Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlakuan Romantis
Nadin menatap pemandangan luar melalui kaca jendela kamar hotel. Mobil tampak berlalu lalang, dia tidak menyangka bisa sampai ke luar negeri.
"Pemandangannya indah, aku menyukainya." monolog Nadin.
Tiba-tiba saja ada tangan melingkar di pinggangnya. "Apa kamu suka, berada di sini istriku sayang." ujar Argan. Dia mencium pipi Nadin tanpa izin.
"Iya sayang, aku suka." jawab Nadin.
"Mulai sekarang, panggilan seperti ini harus sering dipakai." ucap Argan.
"Hah? Maksudnya kata sayang barusan." Nadin tersipu malu.
Argan meletakkan dagunya di sebelah pundak Nadin. "Heheh... iya dong."
"Nafasku tercekat sayang, lepaskan iya heheh..." rayu Nadin.
"Aku tidak ingin, aku sudah kecanduan." jawab Argan.
"Maksudnya kecanduan untuk memeluk?" Masih saja dia bertanya, untuk hal yang sudah tampak jelas.
"Iya, bahkan aku ingin semua yang ada pada dirimu." Argan tersenyum di belakang kepala Nadin. "Cepatlah, berbalik badan." titah Argan.
Nadin berbalik, dan Argan menunjuk-nunjuk pipinya. Nadin mengernyitkan dahinya, penuh tanda tanya apa maunya.
"Apa?"Nadin bertanya, dengan ekspresi bingung.
"Cium aku!" pinta Argan.
"Hah? Aku tidak salah, bahwa kamu minta cium." Nadin menjawab lembut, diiringi senyum secerah kilauan bintang-bintang.
"Laksanakan tanpa bertanya kenapa." ucap Argan datar.
"Baik sayang." jawab Nadin.
Nadin memberanikan diri meski masih malu, akhirnya berhasil mencium juga dengan mata terpejam. Bergilir pipi kanan dan kiri Argan. Tuan muda tersenyum melihat tingkah Nadin yang malu-malu.
"Masih kurang sayang." ucap Argan.
Nadin melotot. "Lalu harus berapa kali?" tanyanya.
"Lima puluh kali, eh seratus kali, eh masih sedikit. Ummh... aku maunya seribu kali." Dia kini tersenyum, dengan ucapannya sendiri.
"Sayang, itu sedikit sekali. Satu juta kali, mungkin kamu tidak kekurangan lagi." jawab Nadin.
Argan mendelik. "Aku maunya segitu, kalau dikasih lebih boleh saja." Merasa beruntung, diberi bonus banyak. "Namun, tidak boleh kurang jumlah."
"Baiklah, sepakat sejuta kali. Namun alangkah baiknya, bila menghapus kesepakatan yang tidak seharusnya." Nadin menyinggung halus, tentang perjanjian pernikahan.
"Menurutku tidak perlu memikirkan hal tidak penting. Apalagi mengkhawatirkan masa depan." ujar Argan.
"Namun merancang sesuatu itu lebih baik. Kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi kedepannya. Tidak semua orang mau, dengan sesuatu yang tidak pasti." jawab Nadin, sengaja memberi kode.
"Bila nanti pertemuanku dengan wakil CEO itu mengesalkan, aku pastikan kamu menghiburku dengan cara ini." Argan tersenyum samar, tampak mengerikan bagi lawan bicaranya.
"Aku bersedia." Nadin malah gembira, padahal Argan ingin mengerjainya.
”Malu dong sedikit, atau marah gitu, minimal menolak sambil mencakar kabel listrik. Aku 'kan lebih seru sekaligus agresif.” batin Argan berharap.
Nadin akhirnya melakukannya, sebanyak yang Argan pinta. Suaminya menikmati setiap ketulusan yang diberikan sang istri. Nadin ikhlas melakukannya, karena untuk mengharap ridho Allah Swt.
Tok! Tok! Tok!
Masih tidak ada sahutan dari dalam, padahal ketukan pintu sudah berkali-kali. Heru merasa khawatir pada mereka, takut terjadi apa-apa. Heru berinisiatif untuk membuka pintu kamarnya dengan kunci ganda.
Cekrek!
Pintu kamar terbuka, Heru melompat kakinya karena terkejut menyaksikan drama di depannya.
Cup! Cup! Cup!
Terdengar suara ciuman lembut itu, sampai ke seribu kali. Berniat melakukan lebih banyak lagi, agar Argan terbawa perasaan. Namun tidak tahu juga, berhasil atau tidak.
