NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Suasana di teras depan terasa sangat hening, hanya terdengar suara jangkrik yang berkicau dan hembusan angin malam yang sejuk.

Aletta, Silvia, dan Widi masih duduk melingkar di sana, asyik mengobrol dan saling menguatkan hati setelah perasaan mereka jadi jauh lebih tenang. Mereka berbicara dengan suara pelan agar tidak membangunkan teman-teman yang lain yang sudah tidur di dalam kamar.

Namun, tiba-tiba saja ketenangan itu terpecah oleh suara gemericik air yang cukup keras terdengar dari arah belakang rumah, tepatnya dari kamar mandi. Suara itu terdengar jelas bunyi air yang mengalir deras dari keran dan jatuh ke lantai.

Kreeekkk... Wussshhhhhh...

Ketiga gadis itu serentak terdiam dan menoleh ke arah sumber suara dengan wajah pucat pasi. Jantung mereka seakan berhenti berdetak sejenak. Widi yang paling dekat dengan pintu langsung menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar saat bertanya.

"Itu... suara apa tadi? Kok terdengar seperti air keran dibuka kencang banget ya?" bisik Widi dengan mata terbelalak ketakutan.

Silvia menggenggam tangan Aletta dengan sangat erat sampai terasa sakit. "Iya... Gue dengar juga jelas banget suaranya. Padahal kan tadi sebelum duduk di sini gue yang terakhir pakai kamar mandi, dan gue yakin sekali sudah menutup kerannya dengan rapat sampai kencang. Nggak mungkin bocor atau terbuka sendiri," jawabnya dengan nada panik.

Mereka saling berpandangan dengan tatapan bingung dan takut. Ingatan mereka langsung terbayang kembali kejadian mengerikan semalam saat Oca kesurupan dan menangis histeris. Perasaan ngeri perlahan mulai merayap masuk ke dalam hati mereka lagi.

Karena rasa penasaran sekaligus ketakutan yang memuncak, akhirnya mereka bertiga memberanikan diri untuk bangun dan perlahan berjalan masuk ke dalam rumah.

Mereka memutuskan untuk mengecek keadaan satu per satu, memastikan siapa yang ada di kamar dan siapa yang mungkin sedang berada di kamar mandi saat itu.

Mereka mulai mengetuk pintu kamar satu per satu dengan pelan.Pertama di kamar Cika, luna dan Oca begitu pintu dibuka sedikit, terlihat mereka bertiga sedang tidur meringkuk di atas kasur dengan napas yang teratur dan terdengar nyenyak sekali.

Kemudian di kamar Marina sama saja, sedang tertidur pulas di dalam kamar, lampu sudah dimatikan dan pintu terkunci dari dalam.

Artinya... tidak ada seorang pun yang berada di luar kamar saat itu! Semuanya ada di dalam kamar masing-masing dan sedang tidur.

Dengan kaki yang gemetar dan hati yang berdebar kencang, mereka bertiga melangkah perlahan menuju kamar mandi di bagian belakang rumah.

Suara gemericik air itu masih terdengar jelas dan semakin mendekat. Dengan tangan yang dingin dan berkeringat dingin, Widi perlahan mendorong pintu kamar mandi itu terbuka.

Ceklek...

Lampu kamar mandi menyala terang, dan benar saja... keran air di sana terbuka lebar, air mengalir deras dan membasahi lantai. Tapi... tidak ada seorang pun di sana! Kamar mandi itu kosong melompong, sepi dan terasa dingin sekali. Tidak ada siapa-siapa yang membukanya, tidak ada orang yang terlihat, dan pintunya pun dari tadi tertutup rapat.

Mereka bertiga langsung mundur tergesa-gesa, menutup pintu kembali dengan cepat dan berlari kecil menuju kamar teman-teman mereka. Mereka membangunkan semua gadis itu dengan tergesa-gesa dan wajah penuh ketakutan.

"Teman-teman! Bangun... bangun semuanya! Aneh banget nih rumah! Keran air di kamar mandi nyala sendiri, padahal nggak ada orang di sana!" seru Aletta dengan suara gemetar.

Semua teman-temannya langsung terbangun kaget melihat wajah ketiga sahabatnya yang pucat dan ketakutan. Mendengar penjelasan mereka, wajah mereka pun berubah menjadi takut dan panik. Ingatan tentang kejadian semalam kembali menghantui pikiran mereka semua.

"Gue takut... Gue nggak mau tidur sendirian lagi di kamar," rengek Oca dengan mata berkaca-kaca.

"Gue juga... Rasanya ngeri banget di sini," tambah Luna.

Akhirnya, mereka sepakat mengambil keputusan bulat malam ini mereka tidak mau berpisah lagi, tidak mau tidur di kamar masing-masing.

Mereka memutuskan untuk tidur bertujuh di dalam kamar Aletta yang letaknya ada di bagian depan rumah. Padahal kamar itu ukurannya cukup sempit, hanya muat untuk tiga orang saja. Tapi demi rasa aman dan kebersamaan, mereka tidak peduli.

Mereka semua masuk ke kamar itu, menutup dan mengunci pintu dengan sangat rapat, bahkan menyandarkan kursi di belakang pintu agar tidak mudah terbuka dari luar.

Kamar itu jadi penuh sesak, saling berhimpitan, kaki dan tangan saling bertautan, namun mereka merasa jauh lebih aman dan tenang karena semuanya berkumpul jadi satu. Mereka berjanji tidak akan membuka pintu itu atau keluar dari kamar itu sampai pagi benar-benar datang.

Di dalam kamar yang sempit dan penuh sesak itu, suasana menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara napas mereka yang terasa berat dan cepat karena rasa cemas.

