NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Hai," sapa Arnold di tengah gegap gempita after party premiere film terbaru Hana yang merupakan biopik salah satu musisi terkenal Idonesia bernama Chrisye.

Hana menghela napas. Tidak bisa kabur atau sengaja menghindar karena mereka berdua tengah berada di pesta. Banyak kenalan, relasi, hingga wartawan yang apabila sampai melihat gestur menghindar Hana maka akan langsung membuat berita yang macam-macam. "Mau ngapain sih nih orang?" gerutu Hana dalam hatinya.

"Hai," sapa Hana balik.

Tanpa senyum.

"Lana mana?" tanya Hana mematikan langkah penuh percaya diri Arnold dan senyum yang dulu dianggap Hana maha manis itu.

Hana memang sengaja membuat Arnold badmood. Toh Arnold memang datang bersama Lana ke premiere malam ini kan. Jadi tidak aneh jika Hana bertanya, walau sebenarnya ia juga tidak peduli. Hana hanya ingin Arnold jauh-jauh darinya.

"Meet her friends," jawab Arnold.

Lana memang terkenal juga sebagai celebrity doctor. Tak aneh kalau ia berteman dengan beberapa selebriti.

"Kesepian terus cari aku?"

Pertanyaan Hana terdengar begitu menyindir Arnold.

"Enggak gitu, Han," sangkalnya langsung.

Mereka bertatapan. Setiap melihat Hana, ada rasa tak rela yang menyergap Arnold.

"Reiga mana? Acara penting pacarnya masa nggak datang," ucap Arnold.

"It's none of your business dan aku nggak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan kamu, Nold," jawab Hana.

Bagi Hana, kini Arnold hanyalah orang lain.

Bagi Arnold, kini Hana adalah makhluk langka yang dirindukannya.

"Sampai kapan aku diginiin?" tanya Arnold memelas.

"Diginiin? Maksudnya?"

Hana bukannya tidak mengerti maksud Arnold.

Ia hanya tidak paham mengapa pria satu ini begitu gigih mendekatinya saat jelas-jelas Hana sudah membuat kastil berdinding tinggi yang dikelilingi kolam penuh buaya agar tidak bisa dimasuki Arnold.

Agar pemuda ini menjauh.

"I miss you," jawab Arnold masa bodo.

Toh dia memang merindukan Hana. Bohong jika Hana tidak pernah menjadi bagian hidupnya. Bohong pula jika Arnold berkata tidak merindukan Hana dan segala hal tentang perempuan yang dekat dengannya selama 4 tahun ini, bagai oksigen dan paru-paru.

Kedua mata Hana membulat mendengarnya. Marah dan tersinggung.

"Rindu macam apa yang kamu maksud? Apa merindukan perempuan bego yang selama ini terlalu naif berharap kamu bisa cinta sama dia?"

Arnold tertikam sempurna atas kalimat Hana barusan.

"Aku nggak pernah menilai kamu kayak gitu ya, Han," sanggah Arnold dengan rahang menegang.

Mereka bertatapan.

"Terus selama empat tahun ini kamu nilai aku kayak gimana, Nold? Aku tuh apa buat kamu?"

Hana bertanya meski rasa-rasanya ia sudah tidak butuh jawabannya. Namun mulutnya yang menyebalkan ini sudah keduluan bicara.

"One of my people's, Hana," lirih Arnold.

My people dia bilang... Bullshit banget!

Memang terdengar omong kosong, tapi barusan Arnold memang jujur pada Hana.

"Aku lelah sama ini semua," ucap Hana frustasi.

Menjauhi Arnold dan bersikap dingin memang bukanlah pilihan yang tepat.

"Aku juga," sahut Arnold dengan wajah memelas.

"Kamu jahat dan brengsek tahu, Nold."

"Ya. Kamu benar, Han. Aku emang brengsek dan jahat," aku Arnold.

