NovelToon NovelToon
Permaisuri Modern

Permaisuri Modern

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Sisca Nasty

Shi Jin melewati lorong waktu. Dulu ia seorang permaisuri. Namun sekarang, ia sudah berubah menjadi wanita modern.

Berpura-pura menjadi wanita bernama Shu Qi.

Apa dia akan terus menutup identitas aslinya?

Apa yang terjadi, jika seorang permaisuri nyasar ke Dunia modern?

Apa dia akan kembali ke jaman kerajaan, atau. menetap di jaman Modern?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

“Sayang, kenapa kau diam saja? apa kau lupa?” Wajah Chen Ming berubah sedih.

“Ehm, itu. Aku .…” Shi Jin semakin bingung.

“Lupakan. Aku tidak akan membahas hal itu lagi. Sarapan kita sudah tiba.” Chen Ming mengukir senyuman terpaksa, untuk menutupi kesedihan di dalam hatinya.

“Maafkan aku ….” ucap Shi Jin penuh rasa bersalah.

Chen Ming hanya membalas perkataan Shi Jin dengan senyuman. Memperhatikan pelayan yang kini menghidangkan makanan di hadapannya.

Apa kau tidak ingat, sayang. Kalau kita tidak pernah berpacaran, maka dari itu tidak akan ada tanggal yang mengingatkan momen itu. Tapi, semua itu tidak penting lagi. Saat ini kau sudah mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Chen Ming memulai ritual sarapan paginya. Tanpa banyak kata lagi. Shi Jin juga mulai memakan makanan yang tersedia di atas meja. Sesekali ia memperhatikan raut wajah Chen Ming yang berubah sedih.

Kenapa tidak semua hal, bisa aku ketahui melalu ingatan Shu Qi. Ada beberapa hal yang bisa dengan mudah aku ingat, tapi ada beberapa hal juga yang sangat sulit aku temukan jawabannya. Jika terus begini, lama kelamaan Chen Ming akan tahu kalau aku bukan Shu Qi.

.

.

Beberapa saat kemudian. Chen Ming dan Shi Jin sudah selesai sarapan. Shi Jin bersandar dengan santai sambil memandang pemandangan yang indah. Sedangkan Chen Ming lebih memilih memandang wajah Shi Jin dan memperhatikannya dengan seksama.

“Apa yang kau lihat?” Shi Jin menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga.

“Wajahmu jauh lebih indah dari danau itu, Sayang.” Lagi-lagi Chen Ming menggoda Shi Jin.

Shi Jin tersenyum, “Jam berapa kita pergi ke pulau itu? aku ingin segera berada di pulau itu.”

Chen Ming memperhatikan jam tangan yang melingkar, “Sebentar lagi. Ayo kita berangkat ke pelabuhan sayang.” Chen Ming beranjak dari duduknya.

Shi Jin juga ikut berdiri dan menggandeng tangan Chen Ming dengan mesra.

“Maafkan aku tidak bisa mengingat semuanya,” ucap Shi Jin pelan.

“Jangan pikirkan hal itu lagi. Ayo kita bersenang-senang di pulau itu.” Chen Ming membawa tubuh Shi Jin ke arah parkiran mobil.

Jarak pelabuhan dengan hotel memang cukup jauh. Chen Ming tidak ingin terlambat, ia ingin melajukan mobilnya dengan cepat.

Jalan lintas yang dilewati mobil Chen Ming adalah jalan berkelok yang mengelilingi perbukitan. Hal itu membuat Chen Ming tidak bisa melajukan mobilnya dengan cepat.

“Kenapa jalannya seperti ini.” protes Chen Ming ditengah jalan.

“Chen Ming, hati-hati. Jangan mengendarai mobil seperti itu.” Shi Jin menepuk pundak Chen Ming pelan.

“Apa aku membuatmu takut, Shu Qi?” Chen Ming melirik Shi Jin dengan senyuman tipis.

“Aku tidak takut Chen Ming. Jalan ini sangat berbahaya.” Shi Jin memperhatikan jurang yang terbentang di sepanjang jalan.

