Qilla, gadis ceroboh yang kabur ke Jogja karena menolak perjodohan yang digagas oleh ayahnya, Dion. Pada saat itulah, ia bertemu dengan pemuda bernama Arvin Narendra seorang pengusaha muda yang perfectsionis yang juga sedang melarikan diri dari masalah yang sama.
Keduanya kemudian sepakat untuk menjalin kasih. Bagaimana kisah cinta keduanya akan bermuara, jika alasan keduanya menjalin kasih hanya karena ingin berciuman?
Follow akun
=> fb : Samudra lee
=> Ig : samudra_lee_19
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Film di laptop
Drama tentang kesalahpahaman Ira akhirnya bisa terlewati dengan baik. Arvin yang merupakan korban kesalahpahaman tersebut justru harus mengeluarkan uang seratus ribu rupiah sebagai ganti uang transport kepada Bapak penjaga villa yang wajahnya mirip suami dari penyanyi dangdut yang memiliki bisnis karaoke di seluruh Indonesia. Sayangnya, nasib Bapak penjaga villa tidak semujur suami artis itu. Pernah Pak penjaga villa ikut-ikutan berinvestasi, namun nyatanya dia malah menjadi korban penipuan investasi bodong yang saat ini sedang marak terjadi dan untungnya dia hanya ikut berinvestasi lima puluh ribu rupiah. Dan uang tersebut adalah uang jatah makan siangnya selama seminggu.
Setelah mengantarkan Bapak penjaga villa sampai ke depan pintu, Ira kembali lagi ke ruang kerja bosnya. Gadis berambut panjang yang sering menguncir rambutnya tersebut berdiri di depan Arvin sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu menunduk? Takut aku marahin?" tanya Arvin kepada asisten cerobohnya itu.
Ira menggeleng.
"Terus?"
"Aku takut Bapak meminta ganti rugi karena aku sudah membuat Bapak mengeluarkan uang seratus ribu buat Bapak tadi," jawab Ira.
"Untung kamu ingetin aku soal itu. Baiklah, aku akan catat uang barusan sebagai hutangmu," ucap Arvin.
"Yah, Pak. Masa Pak Arvin tega sih minta ganti rugi sama pegawai kecil seperti aku," keluh Ira.
"Baiklah, lupakan saja kejadian barusan. Sekarang kamu buat kontrak itu. Ini contoh surat kontraknya dan ini jenis kerjasama yang perusahaanku dan perusahaan Pak Tama sepakati. Kamu pelajari itu dengan baik, baru setelah itu kamu buat surat kontraknya. Pastikan semuanya seperti contoh!" Arvin menunjukkan layar laptopnya kepada Ira.
"Kamu bisa membuatnya di sini. Ingat, jangan sampai salah!" kembali Arvin mengingatkan asistennya itu. Dia tidak mau Ira membuat kesalahan saat membuatnya.
Ira mendekat ke meja Arvin dan melihat kearah layar laptop yang bosnya itu tunjukan.
"Pak, Bapak nggak salah aku harus mempelajari ini?" tanya Ira setelah melihat layar laptop milik bosnya itu.
"Tidaklah, memang kena.... " Arvin tidak melanjutkan perkataannya ketika sadar ternyata yang dia buka bukan dokumen pekerjaan melainkan koleksi film yang sering dia tonton sebagai pengobat stres kala dia sedang pusing menghadapi pekerjaan. Arvin segera menutup layar laptopnya.
"Barusan itu film kan, Pak?" tanya Ira.
"Bukan. Kamu salah lihat," elak Arvin.
"Benarkah?" Ira memicingkan matanya menatap bosnya itu.
"Tentu saja benar. Memangnya apa yang kamu lihat?"
"Tadi sepertinya aku melihat gambar mesum di layar laptop Bapak," jawab Ira.
"Hei jangan sembarangan ya, aku nggak suka nonton film begituan."
"Nggak suka bukan berarti gak pernah nonton kan, Pak?"
"Masa sih itu film mesum? Perasaan aku tidak meminta Vano mengirim film seperti itu." Arvin berbicara dalam dalam hati.
Ira yang penasaran berusaha mengintip layar laptop milik bosnya itu.
"Hei, lagi ngapain kamu?" tanya Arvin yang berusaha untuk menahan layar laptopnya itu agar Ira tidak bisa melihatnya.
"Aku semakin curiga, kalau Bapak bener-bener seneng nonton film begituan. Ngaku aja deh, Pak!"
"Jangan ngomong sembarangan ya!"
"Terus kenapa Pak Arvin nggak ngizinin aku buat lihat itu?" Ira menunjuk laptop yang berusaha ditutupi oleh Arvin.
"E... itu apa namanya, aku baru ingat kalau contoh surat itu sudah aku hapus dari laptop," jawab Arvin.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sudah sana, kamu bisa pergi dari sini. Urusan surat kontrak itu nanti akan aku buat sendiri!" Arvin terpaksa harus menyuruh asistennya itu untuk pergi. Dia ingin memastikan kalau film yang Vano kirim bukan film mesum seperti yang dikatakan oleh Ira.
"Baiklah. Aku pamit ya, Pak," ucap Ira. Dia melangkah keluar dari ruang kerja bosnya.
Arvin bernapas lega saat melihat Ira sudah keluar dari ruangan tersebut. Arvin segera membuka layar laptopnya untuk meyakinkan diri bahwa bukan film mesum yang dikirim Vano untuk dirinya.
"Wah, Pak Arvin. Ternyata Pak Arvin nonton film seperti itu?"
Suara Ira dari arah pintu membuat mata Arvin membulat.
suka banget deh pokoknya..
bener2 dibuat ngakak pas bab2 awal tentang kecerobohan Qilla yg bikin Arvin pusing tapi akhirnya malah ngangenin.. 😁
pas bab konflik, rasanya ikutan tegang n deg2an..
ternyata tebakanku salah tentang dalang penculikan.. 😅
sedikit saran aja ya kak, diperhatikan lagi tentang waktu (usia para tokoh2) biar nyambung sama novel lain yg masih ada korelasinya..
kan klo g salah, Qilla ma adeknya jarak 5 tahun dan sebaya ma anak2 Keenan dan Tama, kan hamilnya barengan..
jadi harusnya klo Qilla umur 20 tahun berarti mereka umurnya 15 tahun.. tapi di akhir2 cerita itu Dita masih umur 10 tahun, padahal udah ketambahan Qilla kuliah 3 tahun klo g salah..
mohon pencerahannya, takut saya yg salah baca dan sepertinya saya bacanya tidak sesuai sama urutan novel2 itu dibuat.. 🙏🏻
anyway apapun itu, aku tetep suka banget sama semua karyamu.. 😘
tetep semangat ya kak, g usah dengerin komen negatif (klo ada) dan terakhir semoga sehat selalu.. 💪🏻🥰
apa aku salah baca urutan novel yg kakak buat yah? 😁