Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.
Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.
Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulut-mulut
Feriska tengah duduk di kantin bersama Damian. “Kok Fiona enggak balas pesanku sih,” keluh Feriska.
“Anthony Lo liat Fiona enggak?” tanya Feriska pada Anthony yang baru saja datang.
“Enggak tuh, kenapa?” Anthony sengaja berbohong, padahal ia melihat Fiona menangis di perpustakaan.
“Ini Fiona baca pesanku tapi enggak dia balas sama sekali. Aku takut dia syok banget kalau ke kampus.” Terdengar nada khawatir dari suara Feriska.
“Emang benar ya Fiona udah nikah sama om-om?” tanya Damian penasaran akan gosip yang sedang heboh di kampus.
“Enggak tahu, Fiona enggak ada cerita apa pun,” jawab Feriska.
“Tapi kok Fiona jahat ya, enggak cerita sama kita?” tanya Damian lagi.
Anthony tidak ikut menimpali, ia menikmati secangkir kopi sambil bermain game di ponselnya.
“Aku belum mau komentar apa-apa, karena aku belum ketemu Fiona dan ingin dengar penjelasannya secara langsung.” Feriska angkat kaki dan pergi meninggalkan Damian dan Anthony.
Feriska berkeliling kampus berharap bertemu dengan Fiona, sementara tangannya terus memegang ponselnya yang mencoba menghubungi sahabatnya. Sudah empat kali telepon Feriska tidak kunjung di angkat, namun ia masih berusaha untuk menghubungi Fiona. “Ah akhirnya kamu angkat juga, kamu di mana Fiona?”
[Tolong aku]
Feriska mendengar suara Fiona seperti habis menangis. “Tolong apa Fiona?”
[Aku malu.]
“Kamu di mana? Aku akan ke sana sekarang.”
[Di perpustakaan]
Feriska segera menutup teleponnya, ia berlari menuju perpustakaan. Feriska mengitari lorong-lorong perpustakaan. Hati Feriska mulai tenang saat melihat Fiona yang duduk di pojokkan dengan kepala tertunduk.
Feriska ikut duduk bergabung bersama sahabatnya. “Fiona?”
Fiona menatap Feriska dengan air mata yang berlinang.
Feriska memeluk tubuh Fiona. Ia tidak senang melihat mata Fiona yang cukup bengkak karena menangis sendirian. “Kamu mau pulang? Biar aku antar.” Kebetulan Feriska membawa mobil milik Arsya hari ini, prianya itu tidak bisa mengantar Feriska karena ada urusan penting yang membuatnya pergi lebih dulu.
Fiona menganggukkan kepalanya, ia melepaskan pelukannya. Kini Fiona sedikit lebih tenang, setidaknya Feriska masih mau berteman dengan dirinya.
Mereka berjalan menuju tempat parkir, banyak pandangan mata yang menatap jijik ke arah Fiona. Bahkan ungkapan menghina yang secara tak langsung di tunjukan untuk Fiona yang berjalan melewati mereka.
“Kemana ajak sih orang tuanya, enggak becus ngurus anak!”
Feriska menarik Fiona agar lebih mempercepat langkahnya.
Fiona sangat kesal mendengar cibiran terakhir dari wanita yang tak ia kenal. “Sudah jangan buat keributan lagi.”
Fiona masuk ke dalam mobil. Feriska yang duduk di bagian kemudi mulai melajukan mobilnya keluar dari area kampus.
“Jangan ke rumah.”
Feriska melirik Fiona sebentar. “Terus kita mau ke mana.”
Fiona mengeluarkan ponselnya ia membuka maps untuk petunjuk arah Feriska.
Selama perjalanan Fiona diam, tubuhnya bersandar ke belakang dengan mata yang tertutup. Sementara Feriska fokus menyetir dan mengikuti petunjuk arah.
Aplikasi tersebut memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di tujuan. “Fiona kenapa kita ke sini?”
Fiona membuka matanya, ia membuka kaca mobilnya. Dan melambaikan tangannya pada pos penjaga.
Gerbang terbuka otomatis. “Ayo masuk.”
Feriska yang tidak tahu menahu memilih mengikuti arahan Fiona. Fiona turun dari mobil begitu juga dengan Feriska.
“Ini rumah siapa Fiona?”
Fiona tidak menjawab pertanyaan Feriska. Ia berjalan meninggalkan Feriska menuju pintu utama.
Feriska memperhatikan Fiona yang menekan beberapa nomor untuk membuka kunci. Feriska segera berlari saat Fiona masuk ke dalam sementara dirinya masih terpaku di halaman.
