NovelToon NovelToon
Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Mafia
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: nenah adja

Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.

Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.

"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Mimpi

Dominic tiba di gedung 5 lantai dimana Ella tinggal selama ini. Alisnya tak bisa tak terangkat saat melihat bangunan kumuh tersebut.

"Dia sungguh tinggal disini?" tanyanya pada Bobby yang duduk di kursi kemudi.

"Ya, Tuan."

Dominic melihat lagi ke atas. "Di lantai berapa dia tinggal?"

"Lantai empat, kamar nomor 06, Tuan."

Dominic membuka pintu. Saat kakinya baru akan turun suara Bobby kembali terdengar. "Anda akan kesana? Bagaimana kalau aku saja yang—" ucapan Bobby terhenti saat Dominic mengernyit.

"Apa maksudmu?"

Bobby menunduk. "Maaf, Tuan. Aku rasa anda tak perlu mengotori tangan anda untuk membunuhnya. Biar aku saja—"

"Siapa yang bilang kalau aku akan membunuhnya?" potong Dominic dengan tajam.

"Hah?"

"Sudah kubilang dia masih berguna."

Bobby menunduk. "Maaf, Tuan. Aku sudah lancang."

Dominic melanjutkan niatnya untuk segera masuk ke kamar kos Ella.

Dominic menaiki tangga demi tangga hingga dia tiba di lantai dua. Matanya mendongak menatap dua lantai lagi yang harus dia lewati demi mencapai lantai empat tempat tinggal Ella.

"Sialan, merepotkan!" dengusnya kesal. Kamar kos ini sudah seperti rusun namun lebih kecil, dalam satu lantai ada sepuluh pintu yang berhadapan, yang Dominic yakin luasnya bahkan tak sebesar kamar mandi di rumahnya.

Apa yang membuat Ella lebih memilih tinggal disana di banding rumahnya yang jelas sudah dia sediakan kamar yang lumayan luas bahkan memiliki mini market sendiri untuk semua camilan. Tapi, gadis itu memilih kabur, dan tinggal di tempat sempit dan lusuh.

Tiba di lantai empat Dominic menatap pintu kamar yang bertuliskan 06 di depannya. Hingga tangannya terangkat dan menekan handle pintu, namun terkunci.

Dominic mengetuk pintu, namun tak ada tanda- tanda pintu akan terbuka.

Dominic menghela nafasnya, bukan hal sulit untuk membuka pintu yang terkunci apalagi pintu yang sederhana yang tak memiliki keamanan ganda. Melepas jepitan dasi yang terselip di saku jasnya Dominic dengan mudah membuka pintu tanpa keributan.

Saat pintu terbuka pelan Dominic langsung bisa melihat Ella yang terbaring terlentang di atas ranjang kecilnya.

Benar saja kamar itu bahkan sangat sempit membuat Dominic bisa menemukan Ella dengan mudah. Pintu yang terbuka langsung berhadapan dengan dapur, lalu ranjang kecil tanpa ruang tamu atau semacamnya, lalu ada satu pintu yang Dominic rasa itu kamar mandi.

Benar- benar pengap dan tak nyaman.

Namun Dominic tak peduli, fokusnya kini hanya tertuju pada Ella yang berbaring dengan posisi terlentang bahkan kaki yang menjuntai di lantai juga kepala yang masih terbungkus handuk.

Dominic melangkah mendekat dan mencondongkan tubuhnya. "Kau tidur, atau mati, huh?" Bahkan saat Dominic mengetuk pintu gadis itu bergeming.

Saat mendekatkan wajahnya Dominic bahkan bisa mendengar dengkuran halus dari mulut Ella. Namun saat ini dia justru di buat menelan ludah kasar saat melihat bibir tipis Ella yang sedikit terbuka.

Dominic mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Ella, saat merasa tak ada pergerakan penolakan Dominic semakin berani dengan melumat bibir Ella dalam.

Bukan terganggu lalu terbangun, Ella justru mengerang dalam tidurnya membuat Dominic semakin menggila.

...

Dominic keluar dari gedung kos Ella. Wajahnya nampak lebih berseri dari sebelumnya, dan yang membuat Bobby mengerutkan keningnya, pria itu keluar tanpa membawa Ella.

Bukankah dia bilang Ella masih berguna? Kenapa tidak kembali membawanya dan menahannya di rumah.

Saat Dominic memasuki mobil Bobby semakin mengerutkan keningnya. Wajah Tuannya itu menampakan kepuasan yang tak seperti biasanya dia lihat ketika mereka menang melawan klan lain. Tapi lebih seperti ...

"Kita pergi sekarang, Tuan?" tanya Bobby. Dia tak boleh memikirkan yang tak seharusnya tentang majikannya ini.

"Tunggu beberapa saat." Mata Dominic terus terarah pada jendela kamar di lantai empat dimana kamar Ella berada.

"Menurutmu, apa orang tidur bisa lupa segalanya?"

Bobby kembali mengerutkan keningnya. "Maksud anda, Tuan?"

"Tidak, aku hanya heran pada orang tidur, tapi seperti mati." Dominic hanya merasa aneh, saat dia terus melakukan sesuatu pada Ella, gadis itu hanya terus mendesah. Seolah dia sadar dia bahkan memanggil namanya.

"Mungkin antara benar-benar tak sadar atau mungkin pura-pura tak sadar?" jawab Bobby tak yakin.

