3
Daffa Alfano Dirgantara, laki laki matang berusia 28 tahun. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, ia sama sekali belum berkeinginan untuk mencari pendamping hidup. Semua ini terjadi karena ibunya meninggal saat dulu melahirkan dirinya dan saudara kembarnya ke dunia ini.
Setelah ibunya meninggal, ia diasuh oleh ayahnya, tapi setelah ia dan saudara kembarnya berusia tiga tahun, ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang Daffa tahu berasal dari masa lalu ayahnya. Daffa sangat membenci wanita itu, bahkan jika bisa Daffa ingin menyingkirkan wanita itu, karena ia yakin wanita seperti ibu sambungnya itu hanya ingin mengincar harta kekayaan keluarganya. Hingga akhirnya ditengah kebenciannya yang kian memuncak pada ibu sambungnya itu, ayahnya justru meminta dirinya untuk menikah dengan wanita pilihan mereka, dan hal ini justru membuat Daffa semakin tidak menyukai ibu sambungnya, karena wanita yang akan di jodohkan dengannya, merupakan keponakan jauh dari ibu sambungnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu jagad 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Daffa terbangun dari tidurnya pukul tiga dini hari. Ia mempertajam pendengarannya saat mendengar isak tangis seseorang. Ia kemudian memilih duduk di ranjangnya, dan kembali memasang pendengarannya. Hingga akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang tampak khusyuk berdo'a, dia adalah Sekar, istrinya
"Ya Allah, jika memang jalan yang engkau janjikan untuk hamba seperti ini, maka kuatkan hamba untuk terus berusaha meluluhkan hati suami hamba Ya Allah. Hamba percaya, ada rencana besar yang engkau janjikan untuk setiap perjuangan hamba. lembutkan lah hati suami hamba Ya Allah, hamba percaya akan kuasamu. Aamiin"
Daffa kembali berbaring saat melihat Sekar menyudahi do'a nya. Ia kembali memejamkan mata, dan berpura pura tertidur. Didetik berikutnya, ia merasakan sentuhan hangat pada dahinya, yang ia yakini dilakukan oleh istrinya, lalu sesaat kemudian, kecupan lembut kembali berlabuh di dahinya. Daffa menahan tangan istrinya yang memegang tangannya, membuat Sekar terbelalak tak percaya
"Kau tidak malu meminta hal yang istimewa kepada Allah. Kau tidak malu menunjukkan ketertarikanmu padaku, dan meminta agar aku bisa luluh dan mau bersama denganmu? Dengarkan aku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu"
Deg
Sekar merasakan sakit dalam dadanya. Rasa terkejut akan kesadaran suaminya yang tiba tiba sudah membuatnya mati kutu, apalagi kini, aura dingin suaminya kembali mendominasi. Sekar menatap mata itu dalam dalam, seakan menyusuri setiap lapisan didalamnya
"Mengapa aku harus malu memintamu pada Tuhanku? Jangankan hatimu, seisi dunia pun mampu ia bolak balikkan, lalu hal apa yang masih membuatku ragu untuk meminta pada-Nya? Jika hatimu memang tercipta untukku, maka sembunyi pun kau kedalam peti mati, hatimu masih tetap miliku" ucap Sekar dengan tenang
Daffa terdiam, tidak mampu menjawab perkataan Sekar. Ia melepas cengkramannya pada tangan istrinya, dan berjalan pergi meninggalkannya. Sekar hanya menatap kepergian Daffa dengan linangan air mata. Kini ia ingin menunjukkan betapa hatinya sangat rapuh, benteng kuat yang coba ia pertahankan akhirnya runtuh, ia bersimpuh di kaki ranjang, dan menangis dalam diam
Daffa memandang langit malam dari balkon kamarnya. Ia mengusap wajahnya kasar, ia sadar bahwa perbuatannya pada Sekar selama ini sudah cukup membuat wanita itu sakit hati. Namun hingga detik ini, Daffa belum pernah menerima satu kata yang tidak pantas dari mulut istrinya, dan malam ini, untuk pertama kalinya Daffa mendengar wanita itu menangis dalam shalatnya, tangis yang terdengar sangat lirih dan menyayat.
Daffa kembali mengusap wajahnya. Hembusan nafas juga tak henti hentinya terdengar. Ia meraba dahinya, ini bukan pertama kalinya istrinya itu mencium dahinya. Namun entah mengapa hangat yang terasa karena ciuman istrinya benar benar meresahkan jiwanya.
"Ibu, andai kau ada bersamaku, mungkin aku bisa tahu apa itu cinta"
Daffa mengusap dadanya yang berdebar berulang kali. Ia menghembuskan nafas untuk menormalkan detak jantungnya. Setelah cukup normal, ia kembali masuk kedalam kamar.
*
Pagi menjelang. Daffa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Ia melirik atas kasurnya yang sudah terdapat pakaian kerja miliknya, ia yakin istrinya yang menyiapkan itu semua, mengingat dirinya tidak memberi akses pada siapapun untuk masuk ke kamarnya, bahkan Daffina sekalipun. Daffa membuka lipatan pakaian kerjanya, ini adalah perpaduan yang cukup serasi. Jas dan celana formal berwarna biru muda, dipadukan dengan kaos putih panjang. Daffa segera memakai pakaian tersebut, dan dengan segera turun menuju ruang makan