Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Naik ke Murid Dalam
Tiga hari setelah kualifikasi murid luar, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Seol sedang membersihkan area latihan murid dalam—tugas yang kini terasa lebih ringan dari biasanya, karena tubuhnya sudah jauh lebih kuat dari dua bulan lalu—ketika seorang murid senior mendekatinya. Bukan Kang Jin. Murid ini lebih muda, dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Ryu Seol,” katanya, suaranya datar tetapi ada nada hormat yang tidak biasa diberikan pada murid luar. “Kepala instruktur memanggilmu.”
Seol meletakkan sapunya. Ia sudah mendengar bisik-bisik sejak kemarin. Setelah penampilannya di kualifikasi, banyak yang menduga ia akan segera dipromosikan. Tapi mendengarnya langsung dari utusan resmi tetap membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Sekarang?” tanyanya.
“Sekarang.”
Ia mengikuti murid itu melewati gerbang yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan—gerbang yang memisahkan area murid luar dari area murid dalam. Dua penjaga berseragam biru membukakan jalan tanpa berkata apa-apa, tetapi mata mereka mengikuti Seol dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan.
Di balik gerbang itu, dunia terasa berbeda. Jalanan tidak lagi tanah becek, tetapi batu halus yang disusun rapi. Bangunan-bangunan tidak lagi gubuk kayu reyot, tetapi aula-aula batu putih dengan atap biru kehijauan yang berkilat. Dan udara—udara di sini terasa lebih ringan, lebih jernih, seperti ada qi yang mengalir di setiap hembusan angin.
Seol berjalan melewati barisan patung pendekar kuno, melewati taman dengan kolam ikan koi yang airnya jernih seperti kristal, melewati deretan pohon sakura yang kelopaknya berguguran tertiup angin. Ia tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan itu. Pikirannya sudah berada di kantor kepala instruktur, membayangkan apa yang akan terjadi.
---
Kantor Kepala Instruktur
Bangunan itu terletak di puncak kedua gunung, tidak jauh dari Aula Pedang Surgawi. Kantor kepala instruktur berada di lantai paling atas, sebuah ruangan berbentuk segi delapan dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke seluruh penjuru gunung. Dari sini, Seol bisa melihat asrama murid luar di kejauhan—kecil, kumuh, hampir tidak terlihat di antara pepohonan.
Baek Yoon berdiri di belakang meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan laporan. Di sampingnya, Seol Hwa duduk di kursi kayu sederhana, papan tulis di pangkuannya, pulas siap di tangan. Di sudut ruangan, seorang pemuda yang tidak Seol kenal berdiri dengan tangan disilangkan di dada, senyum tipis menghiasi bibirnya.
Pemuda itu seusia dengan Kang Jin, mungkin sedikit lebih muda. Tubuhnya ramping, dengan rambut hitam disisir rapi ke belakang, dan jubah biru murid dalam dengan sulur perak di kerah—tanda status yang lebih tinggi dari murid biasa, tetapi tidak setinggi Seol Hwa. Matanya yang sipit menatap Seol dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi yang tidak bisa disembunyikan: meremehkan.
“Ryu Seol,” kata Baek Yoon, suaranya berat seperti biasa. “Duduk.”
Seol membungkuk hormat, lalu duduk di kursi yang disediakan di depan meja. Ia merasakan tatapan pemuda itu masih menempel di punggungnya, tetapi ia tidak menoleh.
“Kau sudah berada di sekte ini selama hampir tiga bulan,” lanjut Baek Yoon. “Dalam waktu itu, kau telah menunjukkan perkembangan yang… tidak biasa.”
Ia membuka salah satu laporan di atas meja, membaca dengan suara datar:
“Lulus ujian masuk dengan nilai tertinggi dalam lima tahun. Menjadi yang pertama keluar dari Gua Iblis dalam satu dekade. Mendengar nyanyian pedang—sesuatu yang hanya dilaporkan tujuh kali dalam sejarah sekte. Mengalahkan sepuluh murid luar dalam kualifikasi tanpa menggunakan pedang. Menguasai teknik yang…” Ia berhenti, matanya menatap Seol dengan tajam. “…tidak diajarkan di sekte ini.”
Keheningan. Seol merasakan Seol Hwa berhenti menulis.
“Keputusan telah dibuat,” kata Baek Yoon, menutup laporan itu. “Mulai hari ini, kau resmi menjadi murid dalam Sekte Pedang Surgawi.”