“Pelabuhan itu ada di bawah. Kita akan segera sampai.” Chen Ming menambah laju mobilnya saat jalanan kosong.

Hingga beberapa menit kemudian, mobil Chen Ming berhenti di salah satu parkiran yang ada di pelabuhan itu.

“Ini tempatnya. Ayo kita turun.” Chen Ming melepas sabuk pengamannya.

Shi Jin juga ikut melepas sabuk pengamannya. Ia membuka pintu mobil secara perlahan

Chen Ming berdiri di depan mobil bersama Shi Jin.

“Sayang, tunggu aku di kursi itu. Aku akan mengurus tiket ini di sana.” Chen Ming menunjuk ke arah ruko yang menjadi tempat penukaran tiket.

“Segera kembali,” jawab Shi Jin dengan senyuman.

Shi Jin duduk di sebuah kursi besi untuk menunggu Chen Ming. Menatap beberapa kapal yang sedang berlabuh. Hembusan angin membuat rambut Shi Jin terbang. Ia tersenyum menikmati hembusan air yang kini ada di hadapannya.

“Tempat ini sangat indah. Tidak ada tempat seindah ini di kerajaan,” ucap Shi Jin penuh kebahagiaan.

“Nona, Nona.” Seseorang terus memanggil-manggil Shi Jin.

Shi Jin memutar tubuhnya untuk mencari-cari sumber suara yang terus saja memanggilnya.

“Siapa?” Shi Jin memperhatikan beberapa orang yang berada tidak jauh dari posisinya saat itu.

“Nona, Aku di sini.”

Shi Jin menundukkan kepalanya memandang ke bawah. Matanya terbelalak kaget saat melihat satu ekor tikus di bawah kakinya.

“Ada apa? apa kau yang tadi memanggilku?” tanya Shi Jin pelan agar orang lain tidak menilainya sebagai orang gila.

“Nona, apa kau ingin pergi ke pulau itu?” tanya sang tikus.

“Ya. Kenapa kau bisa tahu?” Shi Jin menatap tikus itu dengan tatapan bingung.

“Sebaiknya anda pergi di lain hari, Nona. Sebentar lagi akan turun hujan dan akan ada gemuruh petir.”

“Tikus, apa kau ingin membohongiku? cuaca saat ini begitu cerah, bagaimana mungkin akan turun hujan dan petir?” Shi Jin menahan tawa saat mendengar perkataan Tikus itu.

“Nona, bukan sekarang tapi sebentar lagi. Saat kapal kalian berada di tengah danau itu. Saya hanya mengingatkan anda saja. Karena saya tahu, anda bisa mendengar perkataan saya. Selebihnya terserah anda.” Tikus itu berjalan pergi meninggalkan Shi Jin karena kesal.

“Tikus, eh tikus. Kau marah padaku?” Shi Jin berjongkok di atas tanah untuk mencari keberadaan Tikus itu.

“Dimana dia pergi. Apa dia marah padaku?” Shi Jin terus mencari-cari untuk meminta maaf.

“Sayang, apa yang kau lakukan?” Chen Ming berdiri di belakang Shi Jin dengan wajah bingung.

Shi Jin berdiri dari tempat itu, memandang wajah Chen Ming dengan seksama.

“Apa kau tahu, Chen Ming. Kemana tikus itu pergi?” tanya Shi Jin dengan wajah polosnya.

“Apa kau bilang? Tikus?” Wajah Chen Ming berubah panik.

“Ya, Tikus yang ada di bawah sini.” Shi Jin menunjuk posisi Tikus tadi.

“Dimana ada Tikus, Shu Qi. Apa Tikus itu sudah pergi, Shu Qi.” Chen Ming bersembunyi di belakang tubuh Shi Jin dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Shi Jin mengerutkan dahinya memandang wajah Chen Ming tidak percaya.

“Kau takut dengan Tikus?” Shi Jin menahan tawa karena melihat tingkah lucu Chen Ming pagi itu.

“Aku?” Chen Ming sadar dengan perbuatannya. Ia berdehem untuk menutupi raut wajahnya yang takut karena mendengar nama Tikus.

