Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Malam telah sepenuhnya menyelimuti kediaman megah keluarga Wheeler. Setelah melewati drama di arena pacuan kuda, Logan dipersilakan untuk membersihkan diri di salah satu kamar tamu yang luasnya hampir menyamai luas apartemennya sendiri.
Ia mengganti kaos basketnya yang penuh keringat dengan kemeja flanel bersih yang dipinjamkan oleh pelayan mansion—setidaknya itu lebih baik daripada bertemu Tuan Wheeler dengan bertelanjang dada lagi.
Saat Logan melangkah menuju ruang makan, langkahnya terhenti sejenak. Di sana, di bawah pendar lampu gantung kristal yang mewah, Vivian sudah duduk menunggunya. Ia telah melepas atribut berkudanya dan berganti dengan dress rumahan berbahan sutra tipis berwarna salem.
Tanpa polesan make-up sedikit pun, dengan rambut yang dibiarkan terurai alami, Vivian tampak sangat berbeda.
Cantik sekali, batin Logan.
Jika biasanya Vivian terlihat seperti wanita karier yang dingin dan tak tersentuh, malam ini ia terlihat seperti gadis berusia dua puluh tahun. Pipinya yang sedikit berisi—yang biasanya ia tutupi dengan kontur make-up yang tegas—kini terlihat menonjol. Logan merasakan dorongan impulsif untuk mendekat dan menggigit pipi kenyal itu saking gemasnya.
Logan menarik kursi di depan Vivian, tepat di samping Tuan Wheeler yang sudah memegang pisau dan garpu dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Dimeja makan yang panjang itu, Logan baru menyadari sesuatu. Hanya ada tiga piring yang tertata. Di rumah sebesar ini, hanya ada Tuan Wheeler dan Vivian. Logan melirik ke arah dinding, mencari foto keluarga. Ada satu bingkai foto besar yang ditutupi kain hitam di sudut ruangan. Ia teringat Vivian tidak pernah sekalipun menyebut kata 'Mommy' atau bercerita tentang ibunya.
Sepertinya dia belum siap, pikir Logan. Ia menebak dalam diam, mungkin ibu Vivian telah tiada atau ada luka lama yang sangat dalam di sana. Semoga ibu mertuaku tenang di alam sana, dan biarkan aku yang menjaga putrimu sekarang, bisik Logan dalam hati dengan tulus.
Makan malam dimulai dengan sup krim jamur yang lezat, namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Tuan Wheeler rupanya belum selesai menguji nyali calon menantunya.
"Jadi, Logan..." Tuan Wheeler meletakkan sendoknya, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Sebelum kita lanjut ke hidangan utama, ada beberapa hal teknis yang perlu aku ketahui dari pria yang katanya mencintai 'putraku' ini."
Vivian tersedak air minumnya. "Dad, tolonglah. Berhenti memanggilku putra."
Tuan Wheeler mengabaikan protes putrinya. Matanya tertuju tajam pada Logan. "Katakan padaku, Nak. Di usia berapa kau pertama kali lepas keperjakaan?"
Uhuk! Kali ini giliran Logan yang nyaris tersedak.
Vivian menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Pertanyaan itu sangat tidak sopan, sensitif, dan benar-benar gila untuk dibahas di meja makan.
Namun, Logan yang memiliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata—dan sedikit gila juga—justru meletakkan serbetnya dengan tenang. Ia menatap balik Tuan Wheeler.
"Delapan belas tahun, Tuan. Itu adalah kesalahan masa muda di kursi belakang mobil," jawab Logan jujur tanpa keraguan.
"Dad! Berhenti!" teriak Vivian, wajahnya sudah semerah tomat.
Tuan Wheeler justru menyeringai. "Oh, jujur juga kau. Lalu, kapan kau pertama kali mengalami ejakulasi dini? Kau pernah menghamili wanita lain secara tidak sengaja dan menyuruhnya menggugurkan kandungan?"
Pertanyaan itu semakin liar. Vivian menahan tawa malu sekaligus kesal. Ia tahu ayahnya sedang mencoba membuat Logan lari ketakutan dengan pertanyaan tabu tersebut. Namun, Logan justru tampak semakin tertantang.
"Saya tidak pernah mengalami ejakulasi dini, Tuan. Saya atlet, stamina saya terjaga dengan sangat baik," jawab Logan dengan nada bangga yang membuat Vivian ingin menendang kakinya di bawah meja.
