Jogja jadi pilihan Seti setelah kelulusan SMAnya bersama Joe, dan Asri. Hening memilih Jakarta. Lalu Bening dan Joko menikah. Sementara Seto masih dengan pelayarannya. Terlintas persinggungan cerita-cerita hidup yang melintas dan membekas di benak Seti. Seperti roda pedati. Waktu terus berputar, dan Seti masih dengan kedekatan Joe, Asri, dan Hening. Bersama mereka cerita itu terus mengalir...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Tentang Kejujuran
Jam sembilan pagi rumah Wirobrajan ramai berbenah.
Joe dan Doni sibuk mengerok cat dinding kamar mandi yang berjamur.
Sedikit terengah tak biasa bekerja kasar, keduanya menambal bagian-bagian yang keropos dengan dempul anti air.
Seti menyiapkan cat sambil membuang sampah ke lubang sampah yang sudah selesai digalinya tadi.
Dari halaman depan, rumah Wirobrajan sudah terlihat rapi dan resik setelah seluruh lantai dipel dan dinding papannya diplistur ulang.
Sampah daun dan sisa barang tak terpakai sudah terkumpul semua di lubang sampah yang digali Seti.
Hening dan Yuni tak terlihat, keduanya masih belum pulang dari pasar Gamping.
Selesai menyiapkan cat, Seti mulai membakar sampah, lalu ke dapur merebus air untuk menyeduh kopi sambil menunggu yang punya rumah pulang dari pasar.
Banyak urusan yang harus dikerjakan oleh semua yang ada di rumah Wirobrajan berkejaran dengan waktu.
Jam duabelasan nanti Joe giliran membuka lapak .... Besok Senin, Hening dan Yuni balik ke Purwokerto.
Jadi hari Minggu itu, rumah Wirobrajan paling tidak kamar mandi dan wc-nya sudah selesai dan rapi.
Suara si Denok mengalihkan adukan kopi yang baru saja dibuat Seti.
Bergegas meninggalkan adukan kopinya, membantu menurunkan belanjaan yang dibawa mereka.
Kecanggungan Seti dan Hening sepertinya mulai hilang. Pembicaraan tentang kegundahan hati masing-masing tentang jarak dan waktu yang lalu berakhir dengan keterusterangan dirinya melegakan keduanya.
Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan tentang Asri dari Seti dan Hening .... Masing-masing sudah memahaminya.
***
"Mau masak apa kok banyak sekali belanjaannya ?" seloroh Seti setelah menerima sekantong besar belanjaan dari tangan Yuni yang membonceng Hening.
"Mie goreng sama ca kangkung," sahut Yuni.
"Kamu masih doyan mie kan Set ?" Hening menggoda Seti setelah memarkir si Denok.
"Masihlah, ... apalagi buatanmu," sahut Seti yang berjalan menenteng belanjaan ke arah dapur
"Buatanku atau Asri ?"
Hening mencoba menggoda Seti sambil meletakkan dua bungkus rokok untuk Joe dan Doni di meja.
"Cie cie cieeee ... yang lagi pacaran sembunyi-sembunyi, ... " Joe tiba-tiba saja ikutan nimbrung meledek Seti dan Hening saat mengambil cat di ruang tengah.
"Pacaran ndas-mu !" Seti menjawab sebisanya.
Tak ingin Hening ikut-ikutan menggodanya lagi.
"Iya Joe, ... si Seti sudah bertekuk lutut terpanah asmara Jogja. Nyesel aku gak kuliah di Jogja." Mata Hening berkedip ke arah Joe sambil tersenyum.
"Padahal sudah kuingatkan loh Hen ... dasar play boy aja dia ... semuanya mau diembat."
Joe mulai ikut mengolok Seti lagi, lalu ngloyor ke arah kamar mandi sambil meraih wadah cat.
Hanya bisa cengar-cengir, Seti tak mampu bermain kata lagi.
Beranjak ke meja ruang tengah menyeruput kopi yang masih panas, lalu berpindah ke kamar mandi membawakan kopi buat Joe dan Doni.
Semua perasaan masa lalunya bercampur aduk lagi menerima olokan akrab yang terus saja membahas hubungannya dengan Asri.
"Hihihi ... yang gak berkutik ketahuan." Yuni kini malah ikutan nimbrung dari dapur.
Rumah Wirobrajan bertambah ramai dengan celetukan dan saling meledek.
Tentu saja masing-masing tanpa ada yang tersinggung hatinya, semuanya sudah paham kedekatan masing-masing.
Tawa, canda Yuni dan Hening yang sedang memasak dari dapur terdengar bersahutan dengan umpatan Seti, Joe, dan Doni dari arah kamar mandi.
***
Menjelang jam dua belas siang, kesibukan rumah Wirobrajan mereda.
Yuni menyiapkan makan siang di meja ruang tengah.
