NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lambung Kapal yang Retak

Peti tua itu dibawa turun ke perahu lebih dulu.

Han Lu tidak mau ambil risiko membiarkannya terlalu lama di atas tanah rawa. Dengan tali dan bahu Guo Fen, mereka menggesernya pelan di atas batu licin sampai ke tepian perahu. Kayu peti itu tampak hampir lapuk, tapi anehnya tidak benar-benar rapuh. Seolah segel lama yang tertanam di dalamnya masih menahan bentuknya agar tidak runtuh dimakan air.

Shou Wei ikut membantu menahan sisi bawah, tapi lebih banyak memperhatikan pola di sudut penutup.

Semakin dekat, semakin jelas bahwa itu memang bukan ukiran biasa.

Tiga garis setengah lingkaran.

Satu node dalam.

Satu jalur tipis ke samping.

Rusak, tapi tidak mati sepenuhnya.

Saat peti akhirnya diletakkan di dasar perahu, Han Lu menarik napas panjang dan menyeka lumpur dari wajahnya dengan lengan.

“Kalau isinya cuma batu biasa,” gerutunya, “aku akan melempar seluruh kapal ini ke dasar sungai.”

Guo Fen menancapkan tombak kait ke lantai perahu dan memandangi lambung kapal tua di depan mereka. “Jejak kaki itu masih baru.”

“Ya.”

“Kalau memang orang pasar yang datang lebih dulu, kenapa tidak ambil peti ini juga?”

Han Lu tidak langsung menjawab.

Shou Wei yang menjawab lebih dulu, suaranya pelan. “Mungkin karena mereka menemukan sesuatu yang lebih penting di atas.”

Keheningan tipis turun.

Han Lu menoleh ke arahnya. “Atau?”

“Atau mereka mencoba mengangkat peti ini, melihat segelnya, lalu memilih naik dulu.”

Guo Fen mendecak. “Aku tidak suka pilihan mana pun.”

Shou Wei juga tidak.

Tapi aliran di darah naganya kini semakin jelas. Bukan memanggil keras, bukan juga mendorongnya liar. Lebih seperti dorongan arus yang tak terlihat, mengarah ke atas lambung kapal, ke bagian yang setengah tertelan tebing dan akar.

Han Lu akhirnya mengangkat tombak pendeknya. “Kita lihat sekali. Tidak lebih dari itu. Kalau ada yang aneh, kita mundur.”

“Sekali?” Guo Fen menggerutu.

“Sekali yang cukup untuk tahu apakah kita sedang mengejar emas atau menggali kubur sendiri.”

Mereka naik.

Lambung kapal tua itu lebih licin daripada yang terlihat dari bawah. Kayunya basah, ditutupi lapisan lumut tipis dan lumpur yang mengering tidak merata. Beberapa papan sudah pecah, memperlihatkan rongga gelap di dalam badan kapal. Besi pengikat yang tersisa berkarat dan menggembung, seperti luka tua yang tak pernah sembuh.

Jejak kaki yang tadi mereka lihat di lumpur terus berlanjut di atas papan.

Benar-benar ada dua orang.

Satu langkahnya ringan dan teratur.

Yang satu lebih berat, mungkin pembantu atau pengawal.

Han Lu berjongkok dan menyentuh salah satu bekas telapak sepatu di papan lembap. “Masih baru.”

“Seberapa baru?” tanya Guo Fen.

“Belum setengah hari.”

Berarti hampir pasti Wei Kuan atau orang suruhannya, pikir Shou Wei.

Mereka menyusuri lambung ke arah bagian tengah kapal yang paling miring ke tebing. Di sana, akar pohon besar menembus sela papan dan menjepit badan kapal seperti cakar. Kabut menggantung rendah di antara akar-akar itu. Tidak tebal, tapi cukup untuk membuat ruang di bawahnya tampak seperti mulut sesuatu yang sedang membuka perlahan.

Shou Wei mendadak berhenti.

Han Lu menoleh cepat. “Apa?”

Ia menunjuk ke sisi papan yang nyaris tak terlihat di balik lumut. Ada goresan baru. Bukan bekas air. Bukan bekas binatang. Tiga garis kecil paralel dan satu lengkung pendek di bawahnya.

Guo Fen menyipit. “Apa itu?”

“Bekas alat ukir,” jawab Shou Wei.