Feriska masuk ke dalam rumah tersebut dan terkejut saat dirinya di sambut oleh bingkai foto berukuran besar. Foto pernikahan yang sama persis di unggah oleh akun gosip. Mata Feriska menangkap bagian sudut bawah, terdapat logo perusahaan percetakan dan fotografi milik Kakanya Anthony. Ada rasa kecewa yang mampir di hati Feriska, bagaimana bisa Anthony berbuat sejahat ini.
Fiona masuk ke dalam, ia mengambil dua botol minuman dingin berserta camilan. Lalu kembali ke ruang tamu.
“Fiona ini beneran kamu?”
“Iya,” jawab Fiona lesu. Ia mengambil minuman dingin dan menenggaknya.
“Kamu cantik banget, sumpah. Ah sayang banget kita enggak sempat foto berdua.” Feriska sengaja tidak mencecar Fiona dengan pertanyaan, sahabatnya itu tidak akan pernah terbuka jika di lakukan dengan cara terang-terangan menginterogasi.
“Maaf ya aku tidak jujur pada kalian, aku malu. Orang tuaku menerima lamaran Zio tanpa sepengetahuanku.” Fiona menunduk kepalanya dalam-dalam.
Feriska ikut bergabung duduk di samping Fiona, tangan Feriska merangkul bahu Fiona. “Kenapa harus malu Fiona, kita sama. Aku bahkan bangga menjadi wanitanya Arsya, ya meskipun tidak ada hubungan yang jelas di antara kita kecuali saling memuaskan.”
“Sebetulnya kalian itu saling cinta tidak?”
Feriska menghela nafasnya, “Kayaknya cuma aku aja yang mencintai Arsya.”
“Feriska aku serius bertanya, apa kamu beneran tidak malu? Maksudku umur kamu dan Papa cukup jauh.” Fiona cukup penasaran dengan sahabatnya. Fiona saja menikah dengan Ignazio sangat malu, bahkan kini seisi kampus mengetahuinya.
“Apaan sih Fiona, kenapa harus malu. Cinta itu enggak pandang usia, kalau kita nyaman ya jalani saja. Urusan orang berpikiran buruk itu bukan hak kita, bibir merekanya saja yang julit liat kebahagiaan orang lain.”
Fiona terdiam mencerna kalimat panjang dan lebar yang keluar dari mulut Feriska.
“Kamu enggak perlu malu Fiona, apalagi kalian sudah menikah. Janin yang kamu kandung anaknya Zio kan?”
Fiona menatap Feriska dengan rasa bersalahnya. “Iya, maaf aku membohongimu terus menerus.”
“Tidak apa-apa, calon ibu tirimu ini menerima semua kesalahanmu. Ah aku tidak sabar menanti kelahirannya,” wajah Feriska memerah membayangkan jika ia memiliki anak juga bersama Arsya.
Feriska memegang kedua bahu Fiona. “Mulai sekarang kamu harus fokus pada skripsi dan kehamilanmu. Urusan cibiran orang enggak perlu kamu hiraukan lagi ya.”
Seharian Feriska menemani Fiona di rumah Zio, mereka melakukan banyak hal yang mengasyikkan. Sebentar lagi jam pulang kantor, Feriska memilih untuk berpamitan. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Arsya.
Feriska melajukan mobilnya menuju apartemen, namun ia menghentikan mobilnya saat melihat Anthony sedang berhenti di pinggir jalan bersama motornya.
Feriska turun dari mobil dan menghampiri Anthony. “Kamu penyebab semua kekacauan ini?”
“Kekacauan apa?”
Suara tenang Anthony memancing kekesalan Feriska. “Kamu tidak punya hati ya, Fiona itu sahabat kita. Tapi kamu tega menyebarkan berita bohong di media sosial, bahkan menunjukkan foto pernikahannya.”
“Apa sih maksud kamu aku tidak mengerti.” Malas meladeni sahabatnya, Anthony memasangkan helm ke kepalanya bersiap untuk pergi.
“Jangan pikir aku bodoh, kamu mendapatkan foto Fiona dari kakakmu kan?”
Anthony menyalakan motornya. “Jangan suka mengada-ngada Feriska!”
Feriska memukul helm yang Anthony pakai dengan tas miliknya. “Awas ya kamu, aku adukan ke Fiona.”
“Silahkan kalau kamu mau melihat berita tentangmu memenuhi media sosial.” Anthony memberikan ancaman sebelum melajukan motornya.
mksh kak bonusan Babnya lope lope sekebon cabe 💜💜💜💜