"Terima kasih sayang, aku bahagia." ucap Argan, sambil mencubit lembut kedua pipi Nadin.
Nadin menoleh ke arah pintu, dan segera mungkin menghempaskan tangan Argan. Oh sungguh malu Nadin, dipergoki Asisten pribadi tuan muda.
"Asisten Heru, sejak kapan ada di sana?" Nadin bertanya. Dia yang pertama kali melihat Heru, pipinya sudah semerah kepiting rebus.
"Heru, beraninya kamu mencuri pandang, pada adegan kami tadi." teriak Argan.
"Maaf tuan muda, aku sudah mengetuk pintu berulang kali. Karena tidak ada sahutan aku langsung masuk ke dalam, takut terjadi apa-apa.
Dera datang dan melihat keributan tersebut. Dia diam saja, tidak ingin tuan muda murka. Argan menghampiri Heru dan hendak memukulnya. Namun Nadin segera menghalanginya, dia tidak ingin ada kekerasan.
"Sayang, kamu jangan marah lagi iya. Asisten Heru tidak sengaja, untuk melihat hal tadi. Kamu harus memakluminya, karena dia juga manusia."
"Karena Nadin memintanya, aku akan memaafkan kesalahanmu ini." ucap Argan.
"Terima kasih tuan." jawab Heru.
"Segera keluar dari kamarku ini." titah Argan.
"Baik tuan muda." jawab keduanya serentak.
Heru dan Dera segera keluar kamar. Mereka berdua saling mendiamkan, sampai akhirnya Dera membuka percakapan.
"Apa yang telah kamu lakukan pada tuan muda. Kenapa dia bisa sangat marah seperti itu?" tanya Dera.
"Dia marah karena aku memergokinya ini, itu, dan anu." jawab Heru.
"Apa sih maksudmu, yang jelas kalau bicara." Dera melotot tajam.
"Bukannya menenangkan aku, ternyata kamu hanya mengintrogasi." Heru mulai menebak tindakannya itu.
"Sudahlah, katakan saja." Dera merasa kesal.
"Tadi tuan muda sedang memperlakukan nona muda dengan romantis, dan begitu pun sebaliknya."
Dera menginjak kaki Heru. "Itu memang salahmu." celetuknya.
****
"Ada masalah apa dengan perusahaan cabang di Jepang ini?" tanya Argan pada wakilnya.
"Seperti ini tuan, kemarin ada investor yang membatalkan kerjasama secara sepihak. Biasanya tidak ada yang berani seperti ini, aku sudah mengatakannya dengan baik-baik tapi seperti tidak dipedulikan oleh mereka. Bahkan saat ada rapat dengan perwakilan dewan direksi, tiba-tiba saja ada yang mengalihkan para satpam kantor hingga penyusup bisa masuk."
"Penyusup? Siapa orang itu."
"Dia tertangkap oleh kamera tersembunyi tuan muda."
"Baiklah, aku akan melihat sendiri isi dari kamera tersembunyi itu. Aku ingin tahu, apa orang-orang ini juga bagian dari penguntit di rumah istanaku yang ada di Indonesia." tutur Argan.
Si wakil CEO itu hanya mengangguk. Dia segera mengecek komputernya, video akan di play pada layar alat elektronik canggih itu. Argan memperhatikan dengan seksama, iya dia ingat bahwa salah satu penyusup dalam perusahaan itu adalah penguntit istana pada tempo lalu.
"Berani sekali mereka mencari masalah denganku. Mungkin mereka belum tahu siapa aku." Argan merapikan jasnya, dan penuh tatapan dingin serta membuang wajah ke sembarang arah.
Dera dan Heru saling pandang sebentar. Seolah mereka sama-sama bertanya siapa sih dalang dari semua ini.
”Aku memang masih menyelidiki orang tersebut tuan muda. Aku tidak akan membiarkannya merusak kebahagiaanmu saat ini. Ntahlah, dia sulit diketahui karena sudah merencanakannya dengan rapi. Untuk saat ini aku hanya pura-pura tidak tahu. Iya sampai penguntit itu setidaknya ketahuan siapa pesuruhnya.” batin Dera.
Jangan meremehkan Dera, meski dia wanita sungguh cekatan pemikirannya. Dia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dengan hatinya. Lihatlah meski tampilan luarnya tampak arogan dan cuek, tapi dia memiliki hati yang baik. Maka dari itu kita tidak bisa menyimpulkan kepribadian seseorang hanya dengan sedikit mengenalnya.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