Han Lu memandang lebih dekat. “Seseorang menggores lambung kapal?”

“Bukan sembarang goresan.” Shou Wei menelusuri garis itu dengan pandangannya, tidak menyentuh. “Itu tanda pencarian simpul. Orang yang tahu sedikit formasi kadang menggores begini untuk melihat arah serat kayu, aliran qi, atau batas lapisan segel.”

Han Lu langsung paham. “Orang sebelum kita.”

Shou Wei mengangguk.

Wei Kuan tidak hanya datang ke sini.

Ia sudah mencoba membaca kapal ini.

Mereka bergerak lebih hati-hati sesudah itu. Langkah kaki diperlambat. Guo Fen tak lagi menggerutu. Han Lu memegang tombaknya lebih dekat ke dada.

Di bagian tengah kapal, mereka menemukan tempat yang jelas telah dibuka paksa. Satu papan samping pecah ke dalam, dan tepinya tidak tampak rusak karena usia. Ada bekas congkelan baru di sana, masih tajam, belum penuh lumpur.

Han Lu mendesis pelan. “Sial. Mereka masuk.”

Guo Fen melongok dari celah. “Gelap.”

“Dan sempit,” tambah Han Lu.

Shou Wei mendekat setengah langkah.

Begitu kepalanya sejajar dengan rongga pecah itu, darah naganya langsung bergerak lebih kuat.

Dari dalam badan kapal, dari bawah lapisan kayu busuk dan air hitam, ada aliran yang belum sepenuhnya mati. Sangat lemah. Sangat tua. Tapi nyata. Rasanya seperti pusaran kecil di dasar sumur—tidak berisik, tapi terus menarik ke satu arah.

Bukan qi liar.

Bukan aura beast.

Formasi.

“Di dalam,” katanya pelan.

Han Lu meliriknya. “Kau yakin?”

Shou Wei tidak menjawab langsung. “Ada sesuatu di dalam yang masih menahan aliran.”

Guo Fen menelan ludah. “Aku benci kalimat seperti itu.”

Han Lu berpikir cepat, lalu berkata, “Masuk bergantian. Aku dulu. Guo Fen jaga belakang. Wei Shou, kau paling akhir. Kalau ada jebakan, kau yang paling tahu bentuknya.”

“Menenangkan sekali,” gumam Guo Fen.

Han Lu masuk lebih dulu melalui papan yang dicongkel. Rongga di dalam lambung ternyata cukup untuk berdiri membungkuk. Guo Fen masuk setelahnya. Shou Wei terakhir, melangkah dengan sangat hati-hati agar tidak menyentuh sisi kayu yang rapuh.

Bagian dalam kapal lebih dingin dari luar.

Udara berbau kayu busuk, lumpur hitam, dan logam tua. Air menggenang setinggi mata kaki di satu sisi. Di sisi lain, sisa peti-peti hancur menumpuk seperti tulang rusuk patah. Cahaya hanya masuk lewat celah papan dan lubang yang dibuat orang sebelum mereka, sehingga semuanya terlihat samar dan tidak rata.

Namun satu hal langsung jelas.

Ada seseorang yang sudah mencari di sini.

Dua peti kecil sudah terbuka.

Satu rak dinding patah.

Dan di lantai dekat pilar tengah, ada sisa lilin separuh meleleh.

Wei Kuan atau orangnya berhenti di sini cukup lama.

Han Lu mengangkat tangan agar mereka diam. Ia mendengarkan sebentar. Tidak ada suara selain tetesan air dan derit lambung.

Shou Wei memusatkan perhatiannya pada aliran di darahnya.

Dorongan itu datang dari sisi kanan bawah, dekat dinding kapal yang nyaris tenggelam ke lumpur. Ia melangkah pelan ke sana, menepis serpihan kayu dengan ujung sepatu.

Di bawah lapisan papan patah dan kain busuk, ia melihatnya.

Sebuah pelat kayu bundar lain.

Lebih kecil dari cakram lot sembilan yang dibeli Wei Kuan, tapi jelas satu jenis. Sebagian tertanam di dinding. Seolah dulunya dipasang di sana sebagai salah satu titik penanda. Permukaannya dipenuhi ukiran melingkar yang sebagian besar tertutup lumpur hitam.

Napas Shou Wei menegang.

