Apa jadinya jika adik ipar ternyata ada mantan kekasih?
Hal itulah yang dialami Natalie Mckent. Ia dihadapkan pada kenyataan kalau sang adik ipar adalah mantan kekasihnya dulu yang ia putuskan secara sepihak 6 tahun silam.
Dan belakangan Natalie baru mengetahui kalau sang adik ipar menikahi adiknya hanya untuk pembalasan dendam.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vigiani Nurike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Karena merasa tak enak hati menolak ajakan atasanku sendiri, maka akhirnya pun aku mau menerima ajakan Mr. Jones untuk mengantarkanku pulang malam itu sepulang dari kantor.
Selama dalam perjalanan aku merasa sangat canggung karena harus satu mobil bersama atasanku yang terkenal dingin untuk pertama kalinya.
"Apa kau merasa tidak nyaman karena bersamaku, Natalie?" tanya Mr. Jones mengusik kesunyian, pandangannya tetap fokus ke depan.
"Ma-af Mr. Jones, karena ini untuk pertama kalinya bagi saya," jawabku jujur seraya sedikit menundukkan kepalaku.
"Aku rasa kau bukan tipe wanita pemalu, Natalie. Jangan terlalu sungkan padaku karena kita akan sering bertemu setiap harinya bukan?" Mr. Jones menyahut tenang.
"Jangan salah paham, aku bisa bicara begitu karena kulihat di presentasimu tadi kau adalah wanita berkepercayaan diri tinggi dan optimis, jujur aku suka kau yang seperti itu karena kau bisa menjadi sekretaris yang sesuai harapanku, Miss. Mckent," Mr. Jones menambahkan dengan wajah datar dan tanpa ekspresi.
"Terima kasih pak, tapi saya rasa anda terlalu banyak memuji. Saya masih banyak kekurangan dan masih perlu banyak belajar menjadi sekretaris seperti yang bapak harapkan," sahutku merendah.
"Aku percaya padamu, Natalie Mckent, penilaianku tak pernah salah selama ini," ujarnya yakin, tentu saja jawaban itu seakan membuatku lebih percaya diri dan bisa diterima dimata Mr. Jones yang dikenal sebagai CEO dingin dan kejam.
"Saya turun di sini saja Pak, terima kasih karena telah memberikan saya tumpangan," tuturku saat aku sudah sampai di depan flat tempatku tinggal selama hampir sepuluh tahun di New York ini.
"Apa kau tinggal seorang diri di sini?" tanya Mr. Jones ingin tahu.
"Tidak pak, saya tinggal bersama dengan teman saya," jawabku dusta karena tentu saja aku belum bisa mengatakan kenyataan yang sesungguhnya pada atasanku saat ini.
"Syukurlah kalau begitu, tidak baik seorang wanita tinggal seorang diri di kota besar ini bukan?" sahut Mr. Jones dan aku hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Baiklah, kau masuklah ke dalam rumahmu, aku pamit dulu. Sampai jumpa esok hari, Natalie," ucap Mr. Jones berpamitan.
"Baik pak, hati-hati di jalan," jawabku melepas kepergiannya, setelah melihat mobil milik Mr. Jones hilang dari pandanganku saat itu juga aku mendesah dengan nafas berat.
"Fuuhhh,, hari yang melelahkan."
Aku pun berbalik, namun di saat yang sama itu pula aku baru menyadari ada sepasang mata tajam yang tampak sedang mengawasiku di sebuah mobil yang aku kenal.
"Astaga, sejak kapan ia berada di sana dan mengawasiku?! Apa ia mengikutiku sejak aku keluar dari kantor tadi?!"
Menyadari aku sudah melihatnya, sosok yang berada di dalam mobil itu pun keluar dengan wajah tanpa ekspresi dan berjalan mendekatiku.
"Bagus sekali, Natalie Mckent. Jadi ini alasanmu menolak tawaranku tadi siang?
Kau menjadi sekretaris kesayangan CEO ternyata," ucapnya dingin dan menusuk.
"Bukan urusanmu! dan kenapa kau mengikutiku seperti seorang penguntit?! Kurasa itu tidak pantas dilakukan oleh seorang pengusaha besar dan berpendidikan sepertimu!" sindirku menohok pada sosok yang kini menatap tajam padaku.
"Apa kau lupa, bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku akan mengawasimu selama aku berada di New York," sahut Chris Raven percaya diri.
"Kau tidak berhak Chris Raven!! Berhentilah bersikap kekanakan!" protesku kesal.
"Tentu saja aku berhak karena aku mencintaimu!" sahutnya lantang.
Seakan tak peduli dengan ucapannya akupun berbalik dan hendak meninggalkannya dengan berjalan cepat menuju flat ku yang berada di lantai 3 gedung ini. Namun, tanpa kuduga Chris mengikutiku dari belakang. Sadar hal itu tidak aman, aku pun menghentikan langkahku dan menegurnya lagi.
