NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zaburawa si negeri air

​Perjalanan.

​Sebuah proses yang terkadang kita nikmati dengan senyuman, atau terkadang, kita seret langkah kaki ini untuk menjalaninya dengan rasa enggan. Namun, terlepas dari bagaimana cara kita melangkah, "perjalanan" selalu menyisakan arti bagi tujuan yang hendak dicapai di ujung jalan.

​12 Februari, Pagi Hari.

Kerajaan Zaburawa.

​"Tuan Saine, tolong Anda pikirkan baik-baik!" seorang prajurit memohon, nadanya meninggi ditampar kepanikan yang kentara.

​"Aku tahu apa yang terbaik untuk tanah ini," jawab seorang pria dengan pakaian khas bangsawan. Suaranya dingin, tak menerima bantahan.

​Tepat setelah kalimat itu terucap, sebuah gemuruh hebat mendengung dari arah depan tembok pertahanan tepi laut.

​SWOSSHHH!!

​Membelah ombak besar, sesosok monster raksasa sewujud predator laut dengan tubuh panjang bersisik legam meloncat ke permukaan. Monster itu mengamuk brutal, menghantamkan moncong dan ekornya berkali-kali ke sisi depan tembok batu yang berbatasan langsung dengan lautan bebas.

​Tembok itu bukan sembarang pembatas. Bangunan itu adalah "Tembok Suci" yang sudah berdiri kokoh sejak awal Kerajaan Zaburawa dipahat di muka bumi. Sebagai negeri yang dijuluki Kerajaan Air, seluruh denyut nadi Zaburawa bergantung pada aliran air laut yang disaring dan disalurkan langsung oleh gerbang-gerbang di Tembok Suci tersebut. Mulai dari konsumsi harian rakyat hingga roda penggerak kerajaan, semuanya berhulu di sana.

​DUAK! DUAK!

​Monster itu terus menyeruduk tanpa ampun. Retakan-retakan rambut mulai menjalar di permukaan batu kuno Tembok Suci.

​"TEKAN PEMICUNYAAAA!!" teriak sang prajurit, mengeksekusi perintah dari sang bangsawan yang memimpin pertahanan sektor tersebut.

​DUARRRRRRM!!!

​Ledakan masif mengguncang cakrawala. Daya hancurnya begitu mengerikan hingga sanggup mematangkan daging monster laut itu dari dalam dalam hitungan detik. Si predator air mati seketika, tubuhnya mengambang kaku. Namun, harga yang harus dibayar tidaklah murah. Tembok Suci yang diagung-agungkan bagai tuhan oleh masyarakat Zaburawa ikut menghitam dan somplak akibat radius ledakan.

​Saine Praide sang pemimpin, sekaligus penanggung jawab Tembok Suci saat ini melangkah gontai kembali ke ruang kerjanya.

​Ia mengempaskan tubuhnya ke kursi empuk, lalu mengambil sebuah buku tebal dari meja untuk ditaruh di atas mukanya, menutupi silau cahaya matahari. Ia bersandar, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kelelahan.

​"Huffft....."

​Saine mengeluh berat. Tubuhnya lemas bagai tak bertulang, dan otaknya mendadak buntu. Ia tidak bisa memikirkan apa pun saat ini selain bayangan wajah-wajah keriput para pengurus negara di istana utama yang sebentar lagi pasti akan menceramahinya habis-habisan.

​Semenjak insiden berdarah tanggal 7 Februari, hari di mana langit pecah dan konsep sihir pertama kali tumpah ke dunia. Kerajaan Zaburawa telah hancur lebur. Kota yang dulu membentang megah kini terkikis rakus, menyisakan seperempat wilayah saja. Yang tersisa sekarang hanyalah satu istana utama, Tembok Suci yang membentengi mereka, tiga gedung kenegaraan, dan segelintir klaster rumah warga yang berdesakan.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Saine.

​Saine menurunkan buku dari wajahnya, meletakkannya kembali ke atas meja dengan malas. "Masuk."

