Dijodohkan dengan kakak sepupu, Mysha yang berusia dua puluh tiga tahun sangat bahagia. Karena sejujurnya, dia sudah sangat lama menyukai kakak sepupunya itu.
Namun sayangnya, rasa suka yang Mysha punya tidak terbalas. Karena kakak sepupunya telah menyukai perempuan lain. Dan hanya menganggap dia hanya sebagai adik saja.
Bagaimana kisah cinta Mysha selanjutnya? Apakah pernikahan itu akan terlaksana, atau akankah hati kakak sepupu berubah? Atau ... malah menikah dengan perempuan yang kakak sepupunya sukai?
Temukan jawabannya di sini! Di Jodoh lah! Yang menentukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 22
"Katakan padaku, Unna! Apa yang dia katakan barusan itu salah! Cepat katakan!" Mama Unna berteriak keras sambil menangis. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi. Air mata itu jatuh berderai melintasi kedua pipinya.
Unna yang ditanya oleh sang mama hanya bisa menunduk dengan wajah takut dan penuh dengan rasa bersalah. Hal itu semakin membuat sang mama merasa stres karena emosinya yang bertambah naik.
"Bicara, Unna! Bicara!"
"Tante. Jangan paksa Unna untuk bicara. Karena .... "
Plak! Satu tamparan lagi Geza terima. Itu mama Unna yang memberikan karena dia sungguh tidak kuat untuk menahan diri karena rasa kesal dan emosi yang sudah menguasai hati.
"Diam! Aku sedang bicara dengan anakku. Bukan kamu. Aku tidak peduli lagi dengan siapa kamu sekarang."
"Mama. Jangan lakukan itu. Aku memang sedang hamil saat ini, Ma. Itu tidak salah. Karena aku dan kak Geza saling mencintai."
Unna akhirnya bicara dengan nada pelan dan air mata yang mengucur deras.
Sang mama yang mendengarkan penuturan itu langsung menatap Unna dengan tatapan tajam. Itu seperti tatapan harimau yang siap menerkam mangsa yang sudah lama dia incar.
Dan ... Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat di kedua pipi Unna dengan keras.
"Unna!" Geza berteriak kaget.
"Mama! Jangan lakukan itu!" Papa Unna yang sedari tadi diam, kini bersuara juga. Dia langsung bagun dari duduknya. Dan berusaha menarik sang istri agar bisa sedikit menjauh dari anaknya.
"Apa! Kamu ingin membela anakmu, Pa? Sekarang dia sudah hamil. Apa itu yang kamu harapkan dari usaha kamu membela hubungan antara dia dan Geza? Kau ingin anakmu jadi perempuan murahan seperti ini, hah!"
"Ma, Unna bukan perempuan murahan. Dia dan tuan muda Geza itu saling mencintai, Ma. Apa salahnya .... "
"Dedy. Ternyata kamu juga setuju dengan hubungan antara keduanya? Kamu sudah tahu bukan? Geza itu sudah di wasiatkan untuk dinikahkan dengan Mysha. Apa kamu lupa dengan hal itu?" tanya papa Geza tak habis pikir dengan tangan kanan yang dulunya sempat menjadi orang paling dia percaya.
Hingga saat ini, akhirnya, kepercayaan itu rusak dengan sendirinya. Hancur berderai bak kaca yang tertimpa batu. Tidak bisa di satukan lagi.
"Maaf, Dirly. Aku tahu hubungan mereka. Dan aku mendukung. Karena mereka saling mencintai, jadi aku rasa tidak ada salahnya untuk mereka bersama. Soal wasiat yang mama dan papamu buat, mungkin ... aku tidak tahu harus berbuat apa. Anggap saja begitu."
"Gila! Kamu benar-benar sudah gila, Dedy. Aku sudah salah mempercayai kamu, dan membiarkan kamu menikah dengan Tina, kakaknya Anggun. Ternyata, kamu bukan orang baik yang seperti aku pikirkan."
"Jangan ungkit soal itu, Dirly. Aku menikah dengan Tina juga karena kamu, bukan? Jika tidak .... "
"Apa? Apa maksud kamu barusan, Pa? Kamu menikah dengan aku karena siapa? Karena Dirly?"
"Iy--iya, Ma. Karena Dirly yang meminta. Tapi itu .... "
"Cukup! Aku tidak akan mendengarkan apapun yang kamu ucapkan lagi. Mulai sekarang, aku dan kamu tidak ada hubungan lagi. Aku akan menggugat cerai kamu agar rasa terpaksa karena permintaan Dirly itu tidak lagi kamu rasakan."
