NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Kepulangan yang Senyap

Malam semakin larut, namun kantuk seolah enggan menyapa. Aku berbaring miring, menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari Danendra. Kalimatnya yang hangat justru terasa seperti duri yang membuatku gelisah. Aku tidak membalasnya. Bagaimana bisa aku duduk tenang makan bubur bersamanya, sementara hatiku terus berteriak bahwa aku adalah pecundang yang melarikan diri dari segalanya?

Enam tahun. Selama itu aku membuang namaku, identitasku, dan kota kelahiranku. Aku rindu udara dingin di sana, rindu aroma tanah setelah hujan, dan yang paling menyesakkan... aku rindu pusara Ibu.

Selama enam tahun pelarianku, aku tidak pernah sekalipun berani menginjakkan kaki di sana. Aku takut melihat nisan Ibu dan harus mengakui bahwa anak gadisnya telah hancur berkeping-keping. Tapi malam ini, rasa rindu itu mendadak menjadi lebih besar daripada rasa takutku.

"Maafin Azzalia, Bu... Azzalia pulang besok," bisikku pada kegelapan kamar.

Aku bangkit, menyambar tas ransel kecil dan memasukkan beberapa pakaian. Keputusanku sudah bulat. Besok adalah hari Sabtu, hari libur. Aku akan menempuh perjalanan jauh melintasi kota, kembali ke titik nol di mana semuanya bermula. Aku butuh Ibu. Aku butuh bercerita pada tanah yang membisu, bahwa pria yang dulu sangat ia sukai kini sedang mencoba meruntuhkan tembok yang kubangun susah payah.

Pukul empat pagi, saat Kota J masih terlelap dalam sisa-sisa embun, aku sudah memacu motorku keluar dari gerbang kost. Aku sengaja berangkat sangat pagi, berharap Danendra belum berada di depan gerbang untuk menjagaku.

Jalanan yang lengang membuatku bisa berpikir jernih. Perjalanan ini akan memakan waktu berjam-jam, namun aku tidak peduli. Aku ingin mencium aroma kemboja di pemakaman itu. Aku ingin menyentuh nisan Ibu dan meminta maaf karena telah menjadi pengecut begitu lama.

Tanpa kusadari, air mataku luruh di balik kaca helm. Pulang ke kota asal berarti siap bertemu dengan bayang-bayang masa lalu yang lebih menyeramkan daripada Danendra di kantor. Namun, aku harus melakukannya. Sebelum dua minggu kesepakatanku dengan Danendra berakhir, aku harus menyelesaikan perasaanku sendiri di depan makam Ibu.

Langkahku terasa ringan namun sekaligus bergetar saat menyusuri jalan setapak di antara barisan nisan. Suara gesekan alas sepatuku dengan rumput kering menjadi satu-satunya bunyi yang menemani kesunyian pagi di pemakaman ini. Lima jam perjalanan seolah terbayar lunas saat mataku menangkap sebuah nisan berwarna putih yang selama enam tahun ini hanya berani kukunjungi lewat mimpi.

Aku berlutut di samping gundukan tanah itu. Jemariku yang dingin perlahan menyentuh ukiran nama di atas batu nisan.

"Ibu... Azzalia pulang," bisikku parau.

Suaraku pecah seketika. Pertahanan yang kubangun mati-matian di Kota J, zirah yang kubanggakan di depan Danendra, semuanya luruh tak bersisa di depan pusara ini. Aku meletakkan buket mawar putih itu di atas makam. Kelopak mawar yang masih segar itu tampak kontras dengan tanah pemakaman yang sunyi, persis seperti perasaanku yang berantakan di tengah keheningan ini.

"Maaf, Bu... Maaf karena Azzalia pengecut. Maaf karena selama enam tahun ini Azzalia nggak berani datang karena malu. Azzalia takut Ibu kecewa lihat anak Ibu hidup dalam pelarian dan kedinginan."

Aku menundukkan kepala, membiarkan air mata jatuh membasahi tanah makam Ibu. Di sini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi asisten teknis yang perfeksionis. Di sini, aku bukan lagi gadis dingin yang ditakuti rekan kantor. Aku hanyalah seorang anak yang kehilangan arah, yang dunianya hancur sejak kepergian Ibu dan tertangkapnya Ayah.

