Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 21 (Air Mata Papa)
Sialan! Apa ada yang menjebak gue ya? Tapi siapa? Modusnya apa? Pertanyaan-pertanyaan itu sangat membuatku pusing.
Semua pertanyaan tadi gak bisa gue jawab, terlalu membingungkan buat gue. Hati menggerutu.
Gue turun dari atas ranjang, melangkahkan kaki ke luar dari pintu kamar. Satu per satu anak tangga gue tapaki. Hati gue kini bimbang dengan apa yang mesti gue perbuat saat ini.
Gue keluar dari pintu rumah, memutuskan untuk datang ke rumah Yumna.
"Mau ke mana lagi, Dek?" tanya bang Aril.
Gue menggaruk-garuk kepala, berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan bang Aril.
"Gue, mau ...." Terpotong karena bingung mau berasan apa.
"Ke mana?"
"Mau ke bengkel, Bang. Ada yang ketinggalan."
"Gak boleh dek! besok lagi. Entar, kalau papa bali. Abang harus ngomong apa? inikan udah malem juga," ucap bang Aril.
Setelah gue pikir-pikir, ada benernya juga omongan si abang. Kalau gue paksain juga, belum tentu Yumna mau nemuin gue. Besok pagi ajalah gue ke sekolahan Yumna. Akhirnya gue balik kamar dengan langkah kaki yang gontai.
***
"Na," Gue udah nungguin di gerbang sekolah.
Yumna memasang muka cemberut.
"Mau ngapain? pagi-pagi udah ada di sekolahan? Mau ikut belajar?" tanya Yumna jutek.
"Iya, mau belajar ngertiin pikiranmu, Na."
"Udah deh, enggak usah gombalin Aku!"
"Siapa yang gombal? Kan Kakak udah bilang, Kamu salah paham, Na."
Teng ... Teng ... Teng ....
Bell sekolah sudah berbunyi. Semua murid yang masih berada di luar kelas, semuanya berlarian masuk kelas masing-masing. Begitupun dengan Yumna. Dia ngeloyor tanpa pamit dan memasuki kelasnya. Mungkin dia masih marah? Entahlah.
Dengan langkah kaki yang gontai, gue menuju motor yang terparkir sembarang di samping pintu gerbang sekolah.
Lebih baik gue kasih waktu untuk Yumna. Dia terlihat masih marah. Ucap dalam hati.
.
Hingga akhirnya, sekitar jam dua siang gue chat WA. Berharap Yumna mau membalas, sukur-sukur kalau dia mau memaafkan gue atas kesalah pahaman diantara kami.
'Na.' Gue send via WA
Read.
'Kakak mau menjeskan foto yang kemarin.'
Read.
'Kemarin, Kakak menolong Hanna, karena dia mau keserempet motor.'
Read.
'Kemarin Hanna cuma berbisik sama Kakak, sakit enggak? Karena kemarin ada luka di tangan Kakak.'
Read.
'Ya udah kalau enggak mau bales. Kakak nungguin kamu sampai kamu mau ngomongnya kapan?'
Read.
Ya Allah, dari tadi WA gue cuma dibaca doang. Kalau udah gini, pasrahlah. Ucap gue dalam hati.
Namun, jauh di sebrang jalan sana. Tepatnya di sekolahan, Yumna tengah sibuk menggerutu kek nya.
Satu hari.
Enggak ada WA dari Yumna.
Dua hari.
Belum ada juga WA dari Yumna.
Tiga hari.
Ayey! Dia mendatangi bengkel gue, dengan bibir yang masih cemberut. Ada kemajuan sih dia udah mau datang. Berarti mau ngomong sama gue, ucap dalam hati.
"Oppa!" Yumna menghampiri dengan bibir yang masih manyun.
"Apa?" Gue sok sibuk mencatat stock barang yang kosong di bengkel.
"Kok Oppa enggak nemuin Aku sih, beberapa hari ini?" Bibirnya makin manyun.
"Loh, Kakak udah WA aja enggak dibales. Gimana mau ketemu?" ucap gue sambil sok-sokan nulis.
"Oppa nih, enggak ada usahanya! Bukannya rayu kek! Bujuk kek biar Aku mau maafin Oppa. Jadi orang gak peka banget sih sama perasaan cewek!" Yumna masih ngomel.
"Emang sekarang belum maafin Kakak?" ucap gue menggoda.
"Belum."
"Oh."
"Oppa! Tahu enggak sih selama 2 hari kemarin aku rindu sama Oppa?"
Ayey! Akhirnya Yumna yang bilang rindu sama gue, rasanya ingin meluk tapi jaim dikitlah biar dia bisa belajar mendengarkan omongan atau alasan orang.
Gue masih pura-pura mencatat.
"Oppa enggak kangen gitu sama Aku?"
Gue menghampiri.
