Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur
"Sudah berapa lama?"
Abel berdiri tepat di belakang mereka sambil bersedakap dada. Hatinya bergemuruh menahan bom atom yang siap meledak saat itu juga. Naja tersentak mendengar suara Abel, ia melepaskan tangannya dari pipi Amel dan berbalik menatap Abel.
"Sayang ... "
"Nggak usah panggil aku dengan sebutan sayang! Kamu tinggal jawab aja, berapa lama kalian pacaran?"
Amel menunduk dalam, ia sangat takut melihat wajah marah kakak kelas sekaligus pacar pertama dari kekasihnya itu. Naja seperti sengaja menyembunyikan Amel di balik tubuhnya, saat merasa tangan dingin Amel menggenggamnya dari belakang.
"Jawab!"
"Hampir dua minggu lebih. Tapi aku nggak niat buat selingkuh dari kamu, Bel, maaf aku hilaf." Naja mendekati Abel, ia berusaha meraih tangan pacaranya itu.
"Hilaf kok sampai sayang-sayangan." Abel berdecih sebal.
"Bel, kamu dengerin aku dulu ya. Aku sayang sama kamu, perasaan aku sama kamu itu nggak berubah. Aku masih tetap Naja yang dulu, yang selalu mencintai kamu. Tapi aku juga tidak bisa bohong kalau aku cinta sama Amel."
Abel memalingkan wajahnya, saat air mata itu perlahan menerobos dinding pertahanannya. Abel berusaha tidak menunjukan perasaan hancurnya terhadap kedua penghianat itu, ia tidak mau dianggap perempuan lemah.
"Oke, terus sekarang gimana? Kamu harus pilih, Ja, aku atau dia?" Abel menunjukan gadis yang masih terdiam di belakang Naja. "Karena tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang mau di duain termasuk aku. Ya kecuali perempuan itu nggak punya hati, yang rela dijadiin perempuan simpanan kekasih orang."
Naja terpaku mendengar ucapan Abel, ia tidak mungkin bisa memilih. Keduanya sama-sama berharga baginya, Abel dan Amel sama-sama memiliki tempat tersendiri di singgasana cintanya.
"Aku nggak bisa milih salah satu diantara kalian, perasaan ini sama besarnya."
Terdengar helaan napas berat dari gadis di depan Naja itu. Matanya terpejam, menghalau cairan bening yang kembali menyeruak.
"Dua tahun, Ja, bukan waktu sebentar kita menjalani hubungan ini. Susah senang sudah kita lewati berdua. Aku kurang apa sih, Ja, buat kamu? Selama ini aku selalu ngertiin kamu. Bahkan aku pernah bilang sama kamu, kalau kamu bosan kamu ngomong, Ja, jangan selingkuh seperti ini." Abel memukul dada Naja dengan kedua tangannya.
Naja bergeming, ia menerima semua pukulan itu dengan pasrah. Karena ia merasa pantas mendapatkannya. Sampai saat pukulan itu semakin melemah, Naja meraih kedua tangan Abel. Ia membawa gadis yang selalu setia mendampinginya dua tahun lebih itu ke dalam pelukannya.
"Maaf,"
Abel membiarkan dirinya di peluk Naja, ia sudah kehilangan tenaga untuk berontak. Tenaganya seakan terkuras habis. Namun tidak berapa lama, Abel menarik tubuhnya dari kungkungan Naja.
"Kita putus!"
"Nggak, Bel, aku nggak bakal ngelepasin kamu. Aku cinta sama kamu!" Naja meraih pergelangan tangan Abel dan mencengkramnya kuat.
"Aku nggak mau. Lepasin, Naja! Kamu harus terima konsekuensinya, bukannya kamu sendiri yang meminta aku untuk melakukan apapun jika kamu kembali membuat aku terluka." Bentak Abel, ia berontak berusaha melepaskan tangan Naja.
"Lu dengarkan apa yang Abel minta, kalau lu nggak bisa ngebahagiain dia setidaknya lu lepasin dia biar dia bahagia dengan jalan hidupnya yang baru." Hadi yang sedari tadi menahan amarahnya, mencengkram kuat kerah baju Naja.
"Lu emang laki-laki nggak punya hati. Lu tega mainin dia, lu bukan temen kita lagi." Alvin mendaratkan sebuah pukulan di pipi Naja.
Naja hanya pasrah menerima makian dan pukulan dari semua sahabatnya yang kini telah berubah memusuhinya. Ia membiarakan Abel pergi dari hadapannya dan juga dari hidupnya. Naja duduk bersandar pada dinding, merasakan sakit hati karena bukan hanya kehilangan pacar yang ia cintai tapi juga kehilangan tujuh sahabat sekaligus. Rasa sakit akibat pukulan mereka tak sebanding dengan sakit di hatinya.
"Kak, aku bantuin ke UKS ya. Biar lukanya nggak infeksi." Naja tersenyum tipis pada Amel, ia berdiri dengan bantuan gadis itu. Setidaknya Naja masih mempunyai Amel, gadis yang sangat ia cintai sama seperti Abel. Sama? Mungkin tidak, karena kini Naja merasa hatinya kosong setelah kepergian Abel.