Selama 21 tahun hidup, Lera merasa baik-baik saja, tidak ada satupun kesusahan yang ia lami sampai dimana sang Nenek datang untuk menyita semua asetnya, kartu ATM juga diblokir oleh Nenek dan Ayahnya.
Kesialannya bertambah ketika hidupnya digenggam oleh Stephano Bian Atmaja. Entah kesalahan apa yang sudah Lera perbuat pada pria itu, yang pasti pria itu tidak bisa membuatnya melarikan diri.
"Kau pikir aku menikahimu karena aku mencintaimu?" bisik Bian tepat ditelinga Lera.
Lera mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan membiarkanmu merusak keluargaku, Bian! Tidak akan!"
Bian tersenyum, "Maka tetaplah disisiku untuk mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan pada mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Afriyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Bian sedang dalam perjalanan pulang dari Bogor menuju Jakarta saat tiba-tiba saja beberapa mobil menyalipnya dan memblokir jalan agar tidak bisa ia lalui.
Sebenarnya dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi cepat atau lambat, tapi ia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Tua bangka itu pasti sudah kebakaran jenggot setelah mengetahui identitasnya ditambah lagi proposal kerjasamanya dengan EHC ditolak mentah-mentah. Wah, Bian benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah murka tua bangka itu.
"Keluar!" teriak beberapa orang bertubuh kekar sambil mengetuk kaca mobilnya tidak sabaran. "Keluar sekarang, b4jingan!" mereka kembali menyalak.
Bian menghela napas kemudian memutuskan untuk keluar. Belum sempat menutup pintu, seseorang orang sudah menyerangnya. Tubuhnya ditendang dari samping hingga tersungkur ke aspal.
“Brengs3k!” umpat Bian, ia sama sekali belum siap menerima serangan tersebut. Melirik lengan kanan yang berdarah karena bergesekan dengan aspal, dia kemudian lekas bangkit dan memberikan serangan balasan pada orang-orang sialan itu.
Satu lawan lima, sekuat apapun Bian melayangkan tinju dan tendangannya, tetap saja dia kalah telak. Saat ini tubuhnya berhasil dikunci dan beberapa kali mereka memberikan pukulan di wajah dan perutnya. Sial, curang sekali!
"Cukup." seseorang yang baru keluar dari mobil memberikan perintah untuk berhenti memukul. Suara khas itu sangat amat dikenalnya baik dulu maupun sekarang, Bian tidak akan pernah lupa.
"Kenapa harus berhenti? Bukankah ini yang sedang anda tunggu-tunggu?" ucap Bian sambil menatap pria yang saat ini berjongkok di depannya dengan tatapan marah.
Bian menahan diri untuk tidak meludahi wajah menjijikan tua bangka tersebut. Sebanyak apapun kebenciannya pada pria ini, dia harus bersikap tenang untuk mencapai hasil yang lebih besar.
Atmaja memberikan tatapan tajam. Tatapan yang belasan tahun lalu selalu mampu membuatnya bungkam dan tidak bisa memberontak. “Untuk terakhir kalinya aku ingatkan, jauhi Fallen!”
Fallen? Aaaa ... Bian baru ingat nama itu. Kalau tidak salah hitung, sudah hampir 2 minggu ini Bian tidak bertemu dengan si pemilik nama. Gadis itu seakan menghilang dari peredaran. Bahkan dia sama sekali tidak menghubunginya baik melalui chat maupun telepon.
“Bagaimana keadaannya? Apa dia masuk rumah sakit jiwa karena terlalu merindukanku?" Bian bertanya disertai kekehan yang berhasil menyulut amarah lawan bicaranya.
“Stephan!” Atmaja menggeram disertai sebuah tamparan yang cukup keras. Berharap tamparan itu bisa membuat anak itu sadar atas apa yang dilakukannya. “Fallen adalah adikmu!”
Mendengar pengakuan itu setelah bertahun-tahun lamanya disembunyikan membuat Bian merasa marah. “Adik? Aku tidak punya adik, Atma.” ucapnya penuh penekanan, sorot matanya menunjukkan betapa rasa benci tumbuh subur dalam dirinya. “Kau lupa? Kau yang sudah membuat adik perempuanku meregang nyawa!”
Oh, sial!
Hujan, rumah, api dan dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya kembali mencabik-cabik ingatannya. Rasa sakit kembali menjalar ke seluruh pembuluh darahnya dan berkumpul di satu titik, membuatnya tidak dapat bernapas.
Bian mendongak ke atas, ia mengerjap beberapa kali sekedar untuk menghalau air matanya agar tidak keluar. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria yang sudah menelantarkannya tersebut.
“Fallen ... Dia adalah anakmu, anak yang lahir dari wanita simpananmu, jadi dia bukan adikku.” suara Bian terdengar parau, sarat akan rasa sakit dan kecewa.