"Berhentilah mengikutiku Chris Raven! kumohon kau pergilah, aku lelah berdebat denganmu. Aku ingin istirahat malam ini," ucapku memohon.
"Tidak, sebelum aku tahu di mana kau tinggal selama ini. Dan lagipula, apa kau tidak merasa malu ataupun kasihan membiarkan adik iparmu ini terlantar seorang diri di kota besar ini ataupun sekedar menyapa mengajak minum kopi di rumahmu," jawab Chris dengan tampang pura-pura bodohnya.
"Kau jangan bermimpi Chris Raven! Sampai kapanpun kau tak boleh masuk ke dalam rumahku!" sahutku tegas.
"Kenapa? Apa kau takut kalau kau selama ini tinggal dengan orang lain atau kau takut kalau aku tahu siapa teman kencanmu selama ini?"
"Jaga bicaramu, Chris! Jaga batasanmu!" tegurku marah dengan tatapan berapi-api.
"Dengar, Natalie semakin kau menolak semakin aku yakin ada yang kau sembunyikan dariku saat ini," ucap Chris seraya menyentuh salah satu pergelangan tanganku.
Aku yang saat itu kehilangan kata-kata hanya bisa mendelik dan menatap marah padanya.
"Ya, aku tinggal dengan seseorang! Apa kau puas!?" seruku marah.
"Siapa dia?! Katakan padaku siapa!?" Kulihat kemarahan di mata Chris di kedua matanya kini.
"Kau tak berhak tahu, ini hidupku Chris Raven, jadi silakan kau pergi sebelum aku berteriak lebih keras lagi dan orang-orang penghuni gedung ini akan keluar lalu mengusirmu dengan kasar!" ancamku marah.
Lama kami bertatapan dengan menahan emosi satu sama lain hingga akhirnya pun Chris menyerah.
"Untuk kali ini aku melepasmu, Natalie Mckent tapi tidak untuk selanjutnya. Cepat atau lambat aku akan tahu siapa saja orang yang menjadi teman kencanmu selama ini!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Chris berlalu pergi dengan wajah marahnya.
Aku tak peduli, yang penting untuk saat ini aku bisa bernafas lega sekarang, karena hari ini aku bisa lolos dari Chris untuk menutupi keberadaan Aaron yang susah payah aku sembunyikan.
Tapi untuk selanjutnya aku tak bisa terus seperti ini karena aku tahu siapa itu Chris Raven. Dan aku harus harus bertindak cepat sebelum Chris tahu keberadaan Aaron.
Ya, aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.
"Mom, Aaron rindu Mom!" seru Aaron saat aku masuk ke dalam rumah dan kini sudah disambut hangat oleh si kecil Aaron.
Aaron berlari kecil menghampiriku dan langsung bergelayut manja dengan tubuh kecilnya yang menggemaskan. Aku ciumi dia dengan penuh sayang seakan tidak ada hari esok.
"Mom juga rindu padamu Sayang..," ucapku lirih seraya mencium hidung mancungnya yang mungil.
"Apa kau hari ini menjadi anak penurut, Aaron hmm?" tanyaku.
"Hari ini kau tidak dibuat repot karena Aaron kan Abel?" tanyaku pada Abel, pengasuh yang sudah lama menjaga Aaron selama ini.
"Tidak, Nyonya. Seperti biasa Aaron selalu menjadi anak penurut," jawab gadis yang masih berusia muda itu.
"Syukurlah, kau hebat jagoan mommy!" pujiku pada Aaron yang masih bergelayut manja padaku dan Aaron hanya tertawa senang mendengarnya.
..
..
Malam itu juga setelah aku menidurkan Aaron, aku menelepon Pamela.
"Ya, hallo Natalie. Tumben sekali kau meneleponmu malam-malam begini, ada apa?" jawab Pamela di sambungan teleponnya.
"Maaf Pam, mengganggumu malam-malam begini. Ada hal yang sangat penting yang ingin aku katakan padamu sekarang."
"Wow, benarkah sepenting itu? Kau membuatku penasaran saja. Apa ini tentang pekerjaan barumu?" tebak Pamela.
"Untuk saat ini masalah di perusahaan masih bisa aku atasi, Pam, tapi ini lebih penting dari itu. Ini tentang Aaron, lebih tepatnya ayah dari Aaron."
"What!? Astaga! Kau serius Natalie??!!" pekik Pamela cukup keras di seberang sana.
"Ya, Pam. Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu dan Sam, apakah kau mau membantuku Pam? Aku mohon..."
"Tentu saja Natalie, apa yang bisa kulakukan untukmu dan Aaron?"
"Besok weekend kita bertemu ya, akan aku ceritakan semuanya padamu. Tapi sebelum ini aku akan sangat berterima kasih padamu karena hanya kau dan Sam yang bisa menolongku."
...***...
kenapa harus mati,kenapa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
lin dan nath hanya korban keegoisannya