"Aku nggak paham sama kamu," ucap Hana.

"Kamu cinta sama Lana. You get her now. Terus kamu berharap aku tetap kayak dulu sama kamu? Ha ha hi hi, berharap kamu balik mencintai aku, melakukan segala cara yang aku bisa agar kamu cinta sama aku. Ya aku nggak bisa, Nold!"

Hana mencoba bicara tanpa emosi. Namun wajahnya yang menunjukkan kekecewaan memang tidak bisa dihilangkannya.

"Aku punya harga diri. Aku harus tahu kapan saatnya aku berhenti dan sadar diri. Dan aku rasa sekaranglah waktunya," ucap Hana lagi.

Arnold menatap Hana penuh harap.

"Maafin aku yang belum bisa berteman sama kamu. Time will fix it, Nold. Tapi enggak sekarang. Aku cuma manusia biasa. Jujur aku masih marah dan kecewa sama sikap diam dan pura-pura kamu selama ini. You know i love you, but you keep silent and act like innocent," tambah Hana.

"Hana, aku ..."

"Dan aku mohon sama kamu, jaga jarak sama aku. Bukan karena aku punya pacar. Bukan juga karena Reiga menggantikan tempat kamu. Enggak, Nold! He's more worthy than just to replace an asshole like you. Aku yang nggak bisa. Aku belum bisa," ucap Hana emosional. Bagai tengah berakting adegan yang menguras emosi jiwa.

"Hana, please..."

Hana menggeleng.

Arnold meraih lengan kiri Hana.

"Lepas, Nold," ujar Hana.

"Enggak."

"Enggak akan aku lepas," gigih Arnold.

Hana benar-benar tidak paham dengan tingkah Arnold sekarang. Pria itu mirip mantan yang minta balikan. Boro-boro balikan, apalagi bergelar mantan! Jadian aja nggak pernah.

"Lepas!"

"Nggak!"

Hana menarik tangannya yang makin dicengkram kuat oleh Arnold.

"Arnold Baskara!" Hana menatap tajam Arnold.

Arnold balas menatap Hana.

"Mending lu lepas selagi kita masih bicara baik-baik," dingin Syein yang sudah mencengkram pergelangan tangan kanan Arnold yang mencengkram tangan Hana.

Hana kaget. Raut yang tidak pernah dilihatnya dari Syein yang hobi cengar-cengir itu.

"Syein?" gumam Hana.

Arnold masih diam. Beradu tatap dengan Syein yang begitu dingin menatapnya.

"Si Monyet nggak ngerti bahasa manusia ya?!"

sinis Brandon kearah Arnold dari samping kanan Hana.

"Brandon?" gumam Hana kaget lagi.

"Jangan lo pikir karena Reiga nggak di sini terus lo bisa seenaknya sama Hana," Tristan ikut muncul dan bersuara. Berdiri tepat di samping Brandon.

"Demi kebaikan diri sendiri mending lu lepas tangan Hana sekarang, Nold," ucap Zidane.

Hana entah mengapa merasa terharu.

"Itan... Zidane ..."

"Manusia kampret kayak gini tuh emang nggak bisa diajak ngomong baik-baik, langsung hajar aja!" seru Rama sudah merangsek, menarik tangan Arnold kasar, dan mencengkram kerah baju Arnold.

Tatapannya tajam. Jelas yang Rama katakan tadi bukan ancaman belaka.

"Buset! Ram ... Rama... Tahan emosi lu, Nyet.

Ini acaranya Hana, jangan lu ancurin kali!" ujar Tristan sudah merangsek maju.

"Iya, Ram! Lu gila aja. Jangan disinilah, bawa kemana kek," ujar Brandon nyeleneh.

Zidane mendengus.

"Lu semua jangan gila! Mending lu cabut, Nold. Jangan gangguin Hana!" usir Zidane.

"Ini bukan urusan kalian! Ini urusan gue sama Hana," tukas Arnold keras kepala.