​Pintu terbuka, menampilkan sosok asisten pribadinya, Yonda Minein.

​"Tuan Saine, Anda dipanggil menghadap ke istana utama. Mereka mengharapkan kehadiran Anda secepatnya."

​Saine mendengus hambar.

"Sudah kuduga."

​Ia bangkit dari kursi, jemarinya bergerak merapikan rambut panjangnya yang berwarna biru tua, lalu meneguk tandas sisa kopi dingin yang ada di mejanya.

​Saine berjalan kaki menuju istana utama. Jalur yang ia lewati membentang di sepanjang koridor Tembok Suci yang membatasi daratan dan lautan. Dari balik celah pembatas, Saine memandangi bentangan laut biru muda yang luas. Pemandangan yang sebenarnya sangat indah, setidaknya jika matanya tidak menangkap satu bangkai monster raksasa yang baru saja ia ledakkan tadi, serta ratusan bangkai monster kecil seukuran ikan salmon yang mengapung membusuk di dekat dermaga.

​"Tuan Saine! Anda mau ke mana? Apa Anda mau kue?"

​Langkah Saine terhenti. Seorang nenek yang sedang telaten menyiram tanaman bunga di halaman rumahnya melambaikan tangan dengan senyum ramah.

​Saine menatap nenek itu. "Dasar nenek-nenek. Kondisi dunia sudah seperti kiamat begini, tapi Anda masih sempat-sempatnya mengurusi bunga yang mungkin saja akan layu besok pagi."

​Nenek itu tertawa renyah, kerutan di matanya menyipit hangat. "Hahaha, saya mengurus bunga-bunga ini bukan karena saya sok peduli lingkungan atau buta dengan kondisi luar, Tuan. Tapi, saat awal dulu saya memutuskan menanam bunga ini di pot halaman rumah saya, maka sejak detik itu juga saya punya tanggung jawab atas kehidupan mereka."

​Saine tertegun sejenak. Kalimat sederhana itu entah kenapa menancap agak dalam di kepalanya.

​"......Kau benar, Nek," gumam Saine lirih. "Yasudah, aku harus lanjut jalan ke istana utama. Orang-orang tua membosankan itu memanggilku lagi."

​Saine kembali melangkah, meninggalkan nenek tersebut yang kembali sibuk menata kelopak-kelopak bunga warna-warni yang tumbuh subur di tengah reruntuhan dunia.

​Begitu Saine tiba di depan pintu ruang panggilan istana utama, alisnya langsung bertaut rapat. Ini adalah kantor atasannya. Sosok yang menempatkannya di pos basah Tembok Suci.

​Saine mendorong pintu dan langsung disuguhi pemandangan yang membuat perutnya mual. Ruangan rapat darurat itu sudah dipenuhi oleh bapak-bapak pejabat berumur 50-an tahun dengan cerutu dan rokok yang tak pernah lepas dari mulut mereka, mengepulkan asap kelabu yang menyesakkan dada.

​"Duduklah, Saine."

​"Huufft, iya, iya," Saine menarik kursi besi dengan kasar, duduk di antara para pengurus negara penting tersebut. Tata letak meja di ruangan ini sudah dirombak total menjadi kubus rapat darurat.

​Saine mengedarkan pandangan sinisnya ke sekeliling ruangan yang dekorasinya mendadak berubah pasca-insiden. Hmm, ruangan ini sekarang jadi punya selera kepemilikan yang jauh lebih buruk daripada sebelumnya, batin Saine mencemooh.

​Belum sempat Saine memperbaiki posisi duduknya, salah seorang petinggi di ujung meja menggebrak permukaan kayu dengan keras.

​BRAKKKK!!

​"APA KAMU MENGERTI APA YANG BARU SAJA KAMU LAKUKAN, SAINE?!"

​Saine menatap pria tua itu tanpa kedipan. "Iya, Pak. Saya baru saja meledakkan monster yang berniat menghancurkan sisa kerajaan ini. Terima kasih kembali."

