NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21| Speechless

Karina melirik Jayden dan Aluna yang memasuki kelas, kedua matanya tampak memicing. Memperhatikan Aluna yang melepaskan rangkulannya pada lengan kekar Jayden, tersenyum semringah.

"Thanks Jay, nanti ke kantin bareng ya," kata Aluna melembutkan suaranya.

Jayden mengangguk kaku, dan menjawab, "Oke, kalo lo maksa. Nanti kita ke kantin bareng."

Mual, Karina merasakan perasaan aneh ketika melihat interaksi keduanya serta mendengar intonasi nada suara manja yang tak tahu malu dari Aluna—sahabatnya.

Aluna mengerucutkan bibirnya, dan menjawab, "Jadi lo kepaksa nih sama gue. Bukannya suka dan rela?"

Jayden yang sedari awal mencoba tetap untuk stay cool mendadak tertegun, ekspresi wajahnya tampak jelas sekali jika dirinya dilanda kebingungan. Kebanyakan para wanita yang mengejar-ngejarnya, Jayden belum pernah mengejar-ngejar wanita. Ia tak paham cara berinteraksi dengan wanita, berbeda dengan tiga sahabatnya.

Aluna berpura-pura berdecak kesal, diam-diam sudut bibirnya naik tinggi. Lucu sekali menggoda Jayden, melihat bibir merah tipisnya yang terbuka lalu kembali tertutup hanya karena empunya kalang kabut.

"Sana gih ke kelas lo, bentar lagi bell masuk bakalan bunyi," sambung Aluna membalikkan tubuhnya. 'Satu..., dua..., tig—' Aluna berhitung dalan hati.

Cekalan pada pergelangan tangannya langsung terasa, ia menoleh ke belakang sedikit menengah menatap lurus ke arah manik mata Jayden. Manik matanya bergerak gelisah, Jayden berdehem kecil.

"Nggak, gue nggak kepaksa. Gue suka," tutur Jayden serak dan dalam, "nanti gue tungguin lo di depan pintu kelas lo."

Jayden melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Aluna, ia melangkahkan terburu-buru keluar dari kelas. Aluna terkekeh geli memperhatikan punggung belakang Jayden yang tampak menjauh dengan langkah lebar, ketika ia berbalik jeritan tertahan mengalun.

"Astaga Na!" Aluna mengusap dadanya naik-turun melotot ke arah gadis yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang tubuhnya dengan mata menyipit.

Karina menggeleng tak berdaya, "Wah, gue nggak nyangka. Lo beneran serius sama si Jayden, gue kira kemarin itu cuma omong kosong lo doang. Hari ini gue baru yakin, kalo lo emang bersedia buat jadi milik Jayden."

Aluna tidak menanggapi kesimpulan yang Karina dapatkan, ia menyelonong melewati Karina meletakkan tasnya di atas bangku. Lalu duduk, ia sama sekali tidak peduli bagaimana tatapan mata teman sekelasnya yang sudah datang lebih dulu dari dirinya. Ada banyak gosip yang melibatkan Aluna, entah itu gosip buruk atau gosip baik. Aluna sama sekali tidak peduli, kaki kursi berdecit saat bergesekan dengan lantai ketika Karina duduk di sampingnya.

"Stop deh ah, liatin gue kek gitu. Jayden ganteng, dia baik, dan juga paling penting dia royal," papar Aluna akan kelebihan Jayden, "so, kenapa gue nggak milih dia di antara banyak cowok. Apalagi dia—ah, pokoknya gue harus nikah sama dia."

Karina termenung sedikit rasa penasaran dengan kata-kata yang tidak dilanjutkan oleh Aluna, Karina terdiam cukup lama sebelum mendesah berat. Jika ia pikir-pikir kembali apa yang dipaparkan oleh sahabatnya itu ada benarnya juga, siapa yang tidak tahu siapa Kai. Pria itu punya lebih banyak cerita negatif dibandingkan yang positif, sementara Sebastian dia memang pria yang cukup baik tetapi tetap saja banyak dikelilingi perempuan. Meskipun tidak separah Kai.

Sementara Jayden, ia tidak begitu peduli dengan wanita. Pria dengan tatapan tajam satu itu lebih fokus pada belajar, meskipun satu geng dengan Gavino. Ia cukup hebat menyeimbangkan nilai akademiknya, sebanding dengan Gavino.

Kepala Karina mengangguk-angguk ringan pertanda menyetujui perkataan Aluna. "Iya, juga sih. Apa yang lo omongin ada benarnya. Keknya kita punya tipe cowok yang hampir mirip, gue suka Gavino. Jayden dan Gavino yeah..., sebelas-dua belaslah," gumam Karina setelah berpikir cukup lama.

Aluna sontak saja menoleh ke samping, alis matanya mengerut. 'Are you kidding me? Lo kira mereka berdua sama. Lo nggak tau aja sisi gelap si Gavino itu, Jayden masih jauh lebih baik ketimbang si obses berat satu itu, Karina. Bahkan lo aja tokoh antagonis nggak ada apa-apanya ketimbang dia, andaikan aja lo tau topeng di balik seorang Gavino Van Houten. Gue jamin lo bakalan berhenti buat suka sama dia.' Aluna mengerang dalam diam, dan menggeleng sekilas.

...***...

