10 tahun lamanya, Melody Alexandria kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, yaitu Glan Algalasta. Mereka bertemu di sekolah yang sama dan kebetulan satu kelas. Kini, benih benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Namun perjalanan cinta mereka tak selamanya mulus. ada beberapa konflik yang harus mereka hadapi
bagaimanakah kisah selanjutnya? mungkinkah mereka akan terus bersama?
simak ceritanya, terima kasih😊
insyaallah up setiap hari😊
Follow IG: @yeniaisah191
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Melody atau Resya?
"apa yang kau lakukan di sini?" tanya Resya begitu menghampiri Sosok yang ternyata Satria.
"bahagia sekali ya disana!" sindirnya dengan sudut bibir yang terangkat memperlihatkan senyum yang sinis.
"aku peringatkan padamu, berhenti menggangguku dengan mengirimkan pesanmu yang tidak berguna itu" tegasnya mengingat nomor tak dikenal itu terus mengganggunya akhir akhir ini, dan dia yakin seratus persen kalau itu nomor Satria.
"kenapa?, seharusnya kau senang , aku mengucapkan selamat pagi, selamat siang, dan selamat malam untukmu. Bukannya selama ini tidak ada yang perhatian padamu? kau cukup bodoh mengejar orang yang jelas tidak mencintaimu bahkan tidak menganggap keberadaanmu!"
"hahahaha!"
mendengar itu malah membuat Resya tertawa sampai terbahak bahak.
"benarkah?! sepertinya dunia ini kekurangan cermin ya, coba lihat siapa dirimu!" Resya mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya dan diberikan pada Satria. "apa katamu tadi? "aku cukup bodoh mengejar orang yang tidak mencintaiku?" coba lihat betapa dirimu lebih buruk dari orang bodoh, bahkan kau masih bertindak bodoh setelah menyadari kebodohanmu itu!" jelasnya lalu pergi meninggalkan Satria yang mengepalkan tangan dan mengertakan giginya.
Sepertinya wanita itu sudah berlebihan, merendahkannya seperti sampah. Dan kini, hanya ada amarah yang berkobar didalam hatinya.
"kemari kau!" Ucapnya berhasil mencengkram tangan Resya dan menyeretnya secara paksa.
"Lepaskan!" pekik gadis itu terus memberontak.
Sementara disisi lain, Melody mulai khawatir menunggu kedatangan Resya, sudah hampir setengah jam dia menunggu namun Resya masih tak kunjung datang juga.
"Alga ayo kita cari Resya!" ucapnya sambil menarik lengan baju Glan yang tengah asyik memainkan ponselnya itu.
"hem!"
"ish!" dengusnya karna dia hanya diam tak acuh.
Namun tiba tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal yang menghubungi ponsel Glan. Baru saja dia akan mematikan sambungan telpon itu Melody langsung merebut ponselnya dan mengangkatnya.
"jangan bicara apapaun! katakan dimana Resya?!" tanyanya tembak langsung, membuat Glan cukup terkejut karna sikapnya yang berlebihan itu.
"wah gadis yang pintar!" ucap suara itu terdengar seperti sedang tersenyum sinis.
"cepat katakan dimana dia?!" sentaknya.
"Cari saja sendiri, oh tapi aku akan memberi satu petunjuk untukmu, kami masih berada di daerah yang sama"
TUUT! dia langsung menutup sambungan telponnya
"cih apa apaan dia?" seru Glan terlihat kesal, namun dalam hatinya dia begitu mengkhawatirkan sahabatnya.
"nah, mari kita tunggu seberapa cepat mereka sampai disini, sementara aku bermain main dengan gadisku yang angkuh ini" seringai Satria sambil membelai penuh hasrat wajah Resya. Tangan dan kakinya diikat disebuah kursi plastik berwarna putih kumuh.
"Dasar Pria brengsek! cepat lepaskan aku dari sini, kalau tidak aku akan-"
"akan apa? hah?" Satria menyela ucapan Resya yang langsung terdiam itu.
"aku akan berteriak!"
"silahkan" ucapnya santai. Karna sekencang apapun Dia berteriak, tak akan ada orang yang mendengarnya karna ruangan ini bekas Studio rekaman. jadi kedap suara.