"Si Anjing! Urusan Hana itu urusan kita semua! Bangke!" seru Syein dengan muka garang.

"Udah woi ... udah...," ujar Zidane mencoba menengahi.

"Udah gimana sih, Dane!? Gue aja baru mau mulai!" dingin Rama seraya menatap tajam Arnold.

"Rama udah, Ram," Tristan masih sedikit waras dan terus berusaha melepaskan cengkraman tangan Rama dari kerah Arnold.

Niyo yang sejak tadi mengobrol dengan Pak Mano, produser sekaligus pemilik MDB, sudah tak bisa konsentrasi melihat teman-temannya tengah berkonfrontasi dengan Arnold. Ia cepat-cepat pamit lalu menghampiri mereka.

"Ada apaan sih ini!?" sergah Niyo yang membantu Tristan melepaskan cengkraman di leher Arnold yang mulai tersengal.

Syukurlah, Rama mau melepasnya.

"Si Monyet pegang-pegang Hana sembarangan!" ujar Rama.

Niyo beralih pada Hana yang diam.

"Benar, Han?"

Hana mengangguk.

"Hana!" Arnold merasa kecewa dengan jawaban Hana. Padahal itu memang faktanya.

"Anjing! Ngapain lu malah ngebentak Hana!" emosi Zidane yang ganti mencengkram kerah Arnold.

Mereka semua sontak kaget dan refleks menarik Zidane untuk melepasnya.

"Dane, sadar Dane," ucap Brandon.

"Istigfhar, Dane," sahut Syein.

Niyo beralih pada Arnold.

"Nold, bijak dan pergilah," ucap Niyo diplomatis.

Arnold menghela napas. Dengan memasang raut wajah kecewa, pria itu akhirnya pergi. Sontak mereka berenam langsung mengarah pada Hana.

"Han, lo nggak apa-apa kan?" kompak mereka bertanya.

Lantas semua jadi celingukan karena bingung atas kekompakan yang ada di luar nalar itu.

"Kompat amat!" tukas Niyo sambil nyengir.

Mereka kembali menatap Hana yang tengah memasang wajah terharu.

"Makasih ya, genks. Gue terharu deh kalian sebaik ini sama gue. Kita kan belum lama kenal," ucap Hana.

"Ngomong apa sih lu, Han?" tukas Rama.

"Galak banget sih lu, Ram!" omel Zidane.

Hana terkekeh.

"Udah tugas kita semua untuk saling menjaga, Hana cayang," ucap Syein sudah kembali ke bentukan aslinya. Tersenyum lebar nan ramah.

Kalimat yang makin membuat Hana terharu.

"Lo itu orang pentingnya Reiga, ya jelas kita kawal," ucap Niyo.

Hana tersenyum senang. Belum pernah punya teman lelaki. Eh sekarang langsung enam orang.

"Lets do a grup hug," ajak Hana lalu mereka berenam mendengus sambil senyum dan geleng-geleng kepala namun tetap menuruti mau Hana. Berpelukan bersama.

"Makasih ya enam ibu periku," ucap Hana yang membuat mereka tertawa.

"Gue ganteng begini kenapa dibilang ibu peri sih, Han?" protes Brandon.

Hana terkekeh.

"It's better ketimbang lu disebut kurcacinya snow white sama Hana, Ndon," ledek Tristan.

Brandon langsung menyipitkan mata sebal.

Mereka kembali tertawa.

Well, dibanding yang lain, tubuh dia memang yang paling pendek, walau sebenarnya masih di atas standar. Ya kali 178 cm itu pendek kan?

"Sialan lu, Tan," ujar Brandon.

"Dia sering gangguin lo kayak tadi, Han?" tanya Syein.

Hana berdehem.

"Si anjing, tadi mah kita bawa aja dulu, Ram," ujar Brandon.