Hening dan Seti masih sibuk mengukur tempat kitchen sink di sudut dapur.
Joe dan Doni duduk mengaso di selasar depan sambil mengobrolkan dagangan apa yang harus disiapkan sehabis makan siang di lapak Malioboro.
'Daladh dab," Yuni mendekat ke arah selasar.
Joe dan Doni tertawa mendengar logat Yuni yang mencoba mengucapkan ajakan makan dalam bahasa gaul Jogja yang entah darimana dicomotnya
"Yo mbak,"
Doni yang masih tertawa kecil menanggapi ajakan Yuni.
Joe seperti biasa mulai iseng di tengah makan siang.
Kali ini dia memakai centhong nasi untuk mengambil ca kangkung di depannya.
Karuan saja Hening melotot ke arahnya, "Terus ngawur aja Joe... lainnya ngambil nasi pakai apa !"
"Maaf gak sengaja..."
Joe malah membalas pelototan Hening dengan memakai centhong nasi itu lagi untuk mengambil mie goreng dekat ca kangkung.
Hening semakin sengit melihat Joe yang mengabaikan pelototannya dan malah mulai makan tanpa merasa bersalah.
Seti yang sudah paham dengan kelakuan Joe membiarkan saja keduanya terus berbantahan sengit.
Di tengah keributan meja makan, ... bermaksud mengambil sendok makan dan mengambil nasi ke piringnya. Doni dan Yuni tak sengaja bertatapan saat tangan keduanya hampir berbarengan mengambil nasi.
"Kamu dulu Yun." Doni menarik tangannya dari periuk nasi.
"Kamu dulu Don,... nih kuambilkan." Ada rona merah di wajah Yuni menghindari tatapan tajam Doni ke matanya.
"Poros Jakarta Jogja tersambung lagi... tapi kali ini lain gerbong dan masinis-nya."
Joe kumat lagi isengnya setelah Hening mendiamkan ulahnya.
Kali ini dia menanggapi kecanggungan sesaat Doni dan Yuni di depan meja yang barusan dilihatnya.
"Hati-hati loh jangan kayak gerbong yang dulu," lanjutnya lagi menyindir Seti.
"Iya Joe ... payah gak kuat nanjak, ... hihihi ..."
Hening kali ini tertawa mendengar celetukan Joe sambil melirik menggoda ke arah Seti yang pura-pura tak mendengar kata-kata Joe barusan.
"Ini baru gerbong anti tanjakan, ..." celetuk Doni saat menerima sepiring nasi yang diulurkan Yuni.
Keasikan memandangi Yuni, dia tak menyadari sepiring munjung nasi yang diterimanya.
"Pantes kuat nanjak... porsinya porsi kuli ... full solar, ...hahaha ..." timpal Joe terbahak.
Seti kini tertawa puas melihat Doni yang kebingungan dengan nasi yang diambilkan Yuni.
Suka tidak suka dia harus menghabiskan nasi yang diambilkan Yuni.
"Kebanyakan Don ?" Yuni mendekat ke arah Doni, menyadari nasi yang diambilkan terlalu banyak.
"Dah bagi dua aja." Doni menyisihkan separuh nasi di piringnya ke piring Yuni.
"Memang kalau lagi ada yang menarik ... lupa apa yang sedang dilakukan." Joe terus meledek Doni, "Teman sekamar dilupakan, ... teman sengsara diabaikan, ... lihat yang segar, cantik dan merangsang lupa ada yang kelaparan," ujarnya lagi sambil mengambil nasi di periuk.
Rupanya Joe benar-benar lapar. Cepat sekali dia makan, lalu menambah nasinya ketika yang lain barusan memulai makan.
"Woy jangan pakai centhong itu lagi !!!" Semprot Hening, melihat Joe yang akan menyendok nasi dengan centhong nasi, yang sudah dipakai untuk menyendok ca kangkung dan mie goreng.
"Sini kucuci dulu ... cepat basi nanti nasinya !!!" Hening merebut centhong nasi tadi dari tangan Joe.
"Ambilkan dong sayang ... kayak Doni tadi diambilkan yayang-nya." Joe malah membalas gerutuan Hening dengan nada kasmaran.
Masih menggerutu, Hening toh mau juga mengambilkan nasi buat Joe dengan sendok makan yang lain.
"Wah kayaknya ini gerbong baru juga," kali ini Seti menggoda Hening yang masih bersungut-sungut mengambilkan nasi buat Joe.
"Hahaha .... Aku sih selalu siap Set, ... hanya seniman ibu kota ini kayaknya belum paham gerbong eksekutif." Joe terbahak melihat Hening yang semakin mengomel.
Makan siang di rumah Wirobrajan semakin mengasik-kan dengan kedekatan masing-masing. Tampaknya Doni semakin berhasrat untuk lebih dekat mengenal Yuni.
