Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 21
Disebuah rumah mewah di tengah kota. Dinding yang berlapis cat putih gading dengan pagar besi menjulang tinggi membuat rumah itu menghadirkan kesan gagah. Halaman luas dengan taman air mancur di tengah halaman.
Seorang pria paruh baya duduk di ruang kerjanya. Masih memakai setelan jas yang menjadi pakaian yang sering ia pakai. Dia duduk menatap layar komputer di depannya. Bukan untuk bekerja, tapi mengamati hasil video yang memperlihatkan sebuah toko dipinggiran jalan desa. Sosok yang selama ini ia cari, sosok yang sekarang sedang ia amati.
Hatinya bergemuruh. Seperti ombak yang naik turun tak beraturan. Tak ada jeda. Bertahun-tahun dia mencari dan baru sekarang dia bertemu.
"Pah? Aku udah ga sabar bertemu langsung sama dia." Ucap perempuan berpakaian dres selutut. Wajahnya putih bersih berkat perawatan yang selalu dia lakukan setiap bulannya. Berbanding terbalik dengan usianya yang hampir sama dengan pria di sampingnya itu.
Pria itu menggeleng. "Belum saatnya, mah. Aku tidak mau terburu-buru. Dia sudah cukup lama disana. Kita akan pelan-pelan." Ucapnya penuh wibawa.
Perempuan itu mengangguk. Patuh pada suaminya. Hatinya sama bergemuruhnya ketika melihat layar komputer itu.
---
Aku masih sibuk mondar-mandir dari rak satu ke rak yang lain. Mengganti harga terbaru yang semalam dikirim manager. Jangan tanya kak Aldi sedang apa. Dia lebih sibuk mencatat stok di gudang untuk laporan order nanti sore agar besok pagi bisa dikirim.
"Manda. Kamu jaga kasir saja sana. Biar aku yang urus ini." Itu Kak aldi. Wajahnya penuh keringat. Padahal toko ini cukup dingin. Tapi serasa tidak bisa mendinginkan badan kami yang banjir keringat karena harus bolak-balik.
Aku mengibaskan tanganku ke udara. "Halah. Tinggal sedikit lagi kak. Kamu aja sana yang istirahat."
Kak Aldi hendak memprotes. "Itu mukanya sekalian dicuci. Penuh keringat begitu." Ucapku setelah kak Aldi berlalu pergi.
Untung saja pagi ini belum ramai pembeli yang datang. Padahal biasanya hari sabtu malah banyak yang datang. Tapi yang namanya usaha begini tidak selalu bisa diprediksi. Kadang bisa saja di jam yang biasanya ramai malah sepi dan biasanya sepi malah ramai.
Untungnya aku sudah mulai adaptasi. Jika ada waktu senggang walaupun sebentar akan aku gunakan untuk istirahat makan atau ibadah.
Sepertinya dampak aku yang mondar-mandir ini membuat perutku lebih cepat terasa lapar. Perutku melilit perih dan tenggorokan ku terasa kering kerontang.
Aku mengambil sebungkus roti basah di rak dan minuman di lemari pendingin. Aku tetap bayar, membelinya.
"Tolong di scan kak." Ucapku pada kak Aldi. Dia sedang memakan bekal yang dia bawa di bawah meja kasir.
"Kan bisa sendiri."
"Aku pembeli kak. Pembeli adalah raja yang harus dilayani dengan baik." Rasanya aku sudah cukup akrab dengannya. Lontaran lelucon dariku akhir-akhir ini meluncur tanpa aku paksakan lagi.
Kak Aldi terkekeh, tapi tetap menurut membersihkan tangannya menggunakan tisu. "Sini, silahkan menunggu disitu pembeli."
Aku dan kak Aldi tertawa bersama setelah aku memperagakan menjadi pembeli. Berdiri di depan kasir sambil menunggu pesananku selesai di scan.
Sedangkan keadaan di rumah, kak Toni sedang duduk sambil gemetar. Keringat dinginnya mengucur di pelipis nya. Seorang laki-laki berpakaian kemeja dengan rambut klimis nya itu duduk berhadapan dengan nya.
"Gimana ini, mas Toni? Mau dibayar kapan?"
Toni diam sedang menyiapkan jawaban yang pas. "Akhir bulan pak. Nanti saya lunasi." Wajahnya tak berani menatap lawan bicara nya. Bibirnya gemetar karena dia sama sekali belum punya uang untuk melunasi tunggakan itu.