"Ma! Apa yang kamu katakan ini? Jangan bicara omong kosong, Ma. Kita sudah sama-sama tua. Aku memang menikah dengan kamu karena terpaksa. Tapi .... "
"Sudah cukup. Jangan bicara lagi, Dedy! Aku tidak ingin mendengarkan apa yang kamu katakan."
"Dirly, Amelia, Anggun, Dion, dan ... teruntuk kamu, Mysha. Maafkan tante atas kesalahan besar yang telah tante buat. Kesalahan yang merusak semuanya. Tante tidak seharusnya menikah dengan laki-laki itu dan melahirkan anak yang sama-sama tidak berguna seperti Unna, Sha."
"Tante. Jangan bicara seperti itu. Walau bagaimanapun, kak Unna adalah darah daging tante. Anak yang tante lahir kan dengan susah payah. Tidak baik mengatakan hal itu tante."
Akhirnya, Mysha bicara juga setelah diam menyaksikan pertunjukan yang luar biasa.
Mama Unna langsung memeluk tubuh Mysha dengan erat.
"Kamu anak baik, Sha. Kamu gadis yang luar biasa. Sejak kecil, tante mengagumi kamu yang sangat penyabar dan begitu pintar. Sejujurnya, jika boleh meminta, tante inginkan kamu yang jadi anak tante, bukan keponakan tante."
"Tante .... "
"Mysha. Jangan menikah dengan Geza lagi. Karena dia bukan laki-laki yang baik buat kamu. Dia laki-laki yang kotor dan tidak tahu menjaga diri. Mungkin, dia dan Unna memang cocok jadi pasangan."
"Untuk kamu, Anggun. Kakak minta maaf. Lagi, untuk yang kesekian kalinya, kakak bikin kamu kecewa lagi dan lagi."
"Dan, Dirly. Batalkan saja perjodohan ini. Meski ini adalah wasiat yang kedua orang tua kamu buat. Aku tidak akan setuju lagi dengan pernikahan antara Mysha dengan anakmu yang kotor itu. Jangan ulangi kesalahan yang sama, Dirly. Aku mohon." Mama Unna bicara dengan nada sedih.
Semua yang ada di sana merasakan kesedihan yang dia rasakan. Air mata tidak bisa di tahan, para mama sepertinya sedang berlomba menangis saat ini.
Unna tidak bicara. Dia hanya bisa menundukkan kepala sambil memasang wajah bersalah. Sedangkan Geza, dia juga tidak lagi berucap. Bekas tamparan cukup terlihat dengan jelas di pipinya.
Sementara itu, Mysha hanya bisa menahan rasa yang sedang bercampur aduk di dalam hatinya saat ini. Dia sedih, kesal, juga marah dengan Geza. Hanya saja, dia lebih bahagia dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Kejadian sekarang adalah anugrah terindah buat Mysha. Karena itu terjadi sebelum hubungan antara dia dan Geza berada di jenjang yang lebih jauh. Tau lebih awal, lebih baik dari pada makan hati setelah menikah.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya, Dirly bangun dari duduk. Dia berjalan ke arah Geza dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Aku akan membatalkan perjodohan ini. Tapi bukan karena kamu yang menginginkannya. Melainkan, karena aku tidak ingin keponakanku menikah dengan manusia biadab seperti kamu, Geza!"
"Papa .... " Geza berucap lirih karena tak percaya dengan apa yang papanya katakan.
"Karena perjodohan ini adalah wasiat dari kedua orang tuaku, maka akulah yang akan menanggung semua konsekuensi dari pembatalan wasiat ini."
"Geza. Mulai malam ini, kamu bukan anakku lagi. Kamu tidak punya nama belakang Prayoga di namamu. Pergilah dari rumah ini sekarang juga."
Bergema rasanya ucapan itu. Semua mata kembali melebar akibat kata-kata tegas yang papa Geza ucapkan. Semua menatap lekat ke arah laki-laki yang sekarang sudah berusia tua itu dengan tatapan tak percaya.
Amelia. Mama Geza tidak berucap sepatah katapun. Dia terdiam sambil menundukkan kepala setelah rasa kaget berhasil dia kuasai.
Bukan tidak sayang. Hanya saja, apa yang anaknya lakukan sungguh sangat mengecewakan hatinya sebagai seorang ibu. Harapan besar yang dia labuh kan pada anak satu-satunya itu, lenyap seketika akibat ulah si anak yang tidak tahu di untung.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Gaza yg keras kepala...
Gaza yg mengikuti hawa nafsu..