"Ibu tahu? Danendra kembali," aduku lirih, seolah Ibu benar-benar sedang mendengarkan dari balik sana. "Dia masih sama, Bu. Masih keras kepala seperti dulu. Dia mencari Azzalia sampai ke Ayah... Dia bilang dia mau jadi rumah buat Azzalia. Tapi Azzalia takut, Bu. Azzalia takut bakal ngerusak hidup dia lagi."

Aku terisak, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan. Angin pagi berembus pelan, menggerakkan daun pohon kamboja di atasku, menjatuhkan satu bunganya tepat di samping buket mawar putihku.

Lama aku terdiam dalam isak tangis, aku memeluk batu nisan Ibu seolah itu adalah dirinya. Dinginnya marmer itu terasa seperti pelukan hampa yang mencoba meredam badai di dadaku. Aku rindu pelukan Ibu yang selalu terasa aman, tempat di mana aku tidak perlu menjadi kuat, tempat di mana kedinginanku selalu bisa mencair.

Ibu pergi delapan tahun lalu, meninggalkan lubang besar yang tak pernah benar-benar tertutup. Kepergiannya membuat duniaku hancur berantakan, dan seolah semesta belum puas menghukumku, hanya dalam waktu dua tahun setelah itu, Ayah ditangkap polisi. Hidupku seperti bangunan yang dihantam gempa bertubi-tubi hingga rata dengan tanah.

"Bu, kenapa semuanya jadi sesulit ini?" bisikku lirih di sela isak yang menyesakkan. "Dulu Ibu bilang, kalau Azzalia takut, Azzalia cuma perlu pegang tangan Ibu. Sekarang Azzalia takut, Bu. Takut kalau kehangatan yang Danendra kasih cuma bakal bikin Azzalia lupa cara bertahan di dunia yang kejam ini."

Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang aroma masakan Ibu dan usapan tangannya di rambutku memenuhi benak. Saat itu, aku merasa benar-benar sendiri di dunia ini. Ayah di penjara, Ibu di sini, dan aku... aku hanyalah sisa-sisa kehancuran yang mencoba merangkak menjauh agar tidak ada yang melihat betapa menyedihkannya aku.

Setelah merasa cukup tumpah di pusara Ibu, aku beranjak berdiri. Kakiku terasa sedikit kebas, namun hatiku terasa jauh lebih plong. Aku mengusap sisa air mata, merapikan letak mawar putih itu untuk terakhir kalinya, lalu melangkah keluar dari area pemakaman.

Tujuanku selanjutnya adalah sebuah rumah di sudut kota ini. Rumah Tante Nita, adik kandung Ibu yang merawatku sejak aku masih kecil hingga aku memutuskan untuk menghilang. Dialah satu-satunya sosok yang paling mirip dengan Ibu, baik dari senyumnya maupun cara bicaranya.

Selama perjalanan menuju ke sana, jantungku berdegup kencang. Aku takut. Takut akan amarahnya, namun lebih takut lagi pada rasa sayang yang mungkin akan kembali meruntuhkan tembokku.

Begitu sampai di depan pagar rumah yang catnya mulai memudar itu, aku mematung cukup lama. Harum masakan dari arah dapur menyeruak ke jalan, aroma yang sangat kurindukan. Dengan tangan gemetar, aku mengetuk pintu kayu jati itu.

Tok, tok, tok.

"Sebentar!" suara itu masih sama. Hangat dan tegas.

Pintu terbuka, dan sosok wanita paruh baya dengan celemek yang masih terikat di pinggang muncul di hadapanku. Ia memegang sebuah sodet, namun benda itu nyaris terlepas dari tangannya saat matanya menangkap sosokku.

"Az... Azzalia?" bisiknya tidak percaya. Matanya berkedip berkali-kali, seolah sedang memastikan bahwa yang berdiri di depannya bukan sekadar ilusi dari kerinduannya selama enam tahun.

"Tante... Azzalia pulang," ucapku lirih.

Tante Nita tidak menjawab. Ia langsung menghambur ke arahku, memelukku dengan begitu erat seolah ia takut jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja, aku akan kembali menguap ditiup angin. Ia mendekapku lama sekali, bahunya gemetar hebat karena tangis yang pecah seketika.