"Kan gue bilang apa! Nggak usah diomongin, langsung hajar aja!" sahut Brandon.

"Istigfhar woi!" tukas Niyo.

"Tapi si Arnold rumahnya di mana sih? Pengen gue samperin," ucap Rama.

Mereka semua mendelik kearah Rama dengan muka panik.

"Ramaaaaaa," pekik mereka bagai paduan suara.

*

Reiga melihat apple watch yang dipakainya lalu mengubah jogging yang dilakukannya menjadi berjalan biasa. Tubuhnya yang penuh keringat. Napasnya yang sedikit terengah. Lantas ia memilih duduk di sebuah bangku kayu setelah mengitari The Ramble, wilayah hutan kota yang ada di Central Park.

"Siri, call Dimas," ucap Reiga.

Tidak perlu pakai lama, telepon itu pun tersambung.

"Pagi, Pak," jawab Dimas yang sudah ada di lounge VVIP SQ Airlines.

Reiga memang sengaja menunda keberangkatan Dimas ke New York agar bisa menghadiri penayangan pertama film Hana sekaligus menjadi mata-matanya. Walau bisa saja Reiga meminta ke enam sahabatnya. Namun jika itu terjadi, maka akan menjadi perkara yang lain untuknya.

"Laporannya, Dim," ucap Reiga to the poin.

"Premiere sukses. Review bagus. Penonton yang datang banyak. Semua sahabat Pak Reiga datang. Overall, premiere film ini sesukses film-film Bu Hana yang biasanya, Pak," jawab Dimas.

"Syukurlah," ucap pelan Reiga.

"Makasih ya, Pak," ujar Dimas.

"Untuk?" bingung Reiga.

"Saya senang banget akhirnya bisa nonton penayangan pertama film-nya seorang Adrianne Hana. Dikelilingi banyak artis. Wartawan. Film-nya juga keren. Aktingnya bagus. Saya nggak menyangka kesempatan bagus ini akan datang di hidup saya, Pak!" seru Dimas heboh.

Tawa Reiga lantas berderai.

"Sesuka itu sama Adrianne Hana?"

"Emangnya Pak Reiga nggak?" balas Dimas.

"Udah mulai berani ngeledek saya?" ujar Reiga sok galak.

"Ma ... Maaf, Pak. Bercanda," jawab Dimas.

Reiga terkekeh pelan.

"Is she happy?" tanya Reiga.

Wajah marah dan menangis Hana selalu menghantuinya. Lebih menghantuinya ketimbang hantu nenek yang berada di atas pohon rambutan milik tetangganya yang dilihatnya saat usia 5 tahun. Isi kepalanya penuh dengan Hana. Sesayang itu, Reiga Reishard dengan Hana.

"Dari wajahnya sih, Bu Hana happy banget, Pak," jawab Dimas.

"Senang dengarnya," pelan Reiga menimpalinya.

"Save flight and see you soon here, Dim," ucap Reiga mengakhiri sesi telepon itu.

Telepon terputus. Reiga menatap kearah danau.

Hana yang sudah membuka blok nomornya. Semua pesan yang sudah dibaca gadis itu namun tidak dibalasnya.

Reiga baru tahu kalau hal seperti itu, pesan yang dibaca tapi tidak dibalas, ternyata sungguh menyakitkan.

*

"Morning, Mrs. Denis," sapa Hana seraya memeluk Sara dari belakang.

Ibunya tengah sibuk menyiapkan bingkisan makanan untuk para tetangga. Kebiasaannya setiap kali film baru Hana keluar. Kali ini, Sara membuat Lasagna, makanan khas Italia kesukaan suaminya.

"Morning, Mrs. Reishard," sapa balik Sara meledek Hana.

Hana yang tengah membuka kulkas langsung bersuara. "Dih!" tukasnya.

"Kok, dih!? Aamiin, Han," ujar Sara.