Ia mengambil sebuah lencana kecil dari laci mejanya—sebuah cakram perak dengan ukiran pedang dan awan, lambang murid dalam sekte.
“Ini adalah lencana murid dalam. Jaga baik-baik. Dan ingat: status ini bukan hadiah, tetapi tanggung jawab. Kau akan berlatih lebih keras, belajar lebih banyak, dan diharapkan untuk mewakili sekte ini dengan hormat.”
Seol menerima lencana itu dengan kedua tangan. Logamnya dingin di telapak tangannya, tetapi ada kehangatan di dalamnya—kehangatan yang terasa seperti pengakuan.
“Terima kasih, Sabeom-nim,” katanya, membungkuk dalam-dalam.
“Jangan berterima kasih dulu,” potong suara dari sudut ruangan. “Status murid dalam bukan berarti kau sudah menjadi apa-apa. Di sini, kau masih yang terendah. Masih banyak yang harus kau pelajari. Dan masih banyak yang harus kau buktikan.”
Seol menoleh. Pemuda itu melangkah maju, senyum tipisnya masih menghiasi bibir. Dari dekat, Seol bisa melihat detail yang tidak terlihat dari kejauhan: jarinya panjang dan ramping, seperti pemain kecapi, tetapi ada kapalan di ujung jari—kapalan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah bertahun-tahun memegang pedang.
“Perkenalkan,” kata pemuda itu, suaranya halus tetapi ada nada tajam di baliknya. “Aku Kwak Jung, murid senior di sini. Aku yang akan mengawasi latihanmu selama beberapa bulan ke depan.”
Ia mengulurkan tangannya. Seol menjabatnya. Genggaman Kwak Jung kuat—terlalu kuat untuk sekadar jabat tangan biasa. Seol merasakan qi mengalir dari telapak tangan Kwak Jung, mencoba menekan tangannya, menguji kekuatannya.
Seol tidak melawan. Ia tidak menekan balik. Ia hanya membiarkan tangannya tetap di tempatnya, tidak bergerak, tidak gemetar, seolah tekanan itu tidak ada.
Kwak Jung mengangkat alis. Ia melepaskan genggamannya, senyumnya melebar.
“Tidak buruk,” katanya. “Tapi jangan terlalu sombong. Di sini, kau hanya ikan kecil di lautan besar. Dan lautan ini…” Ia menatap mata Seol langsung. “Penuh dengan hiu.”
Seol tidak menjawab. Ia hanya menatap balik dengan mata yang tenang.
Baek Yoon menghela napas. “Cukup, Kwak Jung. Bawa dia ke asrama murid dalam dan tunjukkan tempat latihannya.”
Kwak Jung membungkuk hormat, lalu memberi isyarat pada Seol untuk mengikuti. Seol berdiri, membungkuk sekali lagi pada Baek Yoon dan Seol Hwa, lalu berjalan keluar.
Di pintu, ia berhenti sejenak. Seol Hwa tidak mengangkat wajah dari papan tulisnya, tetapi Seol tahu ia memperhatikan.
Ia melangkah keluar, mengikuti Kwak Jung yang sudah berjalan lebih dulu.
---
Di Lorong Menuju Asrama
Kwak Jung berjalan di depan dengan langkah santai, tangan di belakang punggung, sesekali bersiul kecil. Seol mengikuti di belakangnya, memperhatikan setiap gerakan pemuda itu.
“Kau tahu,” kata Kwak Jung tanpa menoleh, “banyak yang membicarakanmu akhir-akhir ini. Murid luar yang tiba-tiba menjadi bintang. Yang mendengar nyanyian pedang. Yang mengalahkan sepuluh lawan tanpa pedang.” Ia tertawa kecil. “Mereka bilang kau adalah keajaiban. Bahwa kau akan menjadi yang terkuat di angkatan ini.”
Seol tidak menjawab.
“Tapi aku tahu,” lanjut Kwak Jung, berhenti di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke lembah. Ia menoleh, senyumnya menghilang. “Kau hanya beruntung. Kau mendapatkan teknik dari seseorang—mungkin dari Seol Hwa, mungkin dari orang lain—dan itu membuatmu terlihat istimewa. Tapi tanpa teknik itu, kau hanya sampah. Sama seperti dulu.”
Seol berhenti di belakangnya. Matanya bertemu dengan mata Kwak Jung.
“Mungkin,” kata Seol datar.