“Han Lu,” panggilnya lirih.

Han Lu datang mendekat dan melihat apa yang ia tunjuk. “Itu apa?”

“Salah satu marker.”

“Marker untuk apa?”

Shou Wei menggeleng tipis. “Belum tahu.”

Guo Fen ikut mendekat, lalu langsung menunjuk bekas di dinding sebelahnya. “Ada satu lagi yang hilang.”

Memang benar.

Di sebelah kiri marker yang masih tertanam, ada bekas lingkaran kosong di kayu. Sesuatu pernah dicabut dari sana. Bekas congkelannya masih baru.

Wei Kuan telah mengambil satu.

Yang ini tertinggal mungkin karena tidak terlihat, atau terlalu tertanam.

Han Lu menatap dua bekas itu lalu mengumpat lirih. “Jadi orang sebelum kita bukan cuma pemburu bangkai.”

“Tidak,” kata Shou Wei. “Dia memang mencari ini.”

Ia berjongkok, membersihkan lumpur sedikit demi sedikit dengan ujung jarinya. Semakin banyak pola muncul, semakin jelas reaksi darah naganya. Aliran lingkar pada marker ini jauh lebih kuat daripada utility marks biasa. Bukan formasi aktif penuh, tapi seperti bagian dari jalur peta—sesuatu yang menyimpan arah, bukan serangan.

Han Lu berbisik, “Bisa diambil?”

Shou Wei hendak menjawab, ketika tiba-tiba seluruh badan kapal bergetar sangat halus.

Semua membeku.

Getarannya kecil, seperti sesuatu menyentuh lambung dari luar.

Lalu datang lagi.

Kali ini sedikit lebih kuat.

Air di genangan dekat kaki mereka bergetar membentuk lingkaran-lingkaran kecil.

Guo Fen mengangkat tombak kaitnya. “Apa itu?”

Han Lu tidak menjawab. Wajahnya menegang.

Shou Wei menoleh ke sisi kapal yang menghadap air. Darah naganya tidak memberi rasa takut, tapi memberi satu sensasi lain—gangguan. Seolah aliran tua di marker ini sedang bersentuhan dengan sesuatu hidup di luar.

Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan panjang dari bawah lambung.

Krrrkkk.

Kayu tua mengeluh.

Guo Fen memaki pelan. “Ada beast?”

Han Lu melangkah mundur setengah, posisi tombaknya berubah jadi siap menusuk. “Bisa jadi. Atau lebih buruk.”

Shou Wei masih menatap marker di dinding.

Lalu ia melihat sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.

Salah satu garis melingkar pada marker itu baru saja menyala sesaat.

Sangat redup.

Tapi nyata.

Bukan karena ia menyentuhnya.

Bukan karena ia mengalirkan qi.

Sesuatu di luar telah memicu resonansinya.

“Jangan sentuh apa pun dulu,” katanya cepat.

Han Lu langsung paham dari nada suaranya. “Kenapa?”

“Kalau marker ini satu jalur dengan yang diambil orang sebelum kita, maka saat salah satunya digerakkan atau diaktifkan...” Shou Wei berhenti, lalu menatap air hitam di kaki mereka. “Yang lain bisa ikut merespons.”

Guo Fen menatap sekeliling dengan mata membesar. “Kau bilang itu lebih buruk dari beast?”

Jawaban datang bukan dari Shou Wei, melainkan dari suara keras di luar lambung.

BRAK!

Seluruh dinding kapal sebelah kanan dihantam sesuatu dari bawah. Papan tua retak. Air hitam menyembur masuk bersama serpihan kayu.

Han Lu mendorong Guo Fen ke samping tepat waktu. Sebuah kepala besar berlendir seukuran tempayan menerobos celah retak itu, disusul mulut pipih bergigi rapat dan dua mata putih kusam.

Beast sungai.

Tapi bukan yang kecil.

Makhluk itu panjang, hitam kehijauan, dengan kulit licin seperti ikan rawa raksasa bercampur ular. Moncongnya dipenuhi bekas luka lama, dan di bagian tengkuk menempel potongan rantai karat yang sudah tertanam ke daging.

“River Gnawer,” desis Han Lu. “Sial!”

Makhluk itu menggeram rendah, suara basah yang membuat lambung kapal bergetar.