​"APA MAKSUDMU TERIMA KASIH KEMBALI?!" bentak pejabat lain, urat lehernya menegang kemerahan. "Apa otakmu sudah rusak sampai harus menggunakan cara sekotor itu?!"

​Saine menghela napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pak, pertama, tolong tenangkan kepala Anda yang mulai botak itu. Kedua, apakah menurut Anda ada cara lain selain menggunakan peledak untuk membunuh benda sebesar itu? Jika ada, tolong beri tahu saya sekarang. Karena dari apa yang saya ingat saat TERJUN LANGSUNG ke pertempuran mempertahankan perbatasan tempo hari, tombak dan meriam mainan kalian tidak memberi dampak apa pun pada kulit monster-monster itu!"

​Seluruh ruangan mendadak hening sedingin es. Kata "terjun langsung" telak membungkam mulut mereka. Tentu saja, dari semua orang berdasi yang duduk nyaman di ruangan itu, hanya Saine seorang yang mengangkat senjata di garis depan.

​Seorang atasan senior berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. "Kami mengkritik metodemu, Saine. Jika kau ingin menggunakan peledak, setidaknya pastikan Tembok Suci tidak menerima dampak kerusakannya! Kau harus tahu, jika warga sampai mendengar berita bahwa Tembok Suci cacat karena ulahmu, kau bisa dieksekusi di hadapan publik untuk meredam amarah mereka!"

​Sabar Saine habis. Amarahnya yang tertahan sejak pagi akhirnya meledak. Ia berdiri menyentak kursinya hingga berdecit nyaring.

​"Metodeku adalah yang terbaik! Kalau kalian keberatan, silakan urus sendiri perbatasan laut besok pagi!" bentak Saine, membuat para bangsawan itu terperangah.

​Tanpa memedulikan etika, Saine berbalik, melangkah lebar, dan membanting pintu ruang rapat hingga bergetar hebat. Ia berjalan cepat di lorong istana sambil bergumam sarkas. "Heh, bangsawan-bangasawan ahli hisap rokok itu... mana pernah tahu rasanya mencium bau kengerian di perbatasan laut saat itu!"

​Sayangnya, itu adalah gumaman terakhir Saine yang bebas di udara. Karena beberapa jam kemudian, langkah kakinya berakhir di sel tahanan bawah tanah tepi laut.

​"Saine, kau harus mengerti seberapa 'suci' nya tembok yang sedikit kau rusak itu bagi mentalitas masyarakat di sini," ucap sang atasan dari balik jeruji besi sel. Pria tua itu menggelengkan kepala, lalu berbalik pergi meninggalkan koridor bawah tanah dengan dikawal ketat oleh sipir penjara.

​Saine hanya diam, pikirannya mendadak kosong melompong. Ia merebahkan diri di lantai, memandangi dinding sel yang terbuat dari kaca tebal tahan air yang tembus pandang. Kaca itu menampilkan bentangan pemandangan bawah laut yang eksotis dan indah. Penjara bawah tanah ini memang didesain khusus untuk para bangsawan yang melakukan pelanggaran, jadi fasilitas dan pemandangannya dibuat sedikit mewah layaknya akuarium raksasa.

​"Huufftt, yasudahlah. Nanti kalau ada serangan monster selanjutnya, mereka juga pasti memohon-mohon dan memanggilku lagi..." Saine bergumam, mencoba menenangkan diri.

​"Serangan..."

"Dari laut..."

​Saine membeku. Matanya mendadak membelalak lebar. Kesadarannya ditarik paksa oleh sebuah realitas yang mengerikan.

​Ia merangkak cepat, menempelkan wajah dan kedua telapak tangannya ke kaca tembus pandang tersebut, menatap liar ke luar air. Di detik itu, akal sehatnya berputar cepat.