Aluna menggerutu di sela langkah kaki yang diayunkan di lorong gedung penghubung gedung kelas dan gedung ekstrakulikuler, di jam kedua adalah pelajaran olahraga, Aluna mendapatkan tugas untuk mengantar kembali barang yang digunakan setelah kelasnya melakukan praktik olahraga. Kebetulan mereka tengah mempraktikkan olahraga lempar lembing, Aluna harus kembali meletakkan tombak ringan kembali ke gudang. Sementara teman-teman sekelasnya kembali berganti pakaian olahraga dengan seragam sekolah. Langkah kakinya memelan di saat ia mendengar gemericik suara air.

"Ada yang berenang?" monolog Aluna, ia memperlambat langkah kakinya menuju ruangan kolam indoor yang bersebelahan dengan gudang penyimpanan alat olahraga.

Semakin memasuki area ruangan renang, semakin jelas suara gemericik air kolam. Tombak ringan di letakkan di sudut ruangan, sebelum kedua tungkai kakinya kembali bergerak mengintip di balik pilar. Kecepatan dan kelincahan pria menaklukkan air kolam dengan gerakan indah, Aluna terpaku memperhatikan pria remaja di kolam. Gerakan berhenti ketika sampai di pinggir kolam, telapak tangannya mengusap wajah serta menarik kaca mata renang ke atas kepala.

Pupil mata Aluna melebar, ia menutup mulutnya ketika pria yang tadinya membelakangi dirinya berbalik arah ke arahnya. Seakan dapat merasakan kehadirannya, Gavino menoleh ke arah pilar.

Aluna spontan saja berjongkok, mencoba mengecilkan tubuhnya. Berharap ia bisa menjadi transparan agar tidak ketahuan mengintip Gavino yang berenang.

'Mati-mati, mati gue. Gimana bisa gue ke sini, kalo ketahuan sama dia bisa jadi sate panggang gue. Ya Tuhan! Eh, nggak Author bangs—ah, Author yang baik. Please jangan sampek gue ketahuan, please.' Doa Aluna dalam hatinya, tangannya masih menutup mulutnya.

Degup jantungnya bertalu-talu, ia menyesali rasa keingintahuannya barusan. Ia bahkan berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir suara embusan napasnya, hanya karena tidak ingin menarik perhatian Gavino. Cukup lama Aluna berjongkok di balik pilar, rasanya kedua kakinya kesemutan. Aruna meringis tertahan, ia menjulurkan perlahan kepalanya dari balik pilar hanya untuk memastikan Gavino kembali dengan aktivitas renangnya meskipun indera dengar Aluna tidak lagi menangkap suara gemercik air.

"Eh, kosong. Kemana dia?" tanya Aluna sepelan mungkin.

Telapak tangannya diturunkan dari mulutnya, ia mendesah lega. Telapak tangannya mengusap-usap dadanya, dan tersenyum kecil.

"Apa yang lo lakuin di sini, hm?" Deep voice mengalun.

Kedua mata Aluna melotot, manik matanya melirik ke depan bergerak naik ke atas dengan kepala menengadah. Darah Aluna berdesir, sejak kapan Gavino berada di depannya. Bahkan Aluna tidak mendengar suara derap langkah kakinya, spontan Aluna memasang senyum karir tercetak di bibir Aluna merah merekahnya.

"Hehe..., gue bar—baru nyampek sini." Aluna berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. "Eh!"

BRUK!

'Bunuh aja gue, Author bangs*t.' Aluna memaki, mengutuk penulis novelnya, kedua kakinya kehilangan kekuatan untuk berdiri sempurna. Hingga tubuhnya malah terjatuh ke depan dengan menimpa tubuh Gavino yang lengah.

Jari jemari kaki Aluna ditekuk, jangan lupakan di mana wajah Aluna berada saat ini serta di mana bibir merah merekahnya berlabuh. Gavino tertegun bibir merah merekah itu berada di dadanya, tepat di dadanya Gavino yang polos tanpa penghalang. Kedua kelopak mata Aluna berkedip, seakan dunia berhenti berputar dalam beberapa detik.

"Aluna," panggil deep voice Gavino lirih dan dalam namun, di telinga Aluna seperti panggilan dari malaikat maut.

Aluna bergerak sigap, bangkit dari posisi telungkupnya. Gavino kembali mengerang keras saat benda lunak tak bertulang dihantam tempurung lutut kaki Aluna saat terjatuh kembali, Aluna ingin menangis keras saat ini. Kenapa kakinya malah kembali kesemutan di saat-saat nyawanya ada di ujung tanduk, hingga untuk kedua kalinya Aluna mempermalukan dirinya sendiri.

"ALUNA!" teriak Gavino menggelegar dan menggema, giginya bergemeretak.

Aluna mengigit bibirnya dengan kedua mata berkaca-kaca, ia terduduk di paha Gavino dengan pasrah. Tidak menyingkirkan lututnya kirinya, air matanya langsung turun deras.

"To—tolong bunuh gue den—dengan tubuh utuh..., suntik mati aja gue..., da—dan yang paling penting bi—biarin gue mati dengan tetap kelihatan cantik," tutur Aluna tergagap dan tersendat-sendat sebelum suara tangisnya langsung mengeras.

Gavino speechless, gadis licik satu ini tampaknya kehilangan akal sehatnya.  Bukannya bergegas menyingkirkan lutut kakinya dari aset masa depan Gavino, malah menangis meraung meminta kematian yang tenang tanpa rasa sakit dan harus terlihat cantik. Untuk kali pertamanya Gavino dilanda frustrasi dan amarah dalan satu waktu tapi, tak tahu harus bereaksi seperti apa dalam keadaan ambigu saat ini.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!