Arunika Gantari, seorang perempuan ceria yang tiba-tiba saja menghilang selama 4 tahun.
Asoka Danubrata, putra bungsu pemilik perusahaan yang menyembunyikan identitasnya sebagai putra pemilik perusahaan dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan miliknya sendiri.
4 tahun Asoka menunggu kepulangan Arunika, menepati janjinya untuk memantaskan diri. Namun ketika gadis itu kembali, sosoknya berubah. Tak ada lagi Arunika yang ceria, yang ada hanya Arunika yang tertutup.
Apa yang menjadi rahasia kepergian Arunika 4 tahun lalu? Akan kah Asoka berhasil mengembalikan kecerian perempuan yang dia cintai? Atau kan posisi Arunika sudah digantikan oleh perempuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Step Closer
***Assalamualaikum,
Mohon maaf karena kesibukan di RL kemarin yang seharusnya jadwal up, abang tidak bisa up,. Sebagai gantinya abang up hari ini.
Mohon maaf juga kalau seminggu ini upnya bakal telat 🙏
Jangan pada marah atuh, itu panci sama sapunya disimpen lagi ya, udah cukup demonya 😁 kan abangnya datang mau traktik bakso sama si eneng 😍
Ya udah, gitu aja sekali lagi mohon maaf dan selamat menikmati es campur si abang 😚
love
A.K***
******
Seorang perempuan berjalan dengan anggun ke luar dari pintu kedatangan bandara Soekarno Hatta yang cukup ramai. Dengan tubuh ramping, rambut sepundak berwarna coklat muda, pakaian trendy, dan kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya, tak akan ada yang mengira kalau umur perempuan itu sudah melebihi setengah abad.
Sesaat dia terlihat mencari seseorang, matanyanya menyisir kerumuman orang-orang yang mengangkat papan nama sampai akhirnya dia membaca namanya tertulis di sebuah kertas yang dipegang oleh seorang pria berusia tiga puluhan. Dengan penuh percaya diri wanita itu berjalan mendekati pria berpenampilan rapi dengan rambut klimis yang langsung menyapa dan mengambil alih koper dari tangan si perempuan, dengan sopan dia menunjukan jalan menuju sebuah kendaraan yang sudah menunggu mereka.
Jakarta. Dua puluh tahun lebih perempuan itu meninggalkan ibu kota dengan segala cerita yang mengisinya. Dan kini setelah kembali begitu banyak perubahan yang terjadi di dalam kota ini, begitu pula dengan kehidupannya. Kehidupan yang diiringi banyak cerita hingga dia bisa berada di posisi seperti sekarang.
Berada di dalam kota yang menyimpan rahasia hidupnya membuat memorinya tanpa dikomando berkelana dengan mata menerawang menatap luar jendela mobil dimana matahari bersinar terik dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit, kendaraan yang memadati jalanan bahkan jalan bebas hambatan dimana dia berada saat ini.
Sebuah pesan masuk mengalihkan perhatiannya dari kepadatan jalanan serta menariknya dari lamunan masa lalu.
Sesaat dia terdiam membaca pesan yang membuat hatinya bimbang. Sebelum kembali ke sini dia telah memutuskan hal ini dengan mantap, namun baru beberapa saat berada di kota ini hatinya dilanda keraguan.
Dia mengabaikan pesan itu dan lebih memilih untuk kembali melanjutkan menikmati pemandangan kota Jakarta. Namun setelah beberapa menit berlalu pikirannya tidak lepas dari isi pesan yang dia terima hingga menarik keinginannya untuk membuka sebuah folder di dalam galeri ponselnya. Sebuah folder yang sangat jarang dia buka karena hanya akan menorehkan luka mendalam. Sebuah folder berisikan beberapa foto yang menggambarkan sebuah keluarga bahagia. Keluarga DKI 1 yang terlihat sempurna.
***
Kabar mengenai Oka yang memiliki kekasih kini telah tersebar di BUMI. Kabar itu tentu saja membuat semua orang terkejut mengingat selama ini Oka terlihat dekat dengan Tania.
Tania yang sekretaris direksi, Tania yang high class, Tania yang mantan finalis Abang None, Tania yang cantik juga pintar, Tania yang pernah menolak seorang GM sebuah bank swasta kini dicampakkan oleh Asoka Danubrata yang hanya keryawan biasa.
