang mencekam menusuk tulang ?
Betapa senangnya aku , dikala aku menyadari aku masih memandang Langit yang sama , dan masih tinggal dibawah Atmosfer yang sama dengan Ibuku.
Selama itu masih sama , berarti aku masih punya harapan untuk memperbaiki ini semua.
Dan aku masih punya kesempatan bertanya : "Mengapa dulu ia memperlakukan aku seperti itu , hingga aku seperti ini ! " .
Berarti aku pun masih bisa berandai - andai : "aku bertemu dengannya dan mencium Surgaku" .
Berarti aku masih bisa berandai - andai :
"Gambar Fhoto keluarga yang kubingkai , aku , suamiku dan anak-anakku , yang sering aku gambar dikertas hvs , itu menjadi Fhoto keluarga yang nyata" .
Dan ...
andai saja suara - suara
semangat yang datang padaku bisa ku kumpulkan , dan kutukar dengan suara "Halo" dari Ibuku , mungkin kebahagiaanku tidak akan terlukiskan dengan apapun .Tidak akan bisa terangkai indah seperti puisi yang biasa aku cipta.
Yah ... diakhir kata untuk menutup malam yang dingin ini , aku juga merindunya . Merindu semua aktivitas yang biasanya kulewati dengan Ibuku.
Ternyata aku harus bisa lepas dari semua itu.
Dan yakinlah.. aku masih mencoba untuk menembus kenangan.
Yah ...ini rindu , sekali lagi ini "Rindu" Bukan larutan kedukaan".