Season 2 novel SANG PENGASUH
Arya, Ricky, Rendi, dan Wiliiam, adalah empat pria tampan sold out yang telah menjalani senasib sepenanggungan gagal malam pertama karena kejahilan diantara mereka. Menjalani kehidupan rumah tangga tidak selancar jalan tol. Keempatnya mengalami ujian.
Diantaranya, Arya. Kemunculan salah satu keluarga yang dikira telah meninggal, hadir mengusik ketenangan rumah tangganya.
Pun dengan Rendi. Kedatangan adiknya dari Turki dan kini tinggal bersamanya malah membuatnya was-was.
Kisah kehidupan keempatnya, author kemas dalam satu bingkai cerita.
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat/perusahaan itu hanya kebetulan semata.
Selamat menikmati kisah yang bisa membuatmu senyum-senyum sendiri.
Cover free by pxfuel
Edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Wedding of Mauren & Dino
Malam minggu.
Pesta resepsi pernikahan Mauren dan Dino digelar di Ballroom salah satu hotel di pusat kota Bandung.
Rendi sudah siap dengan setelan jas hitamnya. Sudah tiga kali dirinya melongok ke dalam kamar, namun Marisa belum selesai juga berhias.
Huft. Perempuan kalau dandan pasti lama.
Rendi menghela nafasnya. Sabar, sabar, istrinya gak bisa diburu-buru. Dia akan cemberut atau bisa membatalkan ke acara kondangannya, karena akhir-akhir ini bumil lagi sensitif.
"Ayang, make up tipis seperti itu udah cocok. Cantik natural deh istriku." Satu kecupan mendarat di pipi Marisa.
Untuk ke empat kalinya Rendi masuk ke kamar. Kali ini mendekati meja rias memperhatikan sang istri yang sedang menilik lagi penampilannya. Memberinya pujian tulus juga modus agar segera mengakhiri kegiatan dandannya. Ia sudah kesal menunggu. Padahal dari tadi pun penampilan Marisa sudah perfect, namun tetap saja penasaran untuk mengulang berkaca.
***
"Honey, bajunya di mana? Willi berteriak di ambang pintu kamar mandi usai dirinya mandi.
"Di sofa, sayang," teriak Celine yaang sedang menerima telepon dari bagian kasir cafe yang menanyakan kode harga produk beverage terbaru.
Mereka mempersiapkan OOTD kondangannya di cafe. Celine sudah siap dengan gaun moca nya, tinggal menunggu Willi memakai baju batik lengan panjang warna senada. Menunggu pria berdandan tentu tidak lama. Karena busana pria lebih ringkas dan tak perlu touch up macam-macam.
"No, honey. Heelnya ketinggian. Ganti yang lain!" Willi menggelengkan kepalanya melihat Celine memakai heel yang setinggi 10 cm.
Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungan sang istri. Dipilihkannya sepatu coklat bertumit 5 cm dari tiga sepatu yang Celine simpan di ruang kantor cafenya itu.
Willi berjongkok membantu Celine mengganti sepatunya dengan sepatu pilihannya.
"Nah, ini lebih aman. And my wife so beautiful tonight." Willi mengecup sekilas bibir dengan polsesan lipstik warna peach.
"You too. So handsome, my husband." Celine mengerling manja. Ia melingkarkan tangannya di lengan suaminya itu. Mereka melenggang keluar meninggalkan cafe melalui pintu samping. Dimana terparkir juga mobilnya di sana.
Celine sudah menitipkan cafe kepada asistennya, yang mulai ramai pengunjung berdatangan menghabiskan malam mingguan sambil menikmati iringan live music.
***
"Aa, tolong naikin resletingnya dong. Aku kesusahan." Safa mendekati Ricky yang sedang memasang dasinya. Dengan perlahan, Ricky membantu menaikan resleting belakang gaun berwarna peach dengan hiasan payet di leher.
Usai rapih dengan gaunnya, Safa membuat sentuhan make up sederhana di wajah cantiknya. Sentuhan terakhir adalah memasang jilbabnya.
"Aduh, aku sakit perut. Bentar ya, Mofa. Aku BAB dulu--" Ricky memegang perutnya yang tiba-tiba mules. Jas yang sudah dipakainya, dibukanya lagi. Termasuk celana panjangnya juga. Setengah berlari, ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Hadeu, aya-aya wae (ada-ada saja ). Tiap mau pergi meski deh mules atah pengen pipis," Safa menggerutu sendiri menatap pantulan penampilannya yang sudah rapih."
Sepuluh menit berlalu. Ricky keluar dari kamar mandi dengan wajah lega. Dengan cepat, ia memakai kembali pakaiannya. Dilihatnya sang iatri sudah siap, duduk di tepi ranjang sambil memainkan hpnya. Safa sedang berkirim pesan dengan Andina, apakah sudah berangkat atau belum.