Hana berjalan menyendok satu porsi lasagna. Tidak terlalu banyak lalu duduk di pantry. Tepat di depan Sara.

"Bingkisan yang buat anak yatim udah beres, Bu? Juni nggak ada laporannya. Kebiasaan tuh anak, setiap abis after party langsung susah dihubungin," ujar Hana lalu sarapan.

Sara terkekeh.

"Just let her be happy, Hana. Capek loh ikutin aktivitas kamu," ujar Sara.

"Iya ya, Bu," sahut Hana.

Mereka tersenyum bersama.

"Nanti kalau udah nikah sama Mas Ayang. Sibuknya dikurangin ya, Han," ucap Sara.

Tiba-tiba Hana jadi sulit menelan lasagna yang sudah tuntas dikunyahnya.

"Kalau nggak nikah gimana?" ucap Hana terbata.

Sara menatap Hana yang lebih dulu menatapnya.

"Gimana ya? Belum ada jawabannya nih," jawab Sara membuat Hana terkekeh.

Sara melirik Hana. Anak gadisnya itu kalau sedang memikirkan sesuatu. Terlihat dari raut wajah Hana yang tanpa sadar berubah serius dalam diamnya.

"Udah rapi, mau kemana? Bukannya libur? Yang ke panti nanti siapa?" tanya Sara melihat Hana memang sudah rapi dengan baju casual.

"Na sama Krisa.... Ibu ingat nggak sama Krisa?" tanya Hana.

"Krisa?" gumam Sara.

"Andriyani Krisa, Bu," ucap Hana.

"Ah! Teman kamu yang tinggal di London?"

Hana mengangguk semangat.

"Krisa udah pulang. Katanya sih mau stay lama di Jakarta. Demi Ayang," ujar Hana tak bisa menahan tawa.

"Ayang siapa? Bukannya udah putus sama siapa tuh mantannya yang kurang ajar?"

"Ayang barunya. Temannya Mas Ayang," jawab Hana yang tersentil sendiri begitu menyebut panggilan sayang keluarga ini untuk Reiga.

"Siapa? Yang mana?" Sara jadi penasaran beneran.

"Emangnya kalau Hana kasih tahu, Ibu kenal temannya Reiga?"

"Kenal dong!" serunya.

Hana sangsi.

"Semua orangtuanya teman Mas Ayang itu teman Ibu, Han," ujar Sara.

"Dunia kecil amat."

"Bukannya kecil!"

"Yang benar tuh, jodoh pasti bertemu!"

"Jodoh pasti bertemu? Maksudnya?"

Hana tersenyum meledek. Sara sebal melihatnya.

"Kayak kamu sama Mas Ayang," ucap Sara.

"Tragis dong,"celetuknya dalam hati.

"Dua orang yang ditakdirkan bersama, pasti bakal dipertemukan Tuhan!" yakin Sara.

"Dengan tujuan sebagai pelajaran?" cetus Hana.

Sara menatap Hana. Mempertanyakan maksud celetukan Hana barusan.

"Atau penyembuhan?" sahut Sara berharap apa yang dipikirnya dalam waktu singkat tadi, benar merupakan latar belakang celetukan Hana.

"Bu,"

"Hmm."

"Manusia itu selalu hidup sama persepsi mereka sendiri. Kalau mereka mau sembuh, merekalah yang harus memilih kesembuhan itu sendiri. Bukan malah secara sengaja menggunakan orang lain sebagai obat di kala sakit yang dirasakan mendera," jawab Hana.

"Maksudnya?" Sara jadi bingung.

Hana cuma nyengir.

"Ditanya kok malah cengar-cengir!" omel Sara pada Hana.

Hana melanjutkan makannya.

"Semalam Reiga kok nggak datang? Marahan?" selidik Sara memancing Hana.

"Meeting di New York dimajuin, jadi dia berangkat kemarin," jawab Hana tanpa menatap Sara.

