Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-021
Sepertinya Elis memang harus terbiasa sosok Khafi berada disampingnya. Ia akan segera menjadi istrinya, mereka pasti akan tinggal bersama. Jika suasana terus canggung seperti itu tentu tidak akan membuat keduanya merasa nyaman.
Tapi tunggu! Nur? Elis nggak salah dengar kan? Sudah beberapa kali dia memanggil Elis dengan sebutan itu. Apa dia salah sebut? Atau dia sengaja memanggil Elis dengan nama mantan atau nama orang yang disukainya? Ah what ever lah.
Mereka pun tiba dipesantren hampir pukul sembilan malam itu.
“Bukankah lebih baik jika Elis mandi dan ganti pakaian dulu?” ucap Elis yang sengaja membawanya langsung ke rumah.
“Sudah hampir jam sembilan, kamu makan dulu. Jika mandi dan ganti baju duluan bisa bisa kamu makan jam sepuluh malam. Terlambat makan nggak baik buat lambung,” ucap Khafi. Kemudian keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Elis. “Lagipula aku laper, kalau tungguin kamu bakalan lama,” ucap Khafi pelan hampir seperti berbisik di telinga Elis.
Elis yang masih mengenakan seragam biru dongker langsung menuju ruang makan. Sebenarnya perutnya memang sudah mulai keroncongan. Lembur kerja, macet di jalanan ditambah udara dingin membuat rasa laparnya semakin menjadi.
“Hmm ada sop tom yam, siapa yang masak?” Elis langsung bergegas duduk dimeja makan mengambil piring dan sendok yang telah tersedia.
Amelia keluar dari arah dapur dengan sepiring buah ditangannya.
“Teteh yang masak,” ujar Amel.
“Enak teh,” ucap Elis yang sementara mencicip sesendok sop ke dalam mulutnya.
“Ayo dek makan juga, nanti keburu dingin,” ucap Amel pada Khafi.
“Makasih teh.” Khafi pun langsung mengambil piring yang telah tersedia.
Elis makan begitu lahap dan terburu buru, ia begitu menikmati makanan hangat dihadapannya itu.
khafi mengambil gelas kosong yang telah disiapkan Amel kemudian mengisinya dengan air sebelum wanita dihadapan tersedak.
“Nih air, pelan pelan makannya nanti keselek.” ujar pria yang biasanya cuek itu.
“Hm makasih,” Elis meraih gelas yang diberikan Khafi dan langsung meminumnya.
Dia begitu mencintai gadis ini, hanya saja dia mungkin tak sadar akan hal itu. Perhatian perhatian kecilnya pada Elis pasti akan meluluhkan hati Elis. Batin Amel sambil tersenyum sekaligus khawatir melihat tingkah kedua orang tersebut.
....
Dua hari sebelum hari pernikahan Khafi dan Elis..
Umar, Shaleh, Hardian bersama kedua orang saksi telah berada didalam ruangan masjid.
Elis memasuki ruangan masjid untuk pertama kalinya.
Berbalut jilbab yang menutupi auratnya, Elis berjalan mantap di belakang Saodah.
Elis pun ikut duduk disebuah meja lesehan bersama Saodah.
Setelah melewati beberapa pertanyaan Elis diarahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebuah rukun Islam yang paling utama. Dimana setelah mengucapkannya maka Elis telah menjadi seorang muslim.
“Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.” Elis berucap dengan mantap dan yakin.
“Alhamdulillah,” ucap beberapa orang disitu.
Elis pun menandatangani sebuah pernyataan memeluk Islam dengan sebuah nama baru tertera diatas lembar kertas putih tersebut.
Nur Elisha...
Tanpa sadar sepasang mata selalu takjub dan kagum akan penampilan Elis saat itu. Ia terus memuja kecantikan Elis dalam hatinya, ia mulai begitu tergila gila akan gadis yang tak pernah luput dari pandangan matanya itu.
Prosesi ikrar telah selesai, Elis diarahkan Saodah untuk mandi besar dan akan mulai ikut solat bersama hari itu juga.
“Bi, apa setelah ini Elis akan terus mengenakan jilbab?” tanya Elis.
“Menutup aurat itu wajib nak, jika seorang wanita tidak menutup auratnya maka dosa akan ditanggung ayahnya jika ia belum menikah. Jika ia telah menikah maka dosa akan ditanggung oleh suaminya. Kamu ingin papa dan juga suamimu masuk neraka?” tanya Saodah.