“Aku tidak takut. Hanya saja, Tikus itu terlalu kotor. Jadi aku tidak ingin bertemu dengannya.”

“Itu dia Tikusnya,” celetuk Shi Jin lagi.

“Tikus, dimana Tikusnya Shu Qi!” Chen Ming berlari ke atas kursi dan berdiri dengan wajah yang Takut.

“Hahahaha.” Shi Jin tidak lagi bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan tingkah lucu Chen Ming.

“Kau terlihat jagoan dengan tubuhmu yang kekar itu. Kenapa kau harus berdiri di atas itu seperti wanita.” Shi Jin terus saja meledek Chen Ming.

“Kau mengerjaiku, Shu Qi!” Chen Ming turun dari atas kursi. Memperhatikan beberapa orang yang juga ikut menertawakannya.

“Apa kau puas menertawakanku seperti itu?”

“Kau sangat lucu, Chen Ming.” Shi Jin masih terus tertawa untuk meledek tingkah Chen Ming.

Chen Ming menarik tangan Shi Jin dengan cepat. Hingga tubuh Shi Jin berada di dalam pelukannya.

“Chen Ming, apa yang kau lakukan?” Shi Jin memandang beberapa orang yang kini memperhatikannya.

“Kau harus mendapat hukuman Shu Qi.” Tanpa menunggu lama, Chen Ming mencium bibir Shi Jin di depan umum. Hatinya dipenuhi kemenangan saat berhasil membalaskan perbuatan Shi Jin pagi itu.

“Apa mau mengulangi perbuatan seperti itu lagi?” Chen Ming menyentuh pipi Shi Jin yang sudah memerah seperti tomat.

Shi Jin menggeleng cepat, ia melirik ke beberapa orang dan memeluk tubuh Chen Ming untuk menutupi wajahnya saat itu.

“Jangan lakukan itu. Aku malu, Chen Ming ….” Shi Jin menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Chen Ming.

Chen Ming tersenyum lagi, “Kau ini … ayo kita ke sana. Kapal akan segera berangkat.”

Chen Ming melepas pelukan Shi Jin dan menarik tangan Shi Jin ke arah kapal yang akan membawa mereka ke pulau cinta.

1
Rumi Yati
Terima kasih thor
Nuer Aini Ramadhan
Luar biasa
nadira ST
kalau diajak tidur raja, angan mau sama shu qi, burung ipritnya bekas lubang para selir,, apa zaman dulu gak ada penyakit kelamin ya
honny_: bisa²nya kepikiran sampe situ...
total 1 replies
Sindy Sari
lanjut kak, cerita mu beda dari yg lain kak walaupun sedikit ada typo🙏semua alurnya juga saling berkaitan jadi lanjutin ya kak sampai cerita ini tamat🤗
L A
suka ....suka baca novel ini
L A
author, maafin readermu ini, aku baru ngulang baca novel ini 160224 🤩🙏
L A
Luar biasa
IndraAsya
jejak 🐾
Ayu Nick
ceritanya lumayan menarik, hanya saja pemeran wanitanya tidak tangguh
mama yuhu
bagus ceritanya
tetap semangat berkarya
mama yuhu
wooww..dlm keseharian..su qie ternyata jahat
wajar kl dia.mendapatkan fakta.kl Chen ming miskin
d luar ekspektasi ya
makanya kelakuan nya jd bar bar
g tau diri..dulunya jg berasal dr kelas bawah🙄🙄🤬
Shindi hatala
sangat bagus dan menarik
Moertini
dilanjutin yaaa season 2 penasaran niiii kehidupan Shu qi dikerajaan apa bisa membalas dendamnya Shi Jin semangat thor
Cha Sumuk
dih tamatan ya ga jls
fifid dwi ariani
trus sejahtra
Devi Lusi
behh udah mentok
Devi Lusi
aku nuggu aksi shu qi udah tamat ternyata
Devi Lusi
haduduh raja sama permasuri gimana tor...pdahal aku pgin liat raja menyesal
Sulati Cus
klu orang jmn old yg terlempar ke jmn now jd lucu soalnya kyk lola gitu😂
Sulati Cus
makanya jgn py selir ckp satu istri ae😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!