"Jadi muka ditekuk kamu ini karena Reiga nggak bisa datang?" ledek Sara.

Hana hanya tersenyum. Ia membiarkan Ibunya dengan persepsi sendiri.

"Terus jadinya mau kemana?" tanya Sara.

"Oh iya! Belum selesai ya tadi jawabnya..."

"Belum, Sayangnya aku," ujar Sara membuat raut wajah Hana berubah, macam tengah melihat setan.

"Kenapa? Kangen sama yang biasanya panggil kamu sayangnya aku ya?" ledek Sara dengan senyum jahil.

"Sok tahu!" sahut Hana.

Sara tertawa.

"Jadi kemanaaaaa?"

"Taman Safari, Bu," jawab Hana.

"Bertiga aja? Sam nggak ikut?"

"Dia lagi badmood abis berantem sama Niyo," jawab Hana.

Semalam saja Sam tidak datang.

"Tanda-tanda dikit lagi nikah tuh," celetuk Sara.

"Mana ada sering berantem jadi tanda sedikit lagi menikah sih, Bu? Aneh banget!"

Sara tersenyum.

"Dulu ayah sama Ibu juga gitu. Berantem mulu, eh, tahu-tahunya disodorin Tiffany & Co. sama Ayah," ujar Sara mengenang momen lamarannya.

Hana tersenyum melihat Sara.

"Kayak apa sih rasanya dilamar?" gumam Hana.

Sara menatap putrinya lalu meraih dagu Hana.

"You will know when you know, Han," jawab Sara begitu misterius.

"Aamiin," ucap Hana.

Wajah Reiga terlintas begitu saja dalam kepalanya. Ah, seingin ini hati Hana memiliki Reiga.

"Jadi berapa orang yang ikut, Han?"

"Empat, Bu. Na, Hana, Krisa, dan Syein," jawab Hana.

"Oh ada Syein. Aman kalau gitu," ujar Sara.

Hana takjub, Sara ternyata memiliki pertemanan yang luar biasa luas. Tapi tak satu kali pun Ibu-nya mengenalkan Hana pada anak-anak genk-nya.

"Kenapa? Kok mukanya begitu?"

"Punya kenalan cowok ganteng sebanyak itu tapi gak ada satupun yang dikenalin ke anaknya itu agak aneh sih, Bu," ujar Hana.

Sara tertegun lalu tertawa geli.

"Itu sih salah kamu!"

"Kok?"

Hana tidak terima disalahkan.

"Kamu tuh kayak ayah, Han. Kalau udah cinta sama satu orang, yang lain akan terlihat biasa aja. Blas! Malah tuh orang kadang bisa nggak keliatan," sindir Sara.

Hana cuma bisa nyengir. Karena itu memang benar adanya.

Hana memilih duduk memandangi Na dan Krisa yang keliling naik wahana di taman bermain yang disediakan Safari, ketimbang ikut naik wahana. Selain karena gerimis di dunia nyata. Hujan badai memang tengah terjadi dalam hatinya.

"Berantemin apa sih sama, Reiga?" tanya Syein memergoki Hana yang sejak tadi memandangi layar handphone dan pesan Reiga yang belum dibalasnya namun dibacanya ratusan kali. Bagai iklan wafer yang kalimat slogan-nya, 'Ratusan!'. Hana kangen manusia itu. Jauh di dalam hatinya ia sudah tidak peduli mau putus atau tidak nantinya. Tapi, logikanya yang saat terkena orasi membakar dari Na telah mati. Kini mendadak hidup kembali. Bukannya cuma hidup, tapi juga menjatuhkan kepercayaan diri dan tekad Hana.

Ah, kenapa cinta sesulit ini sih!?

"Sok tahu banget!" jawab Hana diplomatis.

Syein terkekeh.

"Yaelah, Han, pakai rahasia-rahasian sama gue," ujar Syein.

Hana melirik Syein.