Sebuh tamparan kembali melayang. Lagi, Bian merasakan panas yang menjalar di pipinya, tetapi panas yang membakar hatinya jauh lebih menyakitkan daripada yang pipinya rasakan.
“Jaga ucapanmu!” geram Atmaja, “Kau adalah anakku dan begitu pula dengan Fallen, jadi kalian adalah saudara!“
Untuk kesekian kalinya Bian tertawa, ini benar-benar lucu. Tua bangka itu bilang kalau dia adalah anaknya? Bahkan saat mereka tinggal satu rumah saja tua bangka itu sama sekali tidak pernah menganggapnya ada, sepintar dan serajin apapun ia, tetap tidak pernah bisa mendapatkan perhatian sosok yang ia panggil ayah itu. Atma tidak pernah sudi untuk menatapnya karena bagi pria itu bayangannya saja sudah membuatnya sangat marah. Dirinya seperti sebuah rantai yang mengikat kebebasan dan kehidupannya.
Pada awalnya Bian selalu bertanya-tanya apa kesalahannya. Dia selalu penasaran kenapa perlakuan sang Ayah padanya dengan adik perempuannya sangat amat berbeda. Dia kira ... mungkin ayahnya memang lebih menyukai anak perempuan ketimbang anak laki-laki, oleh karena itu kasih sayang yang diberikan sangat berbeda.
Bian tidak ingat bagaimana awalnya ... suatu hari dia pernah mendapati sosok yang ia puja-puja itu tengah makan siang dengan wanita lain, juga dengan sosok anak perempuan yang seusia adiknya. Dan suatu malam dia pernah mendengar sebuah pertengkaran antara ibu dan sang ayah, pria itu bahkan berani berteriak, dia mengatakan sesuatu yang aneh pada sang ibu seperti, 'Tolong sudahi sandiwara ini, saya sudah memiliki keluarga sendiri, pernikahan ini dari awal adalah omong kosong. Kalian sengaja menjebakku untuk menutupi status anak itu, anak haram sang nona muda!'
Anak haram sang Nona muda, julukan yang amat sangat kontroversial, bukan?
Sejak malam itu, sejak mengetahui sebuah fakta kotor itu ... dia tidak lagi mencoba untuk mengejar atau mendapatkan perhatian sang ayah. Dia sudah mengerti alasan kenapa ayahnya tidak pernah menyayanginya, alasan kenapa ayahnya tidak pernah mau memandang wajahnya karena bagi pria itu ... dia adalah duri dalam daging, kelahirannya adalah aib keluarga yang harus ditutupi dengan sangat baik.
“Aku tidak punya Ayah, Atma." suara Bian pecah, entah bagaimana bisa dia merasakan sebuah bongkahan besar di tenggorokannya. "Saat anda memilih untuk meninggalkan kami 15 tahun lalu, aku sudah menganggapmu mati."
Atmaja mengatupkan bibirnya, deru napas yang terdengar tidak beraturan itu mengindikasikan bahwa dia amat sangat marah. "Untuk yang terakhir kalinya Ayah peringatkan untuk menjauh dari Fallen, jangan pernah berpikir untuk menemuinya lagi. Ayah tidak akan segan untuk bertindak lebih kejam daripada ini!"
Apakah itu sebuah ancaman?
Bukannya takut, Bian justru tengah tergelak. Melihat wajah tua bangka yang menahan emosi membuat tingkat kebahagiaannya semakin membumbung tinggi. Ya, tidak ada kebahagiaan yang sebanding dengan melihat sosok di depannya hancur berkeping-keping. Dia tidak akan berhenti, setidaknya mereka harus merasakan kehancuran yang sama seperti yang ia dan ibunya rasakan selama 15 tahun terakhir.
"Jika nyawa tidak bisa dibayar dengan nyawa, setidaknya aku akan membuatnya gila. Istri anda harus merasakan apa yang ibuku rasakan!” Bian memberitahu, dia memang sengaja memprovokasi, dia ingin melihat sejauh mana Atma dapat berbuat untuk melindungi keluarga kecilnya yang bahagia itu.
“Oh, satu lagi. Tidakkah anda ingin memberikan selamat atas kesuksesanku? Estan Holding Company, mereka mempercayakan proyek besar mereka padaku."
Jadi ... ini alasan perusahaan itu menolak kerjasamanya mentah-mentah? Mereka lebih memilih perusahaan kecil tak berpengalaman milik bocah tengik itu daripada perusahaannya yang sudah mempunyai nama besar? — Atma mengepalkan tangan kuat-kuat, dia memilih pergi tanpa mengatakan apapun lagi, bahkan dia mengabaikan uluran tangan putranya tersebut.
“Aku pastikan anda akan kembali ke tempat asal anda, br3ngsek!” seru Bian untuk terakhir kalinya.