"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Harap Ia Cemburu
Zofa membuka pintu tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, salahkan ia yang tak mengetuk pintu tersebut hingga ia dapat melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat
Bukannya ia yang terkejut justru dua orang itu yang terkejut kala Zofa memergoki Ammar yang memeluk Ita pada dada bidangnya yang belum tertutupi pakaian, begitupula Ita punggung polosnya terlihat sebagian, karena tubuh mereka hanya tertutupi oleh selimut saja
Sontak Ammar terkejut kala Zofa membuka pintu kamar mereka, ia menarik selimut lebih ke atas agar tubuh mereka berdua tertutupi sempurna, Ita juga merasa malu, bahkan kini ia menghentikan tangisnya dalam dekapan Ammar
Tak ada yang bisa Zofa lakukan selain cengar-cengir sendiri
"Ehh hehehe maaf, kirain ada konser menangis kok rame-rame gitu, mmmm itu Chaca nya aku gendong ya kasian dia nangis mulu hehehehe" ujar Zofa yang salah tingkah, bahkan dengan pedenya ia memasuki kamar tersebut dan mengambil Chaca dari ranjang bayi
"Silahkan dilanjutkan maaf mengganggu hehehehe" Zofa masih saja cengar-cengir, ia keluar dengan menggendong Chaca dan menutup kembali pintu itu dengan rapat
"Bodoh kamu Zofa, bodoh banget kan kasian mata kamu jadi ternodai" gumam Zofa sembari menepuk-nepuk jidatnya
Oeeee oeeeee
"Cup cup cup Chaca pinter ndak boleh nangis ya" ujar Zofa yang turun tangga sembari menggoyangkan pelan tubuh Chaca dalam gendongan
Ia membawa Chaca ke dapur dan membuatkannya susu, seperti yang biasa Ita lakukan, Chaca memang di beri asi dengan selingan susu formula semenjak kelahiran karena terkadang asi Ita tak mau keluar
"Haus ya haus banget ya, sutttt jangan nangis ya kan abah sama umi kamu mau buatin kamu adik jadi Chaca ndak boleh nangis terus tiap malam nanti proses bikin adiknya malah tambah lama, sekalian biar kakak Zofa juga bisa tidur nyenyak" ujar Zofa sembari memegangi dot yang diminum oleh Chaca
Zofa membawa Chaca ke kamar, bayi itu kini sudah tak menangis lagi, nampaknya ia kekenyangan karena telah menghabiskan sebotol susu
"Bobo sama kakak ya malam ini" Zofa menidurkan Chaca disampingnya namun bayi itu malah mendudukkan diri
"Tototo in in" rancaunya tak jelas
"Mau main kah?" tanya Zofa bingung
Bayi cantik itu tertawa, diumurnya yang ke 18 bulan ia memang belum lancar dalam berbicara padahal empat bulan lagi ia akan genap dua tahun
"Main tebak-tebakan suara ya" ujar Zofa
"Hihihihihihi hihihihihihi hihihihihi" ia menirukan suara kuntilanak yang nyangkut di pohon, bukannya ketakutan Chaca malah tertawa mendengar suara itu
"Hihihihihihi hihihihihi" Zofa menutup wajahnya dan mendekat ke arah wajah mungil Chaca, dan.....
"Baaaaaaaaa" Zofa membuka kedua telapak tangannya yang tadi ia tutupi di wajahnya guna menakuti Chaca, bahkan wajahnya ia ekspresikan sengeri mungkin, matanya yang melotot serta lidahnya yang menjulur ke samping, namun lagi-lagi respon Chaca hanya tertawa senang
"Ihhh kok malah ketawa sih mmmmm" Zofa mencubit pelan pipi Chaca karena gemas
"Kok pipi kamu gak gendut banget sih, mmm jarang makan ya kalau di kasih mpasi gak pernah di habisin ya" tanya Zofa yang menusuk-nusuk pipi Chaca
"Udah bisa lari belum, kemarin kan udah belajar lari, coba sini berdiri, udah umur satu tahun lebih harus pinter lari biar nanti pas umur dua tahun bisa terbang" ujar Zofa asal, ia membantu Chaca berdiri dan benar saja Chaca mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan bukan berlari namun baru beberapa langkah ia sudang terjatuh dengan posisi tengkurap karena tersandung
"Ya ampun sayang kamu gak pa pa" pekik Zofa ia segera mengangkat dan memeluk tubuh mungil Chaca khawatir anak orang nanti nangis kan jadi berabe urusannya
Pintu kamar Zofa terbuka menampilkan sosok Ammar dengan wajah berseri, rambutnya nampak masih sedikit basah, ia memakai baju koko serta sarung karena ini pukul setengah tiga dini hari ia baru saja melakukan shalat tahajud