Guo Fen langsung menghantamkan tombak kait ke sisi kepalanya. Besi menggores kulit licin dan memercikkan darah gelap, tapi tidak menembus dalam. Beast itu mengamuk, menghantam dinding lagi sampai celah makin besar.

Han Lu menebas moncongnya dengan pisau lengkung. Kali ini darah menyembur lebih banyak, tapi beast itu justru menggeliat masuk lebih jauh.

Shou Wei mundur dua langkah, otaknya bekerja cepat.

Beast ini bukan datang kebetulan.

Ia tertarik oleh resonansi marker.

Atau oleh gangguan yang dibuat orang sebelum mereka.

Jika mereka bertarung terlalu lama di dalam lambung sempit ini, kapal bisa runtuh atau tenggelam.

“Keluar!” teriak Han Lu.

Guo Fen mundur lebih dulu ke lubang masuk, tapi River Gnawer menyapu ekornya ke sisi dalam kapal. Kayu pecah. Genangan air meluap. Han Lu nyaris terjepit.

Shou Wei merasakan darah naganya bangkit di bawah kulit.

Bukan saatnya.

Tapi jika ia tidak bertindak sekarang, Han Lu bisa kehilangan kaki atau lebih buruk.

Ia menarik napas pendek, qi bergerak turun ke lengan, dan tanpa banyak berpikir ia meraih serpihan besi panjang dari lantai lalu menusukkannya ke celah luka yang baru dibuka Han Lu di bawah moncong beast.

Tenaganya meledak lebih besar dari yang tampak.

Serpihan besi itu masuk dalam.

River Gnawer meraung, tubuhnya menggeliat liar dan menghantam dinding kapal lagi. Tapi justru itu memberi Han Lu celah untuk lolos.

“Keluar! Sekarang!” bentaknya.

Guo Fen meloncat keluar lebih dulu. Han Lu menyusul. Shou Wei yang terakhir, berbalik sekali ke arah marker kayu di dinding yang masih tertanam, lalu menyambar potongan papan lepas di dekatnya dan menghantam sisi kayu sekitar marker sampai longgar.

Belum sempat ia mencabutnya, dinding kapal retak lagi.

Ia tak punya pilihan.

Dengan gerakan cepat, ia menarik marker itu setengah paksa keluar bersama serpihan kayu penahannya, lalu meloncat keluar lewat lubang sebelum seluruh bagian kanan lambung ambruk ke dalam air hitam.

BRAKKK!

Air meledak ke atas.

River Gnawer mengamuk di dalam bangkai kapal yang runtuh separuh. Han Lu menarik Shou Wei ke batu tebing saat ekor beast itu menyapu tempat ia baru berdiri sepersekian detik sebelumnya.

Mereka bertiga mundur ke tepian berlumpur dekat perahu, napas berat.

Guo Fen masih menggenggam tombaknya, wajah pucat dan penuh lumpur. “Kau bilang perjalanan pendek!”

Han Lu meludah ke tanah. “Aku juga tidak pesan beast terkutuk itu!”

Shou Wei berdiri sedikit terpisah, napasnya masih stabil meski dadanya berdebar lebih keras. Di tangannya, tersembunyi di balik serpihan kayu busuk, ada marker kayu kedua yang tadi tertanam di lambung.

Ia belum menunjukkannya.

Belum.

Karena sekarang ia tahu dua hal:

Wei Kuan telah mengambil satu marker sebelum mereka datang.

Dan marker ini benar-benar terhubung pada sesuatu yang cukup besar untuk membangunkan River Gnawer tua.

Han Lu memandang lambung kapal yang kini setengah runtuh dan mengumpat sekali lagi. “Kita selesai di sini untuk hari ini. Ambil peti, kembali ke perahu, dan pergi sebelum beast itu keluar sepenuhnya.”

Shou Wei mengangguk, tapi matanya tetap menatap air hitam yang berputar di sekitar bangkai kapal.

Jauh di bawah arus keruh itu, sesuatu masih bergerak.

Bukan beast.

Bukan hanya reruntuhan.

Melainkan jalur lama, tersembunyi, dan belum sepenuhnya mati.

Dan kini, dengan satu marker di tangan Wei Kuan dan satu lagi di tangan Shou Wei, jalan menuju rahasia itu tak lagi jauh dari mereka berdua.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!