"Dan soal menghamili wanita? Tidak pernah. Saya selalu bertanggung jawab atas keamanan setiap hubungan saya, sampai akhirnya saya bertemu Vivian dan memutuskan bahwa dialah satu-satunya alasan saya ingin memiliki keturunan."
Tuan Wheeler mengangguk-angguk, tampak terkesan dengan ketidaksopanan Logan yang berani. "Lalu, pertanyaan yang paling penting. Jika kalian sudah menikah nanti, apa kau bisa menahan diri untuk tidak tidur dengan Vivian?"
"Maksud Anda?" tanya Logan bingung.
"Maksudku, jika Vivian hamil dan melahirkan nanti... berapa minggu kau bisa menahan diri untuk tidak 'menyentuhnya'? Putramu nanti akan lahir, dan dia butuh ibunya tanpa gangguan dari ayahnya yang haus belaian. Apa kau bisa bertahan tanpa s*ks selama enam bulan?"
Vivian benar-benar ingin menangis saat ini. "Dad, ini gila! Kita sedang makan malam, bukan sedang di klinik!"
Logan terdiam sejenak, ia menatap Vivian yang tampak sangat malu, lalu kembali menatap Tuan Wheeler. "Enam bulan adalah waktu yang lama, Tuan. Tapi jika itu untuk kesehatan Vivian dan kesejahteraan anak kami, saya akan menahannya. Meskipun mungkin saya akan menjadi sangat pemarah dan sering menghancurkan samsak di pusat kebugaran."
Tuan Wheeler tertawa meledak. Ia memukul meja dengan puas. "Kau gila! Kau benar-benar menjawab semuanya! Pria-pria sebelumnya biasanya langsung pura-pura ke toilet dan tidak pernah kembali lagi!"
Vivian menghela napas panjang, ia melihat ayahnya dan kekasihnya mulai "berinteraksi" dengan cara yang sangat aneh namun entah bagaimana terlihat akrab. Ia merasa lega sekaligus khawatir.
Baru saja suasana mulai sedikit mencair dan hidangan utama baru saja disajikan, ponsel Logan yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Nama 'MOMMY ISABELLA' berkedip di layar.
Logan meminta izin untuk mengangkatnya. "Maaf, ini dari Mommy."
"Angkatlah, jangan sampai calon besanku menunggu," ucap Tuan Wheeler sambil menyeringai.
Logan menggeser tombol hijau. "Halo, Mom?"
"Logan Enver-Valerio. Pulang. Sekarang. Juga." Suara Isabella di seberang telepon terdengar sangat dingin, datar, dan tanpa kompromi. Tidak ada nada ceria atau sebutan 'Sayang' yang biasanya ia gunakan.
"Mom, aku sedang makan malam di rumah Vivian—"
"Mommy tidak peduli kau sedang berada di kutub utara sekalipun. Jika dalam tiga puluh menit kau tidak sampai di mansion, Mommy akan memastikan semua fasilitas mu dicabut, termasuk hakmu untuk bertemu Vivian lagi. Mengerti?"
Klik.
Panggilan diputus sepihak. Logan terpaku menatap layar ponselnya. Bulu kuduknya meremang. Jika Isabella sudah berbicara dengan nada seperti itu, artinya ada badai besar yang sedang menunggu di rumah.
"Ada apa?" tanya Vivian cemas melihat wajah Logan yang mendadak pucat.
"Aku harus pulang," ucap Logan sambil berdiri dengan terburu-buru. "Mommy... dia terdengar sangat marah. Jauh lebih marah daripada saat dia menamparku di kampus tadi."
Tuan Wheeler mengangkat alisnya. "Wah, nampaknya ratu dari klan Valerio sedang murka. Pergilah, Nak. Jangan buat ibumu menunggu. Tapi ingat, tantanganku belum selesai."
Logan mengangguk cepat. Ia mendekati Vivian dan mencium pipinya singkat—di depan ayahnya yang kini hanya tertawa kecil. "Aku akan menghubungimu nanti, Sayang. Maaf aku tidak bisa menghabiskan makan malam ini."
"Hati-hati, Logan," bisik Vivian cemas.
Logan berlari keluar mansion Wheeler, menuju motor Ducatinya. Ia memacu mesinnya membelah malam menuju kediaman Valerio. Ia tahu, video itu mungkin hanya puncak dari gunung es.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang direncanakan oleh ibunya, dan Logan hanya berharap, cintanya pada Vivian cukup kuat untuk menghadapi apa pun yang akan dilemparkan oleh keluarganya malam ini.
gimana bisa ada gunung Argopuro ya