Kwak Jung mengerutkan kening. “Itu saja? Kau tidak marah?”
“Apa gunanya marah?” Seol melanjutkan berjalan, melewati Kwak Jung. “Kau berhak berpendapat apa pun tentangku. Tapi pendapatmu tidak akan mengubah apa yang akan kulakukan.”
Kwak Jung menatap punggung Seol yang menjauh, matanya menyipit.
“Kau percaya diri sekali, bocah baru,” katanya, suaranya kehilangan nada halusnya, berganti dengan nada dingin yang tajam. “Tapi percayalah: aku akan membuatmu keluar dari sekte ini sebelum kau sempat membuktikan apa pun.”
Seol berhenti. Ia tidak menoleh.
“Aku akan menunggumu,” katanya, lalu melanjutkan berjalan.
Kwak Jung berdiri di tempatnya, tangan terkepal di sisi tubuh. Senyum tipisnya sudah lenyap, digantikan oleh ekspresi yang lebih gelap.
Kau akan menyesal, bocah. Aku akan memastikannya.
---
Asrama Murid Dalam
Asrama murid dalam sangat berbeda dari asrama luar. Bangunannya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi, dengan lantai batu yang dipoles mengilap, dan kamar-kamar pribadi untuk setiap murid. Kamar Seol berada di ujung barat, sebuah ruangan sederhana berukuran tiga kali tiga tombak, dengan tempat tidur kayu, meja belajar, dan lemari pakaian.
Seol meletakkan barang-barangnya yang sedikit—hanya satu bungkusan kecil berisi pakaian ganti dan Batu Giwa yang selalu ia bawa di sakunya. Ia duduk di tepi tempat tidur, merasakan kasur yang jauh lebih empuk dari tikar jerami di asrama luar.
Tapi ia tidak punya waktu untuk menikmati kenyamanan. Kwak Jung sudah memberitahu bahwa latihan akan dimulai besok pagi. Teknik baru. Standar baru. Dan musuh baru yang sudah terang-terangan mengancam.
Ia meraih Batu Giwa di sakunya. Batu itu dingin, tetapi ada denyut di dalamnya—lemah, tetapi ada.
“Gu,” bisiknya. “Aku sudah menjadi murid dalam. Tapi ada yang tidak suka dengan itu. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku akan menghadapinya.”
Denyut itu berdetak sekali—lebih kuat dari biasanya.
Seol tersenyum. “Aku tahu. Aku tidak akan menyerah.”
---
Pagi Hari – Latihan Pertama
Area latihan murid dalam terletak di puncak gunung, sebuah lapangan batu putih yang luas dengan pemandangan ke seluruh lembah. Di sinilah para murid dalam berlatih setiap pagi, di bawah pengawasan langsung instruktur senior.
Seol tiba sebelum matahari terbit. Ia sudah berganti pakaian—seragam biru murid dalam dengan lencana perak di dada. Seragam itu terasa aneh di tubuhnya, terlalu baru, terlalu rapi. Tapi ia akan terbiasa.
Kwak Jung sudah berdiri di tengah lapangan, pedang kayu di tangan, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya. Di sekelilingnya, beberapa murid dalam lain sudah berkumpul, menatap Seol dengan rasa ingin tahu.
“Tepat waktu,” kata Kwak Jung. “Bagus setidaknya kau punya satu kualitas baik.”
Ia melemparkan sebilah pedang kayu pada Seol. Seol menangkapnya dengan mudah.
“Hari ini,” lanjut Kwak Jung, “kau akan belajar Teknik Pedang Angin. Teknik dasar murid dalam yang harus kau kuasai sebelum kau diizinkan menyentuh pedang sungguhan.”
Ia mengambil posisi, pedang kayu diangkat setinggi bahu, ujungnya mengarah ke depan.
“Pedang Angin bukan tentang kekuatan. Bukan tentang kecepatan. Ini tentang…” Ia mengayunkan pedangnya. Gerakannya lambat, hampir tidak bergerak. Tapi angin di sekitarnya berubah. Udara berdesir, dedaunan di pohon terdekat bergoyang, dan Seol merasakan sesuatu—seperti ada tangan tak terlihat yang mendorong dadanya.
“Ini tentang aliran,” kata Kwak Jung. “Angin tidak melawan. Angin mengalir. Angin mengelilingi. Angin menemukan celah dan masuk ke dalamnya. Kau tidak menebas musuh dengan kekuatan. Kau membiarkan qi-mu menjadi angin, dan angin itu yang akan membawa pedangmu ke tempat yang seharusnya.”