"Anak nakal... kamu ke mana saja, Sayang?" rintihnya di balik pundakku. "Enam tahun, Zal. Enam tahun Tante cari kamu sampai hampir gila. Kenapa baru sekarang kamu pulang?"

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa balas memeluknya, menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya yang beraroma minyak kayu putih—aroma yang sama dengan Ibu. Di pelukannya, aku merasa kembali menjadi gadis kecil yang tidak perlu menanggung beban dunia.

"Maafin Azzalia, Tante. Maaf..." hanya kata itu yang mampu kuucapkan berulang kali.

Tante Nita melepaskan pelukannya sebentar, memegang kedua pipiku dengan tangannya yang hangat. Ia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tersenyum di tengah isak tangisnya.

"Kamu sudah kurus sekali. Ayo masuk, Tante lagi masak sayur asem kesukaan kamu. Jangan pernah pergi lagi, Zal. Jangan pernah."

Aku mengangguk pelan, membiarkannya menarik tanganku masuk ke dalam rumah.

Aku duduk di kursi kayu ruang makan yang sudah sangat familiar, menatap uap panas dari mangkuk sayur asem yang baru saja diletakkan Tante Nita di depanku. Kehangatan rumah ini mendadak membuatku merasa kecil dan berdosa.

"Tante... maaf," ucapku lirih, menundukkan kepala. "Maaf karena selama enam tahun ini aku nggak pernah balas pesan Tante. Maaf karena setiap Tante telepon, aku selalu abaikan. Aku... aku cuma nggak tahu gimana caranya bicara tanpa harus merasa hancur."

Tante Nita menghentikan aktivitasnya, lalu duduk di sampingku. Ia meraih tanganku, mengelusnya dengan jempolnya yang hangat dan menenangkan.

"Nggak apa-apa, Sayang. Tante nggak marah," jawabnya lembut, suaranya tulus tanpa ada nada menghakimi. "Bagi Tante, tahu kamu nyaman, kamu tenang, dan kamu sehat di luar sana itu sudah lebih dari cukup. Tante tahu kamu butuh waktu untuk menyembuhkan diri sendiri. Melihat kamu ada di sini sekarang, itu sudah bikin Tante tenang sekali."

Aku menelan ludah, dadaku terasa sesak oleh kelegaan yang luar biasa. Selama ini aku mengira mereka akan membenciku, tapi ternyata pelarian panjangku disambut dengan maaf yang tak terbatas.

Tante Nita terdiam sejenak, lalu menatapku ragu. "Zal... boleh nggak Tante kasih tahu Om Angga dan Tante Anin kalau kamu sudah pulang ke rumah Tante? Mereka selama ini juga nggak berhenti tanya kabar kamu ke Tante. Mereka sayang sekali sama kamu, Zal."

Aku tertegun. Om Angga dan Tante Anin adalah orang tua Valerie. Ingatanku kembali pada bagaimana aku menutup diri dari mereka selama enam tahun ini mengabaikan setiap panggilan telepon dan pesan perhatian mereka hanya karena aku takut dikasihani. Jika aku mengizinkan Tante Nita memberi tahu mereka, itu artinya aku benar-benar sudah berhenti melarikan diri dari keluarga besarku.

Perlahan, aku mengangguk pelan. "Boleh, Tan. Kasih tahu mereka... Azzalia sudah di sini."

Tante Nita tersenyum lebar, matanya kembali berkaca-kaca karena bahagia. Ia segera meraih ponsel di atas meja dan mulai mengetik pesan.

Sementara itu, aku menatap ke luar jendela ke arah jalanan depan rumah yang sepi. Di Kota J, mungkin Danendra sedang mencariku atau menungguku di depan kost dengan bubur ayamnya. Dia tidak tahu aku pergi sejauh ini. Dia tidak tahu bahwa hari ini, aku sedang mencoba memungut serpihan diriku di tempat semuanya bermula.

"Makan yang banyak, ya. Habis ini Tante mau telepon Valerie juga, dia pasti kaget banget sepupu kesayangannya tiba-tiba muncul di sini," ucap Tante Nita sambil menyodorkan piring nasi.

Aku tersenyum tipis kali ini senyum yang benar-benar sampai ke mataku. Mungkin, Sabtu ini memang benar-benar menjadi awal yang baru bagiku untuk berdamai dengan keluarga.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!