Jawaban dari sebrang sana 'Otw'.
"Let's go, Mofa!" Ricky mengulurkan tangannya mengajak istrinya berpegangan tangan. Dengan tersenyum manis, Safa menyambut uluran tangan suaminya yang tampak gagah dan makin tampan dengan setelan jas hitamnya.
Aku gak akan memujinya langsung, cukup dalam hati. Si Aa suka narsis kalau dikasih pujian.
"Bilang aja kalau aku ini terlihat gagah dan makin tampan. Gak usah senyum-senyum gitu. Memang Aa mah sudah tampan dari lahir. No oplas." Ricky berkata dengan santainya dan penuh percaya diri. Sambil berjalan berpegangan tangan menuju pintu keluar.
"Ishh, Aa hebat kayak parabola. Bisa tau isi hati aku." Safa membelalakan matanya, memandang dengan takjub suaminya itu.
"PARANORMAL bukan parabola." Ricky memelototkan matanya dengan gigi gemerutuk. Gemas dengan jawaban konyol istrinya itu.
Dan Safa tertawa lepas tanpa beban.
***
"Kakak gak usah ikut ya, sayang. Soalnya pulangnya malam. Sama Oma dan adek aja di rumah ya. Besok aja kita jalan-jalan. Iya kan Pih?"
Andina meminta dukungan Arya untuk membujuk Athaya yang memberengut ingin ikut. Ia khawatir udara malam yang dingin berpadu gerimis, membuat si sulung sakit.
"Iya sayang. Besok kita ke car freeday bawa sepeda. Kakak mau beli ikan ****** kan? Nanti di sana ada yang jualan." Arya yang sudah rapih dengan setelan jasnya berjongkok mensejajari Athaya.
"Deal?" Arya mengangkat tangannya. Mengajak putranya melakukan tos.
Athaya menyambut. Menepukkan tangan mungilnya ke tangan Papi Arya.
"Besok beli ikan cupangnya segini--" Athaya mengangkat lima jarinya. Diperlihatkan bergilir kepada Mama dan Papi nya.
"Siap, sayang. Kaka emang anak soleh." Arya mengecup kening Athaya yang sudah luluh. Melepaskan cengkraman tangannya dari gaun cream yang dikenakan Mama Andin.
Mama Rita yang malam ini akan tidur di rumah Arya, tersenyum menyaksikan drama cucunya yang gak mau ditinggal. Mama Rita memutuskan untuk menginap di rumah Arya karena Papa Roby sedang pergi ke luar kota, ada undangan workshop pertanian selama dua hari.
"Ma, gak papa aku nitip anak-anak dulu?" Andina mendekati Mama Rita yang sedang menggendong Baby Aqila, menciuminya dengan gemas. Mama Rita kangen, sudah lima hari tidak bertemu cucunya itu karena mengikuti kegiatan sosial bersama ibu-ibu arisannya.
"Gak papa, sayang. Mama juga kangen sama cucu. Makanya Mama pengen nginap di sini. Kalian santai aja. Sampaikan salam sama Mauren ya. Maaf Mama gak bisa datang, gitu."
Andina menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian pamit dan tak lupa mencium kembali Athaya yang sudah ceria lagi setelah diiming-iming ikan ******.
.
.
Mobil Pajero hitam terparkir gagah dan kinclong. Sudah disiapkan sejak sore oleh Pak Asep sebelum sang sopir itu mudik ke Cianjur karena hari minggu libur kerja.
"Mas Arya, mau apa?" Andina mengernyit saat tubuh Arya merapat padanya.
"Aku mau pasangin sabuk, sayang. Sepertinya kamu kurang piknik ya, sampai lupa pasang sabuk." Usai memasangkan sabuk untuk Andina, tak lupa Arya mendaratkan kecupan mesra di pipi sang istri.
Anduna terkekeh dan tampak merona. "Bukan kurang piknik, Papi. Tapi MERIANG. Merindukan kasih sayang." Kalimat terakhirnya ia bisikkan dengan sensual di telinga Arya dengan lirikan mata menggoda. Tangan kanannya ikut merayap meraba dada sang suami.
"Lihat saja saat buka puasa nanti, sayang. Aku akan membuatmu klepek-klepek." Arya membalas godaan Andina dengan kedipan matanya.
Pintu gerbang dibuka dengan menggunakan remot. Karena tidak ada Kang Adang yamg menjaga, maupun Ceu Edoh, mereka mendapat jatah libur setiap minggu untuk berkumpul dengan keluarganya.
...-------...
Jangan lupa dukungannya ya, sayangnya othor.
Like - Komen - Vote
😍😍😍