Elis menggeleng kepalanya.
Ia kembali teringat akan papanya. Mungkin hari ini dan seterusnya Elis sudah bukan lagi bagian dari keluarga Petra. Khafi, syekh Umar dan bi Saodah adalah keluarganya.
“Ini mukenah kamu sayang, Khafi yang membelikannya untuk mu. Tadi dia meminta bibi menyerahkannya padamu,” lanjut Saodah.
“Tapi Elis belum pernah solat bi, gimana jika Elis salah?”
“Kita sebagai makmum wanita ada saf paling belakang, saat belum mengerti Elis solat berjemaah aja dulu. Ikuti arahan Imam. Perlahan lahan belajar bacaan bacaan solat agar bisa solat sendiri jika nggak sempat ke masjid,” ujar Saodah.
“Ayuk, ikut bibi. Bibi akan mengajari Elis wudhu,” ucap Saodah lagi.
Elis berjalan beriringan dibelakang Saodah. Ia hanya bisa mengikuti apa yang di utarakan Saodah. Memang masih membingungkan, tapi lama kelamaan ia pasti bisa.
....
Keesokan harinya Elis masih harus berangkat kerja seperti biasa. Ia tak bisa lagi mengambil cuti yang sudah diambilnya beberapa minggu sebelumnya.
Ia mengenakan setelan kerja batik biru lengan panjang, celana panjang hitam dan jilbab yang menutupi kepalanya. Oh ya, Amel turut andil membantu mengenakan hal baru tersebut. Dan sejak hari itu ia harus terbiasa mengenakan jilbab saat pergi bekerja.
“Assalamualaikum.” Elis membuka pintu mobil yang telah menunggunya di depan asrama.
“Waalaikumsalam,” sahut Khafi dengan sejuta senyum pada wajahnya. Ia turut gembira dengan penampilan baru Elis.
Mobil meluncur meninggalkan pesantren melewati jalanan yang mulai dipadati kendaraan.
Sesekali Khafi menatap ke arah wanita yang duduk disebelah kirinya.
“Jalanannya di depan, kamu akan menabrak mobil didepanmu jika terus menatap ke sini,” protes Elis. Ia mulai risih, sejak duduk dimobil itu Khafi tak henti henti menoleh ke arah kiri.
“Pagi ini pemandangan sangat berbeda, aku hanya menikmati sedikit anugrah dari Allah ini,” ujar Khafi dengan senyuman menghiasi wajahnya.
“Jadi karena itukah kamu terus tersenyum? Apa kamu sedang mengejekku?” tanya Elis sinis.
“Mengejek? Bukankah senyum itu adalah ibadah. Tersenyum bukan berarti mengejek Nur, tapi kita akan mendapat pahala dengan tersenyum,” jelas Khafi.
Elis terdiam.
Oh jadi kamu tersenyum karena kamu mengejar pahala. Ya iyalah, kamu kan seorang unhedonia, nggak mungkin itu adalah senyum bahagia mu.
Elis membuang pandangannya keluar jendela. Ia membiarkan saja pria disampingnya, entah tersenyum melirik, manyun atau apapun itu. Toh tidak merugikan dirinya.
“Nanti sore sebelum pulang Nur temani Khafi ke toko buku, Khafi ingin membeli sesuatu.”
“Nur? Apa namaku itu adalah ide mu?”
Elis menatap pria disampingnya, senyuman seperti tak pernah luput dari wajahnya. Dengan senyumannya membuat Khafi selalu terlihat bersahaja.
“Nama mu Elisabeth Chaya Petra. Nur diambil dari arti cahaya itu sedangkan Elisha bisa di artikan dengan baik.” Khafi kembali melirik wanita itu. “Semoga kamu bisa menjadi sebuah cahaya yang baik untuk orang orang disekitarmu,” lanjut Khafi.
Selang beberapa saat mobil telah memasuki parkiran bank swasta tempat dimana Elis bekerja.
Dengan style baru ia mantap melangkah masuk gedung besar tersebut. Membuat seluruh rekan rekan dikantornya kaget. Dianatara mereka ada yang mendukung keputusan hijrahnya Elis namun ada juga yang sedikit mencemoohnya. Namun pendapat siapa pun itu tak ada artinya buat Elis. Toh ia sendirilah yang akan menjalani hidupnya.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