Mendekatinya, menatap kedua matanya hingga mata kami saling memandang. Gue melihat kerinduan dari sorot matanya. Akhirnya Yumna yang memeluk gue. Membenamkan wajahnya tepat di dada ini.
"Aku sayang kamu, Oppa." Yumna menangis di pelukan gue.
Gue mengusap rambutnya yang dikuncir itu dengan lembut. Memberikan waktu untuk dia menumpahkan kerinduan, yang sebenarnya hal itu sama dengan apa yang gue rasa sejak kesalah pahaman kemarin.
Rindu akan tawanya, rindu akan cerewetnya, rindu akan hadirnya. Gue merasakan pelukan yang semakin erat dari Yumna.
"Uhuk .... " Gue terbatuk.
"Kenapa Oppa?" Yumna bergegas melepaskan pelukannya.
"Sesek Na, Kamu meluknya makin kenceng." Gue beralasan.
Karena sedari tadi Ferdy memperhatikan sambil terkekeh geli melihat Yumna yang terus menempel ke gue.
Ternyata, dalam dua hari kami tidak berjumpa telah memperlihatkan akan bagaimana rindunya perasaan kami. Sama-sama saling rindu, cuma mungkin karena ego Yumna yang merasa bahwa dirinya yang paling benar.
Wajar sih, karena Yumna memang masih muda mungkin masih labil emosinya. Terlalu gampang terpengaruh.
***
Yumna bercerita ke gue tentang foto yang ia peroleh itu. Hanna merupakan saingan di kelasnya dalam masalah pelajaran, mungkin dengan kesalah pahaman antara gue sama Yumna, akan mendapatkan keuntungan bagi dia untuk bisa mengganggu pikirannya Yumna agar Yumna tidak konsen pada pelajaran sekolah. Kalau dipikir-pikir, Hanna itu sudah mirip bintang sinetron yang hidupnya kebanyakan drama.
Allhamdulillah, kini hubungan kami sudah membaik. Sekian lama Yumna pacaran dengan gue membawa dampak yang baik, Yumna semakin dewasa dalam menyikapi masalah dan lebih mandiri.
Di bengkel pun sudah memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Sehingga gue kini mempunyai ruko dua lantai yang lebih layak dan nyaman untuk ditinggali.
Bengkel gue kini menjadi bengkel terlengkap di daerah setempat. Hingga saat ini, belum ada keluarga gue yang tahu tentang hal ini. Hingga akhirnya nama bengkel gue terdengar sampai ke telinga papa.
KREKKKK!
Seperti biasanya, pintu gerbang gue buka dan memarkirakan motor dalam garasi. Membuka pintu rumah dan ngeloyor masuk kamar. Karena, biasanya penghuni rumah sudah tertidur lelap. Gue menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar. Gue buka handle pintu kamar seraya ingin cepat-cepat istirahat karena terlalu sibuk dan mata yang sudah lengket karena ngantuk.
"Dareen," suara papa memanggil.
Gue menoleh dengan ekspresi datar, karena biasanya papa pasti akan marah. Tapi kali ini gue salah. Papa memeluk gue erat, seraya meminta maaf kepada gue.
"Papa minta maaf, Nak." Papa memeluk dan menepuk pundak gue.
"Papa bangga sama Kamu. Bang Aril sudah menceritakan semuanya," ujar papa.
"Cerita apa, Pa?"
"Kalau sedari Kamu kuliah, Kamu sudah bekerja sebagai montir. Papa malu dengan ucapan Papa yang dulu telah meremehkanmu, Dareen."
Gue sejenak terdiam sekaligus bertanya dalam hati. Memang Bang Aril cerita apa? Baru kalik ini gue mendapatkan pelukan dari papa. Pelukan hangat dari laki-laki yang menaruh rasa bangga terhadap anak yang dulu ia sepelekan.
Air mata papa malam ini merupakan air mata kebahagiaan. Ia membanggakan gue hingga menitikan air mata. Entah rasa bangganya terhadap gue seperti apa? yang jelas malam ini gue mendapatkan kasih sayang tulus dari papa. Kali pertama gue mendengar kata maaf, dari mulut papa.
Di sini gue baru sadar, mungkin selama ini gue merupakan anak yang paling susah diatur, sehingga prinsip papa sama gue itu sangat berbeda.
Mungkin juga dengan cara itu, papa mendidik gue agar lebih bisa bertanggung jawab. Papa merelakan dirinya untuk menjadi sosok yang gue benci. Namun, pada akhirnya gue bisa membuktikan kalau gue juga bisa mandiri.
Entahlah.
Yang jelas, malam ini gue bahagia bisa dipeluk papa. Walau papa belum mengetahui semua kebenarannya. Papa mungkin baru tahu separuh dari kisah kesuksesan gue.
Entahlah, gue belum klarifikasi sama bang Aril.
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