Resya terdiam melihat reaksi Satria yang nampak begitu tenang, dia kembali mengurungkan niatnya dan pada akhirnya menangis pasrah.
"kumohon!" pintanya kali ini dengan suara Merendah "maafkan aku karna sudah membuatmu tersinggung, aku hanya merasa risih kau terus menggangguku, aku sungguh tidak mencintaimu, kumohon lepaskan aku!"
"sudah terlambat!"
SREK!
"akh!" ringisnya saat Satria merobek baju gadis itu. "apa? apa yang akan kau lakukan?" tanyanya terbata bata.
"bagaimana kalau aku memulainya dari sini!" Satria kembali menyusuri wajah cantik itu merambat ke leher jenjangnya, lalu tangannya berhenti saat tiba dibalik Bra hitam yang dipakainya.
"jangan, kumohon jangan sentuh aku!!" teriaknya berusaha memberontak. Namun itu sia sia saja dan hanya menguras tenaganya.
"BERHENTI!!" teriak Melody saat Satria bersiap meremas dua buah dada milik Resya.
"kau berbuat hina pada orang yang salah" ucapnya lalu berjalan menghampirinya dan...
PLAK!
Satu tamparan keras melayang tepat dipipi pria itu.
"wah, berani sekali!"
SRET!
dengan secepat kilat Satria memutar tubuh Melody dan melingkarkan sebelah tangannya dileher gadis itu dengan kuat, lalu dia menyodongkan sebuah pisau dapur dilehernya.
"Melody?!" teriak Glan yang baru saja tiba berniat langsung menghajar Satria.
"berhenti disitu atau aku akan membunuh kedua sahabatmu ini!"
Tap!
Glan tak bisa berkutik dan langsung menghentikan langkahnya.
"apa yang kau mau?" tanyanya agar masalah ini cepat selesai.
"Resya atau Gadis ini?" ucapnya malah memberi pilihan rumit.
Hening!
Glan masih terdiam dengan segala pertimbangannya. Otaknya benar benar tak bisa berfikir jerni dalam keadaan panik seperti itu.
Namun berbeda dengan Melody yang berusaha bersikap tenang, dia bisa merasakan tusukan ujung pisau dilehernya itu mulai terasa sakit.
"tunggu dulu, aku hanya ingin tahu kenapa kau menculik Resya? siapa kau sebenarnya? " tanya Melody dengan nafas yang tersengal sengal karna tekanan pisau itu.
"bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
Melody memutar bola matanya malas. Tak ada pilihan lain, jiwa kucing liarnya mulai memberontak. Dia menggigit tangan Satria dengan giginya yang cukup tajam, lalu menghantamkan kepalanya kebelakang tepat mengenai wajah pria itu, Setelah itu ia injak kakkinya dan jurus terakhir adalah.
BUKH!
menendang area intimnya sampai pria itu berkali kali mengerang kesakitan dan memegangi juniornya.
Jika tidak dalam keadaan genting, melihat cara Melody melakukan hal itu membuat keduanya ingin sekali tertawa dan mengolok olok gadis musim semi itu.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Sisanya Glan yang menghabisi pria itu sampai pingsan. Memang terdengar pecundang, tapi ini sangatlah seru.
"Resya?!" serunya langsung saja melepas tali yang mengikat kaki dan tangannya, sementara Glan langsung membuka jaketnya dan memakaikannya pada Resya untuk menutupi bajunya yang robek.
Glan langsung membopongnya dan membawanya ke mobil.
"apa kau baik baik saja?" tanya Glan saat mereka dalam perjalanan pulang
"hemm, aku takut" ucapnya dengan suara yang bergetar.
"aku bersamamu!" Glan mengelus rambut Resya berusaha menenangkannya.
......................
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
HALLO😅 MAKIN KESINI MAKIN KE SANA AJA YA😅 JANGAN LUPA SARAN DAN KRITIK YANG MEMBANGUN YA😓 BIAR AUTHORNYA SEMANGAT,
Makasih banyak buat kalian yang mampir ke novelku , 😚😍