"Will you keep this secret? Lu kan lambe turah-nya genk looney-silly-weirdo, Syailendra," tuduh Hana sepihak.

Syein tidak menyangkal, ia memilih cengar-cengir. Lantas ia merangkul Hana dengan lengan kirinya.

"But we are bestie, rite!?" ujar Syein tersenyum dengan cara yang membuat Hana pecah tawa.

Hana merangkul pinggang Syein.

"Of course we are!" sahut Hana.

Mereka saling senyum.

"Then tell me the truth," tagih Syein.

Hana malah diam. Syein berinisiatif untuk menjawab duluan. Lebih karena nggak sabar.

"Pasti debat kusir tentang cinta sejati ya?" tebak Syein.

Tebakan salah Syein, diiyakan Hana dengan sebuah deheman.

"Jangan menyerah ya, Han. He needs someone to fight for him. Reiga butuh manusia gila dan berjiwa pejuang untuk membuktikan ke dia, bahwa semua dugaan dia selama ini benar," ujar Syein lagi.

"Lu sih enak bilangnya! Lah gue yang menjalaninya bisa setengah sableng nanti, Nyet!" sembur Hana.

Syein tertawa.

"Padahal kita semua percaya dan berharap lo akan melakukannya dan keluar sebagai pemenangnya," tukas Syein membuka satu rahasia.

Kening Hana mengerut.

"Maksudnya?"

Senyum Syein tampak beda.

"Reiga itu punya batas, Han," jawab Syein.

Ba-tas?

"Batas yang nggak bisa dilewatin siapapun.

Termasuk kita berenam. Even, Zidane yang notabene-nya kenal Reiga dari TK nggak pernah diberi kesempatan masuk wilayah terlarang itu.

Karena diseberang batas itu ada tempat yang buat Reiga tampak sempurna dari luar tapi menyedihkan di dalam," tambah Syein.

Hana terhenyak. Tidak menyangka bahwa persahabatan cowok juga bisa sedekat dan sepeka ini.

"Kalian semua tahu, tapi nggak ada yang berniat bantu Reiga?"

Syein terkekeh.

"Kadang kalau kita sayang sama orang, kita nggak sanggup untuk memaksakan mau kita sama orang itu, Hana. Apalagi kalau paksaan itu cuma bikin dia sedih," ujar Syein.

Hana menghela napas. Mengingat teriakan berulangnya di mobil, memaksa Reiga untuk menjawab pertanyaannya.

"Bukan berarti dibiarin, Syein. Seenggaknya ditanya," tukas Hana terdengar naik tensi.

Ekspresinya pun jengkel. Hana berpikir, kalau Reiga tidak terlambat mendapat pertolongan diawal, mungkin pria itu tidak akan anti cinta sejati.

Syein malah tersenyum atas teguran Hana.

Keputusannya untuk memberitahu Hana, kini terasa makin benar.

"Malah senyam-senyum," tukas Hana.

"Namanya juga cowok, Han. Kaku banget soal begituan. Kita punya cara sendiri untuk menghibur satu sama lain, tapi enggak dengan ngotot debat sampai target mau jawab," ujar Syein.

"Nyindir nih ceritanya!?"

Syein tergelak tawa.

"Gimana kalo mandat ini kita serahkan sama lo?" tawar Syein.

"Mandat apaan lagi?"

"Membuat Reiga percaya cinta lagi," jawab Syein.

"Dih!"

Hana memasang wajah jengkel.

"Lu semua aja yang sahabatnya nggak bisa dan nggak berani mengusik Reiga! Lah gimana gue?" keluh Hana.

"Karena kita semua yakin satu juta persen, lo adalah juru selamat itu, Han," ujar Syein.

"Keyakinan kalian nggak berdasar dan tidak bisa divalidasi kebenaran asal muasalnya!"

Pecah tawa Syein mendengar argumen Hana.