Ia mengulangi gerakan itu, kali ini lebih cepat. Seol melihat pola di dalamnya—bukan gerakan kaku seperti yang diajarkan di Klan Ryu, tetapi gerakan melingkar, mengalir, seperti air yang mengalir di sungai.
“Coba,” perintah Kwak Jung.
Seol mengangkat pedangnya. Ia mencoba meniru gerakan Kwak Jung—lambat, melingkar, mengalir. Tapi di tangannya, gerakan itu terasa kaku, tidak alami. Seperti ada yang salah.
“Salah,” kata Kwak Jung. “Kau memaksakan. Angin tidak bisa dipaksa. Ulang.”
Seol mencoba lagi. Masih salah.
“Ulang.”
Masih salah.
“Ulang.”
Seol menggertakkan gigi. Ia tahu Kwak Jung sengaja membuatnya frustrasi. Tapi ia tidak bisa membiarkan emosinya menguasai dirinya.
Ia memejamkan mata. Ia membayangkan angin—bukan angin kencang yang menerjang, tetapi angin lembut yang mengelus daun-daun di musim semi. Ia membayangkan qi-nya bukan sebagai pusaran yang berputar kencang, tetapi sebagai aliran yang mengalir pelan, tanpa perlawanan, tanpa paksaan.
Ia menggerakkan pedangnya.
Kali ini, gerakannya berbeda. Tidak lagi kaku. Tidak lagi dipaksakan. Pedang itu bergerak dalam lengkungan yang alami, mengikuti aliran qi yang ia alirkan, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu.
Angin.
Bukan angin dari luar, tetapi angin yang lahir dari pedangnya. Tipis, lemah, nyaris tidak terasa, tetapi ada.
Ia membuka matanya.
Kwak Jung berdiri di depannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan marah. Bukan puas. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang mirip dengan… kekhawatiran?
“Cukup untuk hari ini,” katanya, suaranya datar. “Besok kita lanjut.”
Ia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban. Seol berdiri di tempatnya, pedang kayu masih di tangan, merasakan angin tipis yang masih berputar di sekelilingnya.
Di kejauhan, dari jendela kantor kepala instruktur, Seol Hwa mengamati latihan itu dengan mata yang tidak berkedip.
“Dia menguasainya dalam satu hari,” bisiknya, nyaris tidak percaya. “Teknik yang biasanya butuh waktu berbulan-bulan untuk dikuasai… dia melakukannya dalam satu hari.”
Ia menatap Kwak Jung yang berjalan menjauh dari lapangan, punggungnya tegang, tangannya terkepal.
Kwak Jung, kau bilang kau akan membuatnya keluar. Tapi aku rasa… kau tidak siap dengan apa yang akan kau hadapi.
Ia tersenyum kecil, lalu kembali ke mejanya, melanjutkan membaca laporan yang tidak pernah habis.
---
Malam Hari – Di Kamar Seol
Seol duduk di meja belajarnya, buku tentang Teknik Pedang Angin terbuka di depannya. Ia sudah membaca halaman demi halaman, mencatat setiap detail, setiap kesalahan umum yang harus dihindari.
Latihan hari ini hanya permulaan. Ia tahu Kwak Jung akan terus mengujinya, terus mencoba membuatnya gagal. Tapi ia juga tahu bahwa di balik permusuhan itu, ada sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang belum bisa ia pahami.
Ia meraih Batu Giwa. Batu itu hangat hari ini—lebih hangat dari biasanya.
“Gu,” bisiknya. “Aku tidak tahu mengapa Kwak Jung membenciku. Tapi aku tidak akan membiarkannya menghentikanku. Aku akan menguasai Teknik Pedang Angin. Aku akan menjadi lebih kuat. Aku akan ikut turnamen. Dan aku akan menang.”
Denyut itu berdetak tiga kali—pola yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seperti tepuk tangan. Seperti dukungan.
Seol tersenyum. Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan berbaring di tempat tidur.
Besok, latihan baru akan dimulai. Tapi untuk saat ini, ia bisa beristirahat.
Di luar jendela, bulan bersinar terang, cahayanya jatuh di atas lencana perak yang tergantung di lehernya.
Murid dalam. Ia sudah sampai di sini.
Tapi perjalanannya masih panjang.
---