​Jika ada serangan monster laut berikutnya yang berhasil menjebol pertahanan luar, maka titik terdepan yang akan hancur dan menjadi santapan pertama monster-monster itu adalah... sel penjara bawah tanah ini. Tempat di mana ia dikurung saat ini.

​Saine panik setengah mati. Ia mulai menggedor-gedor jeruji besi dan berteriak histeris.

"WOI! PINDAHKAN AKU! PINDAHKAN AKU KE SEL RAKYAT BIASA DI ATAS TANAH! WOI!!"

​Namun, para sipir yang berjaga di atas tangga hanya menoleh sekilas. Mereka saling berpandangan, lalu membuat gestur tangan mengejek, menganggap Saine hanya bangsawan manja yang frustrasi karena dikurung.

​Saine terus berteriak, menggedor, dan memaki tanpa henti. Satu jam berlalu hingga seluruh energinya terkuras habis. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Ia terduduk lemas di lantai sel. Kali ini, ia berhenti berteriak meminta dipindahkan, melainkan berteriak parau meminta seteguk air minum.

​Seorang sipir berjalan menuruni tangga, mengetuk jeruji sel Saine dengan tongkat pemukulnya. "Tenanglah, Tuan Saine. Anda adalah satu-satunya tahanan di sini saat ini, jadi jangan membuat kebisingan. Sebagai hukuman karena telah merusak simbol suci kerajaan, Anda diwajibkan mendekam di sel bawah laut ini setidaknya selama satu minggu penuh."

​Satu minggu sebenarnya adalah waktu yang sangat singkat untuk ukuran merusak fasilitas negara. Bahkan, di Zaburawa, menghina nama "Tembok Suci" saja bisa membuat lidah seseorang dipotong.

​Saine mendengus, bersandar pada pilar ranjangnya. Ia bergumam pelan, "Masyarakat kerajaan ini benar-benar punya ideologi yang aneh. Kenapa pula mereka menyembah bangunan batu? Gila. Aku sudah merasa tempat ini aneh sejak aku masih kecil."

​"Iya, iya, terserah kau saja. Aku akan diam... pergi sana," usir Saine pada si sipir.

​Saine melemparkan tubuhnya ke atas kasur busa sel, melipat kedua tangannya di bawah kepala untuk dijadikan bantal, mencoba merilekskan otot-otot tubuhnya yang tegang. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.

​Namun... insting bertarungnya mendadak menjeritkan alarm bahaya. Udara di dalam sel terasa dingin mencekat secara tidak wajar.

​Saine membuka matanya perlahan, melirik ke arah jendela kaca besar yang membatasi kamarnya dengan lautan lepas.

​Di balik kegelapan air laut yang tenang, sebuah siluet raksasa bergerak mendekat. Tepat di depan kaca selnya, sepasang kelopak mata berukuran masif terbuka perlahan, menampilkan satu bola mata monster raksasa yang mengerikan, yang kini sedang diam membeku, mengintip lurus ke dalam sel, tepat ke arah Saine yang sedang berbaring.

1
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
S3C
semangat author 👍👍👍👍👍👍
Clevareus: makasihh
total 1 replies
NonaMudaDesi
Kelihatannya menarik, nitip sendal kak, aku kesini lagi kalo bab nya udah banyak heheheheh, oh iya sedikit saran nih kak, kalau bikin kata perparagraf jangan terlalu banyak, jadinya kelihatan numpuk. saran aku sih jangan lebihin 10 baris kakk, btw semangatttt kakakkk
Clevareus: okee makasih ya kakk, diatas chapter 5 aku udah mulai perhatikan paragraftnya kok, makasih ya 🙏🔥
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
author, ini paragrafnya terlalu panjang dan numpuk😅
Manusia Ikan 🫪: oalaaah wkaowkaowkao
total 3 replies
Manusia Ikan 🫪
tapi...
Manusia Ikan 🫪
iiiiiih mata apa itu😵
WER
semangat author
Clevareus: makasih ya kak support nya🙏🔥
total 1 replies
Wawan
Kembang buat Leoric ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!