"Reiga bisa yak, jatuh cinta sama cewek hobi mendebatkan segala hal kayak lu, Han!" heran Syein.

"Sialan!" gerutu Hana galak.

Syein makin terkekeh.

"Emangnya orang yang nggak percaya cinta bisa berubah jadi percaya semudah itu?"

"Bisa!" jawab Syein penuh keyakinan.

Hana menatapnya ragu.

"Yakin banget lo?!" runtuk Hana.

"Kalau ada hal yang konsisten terjadi di muka bumi, udah pasti itu perubahan, Han! Rama aja yang segitu magernya sama cinta bisa jatuh cinta lagi dan tunduk, walau sekarang doi masih gengsi mengakuinya," ujar Syein seraya melihat kearah Krisa yang tengah main carousel dengan Na.

"Atau gue, Nyet," tambah Syein.

Mereka saling melihat. Ada sorot ketidakberdayaan dalam mata Syein.

"Gue yang bisa aja lepasin Naila dan dapat cewek manapun yang gue mau, tapi gue memilih untuk tetap jadi manusia bego yang berpikir bisa memenangkan hatinya...."

"Cinta itu se-magical itu, Adrianne Hana," ujar Syein.

Syein memang benar.

"Lo kan tanya, dari mana kebenaran dan keyakinan kita berenam sama lo, Han.."

Syein memutar duduknya dan menatap Hana.

Lantas, Syein menunjukkan belasan foto iseng yang diambil Tristan dari galeri grup mereka tanpa Hana. Hana tercengang. "Gila ih! Siapa yang ngambil nih?" komen Hana.

Tawa Syein pecah.

"Menurut lu, siapa yang paling ngebet jadi Spatch! di antara kita berenam, Han!?"

"Itan!" tukas Hana tanpa ragu. Kedua matanya menyipit. Syein mengangguk sambil tertawa.

"Reiga sayang banget sama lo. Percaya deh! Mungkin memang nggak bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi kita semua yakin, itu anak satu, sayang banget sama lo. Zidane said, sorot mata yang selama ini hilang telah kembali," ucap Syein dengan gelak tawa diakhir kalimatnya.

Hana mendengarkan baik-baik ucapan Syein.

"Kalau misal gue berjuang dan akhirnya gagal gimana, Syein?"

Bibir Syein menyungging.

"Welcome to heartbreak club dengan ketua bernama Rayadinata Nareswari dan wakil tetapnya bernama Syailendra Radiputrodiningrat," jawab Syein.

Hana melongo lalu pecahlah tawanya.

"Si Anjir!" umpat Hana.

Tubuh Syein pun berguncang karena tawa.

"Tapi gue yakin, ralat, kita berenam yakin, lo pasti akan memenangkan pertarungan ini, Han. Feeling kita berenam sekuat ini. Lo pasti akan membawa value itu kembali pada diri Reiga. Menyempurnakan dia, "ucap Syein dalam hati.

"So, will you give this shit to breaks your heart?"

ucap Syein bertanya dengan senyum terbaiknya.

Hana tampak berpikir. "Let me think first," ucap Hana seakan ia memang akan memikirkannya.

"Bullshit lah! Gue tahu lo bakal nekat, mana mau lo kalah! Na dan Krisa juga Sam adalah saksi hidup yang valid, sekeras kepala apa Adrianne Hana," ujar Syein.

Hana nyengir.

"Nggak ada ruginya, perjuangin sahabat gue.

Ketimbang produser kampret yang lu bucinin selama 4 tahun itu," ledek Syein.

Hana mencibir.

"Yakin lo, Han? Resikonya gede banget. Beda

dengan Arnold. Lo jelas lebih sayang Reiga. Perbandingannya nggak seimbang. Kegagalan lo akan menghasilkan sebuah kehancuran yang mungkin nggak akan bisa lo tanggulangi..."

1
𝐀⃝🥀Weny
thor, kok blm up lagi😪
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!