Hal itu membuat tatapan simpati selalu mengiringi dimana pun Tania berada, dan dia tidak menyukai hal itu. Seolah dirinya adalah gadis bodoh karena telah dicampakkan oleh pria yang levelnya berada di bawahnya. Tak sedikit pula yang mengatakan kalau itu adalah karma karena Tania telah membuang berlian demi biji jagung.
Ya, Tania dianggap telah menyia-nyiakan Rafli yang seperti berlian, demi Oka yang diibaratkan hanya seperti biji jagung.
Kali ini Oka yang berperan sebagai tokoh utama sekaligus tokoh antagonis tentu saja menjadi trending topic di kantor BUMI. Para karyawan perempuan menganggapnya sebagai pria hidung belang yang tega memainkan perasaan perempuan seperti Tania yang dianggap tulus mencintai Oka. Sedangkan bagi karyawan pria, Oka dianggap bodoh karena telah mencampakkan Tania yang menurut sebagian banyak orang adalah sosok perempuan yang mendekati sempurna, tapi tak sedikit yang merasa iri karena setelah melepaskan Tania Oka bisa mendapatkan gadis yang sangat cantik dalam waktu singkat.
Di sisi lain Arunika si gadis cantik yang tak tahu kalau dirinya tengah menjadi bahan pembincangan hampir semua karyawan BUMI kini tengah dilanda kegalauan.
“Tante sama om benaran akan pulang ke Surabaya minggu besok?”
“Iya,” jawab Oka yang membuat Arnuika menghela napas berat. “Kenapa?” tanya Oka sambil menyuapkan sendok berisi es campur kepada Arunika yang langsung menerimanya walau wajahnya terlihat cemberut.
“Aku belum bertemu tante sama om, nanti dikiranya aku tidak sopan karena tidak menyapa mereka padahal tahu mereka ada di Jakarta.”
“Ya sudah, nanti ke rumah saja.” Oka kini menyuap es campur untuk dirinya sendiri.
Saat ini mereka tengah berada di warung bakso yang berada di pujasera blok S. Sebuah pujasera yang cukup terkenal dan berada tak jauh dari SCBD. Ketika jam istirahat Oka mengajak Arunika makan di luar karena malas dengan tatapan penasaran dari banyak orang. Sebenarnya Oka sendiri tidak masalah dengan hal itu, tapi kondisi Arunika kini berbeda dengan dahulu jadi untuk saat ini Oka harus memikirkan perasaan dan memastikan kenyamanan kekasihnya itu di atas segalanya.
“Tahu tidak, Bang, waktu nikahan kak Athar aku juga tidak menyapa tante sama om karena aku takut.”
“Takut kenapa?”
Oka dengan santai kembali menyuapi Arunika es campur, karena dari tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk jus jeruknya tanpa meminumnya.
“Takut kalau mereka marah karena aku pergi meninggalkan Abang tanpa pamit.”
Oka mengangguk dengan mulut penuh es campur yang terasa manis dan segar dengan perpaduan es serut, kelapa muda, alpukat, nangka, susu kental manis, juga sirup cocopandan. “Mereka tidak marah, sedikit kecewa mungkin karena kamu pergi tanpa memberi kabar.”
“Tuh kan!” Arunika kembali menghela napas berat yang membuat Oka tersenyum.
“Keluargaku itu santai. Mamah memang cerewet, tapi baik yang penting kamu punya niat baik untuk bertemu, dengan begitu saja mamah pasti sudah senang. Kalau ayah, ya … seperti biasa, terserah mamah.”
“Abang cerita sama tante dan om kalau aku pergi tanpa memberi kabar selama ini?”
“Tidak, tapi sebagai orangtua feeling mereka kuat, dan jangan lupakan teteh dan kakak yang akan dengan senang hati berbagi gossip apapun dengan mamah.”
Sambil menyuap es campur Oka menggelengkan kepala mengingat perempuan-perempuan di sekelilingnya yang sangat update soal gossip apapun itu.
“Abang cerita sama teteh dan kakak?”
“Tidak juga, aku hanya cerita sama Kayas, tapi kalau satu perempuan sudah mengetahui rahasia kita walaupun kita membuatnya berjanji untuk tidak memberitahu siapapun, maka bersiaplah seluruh RT akan mengetahuinya juga.”
“Hahaha, tapi tidak semuanya juga kan? buktinya status Abang tetap aman walaupun aku yakin Kayas tahu.”
