Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.
Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.
Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.
Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.
Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?
follow akun ig author : @maulidamaulida84
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wawancara
Aku memutar bola mata jengah melihat dia yang bersikap dingin saat bersama teman temanku, sedangkan saat bersamaku suka sekali bikin naik darah.
" Ekhm! " dehaman dariku mampu menyadarkan Gita dan Adel yang nampak terpesona dengan kadar ketampanan Rifki dan si bayangan itu. Di sampingku, Roby sudah bersungut sungut sebal karna merasa tersaingi oleh si bayangan.
" Bisa di mulai sekarang? " tegasku karna tak ingin berlama lama di satu ruangan yang sama dengan makhluk bayangan itu.
" Sebentar, ini juga mau mulai. Jangan bawel deh! " sinis Adel mengeluarkan ponselnya bersiap merekam pembicaraan mereka nanti saat berlangsungnya tanya jawab.
Aku memutar bola mata malas dan lebih memilih menyimak apa saja pertanyaan yang mereka siapkan.
" Umur Kakak berapa? " tanya Gita sok manis. Dan apa tadi? Kakak? Dia lebih cocok di panggil om.
" 26 "
" Woah, udah 26? Aku ngiranya masih 20-an loh. Soalnya ganteng sih.. " Aku, Anton, Ririn, Bayu dan Roby menepuk jidat berjamaah. Berbeda dengan Adel yang nampak mengangguk antusias.
" Kapan perusahaan ini di dirikan? " tanya Bayu mencoba menghilangkan rasa malu karna sifat blak blakan Gita.
" 1989 "
" Apakah perusahaan ini turun temurun? " sela Adel cepat, membuat Bayu hanya bisa menghela nafas pasrah.
" Benar. "
" Woah... berarti Kakak udah sultan dari lahir dong? Benar benar calon suami incaran para kaum hawa... " sekali lagi. Kami menepuk jidat atas kelakuan tak tahu malu keduanya yang membuat Roby dan Anton yang sedari tadi merekam harus menghentikannya.
" Maju ril, lo aja yang wawancain. Di sana yang waras cuma Bayu doang. " senggol Anton merasa malu sekaligus gusar karna kelakuan Gita dan Adel.
Aku memandanginya dengan alis terangkat sebelah. " Trus tugas mereka apa? " sinisku.
" Pleas.. lo yang wawancara ril. Gue jamin, tugas kita gak akan selesai kalo mereka terus begitu. Demi tugas kampus ril, " bujuk Anton.
Aku terdiam sejenak. Benar juga, tugas ini gak akan selesai kalo Gita dan Adel terus begitu. Dan yang pasti, aku tidak ingin terjebak di sini terlalu lama.
Aku menghela nafas pelan sebelum akhirnya menyetujui. " Oke! " Aku bangkit dan langsung menggeser posisi Gita dan Adel hingga terpisah.
" Eh ril, lo ngapain sih? " bentak Gita mendorong tubuhku hingga memepet tubuh Adel.
" Iya, sempit tau! " giliran Adel menggeserku. Aku diam dengan pandangan lurus, tidak menanggapi perkataan mereka. Ku keluarkan ponsel dan memulai bertanya.
" Kita mulai dari awal. Boleh saya tau, siapa nama anda? " tanyaku tanpa menghiraukan kemarahan Gita maupun Adel, karna mereka sudah beres di urus Anton dan juga Ririn.
" Nanti kau juga tahu. " jawabnya dengan senyum menyeringai. Aku memutar bola mata malas sekaligus kesal. Tinggal jawab apa susahnya sih? Nama doang juga.
" Baiklah. Pertanyaan selanjutnya, kapan didirikannya perusahaan ini? " tanyaku mengulang kembali pertanyaan Bayu.
" 1989 "
" Bisa tolong ceritakan bagaimana sejarahnya perusahaan ini di bangun? " tanyaku mulai mengorek di masalalu dulu.
Dia dengan santay menceritakan bahwa dulunya Kakek buyutnya hanyalah seorang anak petani miskin yang makanpun hanya dengan nasi yang di campur dengan garam. Beliau memutuskan untuk berhenti sekolah dan lebih memilih membantu menjadi tulang punggung keluarga.
Kurun demi kurun, dia bekerja sebagai seorang montir di salah satu bengkel lusuh yang bahkan jarang ada pengunjung. Hingga karna sepinya pelanggan, membuatnya di PHK dan mau tak mau harus berkelana lagi mencari pekerjaan.
Hingga suatu hari, dia tidak sengaja bertemu dengan seorang saudagar kaya yang terlihat gelisah dengan ponselnya yang rusak. Saat dia bertanya, saudagar itu berkata.
" Ini ponsel Ayahku. Aku mengambilnya secara diam diam. Jika dia tahu ponselnya hancur, dia akan memarahiku dan menghukumku. " katanya.
Entah bagaimana caranya, Kakek buyutnya itupun memperbaiki ponsel itu dengan sangat lihat seolah olah itu adalah bakat terpendam.
" Coba nyalakan! " pintanya. Dan saat saudagar itu menyalakannya, ponsel itu kembali bernyala, membuatnya sangat senang sekaligus gembira.
Pria itu dengan baik memberikan sejumlah uang untuk Kakek buyutnya, namun justru kakek itu tolak dan pergi buru buru.
Hingga dari situlah Kakek buyut telah mengetahui bakat terpendamnya dan mulai mengumpulkan uang untuk membuka usaha kecil kecilan hingga bisa berdiri sampai sekarang.
" Jika boleh tau, siapakah nama pendiri perusahaan ini? " tanyaku setelah di buat terharu dengan cerita menginspirasi dari perjuangan sang pendiri perusahaan ini.
" Karan Bagaskara "
Aku terdiam mendengar kata Bagaskara. Ah mungkin hanya kebetulan marga keluarganya sama dengan marga calon suamiku. Tidak mungkin calon suamiku ada hubungannya dengan si bayangan ini.
Wawancara berjalan cukup lancar dengan pembahasan seputar sejarah perusahaan, sistem keamanan perusahaan, dan lain lain. Sekitar 3 jam berlalu, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi wawancara ini karna rasanya sudah cukup untuk di dokumentasikan dan di kumpul pada Miss Dewi.
" Terima kasih karna sudah mau meluangkan waktu untuk kami pak. " tutur Bayu menjabat tangan si bayangan, di ikuti Anton dan setelahnya Roby.
" Lain kali jangan sok kecakepan! " cibir Roby masih kesal karna gebetannya begitu terpesona pada ketampanan si bayangan.
" Sayangnya, saya memang cakep. " jawab si bayangan dengan senyum meremehkan, dan itu membuat Roby semakin kesal. Untung Bayu segera menariknya agar tidak membuat masalah di kantor orang.
" Sekali lagi terima kasih untuk wawancaranya. Maaf jika merepotkan anda tuan. " tutur Anton dengan jiwa kepemimpinannya.
" It's oke "
" Kalau begitu kami pamit undur diri. " Bayu segera menarik Roby keluar, sedangkan Anton dengan santay menarik Gita dan Adel, dan Ririn menggenggam tanganku untuk mengikuti langkah yang lain.
" Terima kasih untuk kencan indahnya... " bisikan itu mampu membuat tubuhku meremang seketika.
Aku mendelik tajam kearah belakang dan mendengus kesal lalu masuk kedalam lift menyusul yang lain. Dasar cowok bayangan menyebalkan!!
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
'yes lampu ijo'
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
ku udah ngirim kopi untuk kakak
semangat.....