Ia menatap ke arah Zofa yang sudah tertidur pulas dengan Chaca yang berada diatasnya, sama halnya dengan Zofa bayi itu tidur dengan lelap dan nampak nyaman dalam pelukan Zofa
Perlahan Ammar mengambil Chaca dari atas tubuh Zofa agar tidak menganggu tidur Zofa namun ternyata saat bayi itu diangkat oleh Ammar Zofa terbangun
"Bayiku" pekiknya kaget kala Chaca sudah melayang ke atas
"Oh ternyata kamu, kirain penculikan bayi" ujar Zofa, ia merasa lega dan akhirnya kembali merebahkan diri sembari memeluk guling
Ammar menggelengkan kepalanya merasa lucu akan tingkah Zofa, perlahan ia menundukkan kepalanya mendekati bibirnya tepat di telinga Zofa dengan hati-hati karena ia sedang menggendong Chaca
"Kamu pingin punya bayi?" Bisiknya hingga membuat Zofa merasa geli
"Iya pingin, tapi sama suami masa depan aku" ujarnya tanpa membuka matanya
Ammar tersenyum kecut mendengar penuturan Zofa, tangannya membenarkan selimut yang Zofa pakai, kemudian keluar dari kamar Zofa
Jujur saja Ammar merasa gugup tadi kala Zofa melihat ia dan Ita di kamar utama, rasanya seperti Ammar sedang kepergok telah melakukan sesuatu yang salah padahal itu tidak salah baginya, namun terbesit di hatinya rasa bersalah yang dalam terhadap Zofa karena ia sampai sekarang belum memberikan nafkah batin untuk Zofa, bukan karena tak ingin memberi melainkan karena selalu mendapat penolakan dari Zofa
Melihat ekspresi Zofa yang cengar-cengir membuat hatinya merasa tak rela, ia terlalu berharap dapat melihat ekspresi wajah cemburu Zofa, namun segera ia tepis buru-buru ia beristighfar
***
Ini hari Ahad hari libur sejuta umat Indonesia dan di berbagai negara lainnya
Zofa wanita itu kini tidur kembali setelah beres-beres rumah, kemarin ia habis lembur di kantor dan ternyata malamnya ia harus menjaga Chaca membuat ia masih ingin memejamkan matanya
Padahal hari ini Ammar ingin mengajak keluarganya jalan-jalan berlibur ke pantai namun Zofa enggan berangkat dan memilih untuk tidur kembali
"Aku ngantuk, kalian pergi aja biar aku jagain rumah, aku kurang tidur lihat ini kantung mataku"
Begitulah alasan Zofa, akhirnya Ammar, Ita dan Chaca pergi berlibur ke pantai dengan mengendarai mobil, Ammar memang jarang menggunakan mobil kecuali kalau perjalanan jauh ataupun membawa keluarganya pergi ke manapun agar mereka merasa nyaman, namun jika ia ke kampus, ke pesantren ataupun ke empang ia memilih mengendarai motor
Zofa terbangun menjelang dhuhur, ahh tidurnya begitu nyenyak tanpa ada pengganggu sama sekali
Sehabis shalat dhuhur ia sarapan oh bukan sarapan melainkan makan siang "Akkhhh bebas juga gak ada orang di rumah" ujarnya
Ia menyalakan tv sembari memakan cemilan, sesekali ia menscroll hpnya membuka sosmed yang ia miliki, matanya tertuju pada status yang di buat mbak Ita
"Wahhhh indah banget pantainya ini dimana" ujar Zofa kagum
"Akkhhh jadi pingin honeymoon ke Bali hihihi, tunggu honeymoon? hehehe sama suami masa depan aku" Zofa senyam-senyum membayangkan dirinya berlibur dengan suami halunya, ntah siapa yang ia bayangkan yang jelas bukan Ammar
"Harusnya tadi aku ikut aja kali ya, tapi kan nanti aku jadi nyamuknya, terus si Chaca jadi obat nyamuknya" gerutu Zofa
Zofa mengetik balasan status yang di buat mbak Ita
Jangan lupa oleh-olehnya mbak, pasir pantai nya aja juga gak pa pa?
Ting, tak lama kemudian Ita membalas pesan Zofa
Hahaha kamu ada-ada aja, In Syaa Allah nanti kami belikan ikan bakar
Aduhh mbak gak usah repot-repot beliin ikan bakar, lobster, cumi-cumi, tiram sama udang bakar aja udah cukup kok
In Syaa Allah
Oh ya btw itu pantai mana ya mbak?
Pantai ***
"Kapan-kapan ke sini ah sama Iki dia kan juga jomblo" batin Zofa sembari terkekeh
***
Holla ketemu lagi nih sama mereka bertiga, don't forget to klik tombol like, vote and comment sebanyak-banyaknya, see you next episode kawan-kawan