Oka menganggukkan kepala setuju.
“Bang jujur deh, Abang pernah ada rasa tidak sih sama Kayas? Atau mungkin sebaliknya? Karena ya, aku tidak percaya kalau pria dan wanita itu bisa pure hanya berteman saja.”
Oka memerhatikan Arunika yang terlihat sangat cantik walau hanya berdandan sekedarnya saja, dari tadi beberapa pria tertangkap Oka tengah mencuri pandang ke arahnya membuat Oka tanpa ragu menunjukan kepemilikannya dengan cara menyuapi gadis itu.
“Tidak. Entahlah, mungkin karena dari dulu Kayas sudah menyukai Sakha jadi baik aku maupun Kayas tidak pernah memiliki perasaan lebih.”
“Sakha?” tanya Arunika sambil meminum jus jeruknya.
“Pacarnya Kayas. Dari kecil kami bertiga sudah berteman dekat, dan dari dulu Kayas sudah menyukai Sakha walaupun sekarang sepertinya Kayas menyesali perasaannya itu.”
“Kenapa?”
“Sakha terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan sebagai perempuan Kayas hanya ingin perhatian dari kekasihnya itu.”
Arunika mengangguk mengerti.
“Iya sih, aku juga sama seperti Kayas, aku juga mau diperhatiin.”
Oka tersenyum sambil kembali menyuapi Arunika.
“Kurang perhatian bagaimana coba? Eneng pergi tanpa kabar Abang masih setia menanti, Neng.”
“Uhuk-uhuk-uhuk! Hahaha, Abang iiih!”
Mereka menghabiskan waktu makan siang sambil membicarakan segala hal, secara perlahan menceritakan kisah mereka, mengisi kembali waktu mereka yang hilang selama 4 tahun terakhir. Selangkah lebih dekat dengan garis batas yang dibuat.
Dengan menaiki si bujang (yang sudah tak bujang lagi) mereka kembali ke kantor. Seperti dulu ketika mereka masih menjadi mahasiswa, Arunika akan dengan senang hati dibonceng Oka, memeluk pinggang pinggang sang kekasih sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka.
“Waktu aku tidak ada siapa yang Abang bonceng?” tanya Arunika dengan sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga Oka.
“Tidak ada.”
“Bohong!”
“Ya sudah kalau tidak percaya.”
“Itu si ulat keket?”
“Hahaha, satu kali itu juga pakai si merah, tapi kalau si bujang baru kamu saja.”
“Benar, aku yang pertama abang bonceng naik motor ini?”
“Iya, Neng, cuma Eneng seorang.”
“Hahaha. Iiih, abang lebay banget panggilannya.”
“Hahaha, terus mau dipanggil apa dong.”
“Hmmm … Sayang? Cinta? Aaaah, hahaha.” Arunika mengeratkan pelukannya sambil menyurukkan kepalanya di lehar Oka karena malu sendiri dengan panggilan yang dia harap menjadi panggilan kesayangan Oka untuknya.
Sepanjang jalan menuju kantor tak henti-hentinya Oka menggoda Arunika dengan panggilan-panggilan itu, membuat pipi Arunika semakin memerah.
Tak berapa lama mereka sampai di parkiran E-world dan setelah memarkirkan si bujang, mereka berjalan melintasi area parkir mobil, saat itulah Oka melihat Chandra ke luar dari mobil yang terparkir tak jauh darinya. Oka baru akan memanggil untuk menyapa adik dari Caraka itu ketika tiba-tiba seseorang yagn sangat dia kenal ke luar dari pintu penumpang yang dibukakan Chandra.
Oka terdiam dengan alis berkerut ketika melihat siapa yang baru saja ke luar dari mobil Chandra, dan yang membuatnya semakin terdiam adalah ketika melihat senyum di wajah keduanya. Chandra bahkan tanpa ragu merangkul bahu sang perempuan tanpa canggung.
“Itu …”
“Kayas.”
*****
Reread lagi nih mbak Kanaya di bln Juni 2026, sambil berharap Novel br dari Mbak Kanaya🥰🙏
terkadang ego harus d turunkan demi suksesnya sebuah hubungan agar kesalah pahaman yg selama ini terjadi bs terurai sedikit demi sedikit
btw makasih teh Al krna kisah Abang ini anak ke 3 ku kukasih nama Arunika 😍