Semalam sepulang dari rumah Wirobrajan tak henti-henti dia ingin tahu lebih jauh tentang Yuni lewat Seti dan Joe. Dipikirnya mereka berdua tahu lebih jauh tentang siapa Yuni.
Barulah setelah Seti dan Joe bercerita bahwa merekapun baru mengenal Yuni setelah kedatangannya di Jogja bareng Hening, Doni mencoba lebih mengenal Yuni dengan caranya sendiri.
Rumah Wirobrajan setidaknya menjadi pijakan untuk saling bersapa lebih dalam.
***
Selesai berbenah dan membereskan piring serta gelas kotor, Joe berpamitan berangkat ke lapak Malioboro, "Tampaknya aku harus mencari uang untuk kita ngopi dan camilan nanti malam kawan." Joe mengakhiri percakapan di selasar rumah Wirobrajan.
"Tak enak kalau besok seniman ibukota yang mau mudik tak membawa cinderamata dariku," cerocos-nya lagi sambil berdiri bersiap berangkat.
"Bawa si Denok Joe, nanti kami susul jika kamar mandi sudah beres." Seti mengulurkan kunci si Denok ke arah Joe.
"Baik-baiklah kalian di rumah ini ... jangan berbuat tidak senonoh tanpa sepengetahuanku ...!!!"
Joe menerima kunci si Denok sambil ngeloyor terbahak menuju halaman rumah Wirobrajan mengajak si Denok ke lapak Malioboro.
***
Seti dan Doni melanjutkan mengecat kamar mandi tak lama setelah Joe berangkat ke lapak Malioboro.
Hening dan Yuni membalik jemuran gorden dan sprei di halaman rumah Wirobrajan yang tadi pagi dicuci.
Beberapa tetangga yang melintas, melirik ke arah rumah Wirobrajan yang sudah berubah menjadi lebih segar dan enak dipandang.
Warna plistur dop yang menegaskan warna hijau lumut dinding papan kayu mahoni dan perpaduan coklat tua kusen dan daun pintu serta jendelanya membuat tertarik siapa saja yang lewat untuk meliriknya setelah bertahun-tahun kosong tak terurus.
"Si gondrong tampaknya tertarik padamu Yun," seloroh Hening di sela membalik jemuran.
"Hihihi ... kenapa kalau dia tertarik padaku ?"
"Gak papa sih, aku juga baru kenal di sini .... Kelihatannya sih baik orangnya."
"Jadi maksudmu Doni lebih baik daripada Seti-mu dan Joe ?"
Yuni menanggapi obrolan Hening di sela tawanya.
"Kalau Seti dan Joe sih aku dah tahu banget... mereka sangat baik padaku, terutama Seti. Hanya Doni kelihatannya berbeda... lebih anteng menurutku."
"Terus ?"
"Ya siapa tahu kalian bisa lebih dekat ... hihihi," kali ini Hening yang tertawa.
Jika Doni mencoba mencari tahu siapa Yuni lewat Seti dan Joe, ... tadi malam sebenarnya Yuni juga mencoba mencari tahu siapa Doni lewat Hening.
Kelihatannya mereka sama-sama tertarik saat pertama kali bertegur sapa di Malioboro.
"Ah laki-laki ... nanti ujungnya kayak yang sudah-sudah ...." Yuni mencoba melupakan obrolannya dengan Hening semalam.
"Tapi kok kamu semalaman bertanya terus tentang Doni."
"Ah ntar aja mau bagaimana, ... kamu sendiri dengan Seti juga ujungnya gak jadian."
"Bedalah, ... kami tetap dekat kok. Paling tidak aku malah sudah lega mendengar pengakuannya langsung .... Kalau kamu tidak memaksaku mengajak ke Jogja, bisa jadi semakin lama aku dalam bayang-bayangnya .... Lagipula dia jadian dengan adik suami mbak-ku... besok di Purwokerto kamu kukenalkan pada Asri .... Anaknya asik juga kok, ... dulu kami pernah satu kelas dan dia duduk sebangku denganku."
"Kamu kok santai saja setelah tahu cerita Seti ?"
"Kan aku banyak belajar darimu suhu, ... dan mbak-ku ... hihihi ..." Hening tertawa lepas menatap Yuni.
Senyum kelegaan yang sebenar benarnya setelah tahu hubungannya dengan Seti menjadi jelas.
Dari cerita Bening dan pertemanannya dengan Yuni, dia belajar banyak tentang hal-hal kewanitaan yang tidak harus melulu terpasung kisah cinta yang tak berbalas.
Apalagi keterusterangan dan kejujuran Seti akhirnya membuatnya memahami tentang sebuah pilihan.
Cerita tentang kejujuran laki-laki di rumah Wirobrajan semakin membekas di hatinya. Mendewasakan kewanitaannya menjadi semakin tegar untuk memahami arti cinta.
***
koyoe podo halusinasi ne 😄