"Mungkin orang itu kelelahan hingga tak menyadari apapun, dan benar-benar nyenyak? Atau dia pura-pura tak sadar?"

Dominic mengusap dagunya. "Pura- pura tak sadar?" Dominic menyeringai. Jadi Ella pura-pura seolah dia sedang tertidur, padahal dia sudah bangun dan menikmati cumbuannya?

Kalau begitu kenapa barusan dia langsung pergi? Bukankah harusnya dia menunggu dan memergoki wajah malu Ella saat dia bangun nanti.

Beberapa lama mereka menunggu disana, dengan mata Dominic yang masih menatap ke arah kamar Ella, hingga terlihat jendela kamar gadis itu terbuka, barulah suara Dominic terdengar.

"Jalan!" Saat berjalan lurus, Dominic bisa melihat Ella dengan kaca matanya, dan menatap ke luar jendela, dan dia menyeringai tipis mengingat apa yang dia lakukan pada

...

Mobil yang di tumpangi Dominic memasuki pelataran rumah besarnya, dengan dua mobil lain yang berisi pengawal yang siaga untuk melindunginya, dan ikut kemanapun Dominic pergi.

Dominic baru saja turun dari mobil saat melihat kepala pelayan berjalan cepat ke arahnya. "Tuan, tuan besar ada di dalam. beliau menunggumu sejak semalam."

Dominic menghela nafasnya lalu melangkah masuk. Benar saja, saat ini dia melihat pria tua itu duduk dengan koran dan cerutu di ampitan bibirnya.

Wajahnya keriput, namun ketegasan masih nampak di wajahnya, menunjukkan jika masa mudanya pernah berjaya dan si segani.

"Kakek datang?"

"Kalau tidak, aku akan mati sebelum kamu datang berkunjung." Asap mengepul dari hidung dan mulutnya, tatapannya tertuju pada Dominic yang mendudukkan dirinya di kursi di depannya. "Dan kalau aku tak datang, aku tak akan tahu jika kau selalu membunuh wanita yang sudah kau tiduri."

Dominic menatap pada kepala pelayan yang menunduk, dan tak perlu di ragukan lagi siapa yang memberitahu kakeknya tentang ini.

Mereka memang tak tahu jika Dominic memiliki masalah dengan kejantanannya, bahkan saat dia harus membunuh para wanita itu. Dominic selalu bisa menutupi, dan berdalih jika dia membunuh mereka setelah percintaan berakhir.

"Tapi itu bagus juga. Aku juga tak mau keturunanku lahir dari wanita murahan." Ferdinand Stralerr meletakkan sebuah foto di depan Dominic. "Veronica Hansel. Dia putri Robert Hansel ketua klan Tiger."

Dominic menghela nafasnya pelan. Dia bahkan tak mau melihat wajah di dalam foto.

"Tidak masalah kau bermain dengan siapapun, tapi status istrimu tak boleh jatuh pada wanita murahan."

"Jadi, kakek ingin aku seperti Papa yang menikah tanpa cinta lalu berakhir mati bunuh diri?" Ucapan itu terdengar rendah dan pelan, namun Ferdinand tahu jika itu bukan hanya sebuah bualan.

"Kau!"

"Jangan buat aku membencimu, kakek. Aku bisa melakukan apapun, bahkan memberimu keturunan, tapi tidak untuk menikah dengan pilihanmu."

"Dominic!" Suara Ferdinand meninggi, namun Dominic tetap tak peduli.

"Aku akan istirahat. Bobby akan mengantarmu." Setelah itu Dominic beranjak dan pergi ka arah tangga tak peduli Ferdinand berteriak marah.

1
Saadah Rangkuti
memang LICIKKK..kau Dominik
Ne Ajja
lagi praktek itu, La...
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
Ne Ajja
hemmm....
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
S
lama banget thor up nya, udang greget deh gue nungguin 🥴
Agus Tina
ceritanya bqgus, kain dr yg lain ... ayo pembaca kemana aja kalian. rekomend ini loh
Ne Ajja
ati2 Dom...
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
Saadah Rangkuti
akal bulus si tuan Dom imah,, biar ella kembali 😃
Ne Ajja
masuk perangkap, Dom nih
nenah adja: siap2 jadi tawanan gak tuh🤣
total 1 replies
Saadah Rangkuti
jangaaaaannn...🤣🤣🤣
Agus Tina
Yaa kalau pindah sedih deh ... tapi tetep semangat ya thor. Ceritamu bagus2 kok ...
nenah adja: tengkyu kk,😍
total 1 replies
Niar Humairah
info ya thorr kalo pindah ke ffff
nenah adja: kalau cerita ini sudah terhapus berarti sudah pindah🤣
total 1 replies
Aryati Ningsih
disini aja thor
Ne Ajja
nama pena nya apa Ka?
nenah adja: 🤣🤣🤣 bisa jadi
total 3 replies
Indah Lestari
yaaah...sedih deh,,,
bakal kangen dunks kak ....
Riri DH
jangan di drop dong Thor..
Niar Humairah
kereeen
Ne Ajja
berani juga, Dom...
Saadah Rangkuti
ternyata itu nyata ya say,,sampai basah lagi 😁😁
Ne Ajja
ayo Ella, kerja yg rajin ya...

aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..
nenah adja: aamiin🤲 tengkyu ya🤧😍
total 1 replies
Niar Humairah
hahaaa🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!