Mereka duduk berdesakan di atas kasur dan lantai, saling berpegangan tangan erat-erat seolah takut ada yang hilang atau diambil oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Lampu kamar tetap dinyalakan terang benderang, karena tidak ada yang berani mematikannya. Wajah mereka semua tampak lelah dan mengantuk, tapi rasa takut membuat mata mereka tetap terjaga dan waspada.

Tiba-tiba saja, di antara keheningan itu, terdengar suara lagi dari arah belakang rumah. Suara itu terdengar sangat jelas dan nyata suara percikan air, suara orang yang menyiramkan air ke tubuhnya, suara gesekan sabun atau spons, persis seperti suara orang yang sedang mandi di kamar mandi!

Cipak... cipuk... cipak...

Suara itu terdengar begitu jelas, seolah-olah orang itu sedang mandi tepat di sebelah kamar mereka. Ketujuh gadis itu langsung membeku, darah mereka seolah berhenti mengalir.

Mata mereka saling bertatapan penuh kengerian. Mereka tahu betul bahwa di dalam rumah itu hanya ada mereka bertujuh, semuanya ada di dalam kamar ini, terkunci rapat. Lalu siapa yang sedang mandi di luar sana?

"Ya Allah... itu suara apa itu? Siapa yang mandi di luar? Kan kita semua ada di sini..." bisik Marina dengan suara yang hampir tak terdengar karena gemetar.

"Jangan bersuara... Jangan keluar... Tetap di sini saja," bisik Widi mencoba menenangkan, padahal ia sendiri ketakutan setengah mati.

Suara itu terus terdengar selama beberapa menit yang terasa sangat lama dan menyiksa, sebelum akhirnya perlahan menghilang dan kembali sunyi senyap. Namun, ketakutan mereka tidak ikut hilang, justru semakin memuncak dan membuat bulu kuduk mereka berdiri semua.

Belum sempat hati mereka tenang sedikit saja, suara lain kembali terdengar memecah keheningan malam. Kali ini suaranya terdengar begitu menyedihkan, mengerikan, dan membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa sangat sedih sekaligus ngeri.

Terdengar suara tangisan... tangisan seseorang yang terdengar sangat jauh, namun jelas terdengar di telinga mereka. Tangisan itu terdengar berat, sedih sekali, penuh penderitaan, dan suaranya terdengar seperti tangisan orang yang sangat kesakitan atau orang yang sedang meratapi nasibnya. Suara itu terdengar berputar-putar di seisi rumah, kadang terdengar dari dekat, kadang terdengar dari jauh.

"Huaaaaa... Huuuuuu... Hiksss... Huaaaaa..."

Suara tangisan itu persis seperti suara tangisan yang terdengar saat Oca kesurupan semalam, tapi kali ini terdengar lebih jelas dan lebih menyayat hati. Oca yang mendengarnya langsung menangis tersedu-sedu ketakutan dan membenamkan wajahnya di bahu Silvia.

"Itu suaranya... sama persis kayak kemarin... Gue takut... Gue takut banget..." isak Oca.

Mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa selain saling berpegangan tangan erat dan menahan ketakutan mereka. Suara tangisan itu terus terdengar bersahutan sepanjang malam, tidak berhenti-berhenti. Kadang suaranya keras, kadang perlahan, tapi selalu ada dan terdengar jelas di telinga mereka.

Akibatnya, mereka bertujuh sama sekali tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Tidur adalah hal yang mustahil saat itu. Mata mereka tetap terbelalak menatap pintu dan sudut kamar, hati mereka berdoa terus-menerus dalam hati agar selamat dan terhindar dari hal-hal buruk. Waktu terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa, malam itu terasa menjadi malam terpanjang dan paling mengerikan dalam hidup mereka.

Setelah menahan ketakutan dan terjaga sepanjang malam yang terasa abadi itu, akhirnya perlahan cahaya mulai terlihat menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kamar.

Langit yang tadinya gelap gulita perlahan berubah menjadi kelabu, lalu berwarna jingga terang. Suara ayam jantan mulai berkokok bersahutan menandakan bahwa pagi akhirnya datang juga.

Suara-suara aneh, suara tangisan, dan segala hal yang menakutkan itu perlahan hilang seiring dengan datangnya cahaya matahari. Suasana kembali menjadi tenang dan damai seperti biasa. Napas mereka semua akhirnya bisa terhembus lega dan panjang. Rasa takut itu perlahan berkurang seiring dengan terangnya hari.

Tanpa perlu banyak bicara, mereka saling berpandangan dan mengangguk sepakat. Dengan semangat baru dan rasa syukur yang mendalam karena telah selamat melewati malam yang mengerikan itu, mereka segera bersiap. Mereka mengambil air wudhu, lalu berkumpul di ruang tengah depan.

Mereka melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, bersama-sama dalam satu barisan. Doa mereka terasa begitu tulus dan khusyuk, penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah melindungi mereka dan mengusir ketakutan di hati mereka.

Setelah selesai shalat, mereka tidak langsung bubar. Mereka duduk melingkar, lalu mulai mengaji dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama-sama. Suara bacaan mereka terdengar merdu, tenang, dan menenangkan hati.

Saat itulah, rasa berat di dada mereka perlahan hilang sepenuhnya. Hati mereka terasa sangat lega, damai, dan tenang. Mereka sadar, sekuat apa pun rasa takut atau kekuatan jahat, semuanya akan kalah dan lenyap dengan datangnya cahaya dan kekuatan doa serta iman.

Mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain, senyum kelegaan dan kebersamaan yang semakin erat. Malam itu menjadi pengalaman yang takkan pernah mereka lupakan, yang mengajarkan mereka arti kebersamaan, ketakutan, dan kekuatan iman yang sesungguhnya.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!