Pria itu menatap Toni dari tadi. "Baik. Saya tunggu sampai akhir bulan ini." Pria itu berdiri. "Tolong tepati janji nya ya mas. Akhir bulan ini, lunas."
Toni mengangguk keras. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa.
Pria itu pergi dari rumah. Meninggalkan Toni dengan peluh deras yang masih mengucur. Telapak tangannya ikut dingin karena gemetar.
Sedangkan ibu, bersembunyi di balik tembok pemisah antara ruang tamu dengan dapur. Berdiri disitu dengan sesekali mengintip. Ibu takut. Takut karena dia juga bingung bagaimana melunasi hutang-hutangnya.
Setelah pria itu pergi, menaiki sepeda motor nya baru ibu keluar. Menghampiri Toni yang kini duduk lemas di kursi. Wajahnya sudah tak sepucat tadi. Keringat dinginnya juga berangsur hilang.
"Bagaimana Toni? Apa kamu sudah punya uangnya?"
Toni menggeleng lemah. Tangannya terus memijat pelipisnya.
Ibu semakin resah. "Kamu usahakan Toni. Gimana caranya buat lunasi dua bulan itu. Ibu takut rumah ini disita. Ini satu-satunya harta peninggalan ayahmu."
"Diam bu! Jangan berisik! Aku juga lagi mikir buat dapet duit segitu akhir bulan nanti." Toni pergi keluar rumah entah akan kemana dia.
Ibu di rumah semakin frustasi. Bingung, pasrah, marah, sedih bercampur jadi satu. Ternyata berurusan dengan bank selelah ini. Lelah fisik. Setiap bulan harus berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Apalagi uang sisa nikahan anaknya ia pakai untuk belanja. Dia tidak terpikirkan untuk menyisihkan untuk membayar bulan depan. Mungkin jika begitu pikirannya tinggal bagaimana mengumpulkan uang sampai dua bulan.
Memang nasi sudah jadi bubur dan penyesalan pasti datang terlambat. Sekarang dia harus berpikir bagaimana mencari uang untuk tunggakan dua bulan ini. Mencari cara agar sertifikat rumah ini yang menjadi jaminan meminjam bank tidak disita.
Apa tidak tambah bingung kalau sampai rumah ini disita? Dia harus cari rumah atau paling tidak kontrakan untuk tinggal. Tambah pusing harus membayar kontrakan dan pinjaman bank.
Toni luntang-lantung di jalanan. Kakinya menendang-nendang batu kerikil di jalanan, melampiaskan rasa kesal di hatinya.
Cuaca yang tadinya cerah jadi gelap. Awan mendung menyelimuti langit seakan mendukung perasaan Toni saat ini yang sedang tidak karuan. Pikirannya bercabang antara pinjaman bank dan istrinya yang kehamilannya semakin hari semakin besar. Tentu setiap bulannya, mertuanya menyuruh mereka untuk rutin memeriksakan si janin.
"Bangsat!" Toni mengumpat pada trotoar yang membuatnya tersandung sampai terhuyung. Untung dia masih bisa menyeimbangkan badannya agar tidak terjatuh.
Toni duduk di bawah pohon besar pinggir jalan raya. Kakinya pegal. Badannya juga tiba-tiba lemas.
"Woi! Lesu amat tuh muka."
Toni menatap orang itu. Seperti mengenalnya tapi dia lupa siapa.
"Masa lupa sama gue. Temen SMP lo."
Ahh.. teryata teman sekolah SMP nya. Pantesan dia agak lupa.
"Mukanya masam amat."
Toni menyengir masam pada temannya yang masih lupa namanya itu.
"Banyak pikiran nih." Toni memijit pelipisnya. "Butuh duit banyak gue."
Temannya menepuk bahunya. "Gue ada kerjaan buat lo. Tapi yaa... Resikonya banyak."
Toni menatap temannya.
"Tapi duit nya banyak bro."
Toni menyipitkan matanya. "Kerja apaan emang?"
Temannya tersenyum mengajak Toni. "Jangan disini lah ngobrolnya. Kita cari teman ngopi yuk. Tenang gue yang bayar."
Walaupun masih terheran-heran, Toni tetap mengikuti langkah temannya di belakangnya.